Siswa Bhagawan Dhomya : Pengembala

Sebuah cerita di dalam kitab Adiparwa sangat relevan untuk kita jadikan bahan renungan ketika kita membahas tentang sistem pendidikan Hindu. Adalah Bhagawan Domya memiliki tiga orang siswa masing-masing bernama Sang Utamanyu, Sang Arunika, dan Sang Weda. Masing-masing melewati masa pemeriksaan dengan cara yang berbeda. Sang Arunika disuruh bersawah, sang Utamanyu disuruh menggembala sementara Sang Weda mendapat tugas memasak. Cara dan proses pemeriksaan seperti itu menarik perhatian kita karena sarat makna.

Kali ini kita mendalami proses pemeriksaan lewat Sang Utamanyu. Sang Utamanyu disuruh menggembala lembu, siswa yang satu ini melaksanakan tugasnya dengan penuh dedikasi, ia menggembala dengan penuh kehati-hatian. Namun karena ia menggembala seharian penuh, ia pun kelaparan. Sang Utamanyu meminta-minta, meminta nasi kepada orang disekitar pengembalaan, namun nasi hasil meminta-minta itu tidak dihaturkan kepada sang guru.

Bhagawan Domya mengetahui hal itu, beliau bersabda: "Anakku Sang Utamanyu, apabila seorang siswa bhakti kepada gurunya maka ia menyerahkan hasil meminta-minta kepada Sang Guru. Ia tidak boleh memakan hasil meminta-minta tersebut". (Anaku sang Utamanyu, Krama ning sisya yan gurubhakti mawwat nasi solih niranasi krama nika. swayam asrayamakapa-jiwana, Solihtanasi tan yoga bhuktinta). Keesokan harinya Sang Utamanyu mengembala kembali, bersamaan dengan itu ia pun meminta-minta. la pun menyerahkan hasil meminta-minta kepada Sang Guru, namun setelah itu ia meminta-minta kembali. Sang Guru mengetahuinya lalu menasehatinya: "Hal itu loba namanya. Engkau tidak boleh meminta-minta untuk kedua kalinya".

Sang Utamanyu menuruti perintah Sang Guru, namun ia tidak bisa menahan lapar, maka ia pun meminum sisa air susu lembu yang jatuh setelah anak-anak lembu itu meminumnya. Hal itu pun diketahui oleh Bhagawan Domya, kepada sang siswa beliau berkata: "Apa yang engkau lakukan itu adalah mengambil milik guru, karena seorang siswa tidak boleh memakan kepunyaan guru".

Sang Utamanyu pun tidak melakukan perbuatan itu lagi, sehingga siswa yang satu ini menjadi kurus. Ketika ia mengembala kembali, ia pun tidak memakan sesuatu, tidak nasi, tidak pula meminum susu lembu, namun ia mencari pohon maduri dan meminum getah pohon itu. Apa yang terjadi? Sang Utamanyu menjadi buta karena getah pohon itu sangat panas dan berpengaruh pada penglihatannya. Ketika Sang Utmanyu kembali ke rumah, di tengah jalan ia terjerembab ke dalam sumur mati. Lembu-lembu pulang sendirian ke kandangnya, dan hal itu diketahui oleh Bhagawan Domya.

Bhagawan Domya sangat terkejut karena siswanya tidak kembali, beliau pun lalu mencarinya, dan menemuinya terjerembab ke dalam sumur mati. Karena kasihnya Sang Guru kepada siswanya maka Sang Utamanyu diberi mantra Aswinodewarajani, sebuah mantra yang dapat menghilangkan sakit termasuk menghentikan buta. Dengan menguncarkan mantra itu Sang Utamanyu segar bugar kembali. Bhagawan Domya merasa sangat bahagia memiliki seorang siswa yang bakti kepada gurunya.

