Sistem Pengobatan Usada Bali [2]

(Sebelumnya)

Orang Bali, di samping percaya bahwa mereka tidak kuasa untuk menolak kehendak-Nya, baik berkenaan dengan hal-hal yang dianggap buruk, seperti kematian, kesakitan, kecelakaan, kesengsaraan, dan lain-lain, maupun, 1-hal yang baik, seperti keselamatan, kebahagiaan, kesehatan, kemuliaan dan rejeki, dan sebagainya. Mereka juga percaya bahwa manusia akan bisa terhindar dari hal-hal yang dianggap buruk jika mereka senantiasa mampu menjaga dan menciptakan keseimbangan atau keharmonisan hubungan dengan alam, dengan manusia lain, dan dengan Tuhan.

Prinsip keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam, dengan sesama manusia, dan dengan Tuhan oleh orang Bali sangat populer disebut dengan Tri Hita Karana, yaitu tiga penyebab utama kebahagiaan dan keselarasan hidup manusia. Kosmologi orang Bali yang menekankan pada prinsip keseimbangan atau keteraturan hubungan dan ketidakseimbangan Kosmos (mikrokosmos-makrokosmos) tersebut senantiasa dijadikan sebagai konsep dasar untuk mencegah dan sekaligus menang-gulangi berbagai hal yang dianggap buruk, seperti terganggunya kesehatan atau sakit, kecelakaan, kesengsaraan, ketidak beruntungan, perceraian, dan bahkan kematian.

Dalam konteks sistem medis etnis Bali atau Usada dan konsepsi balian tentang sehat-sakit, bahwa orang bisa disebutkkan sebagai manusia sehat apabila semua sistem dan unsur pembentuk tubuh (panca maha bhuta) yang terdiri dari: pertiwi, apah, bayu, teja dan akasa, dan unsur dalam tubuh (tri dosha), yaitu udara (vatta), api (pitta), dan air (kapha) serta aksara panca brahma yang terdiri dari: Sang, bang, tang, ang, ing dan aksara panca tirta yang terdiri dari: nang, mang, sang, sing, dan wang, berada dalam keadaan seimbang dan dapat berfungsi dengan baik.

Sebaliknya manusia akan menjadi sakit apabila unsur-unsur panca brahma sebagai kekuatan panas, dan unsur-unsur panca tirta sebagai kekuatan dingin saat berinteraksi dengan udara, ada dalam keadaan tidak seimbang. Atau di antara keduanya, (unsur panas dan dingin) ada dalam kondisi yang berlebihan sehingga fungsi-fungsi unsur pembentuk tubuh (panca maha butha) terganggu. Terganggunya fungsi unsur-unsur tubuh inilah yang menyebabkan orang menjadi sakit. Dengan kata lain, terganggunya keseimbangan unsur-unsur pembentuk tubuh dan fungsi unsur dalam tubuh manusia dapat menyebabkan orang bersangkutan menjadi sakit. Karena itu, mengembalikan keseimbangan seperti semula usur-unsur dan fungsi pembentuk tubuh merupakan prinsip dan tindakan utama dalam proses penyembuhan penyakit.

Menurut sistem pengobatan usada Bali yang bersandarkan pada sistem pengobatan Ayurveda dan naskah-naskah pengobatan kuno yang ada di Bali, bahwa berfungsinya sistem organisme tubuh manusia secara normal dikendalikan oleh tiga unsur humoral. yaitu unsur udara (vatta), unsur api (pitta), dan unsur air (kapha). Ketiga unsur tersebut dalam sistem pengobatan Ayurveda dan pengobatan usada Bali disebut dengan istilah Tridosha. Konsepsi tentang Tridosha (adanya tiga unsur cairan dalam tubuh) manusia itu selajutnya dijadikan sebagai salah satu kerangka dasar pijakan oleh sebagian bahan usada di Bali dalam menjalankan profesinya, baik dalam tahap menegakkan diagnosis maupun terapinya.

Dalam kosmologi berkenaan dengan konsepsi orang Bali tentang Tuhan atau lda Sang Hyang Widhi Wasa, bahwa Bhatara Siwa dipandang sebagai segala sumber yang ada di dunia, atau menciptakan semua yang ada di jagad raya ini, termasuk berbagai jenis penyakit dan obatnya. Tuhan dalam wujudnya sebagai Trimurti bermanifestasi sebagai dewa Brahma yang menjadi sumber panas, dewa Wisnu menjadi sumber air yang bersifat dingin, dan dewa Iswara menjadi sumber udara. Dengan mengacu pada konsepsi itu, maka masyarakat Bali secara global menggolongkan jenis dan penyebab sakit menjadi dua, yaitu penyakit yang bersifat fisik (sekala) dan nonfisik (niskala); demikian juga penyebabnya ada yang dipandang karena faktor yang bersifat alamiah (naturalistik), ada juga yang bersifat non alamiah (personalistik), dan supranaturalistik, atau gabungan dari kedua atau ketiganya.

