Sikap Santun Saat Berdana Punia

 
Lawan waneh,wulat amanis, manah aleba abeting,wuwus enak, segeh swagata.yatika gaweyakena, duluran ikang daana, yathayukti
(Sarasamuscaya.223)

Maksudnya:

Hendaknya dengan pandangan yang manis, hati yang lapang, ikhlas tidak mengharapkan balasan apa-apa dan gembira, kata-kata yang yang menyenangkan hati, tegur sapa yang ramah taman. Hal itulah yang hendaknya menyertai Daana Punia sebagaimana mestinya.

Dewasa ini ada tren masyarakat mendapatkan aliran bantuan sosial yang meningkat. Aliran tersebut banyak dikemas dengan istilah Daana Punia. Prioritas beragama zaman Kali menurut Manawa Dharmasastra 1.86 adalah dengan Daana Punia. Apa lagi kalau Daana Punia itu untuk pendidikan membangun Suputra jauh lebih mulia dari seratus kali Upacara Yadnya. Demikian Slokantara 2 menyatakan.

Bantuan sosial itu danannya ada dari dana pemerintah daerah ada dari pemerintah pusat dan ada dari anggaran CSR perusahanan dan mungkin ada juga dari dana pribadi orang yang mampu dan peduli. Yang paling ramai menggelontorkan bantuan sosial dengan sebutan Daana Punia umumnya para politisi yang sedang berhegemoni merebut hati masyarakat pemilih. Marilah panjatkan doa semoga saja bantuan sosial dengan kemasan Daana Punia itu disampaikan dengan tulus tidak ada maksud lain kecuali untuk Berdaana Punia. Bahkan Sarasamuscaya 271 menyatakan sebagai berikut:

Tinggalaken ikang artha,
Daana kena ri sang Patra,
Patra ngaran sang yogia
Wehana daana.

Artinya:

Sisihkanlah uang itu untuk di daana puniakan
pada Sang Patra. Patra namanya orang
yang sepatutnya diberikan dana punia

Ini artinya syarat utama Daana Punia itu diberikan pada orang yang baik dan tepat (Sang Patra). Pustaka Sarasamuscaya 223 yang dikutip di atas menyatakan ada beberapa etika yang wajib dipenuhi bagi mereka yang mau berdaana punia pada umat yang sepatutnya diberikan Daana Punia. Mungkin banyak Daana Punia yang kurang tepat sasaran. Karena ada yang sudah sangat mampu dapat Daana Punia karena dianggap punya pengaruh dalam masyarakat terutama rangka pemilihan.

Menghadapi keadaan seperti ini memang sulit menampilkan sikap hidup yang idealis. Ada Upacara Yadnya yang semestinya sudah sangat mampu dilakukan oleh umat bersangkutan di gelontor juga bansos dengan sebutan Daana Punia. Vibrasi kesucian Upacara Yadnya tersebut tentunya sedikit terganggu kalau dengan embel-embel pamerih untuk dipilih dalam pemilihan umum nanti. Apa lagi pimpinan kelompok umat yang digelontor bansos dengan sebutan Dana Punia ikut menganjurkan krama pura untuk memilih politisi yang berdaana punia itu. Padahal uang bansos tersebut adalah uang rakyat yang dikumpulkan menjadi APBD atau APBN. Sang politisilah yang 'Nyongkokin Tain Kebo' menjadikan bansos. Ada empat etika yang seyogianya ditepati bagi mereka yang mau Berdaana Punia yaitu:

(1) Wulat amanis, artinya pandangan yang manis. Air muka itu umumnya sebagai cerminan keadaan sikap batin di dalamnya. Kalau pandangannya manis berarti dalam batin orang yang menyampaikan Daana Punia itu mencerminkan ketulusikhlasan dan Daana Punia yang disampaikan itu benar-benar didorong oleh kesadaran beragama bukan karena hal-hal lain.

(2) Manah aleba abeting, artinya menyampaikan Daana Punia itu tanpa ada harapan akan balasan dengan hati yang lapang gembira. Tidak ada harapan agar nanti saat pemilihan agar dia dipilih oleh orang atau kelompok yang diberi Daana Punia. Atau ada pamerih lain yang sangat mengurangi kualitas Daana Punia yang disampaikan.

(3) Wuwus enak, Artinya, Daana Punia itu harus disampaikan dengan kata-kata yang menyenangkan hati yang muncul dari hati sanubari sang pemberi Daana Punia. Kata-kata manis hendaknya keluar dari lubuk hati, bukan dibuat-buat dengan basa basi berlebihan akhirnya akan basi jadinya.

