Sistem Pengobatan Usada Bali

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia (basic human needs) yang sangat penting bagi manusia. Hal ini terkait erat dengan kenyataan bahwa manusia yang sehat jasmani dan rohani memungkinkannya untuk melakukan peran-peran sosial sesuai dengan statusnya di masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan mereka akan kesehatan, setiap masyarakat di unia mengembangkan sistem medis yang berisi tentang seperangkat kepercayaan, pengetahuan, aturan, dan praktik-praktik sebagai satu kesatuan yang digunakan untuk memobilisasi berbagai sumber daya dalam rangka memelihara kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, baik fisik maupun rohani. Dengan demikian, sistem medis pada hakekatnya adalah pranata sosial yang memberi pedoman atau petunjuk bagi kelakuan manusia untuk memenuhi kebutuhan mereka akan kesehatan dalam suatu sistem sosial, atau sistem kesehatan sebagai sistem budaya.

Dalam setiap sistem medis akan dijumpai adanya dua sub sistem terkait, yaitu sistem teori penyakit atau etiologi penyakit, dan sistem perawatan kesehatan. Sistem teori penyakit atau etiologi penyakit (etiologi/of illness) terdiri dari kepercayaan tentang sebab-sebab terjadinya suatu penyakit dan gejala-gejala simtomatis yang dialami penderita. Sedangkan sistem perawatan kesehatan (health care system) terdiri dari sistem diagnosis atau penentuan penyebab penyakit, dan tindakan terapi atau teknik pengobatan yang digunakan.

Menurut Kleiman (1980) sistem perawatan kesehatan dapat dipandang sebagai sistem kebudayaan karena merupakan suatu kesatuan hirarkis yang tidak dapat dipisahkan yang menyangkut tentang proses dan mekanisme pengambilan keputusan keluarga dalam pemilihan sektor-sektor pelayanan kesehatan (health seekking behaviour) yang tersedia untuk menanggulangi berbagai penyakit yang dihadapi.

Tindakan penyembuhan secara hirarkis berkaitan erat dengan ide tentang sebab sakit dan bentuk penggolongan penyakit, serta pemilihan tindakan pengobatan yang dianggap tepat untuk penyakit tersebut. Kesatuan hirarkis ini ditujukan terhadap masalah penanggulangan gangguan kesehatan secara tepat guna. Dengan demikian, dalam setiap sistem perawatan kesehatan kepercayaan tentang etiologi penyakit merupakan hal yang sangat penting karena azas penyembuhan dalam semua sistem kesehatan selau didasarkan pada kepercayaan tentang sebab-sebab terjadinya penyakit tersebut.

Secara komprehensif dapat dikatakan bahwa setiap masyarakat memiliki sistem kesehatan sendiri. Dapat dimaklumi apabila Indonesia yang terdiri dari berbagai kelompok suku bangsa dengan beraneka ragam budaya etnis memiliki berbagai sistem kesehatan. Masing-masing kelompok suku bangsa tersebut telah mengembangkan sistem kesehatan mereka yang mungkin satu sama lain memiliki banyak perbedaan dan persamaan. Akan tetapi pada umumnya karakteristik sistem kesehatan tradisional mereka dapat dibedakan dengan sistem kesehatan moderen yang berasal dari Barat.

Suku bangsa Bali sebagai salah satu dari ratusan suku bangsa yang tersebar di Indonesia, secara terun-temurun juga telah mengembangkan sistem kesehatan atau pengobatan secara tradisional yang populer disebut dengan pengobatan usada, dan praktisi medisnya disebut dengan balian.

Hingga kini, walaupun ilmu dan teknologi kedokteran sudah mengalami kemajuan pesat dan sudah sangat dikenal di Bali sejak lama, namun peran dan eksistensi pengobatan usada (balian) di Bali sebagai sumber alternatif masih cukup menonjol. Kondisi ini terjadi menurut berbagai kalangan karena pengobatan usada ini di samping dianggap masih fungsional secara sosial dan lebih murah biayanya, juga cukup efektifnya untuk menyembuhkan jenis atau golongan penyakit tertentu.

Menurut Klainman (1980), dalam masyarakat secara umum dikenal adanya tiga sektor pelayanan kesehatan sebagai satu sistem medis tersendiri, yaitu (1) sektor pelayanan umum atau rumah tangga (popular sector/home remedies), (2) sektor kedukunan (folk medical system), dan (3) sektor profesional atau kosmopolitan (profesional and cosmopolite medical system). Ketiga sektor pelayanan tersebut oleh masyarakat dijadikan sebagai alternatif pilihan manakala mereka mengalami gangguan kesehatan, baik secara tersendiri maupun secara tumpang tindih, dan atau bersamaan. Pemanfaatan sektor-sektor tersebut, baik secara tersendiri maupun digambung bersama dipengaruhi oleh faktor-fator tertentu. Faktor-faktor tersebut antara lain, yaitu persepsi tentang tingkat keparahan penyakit, persepsi tentang etiologi penyakit yang diderita, efektivitas pengobatan yang pernah digunakan, aksesibilitas, dan keterjangkauan secara ekonomi.