Secara fisik atau naturalistik, berdasarkan pada gejala-gejala atau simtomatisnya, masyarakat Bali menggolongkan penyakit ke dalam tiga kelompok, yaitu (1) penyakit yang tergolong panes (panas), (2) nyem (dingin), dan (3) sebaa (panas-dingin). Sebaliknya, kualitas dan kasiat bahan obat dan obat yang dibuat untuk mengobati jenis penyakit tersebut, juga diklasifikasi ke dalam tiga kelompok, yaitu (1) berkasihat anget (hangat), (2) berkasiat tiis (sejuk), dan (3) berkasiat duinelada (sedang).

Penggolongan penyakit dan jenis obat tersebut jika mengacu pada konsep kepercayaan terhadap wujud Tuhan sebagai Brahma, Wisnu dan Iswara (Trimurti/Tripusrusa/Trisakti) maka Brahma dipandang sebagai wujud api yang menciptakan penyakit panes, maka obat yang diciptakan kualitasnya berkasiat anget Wisnu yang menciptakan penyakit nyem maka obat yang diciptakan berkasiat tiis, dan Iswara yang menciptakan penyakit sebaa, maka obat yang diciptakan berkasiat dumelade/jumelade.

Sebagaimana telah juga disinggung di atas, bahwa dalam kosmologi dan sistem medis orang Bali, masalah sehat sakit merupakan masalah yang berkaitan dengan harmoni/keseimbangan dan disharmoni/ketidakseimbangan hubungan antara buana agung (makrokosmos) atau alam semesta, dan buana alit (mikrokosmos) manusia itu sendiri, dan Sang Hyang Widhi (Tuhan) sebagai pencipta dan pengendali. Oleh karena itu, orang Bali percaya dan yakin, bahwa sehat, bahagia, dan sejahtera sekala-niskala (lahir-batin) akan terwujud atau terjadi apabila hubungan antara ketiga komponen tersebut berada dalam keadaan seimbang.

Hubungan serasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam lingkungannya, dan manusia dengan Tuhan sebagai pencipta segala yang ada di jagat raya ini disebut dengan Tri Hita Karana. Artinya hubungan harmonis ketiga unsur tersebut merupakan sumber penyebab kesejahteraan, kebahagiaan dan kesehatan bagi manusia.

Sebaliknya kondisi buruk seperti sakit, tidak bahagia, sengsara, dan sebaga bisa terjadi manakala hubungan ketiga komponen tersebut terganggu atau tidak harmonis. Bagi orang Bali, apabila hal ini terjadi, maka upaya mengembalikan keseimbangan hubungan sistem, baik dalam konteks mikrokosmos maupun makrokosmos merupakan upaya yang penting. Dalam orang, yakni berupa gangguan mahluk halus, jin, setan, hantu, atau makhluk-makhluk halus lainnya, bahkan oleh kekuatan supranatural, seperti dewa yang merasuk ketubuh dan jiwa seseorang, (hingga orang bersangkutan menjadi sakit).

Pandangan secara naturalistik, sakit atau gangguan kesehatan bukan disebabkan oleh agen aktif, tetapi terjadi oleh sebab-sebab keadaan yang bersifat alamiah, seperti angin, hujan, cuaca panas, dingin, dan lembab yang dijelaskan secara impersonal dan sistemik. Orang yang sakit atau terganggu kesehatannya dianggap sebagai akibat dari keseimbangan sistem (unsur-unsur panas/yin dan dingin/yang) yang ada dalam tubuh manusia terganggu, baik oleh kelebihan maupun kekurangan unsur tersebut; atau orang menderita sakit karena kecelakaan yang timbul dalam interaksi manusia dengan lingkungan biofisiknya. Karena itu, dalam pandangan naturalistik kesehatan diasosiasikan dengan keseimbangan, sebaliknya sakit diasosiasikan dengan ketidakseimbangan.

Penggolongan etiologi atau penyebab penyakit ke dalam salah satu dari keduanya akan berpengaruh terhadap upaya penanggulangan yang dilakukan terutama berkenaan dengan bagaimana dan kepada siapa mereka harus meminta pertolongan sekaligus pemebrian label terhadap jenis penyakit yang diderita. Selain dari kedua kategori etiologi penyakit tersebut yang memiliki dasar rasionalitas yang berbeda, namun, dalam kenyataannya di masyarakat kedua etiologi penyakit tersebut dipercayai dapat menimpa seseorang secara simultan atau kombinasi dari keduanya. Artinya, penyakit yang diderita oleh seseorang diyakini tidak saja disebabkan oleh etiologi naturalistik, tetapi juga oleh faktor-faktor yang bersifat personalistik.

