Simbol Hewan Pada Dewi Saraswati

Hari ini (21 Januari 2017) umat Hindu merayakan Hari Saraswati. Pemujaan Dewi Saraswati sudah dilakukan di berbagai dunia, tidak cuma di Indonesia, apalagi cuma di Bali. Berbeda dengan Hari Raya Galungan yang dirayakan oleh umat Hindu etnis Bali saja, atau Hari Raya Nyepi yang cuma dirayakan oleh umat Hindu di Indonesia, perayaan Saraswati dilakukan di seluruh dunia, di mana pemeluk Hindu itu berada.

Patung Dewi Saraswati ada di berbagai dunia baik di perkotaan mau pun di lereng gunung. DiKedutaan Besar Indonesia di Washington DC, Amerika Serikat, juga berdiri megah Patung Dewi Saraswati. Patung Saraswati juga ada di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. Di Bali banyak sekali patung Saraswati di halaman sekolah dan juga di rumah-rumah keluarga. Dunia mengakui betapa pentingnya Dewi Ilmu Pengetahuan ini.

Patung Saraswati ada pakemnya. Dewi Saraswati divisualkan bertangan empat, tentu semuanya ini adalah simbol. Ada tangan yang memegang kecapi, ada yang memegang aksamala atau di Bali sering disebut salahkaprah dengan genitri, padahal belum tentu dari buah genitri. Ada tangan yang memegang damaru atau semacam kendang di Bali, dan tangan satu lagi memegang buku.Itulah simbol dari ilmu pengetahuan yang sangat suci sekaligus harus didekati dengan hati riang. Bukan ilmu yang didekati dengan kemarahan.

Ada beberapa hewan yang menyertai Dewi Saraswati. Simbol apakah ini? Ada merak yang begitu indah mempesona. Ilmu pengetahuan itu adalah sesuatu yang mempesona jika kita berhasil menguasainya. Kita bisa menjadi orang yang dikagumi kalau menguasai ilmu dengan baik dalam berbagai bidang. Penghargaan kelas dunia diberikan kepada orang yang punya ilmu tinggi jika mereka bisa menerapkan ilmu itu untuk orang banyak. Penyebar ilmu di kalangan perguruan tinggi diberi gelar profesor sebagai penghormatan kepada mereka. Dalam tradisi Bali, banyak sekali penghormatan diberikan kepada para pengawi (pengarang sastra Bali) sebagai perwujudan bahwa ilmu yang mereka miliki sangat berguna bagi masyarakat. Ilmu pengetahuanakan memperindah budiseseorang.

Selain merak ada angsa. Angsa adalah hewan yang sangat bijaksana. Angsa bisa mencari makanan di lumpur, dia tidak takut bergelimang kekotoran. Tetapi angsa tak pernah menelanlumpur ke perutnya. Makanan itu disaring, sari-sari makanan masuk ke perutnya untuk sumber kehidupan dan lumpurnya dibuangsebagai sampah. Begitulah ilmu pengetahuan harusdiamalkan. Tidak semua ilmu pengetahuan harus ditelan mentah-mentah.

Ilmu yang membuat kerusuhandan kejahatan pada umat manusiaharuslah dibuang. Dan ilmu yang membuat kesejahtraan yang terus dipelihara. Bukankah hanya orang yang berilmu yang bisa merakit bom, tak mungkin petani yang biasa bercocok tanambisa merakit bom. Tetapi apa gunanya bom itu jika dipakai untuk membunuh orang-orang yangtidakberdosa?Apa gunanya kita menguasai iptek, mahir menggunakan internet, bisa membuat aplikasi beraneka ragam, tetapi digunakan untuk memecah-belah bangsa, setiap saat menyebar kebencian di dunia maya? Berlakukah seperti angsa, hanya “makanan” yang baik-baik dipakai dan yang buruk dibuang.

Kemudian para leluhur kita di Bali masih juga menambahkan simbol hewan yang lain. Karena sifatnya lokal, tentu saja simbol ini tidak ‘mendunia” tetapi khusus untuk masyarakat Bali saja. Karena itu simbolnya diletakkan dalam sesajen Saraswati. Yaitu cecak. Lihatlah sesajen Saraswati pasti ada simbol cecak yang dibuat dari jajan atau semacam itu. Kenapa cecak? Para leluhur kita ingin mengingatkan bahwa cecak itu hanya bisa bersuara di dalam keheningan. Tak mungkin cecak bersuara dalam keadaan hiruk pikuk. Karena itu orang yang berilmu atau sedang menuntut ilmu, haruslah dengan jiwa yang hening bahkan semangatnya pun juga hening. Dengan keheningan itu ilmu pengetahuan bisa kita serap.

Bahkan dari simbol cecak ini ada anggapan bagi mereka yang percaya, jika melakukan samadhi atau sembahyang dalam keheningan lalu terdengar suara cecak, maka “permohonan” kita atau tujuan persembahyangan kita mendapatkan anugerah.

Mari kita memuja Dewi Saraswati pada hari ini. Om Saraswati namastu bhayam, warade kama rupini, sidharambhamkari syami, siddhir bhawantu me sada. Artinya: Ya Tuhan dalam wujud-Mu sebagai Dewi Saraswati, pemberi berkah, terwujud dalam bentuk yang sangat didambakan, semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu mendapat anugerah-Mu.

Oleh: Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
Source: mpujayaprema.com