Konsepsi Sehat-Sakit, Etiologi Penyakit,dan Praktek Penyembuhannya Konsepsi Orang Bali tentang Sehat-Sakit

Secara komprehensif yang dimaksud dengan sehat, yaitu suatu keadaan dalam mana seseorang dapat mempergunakan secara efektik keseluruhan fungsi fisik, mental dan sosial yang dia miliki dalam berhubungan dengan lingkungannya, sehingga hidupnya berbahagia dan bermanfaat bagi masyarakat. Menurut definisi Word Health Organization (WHO) sehat adalah suatu kondisi manusia yang bukan saja bebas dari penyakit dan kecacatan fisik, tetapi juga bebas dari gangguan mental. Sebaliknya secara mikro dan emik, oleh karena adanya perbedaan latar belakang budaya dan lingkungan masyarakat menyebabkan konsepsi tentang sehat-sakit sering dijumpai sangat bervariasi dan bersifat subyektif antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain.

Pada dasarnya masalah kesehatan bersifat biologis. Namun kesehatan dapat ditinjau dari segi sosial dan kebudayaan karena ternyata pandangan dan konsepsi tetang sehat-sakit tidak selalu sama antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Perbedaan itu timbul karena adanya perbedaan-perbedaan pola adaptasi masyarakat terhadap lingkungan baik fisik maupun sosialnya, sumber daya kesehatan yang tersedia, serta kemampuan cara berpikir dari masing-masing masyarakat. Dengan kata lain pandangan masyarakat terhadap kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan dan pola-pola adaptasi suatu masyarakat terhadap lingkungannya.

Pada masyarakat Bali konsepsi tentang kondisi sehat atau sakit mengacu pada prinsip keseimbangan dan ketidakseimbangan sistemik unsur-unsur pembentuk tubuh dan unsur-unsur yang ada di dalam tubuh manusia, serta keseimbangan hubungan dengan lingkungan yang 5Bih luas. Keseimbangan dan berfungsinya unsur-unsur sistemik dalam tubuh serta terpeliharanya keharmonisan hubungan dengan lingkunggan, baik fisik maupun sosial, budaya dan psikis menjadi penyebab utama terbentuknya kondisi sehat. Sebaliknya, ketidakseimbangan unsur-unsur tersebut menjadi faktor utama gangguan kesehatan atau penyebab sakit. Dengan demikian, menurut konsepsi orang Bali sehat tidak hanva menyangkut bebas dari sakit atau penyakit, tetapi juga untuk menikmati seterusnya tanpa terputus-putus terhadap keadaan fisik, mental dan spiritual yang bahagia dan utuh.

Konsep dari keadaan keseimbangan yang benar dan hakeki, tidak hanya menyangkut berfungsinya sistem dan organ tubuh manusia dengan baik dan lancar, psikis dan spiritual, tetapi juga menyangkut keseimbangan hubungan secara dinamis dengan lingkungan yang lebih luas, yakni hubungan harmonis dengan sesama ciptaan Tuhan (bhuana, makrokosmos), antaranggota keluarga sendiri, tetangga, teman dekat dan anggota masyarakat secara lebih luas, dan antara kita dengan Tuhan Sang Pencipta.

Dalam kosmologi Bali alam semesta dipandang sebagai sesuatu yang bersifat nyata (sekala) dan dapat ditangkap dengan panca indra serta bersifat tidak nyata (niskala/gaib) yang tidak dapat ditangkap dengan panca indra, tetapi dipercaya ada. Secara keseluruhan isi alam semesta ini terdiri atas lima unsur, yaitu (1) bayu, (2) teja, (3) apah, (4) akasa, dan (5) pertiwi. Semua unsur itu disebut Panca Maha Bhuta yang keseluruhannya merupakan sumber dari kehidupan manusia.

Alam semesta sebagai kesatuan kehidupan terwujud dalam dua kosmos, yaitu makrokosmos dan mikrrolosmos. Makrokosmos merupakan suatu wadah keseimbangan dunia yang amat besar tak terhingga, tetapi tetap diakui memiliki batas yang jelas dengan keadaan yang bersifat teratur dan tetap (fixed) dengan Tuhan sebagai pusat pengendali keseimbangan alam sermesta. Sebaliknya, mikrokosmos adalah manusia itu sendiri yang merupakan reflika dari makrokosmos dengan unsur-unsur Panca Maha Bhuta sebagai inti kehidupan. Walaupun manusia merupakan reflika dari makrokosmos dan memiliki kemampuan untuk mencipta, namun mereka pun menyadari akan keterbatasan akan kemampuannya dan tidak pernah bisa menolak kehendak-Nya. Dalam kehidupan masyarakat Bali, penggambaran keterbatasan manusia dihadapan-Nya tererfleksi dalam sebutan-sebutan, seperti Tuhan Maha Besar (Sang Hyang Widhy), Maha Tahu (Sang Hyang Wisesa), Maha Kosong (Sang Hyang Embang), Maha Kuasa (Sang Hyang Wisesa), Maha Pencipta (Sang Hyang Rekha), dan seterusnya. (Selanjutnya)

Oleh: Dr. A.A. Ngr Anom Kumbara, MA
Source: Warta Hindu Dharma NO. 521 Mei 2010