Di kalangan masyarakat Bali, baik yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan kepercayaan terhadap gangguan kesehatan yang disebabakan oleh gabungan faktor naturalistik dan personalistik terutama gamgguan kesehatan jiwa hingga kini tampak masih sangat dominan. Masih kuatnya kepercayaan masyarakat Bali terhadap etiologi gangguan jiwa secara kombinasi antara kausa naturalistik dan personalistik menjadi faktor motivasi yang signifikan terhadap penggunaan pengobatan tradisional (balian/dukun) sebagai alternatif yang pertama dan utama, di samping menggunakan pengobatan rumah sakit. Dengan demikian, penggunaan pengobatan tradisional (balian) dan pengobatan rumah sakit (dokter) oleh masyarakat secara bersama-sama merupakan fenomena yang sangat umum di Bali, tanpa terjadinya pertentangan di antara kedua sektor pelayanan tersebut.

KLSIFIKASI DAN JENIS PENYAKIT YANG DIKENAL

Berdasarkan sistem klasifikasi penyakit, secara praktis masyarakat Bali menggolongkan penyakit menjadi dua golongan besar yaitu penyakit fisik (sekala) dan penyakit nonfisik (niskala). Menurut kebiasaan dan keterangan beberapa informan baik dari balian maupun pasien, jenis penyakit fisik yang umum dikenal masyarakat Bali adalah sebagai berikut:

(1) Penyakit Dalem (Dalam), yakni jenis penyakit atau gangguan yang menimpa seseorang yang menunjukkan gejala-gejala dalam tubuh bersangkutan terasa panas atau dingin berlebihan, atau perubahan unsur panas-dingin dalam tubuh secara mendadak.
(2) Barah  (Bengkak) yang terjadi di bagian-bagian tertentu dari anggota badan.
(3) Mokan (badan bengkak dan terasa sakit).
(4) Buh (perut bengkak dan berair).
(5) Pemalinan (bagian tertentu dari badan, seperiti punggung, perut, dan dada terasa sakit pada seperti ditusuk-tusuk).
(6) Sula (sakit melilit di perut yang secara medis disebut gejala kolik)
(7) Belahan atau puruh (sakit seperti ditusuk-tusuk di bagian kepala sampai ke mata)
(8) Tilas Naga dan tilas bunga (penyakit kulit yang biasanya menyerang kulit di bagian pinggang, yang memiliki tanda-tanda khas yang disebabkan oleh jamur. Tilas bunga penyakit kulit yang hampir sama dengan tilas naga, tetapi menyerang pada bagian tubuh lain, di luar bagian pinggang.
(9) Tuju (bengkak-bengkak yang terasa ngilu pada sela-sela persendian kaki dan tangan)
(10) Tiwang (sakit ngilu atau kejang pada kaki atau tangan)
(11) Upas (gatal-gatal pada tubuh yang disebabkan oleh bulu binatang, jamur, atau getah/bulu pohon tertentu).

Sebaliknya jenis penyakit niskala (nonfisik) antara lain adalah sebagai berikut:

(1) Buduh atau gila atau stress yang dengan tingkat keparahan tertentu, yaitu (1) uyang (gelisah), (2) suka mengigau, (3) suka lari dari rumah, (4) ngamuk atau melakukan tindakan kekerasan tanpa sadar, atau melakukan tindakan abnormal lainnya.

(2) Bebainan (sejenis gangguan jiwa yang dialami seseorang yang menunjukkan perilaku abnormal secara tiba-tiba, seperti menang, tertawa, berteriak-teriak, memanggil-manggil nama seseorang, atau orang yang sudah mati, dan tanda-tanda lainnya).

(3) Beda, suatu jenis penyakit yang bisa menyerang, baik fisik maupun jiwa (nonfisik) seseorang yang gejala-gejala dan penyebabnya secara medis baik oleh dirinya maupun praktisi medis tidak diketahui secara pasti, namun yang bersangkutan secara fisik dan mental tampak kurang sehat, atau merasa kondisi kesehatannya terganggu secara tiba-tiba tanpa diketahui sebab-sebabnya secara jelas. Secara umum jenis penyakit ini menunjukkan tanda-tanda, antara lain, tampak pucat dan lemah, kadang-kadang pinsan secara tiba-tiba, kepala terasa sakit sekali, gelisah, sering mimpi buruk, sukar tidur, cepat marah tanpa alasan, dan lain-lainnya. (Bersambung)

Oleh: Dr. A.A. Ngr Anom Kumbara, MA
Source: Warta Hindu Dharma NO. 523 Juli 2010