Siwa Dan Wiswa

Peringatan Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka adalah berkaitan dengan peristiwa alam, berkaitan dengan posisi matahari, bulan dan bumi. Pada tanggal 21 Maret untuk tahun biasa, 22 Maret untuk tahun kabisat (bilangan tahun habis di bagi empat), matahari tepat berada di atas garis Katulis tiwa, garis tengah Bumi. Atau pada saat ini sumbu bumi membuat sudut 90 derajat terhadap bumi-matahari, sehingga kutub utara dan kutub selatan terletak sama jauh terhadap matahari. Akibatnya ialah lamanya waktu siang sama dengari waktu malam, yaitu 12 jam.

Maka tanggal 22 Maret 79 ditetapkan oleh raja Kaniskha sebagai tahun baru Saka, atau tanggal 1 bulan 1 tahun 1 Saka. Sehari sebelumnya yaitu pada tanggal 21 Maret 79 terjadi peristiwa alam yang sangat penting yaitu Gerhana Matahari Total. Gerhana matahari ini sudah tentu terjadi pada saat tilem (bulan mati). Jadi penentuan tahun baru Saka dilakukan dengan melihat posisi matahari, bulan dan bumi, yaitu ketika matahari dalam posisi Wiszvayana, berada di tengah-tengah, diatas garis katulistiwa (ketika matahari di sebelah selatan katulistiwa disebut Daksinayana, di sebelah utara katulistiwa disebut Uttarayana.

Pada saat Wiswayana, matahari berada tegak lurus di atas garis tengah bumi maka dilakukan bhuta yadnya, upacara yang dimaksudkan untuk menemui buta hitta atau jagathita, kerahayuan jagat. Pada saat itu ditempat yang terpilih, yang secara simbolis dijadikan tengahnya bumi {madhyanikang bhuana) seperti bancingah agung pura Agung Besakih diadakan upacara Bhuta Yadnya siklus tahunan : Tabuh Gentuh setiap tahun, Panca Bali Krama setiap sepuluh tahun, Ekadasa Rudra setiap seratus tahun dan Baligya Marebu Bumi setiap seribu tahun.

Upacara di pusat dunia atau tengah dunia ini adalah upacara pemujaan kehadapan Siwa atau Rudra. Konsep pemujaan yang berdasarkan Kitab Suci Weda-weda ini mendapat tempat yang begitu tepat di bumi Nusantara yang berada di garis tengah bumi.

Apa yang disebut Asta Murti Siwa terdiri atas Prathvi, Apah, Teja, Bayu, Akasa (kelimanya disebut Bhuta Matra), surya dan candra (keduanya disebut Pranamatra) dan Hyang Siwa (disebut Pradnya Matra), menjadi landasan pelaksanaan Nyepi.Dimulai pada saat melasti, menyucikan Bhuana Agung dan Bhuana Alit (yang dibangun oleh Panca Maha Bhuta), lalu bhuta yadnya, ketika matahari, bulan dan bumi dalam satu garis lurus, dan memasuki alam Siwa atau Sunya pada saat Nyepi.

Demikianlah pelaksanaan Hari Raya Nyepi, dan memasuki Tahun Baru Saka, adalah berdasarkan ajaran sarat makna sepiritual. Pada saat Wiszvayana kita memuja Siwa memohon kerahayuan dan kesucian Bhuana Agung dan Bhuana Alit, memohon untuk senantiasa ditunjukkan jalan yang benar dan disinari. Dan setelah itu kita memasuki tahun yang baru, Tahun Baru Saka.

Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 519 Maret 2010