Lembu atau Sapi
Ada yang menarik untuk direnungkan dari ceritra di atas, bahwa Sang Utamanyu bertugas untuk menggembala lembu atau sapi. Lembu atau sapi adalah binatang yang penuh simbolis dalam agama Hindu. Hyang Siwa pun memiliki lembu, dan beliau pun disebut sebagai Pasupati. Pasu adalah binatang berkaki empat yang memakan rumput, pati adalah raja atau penguasa. Di samping itu masih ada kata penuh makna di dalam ajaran Siwa yaitu pasa, berarti tali pengikat. Ketiga kata itu yaitu pasu, pasa, dan pati menjadi ajaran terpenting dalam Siwaisme. Memahami hakikat keterikatan atau keterbelengguan, memahami hakikat pembebasan, dan memahami hakikat kemanunggalan dengan Sang Pencipta merupakan ajaran Siwaisme yang terpenting. Ajaran tersebut juga menjadi inti ajaran yoga, dan ajaran ini tidak saja dimuat dalam kitab-kitab tattwa, tetapi juga dalam kitab-kitab sastra.

Mpu Kanwa di dalam kakawin Arjuna Wiwaha menguraikan ajaran tersebut dengan sangat indah, lewat perjumpaan Sang Arjuna dengan Sang Hyang Pasupati, yang menganugrahkan senjata Pasupati kepadanya. Mpu Yogiswara di dalam kakawin Ramayana tampak sangat bergairah ketika menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan sapi. "Aku ini dianggapnya hewan hina dina, sampai hati orang memikulkan beban begitu berat tanpa batas dan menyiksa, sungguh ia lupa akan perananku. Aku adalah ibarat ayah dan ibu, yang seharusnya dipuji karena dapat memberikan apa yang diinginkan manusia, aku adalah pembantunya yang begitu kuat menanggung lelah, karena itulah aku disebut "sapi" yang patut disayang". (Nihan aku pasu papa kasmala, malalis ika sang anunggangi kaduk, kadurus agul-agulnya yamalu, malupa ri kaparamathaning sapi. Sapi sapinaka rama rena ya, sapinuji sarasapinrih ing masih, sapinakanaku lot betah manghel, ya matang akuk sapi pih tusapyaku). Demikian Mpu Yogiswara menulis ucapan-ucapan si Sapi. Ia bagaikan mengingatkan kita tentang pemanfaatan makna diri.

Selanjutnya Sri Rama menjelaskan bahwa segala yang menyebabkan manusia puas sesungguhnya berasal dari sapi. Ia mampu membantu manusia, namun manusia membentak-bentaknya, memukulnya kadang-kadang menyiksanya. Malahan ada yang menjualnya, lalu menyembelihnya. Sesungguhnya manusia melupakan apa yang telah diabdikan si sapi kepada dirinya.

Pengarang kakawin terindah dan terbesar itu tidak saja menyuratkan hal-hal yang bersifat filosofis tetapi juga etis : bahwa sapi adalah ibarat orang tua kita yang patut dihormati karena ia dapat memenuhi keperluan manusia. Ia sesungguhnya berlaku kasih kepada manusia, dengan penuh kesabaran ia mengabdi kepada manusia.

Dengan catatan kecil ini kita dapat memahami mengapa Bhagawan Domya meminta salah satu siswanya sebelum mendapatkan pelajaran untuk menjadi seorang pengembala terlebih dahulu. Bahwa pekerjaan mengembala ternyata dapat menumbuhkan kesadaran spiritual yang sangat penting bagi mereka yang berjalan di jalan kerohanian.

Sapi yang besuara besar
Kitab Nitisastra sebuah kitab yang memuat ajan kepemimpinan ada juga menjadikan sapi sebagai sebuah contoh. Bahwa sapi yang suaranya besar akan sedikit air susunya (yan ring go rawa ghora cabdanika gong alpa ksiranyakedik). Uraian ini dikaitkan dengan pernyataan bahwa dia yang alpasastra atau tidak menghayati sastra kata-katanya akan berkepanjangan dan tidak bermakna (ring janmalpaka castra garwita tereh cabdanya tanpamreta). Begitulah caranya seorang pengarang kakawin Nitisastra menggambarkan seorang yang tidak mendalami dan menghayati sastra, dan menjadikan contoh seekor sapi yang bersuara besar. Contoh seperti ini jelas hanya bisa diangkat oleh seorang "penggembala", seseorang yang mengetahui betul kehidupan sapi itu. Ada sapi yang dapat mengeluarkan susu begitu banyak, ada pula yang tidak.

Sang Utamanyu agaknya diharapkan juga memahami hal tersebut. Sebagai seorang siswa kerohanian dia benar-benar menghayati sastra, istilah Bhagawan Domya sidhi sastra. Seorang yang sidhi sastra adalah juga orang yang sidhi ngucap, seseorang yang kata-katanya bermanfaat, memberikan kebahagiaan kepada yang mendengarkan.

Seorang penggembala pada hakikatnya juga orang yang memahami hukum alam atau rta. Ia tahu betul kapan sapi-sapi itu akan pulang, kapan dia pergi ke penggembalaan dan seterusnya. Sapi memang juga disebut sebagai kamadhuk, dia yang dapat memenuhi semua keinginan. Dan hal itu adalah simbol bumi ini. Kitab Bhagawadgita menguraikan hal tersebut dengan sangat jelas. Oleh karena itu seorang pengembala, karena pekerjaannya menyebabkan ia menjadi sangat memahami makna waktu, tentu juga musim, lebih jauh lagi hukum alam itu sendiri. Maka pekerjaan sebagai pengembala sesungguhnya bukan pekerjaan yang hina, namun adalah pekerjaan yang dapat memekarkan nilai-nilai spiritual.

Lokapalasraya
Istilah Lokapalasraya juga terkjait dengan makna penggembalaan. Seorang pendeta disebut sebagai lokapalasraya adalah karena beliau berfungsi sebagai pengembala masyarakat. Seorang pendeta bertugas untuk mengantarkan masyarakat ke jalan kesucian menuju Hyang Siwa yang maha suci. Lihatlah bagaimana prosesi upacara Baligya (dalam tataran lain disebut mamukur, nyekah) maka hadir seekor lembu atau sapi putih yang secara simbolis mengantarkan jiwa-jiwa yang disucikan menuju alam Siwa dalam proses pradaksina. Para pandita juga berkewajiban untuk mengantarkan siswanya (sisyanya) menuju alam Siwa, menghadap sang pencipta yang disebut sebagai sangkan paraning dumadi atau asal dan tujuan hidup manusia.

Lihat lagi prosesi upacara yang lain, yaitu upacara memineh empehan, mencari susu lembu untuk bahan upacara catur, dalam tingkat upacara yang agung. Lembu dalam hal ini menjadi begitu penting, binatang yang satu ini dilokalisasi dalam tempat yang telah disucikan, dan hanya dibolehkan memakan makanan tertentu seperti pisang, sebagai sarana mendapatkan air susu lembu tersebut. Upacara ini sangat bernuansa kesucian, pada hari vang telah ditetapkan, dilakukan oleh orang suci dan ditempat terpilih atau di tempat suci.

Demikianlah berbagai simbol dibalik ceritra pengembalaan menarik untuk direnungkan. Terlebih lagi ketika kita menarik garis jauh kebelakang, kemasa lampau, keperadaban lembah sungai Sindhu. Peradaban lembah sungai Sindhu ditandai oleh penemuan gambar-gambar yang menyiratkan tentang pengembalaan yang dilakukan oleh Hyang Siwa. Peradaban lembah sungai Sindhu adalah peradaban pra weda, ditandai oleh penemuan sebuah kota besar yang makmur yang tertata dengan kanal-kanalnya yang mengalirkan air bersih, di lembah sungai Sindu. Penggalian yang dilakukan menemui gambar seorang duduk bersila pada meterai dengan dikelilingi oleh binatang bermuka tiga dan bertanduk dua dengan hiasan kepala yang meninggi. Semua ini dapat dihubungkan dengan pengertian Siwa belakangan yaitu sebagai Mahayogin atau Pasupati.

Demikianlah pengembalaan menjadi begitu penting dalam konteks kerohanian. Bhagawan Domya menjadikan Sang Utamanyu matang rohani atau Sidhi Sastra setelah melewati kerja sebagai pengembala. Kita memang harus melakukan reinterpretasi dan revitalisasi pada cerita-cerita yang termuat di dalam wiracarita atau Astadasaparwa seperti cerita ujian Bhagawan Domya terhadap murid-muridnya. Kita memang perlu membaca ulang ceritra-ceritra seperti itu pada saat sekarang, ketika kita dijejali oleh ceritra-ceritra tanpa makna.

Source: Ki Dharma Tanaya l Warta Hindu Dharma NO. 482 Maret 2007