(4) Segeh swagata, Artinya, tegur sapa yang ramah mendatangi umat yang akan diberikan Daana Punia. Memberikan Daana Punia hendaknya dihindari kesan bahwa umat yang diberi Daana Punia itu seolah-olah status sosialnya lebih rendah dari diri kita yang membawa Daana Punia. Karena secara spiritual pemberi Daana Punia itu diberikan jalan untuk meningkatkan dharmanya sebagai umat. Karena dalam Sarasamuscaya 177 ada dinyatakan : ... kunang doning dhanan hinanaken, bhuktin daanakena. Artinya: Adapun tujuan harta diadakan untuk di nikmati dan didaana puniakan. Ini berarti Medaana Punia itu adalah kewajiban agama yang diajarkan pustaka suci. Lebih-lebih pada zaman Kali ini menurut Manawa Dharmasastra 1.86 Daana Punialah sesungguhnya sebagai prioritas hidup beragama Hindu bukan Upacara Yadnya yang ruwet-ruwet itu.

Dengan adanya umat yang mau menerima Daana Punia yang kita sampaikan itu berarti umat tersebut telah membantu kita mengamalkan kewajiban keagamaan kita sebagai umat Hindu. Ini artinya pemberi Daana Punia dibantu mendapatkan pahala rohani. Sedangkan yang menerima Daana Punia dalam bentuk materi itu hanya dapat wujud materinya saja. Karena itu dalam tradisi umat Hindu di India justru yang sangat serius menyampaikan rasa terima kasih mereka pemberi Daana Punia atau bantuan tersebut dari pada mereka yang menerima. Karena dalam proses tersebut yang lebih dihargai adalah pahala rohaninya dari pada pahala materinya. Semoga gelontoran bansos dari sementara politisi dengan kemasan Daana Punia benar-benar dilakukan dengan etika Daana Punia sebagaimana yang dinyatakan dalam pustaka suci Hindu seperti Sarasamuscaya 223 yang dikutip di atas.

Berkarya untuk Pihak Lain

Paropakaraya phalanti vrksaah
Paropakaraya vahanti nadyah
Paropakaraya duhanti gavah
Paropakaraya artham idam sariram
(Saarasigaradhara Padhati Niti 62)

Maksudnya;
Demi yang lain pepohonan berbuah
demi yang lain sungai mengalir
demi yang lain sapi memberikan susu
demi melayani yang lain manusia diberikan badan

Salah satu dimensi manusia adalah sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sebagaimana mestinya kalau tidak hidup bersama manusia lainya. Artinya identitas kemanusiaanya baru akan muncul apabila manusia itu berada di tengah-tengah manusia lainya. Hampir tidak mungkin rasanya manusia dapat hidup tanpa ada manusia lainya. Artinya kehidupan manusia itu saling tergantung satu dengan yang lainya. Kehidupan manusia adalah kehidupan yang simultan. Artinya saling tergantung satu dengan yang lainya. Demikian juga dengan alam lingkungannya.

Sloka yang dikutip diatas ini sungguh indah bukan hanya untuk dinyanyikan semata tetapi untuk dijadikan renungan dalam hidup. Sloka tersebut sebagai bahan renungan bahwa manusia tidak bisa hidup kalau dia tidak hidup untuk yang lain. Karena setiap orang juga dapat hidup dari yang lain. Pepohonan saja berdaun, berbunga maupun berbuah untuk yang lain. Artinya bukan hanya untuk dirinya saja. Sungai mengalir untuk berbagai pihak.Karena ada sungai mengalir sawah ladang pun teraliri. Sawah ladang pun bisa menumbuhkan tumbuhan bahan pangan karena ada sungai mengalir. Demikian juga sapi menghasilkan susu adalah untuk makhluk hidup yang lain.

Sloka ini searah dengan Sloka Brahma Purana 228.45 yang menyatakan: Dharma Artha Kaama Mokshanam Sarira sadhanam. Artinya: Badan atau Sarira ini hanya tepat digunakan sebagai alat untuk mewujudkan empat tujuan hidup, yaitu Dharma, Artha, Kaama, dan Moksha. Maha Resi Vyasa juga memiliki Sabda Bijak atau Subha Sita sebagai berikut: Paropakaraya Puniaya, papaya para pidana. Maksudnya: Yang hidupnya melayani orang lain akan mendapatkan Punia, yang hidupnya menyakiti pihak lain akan hidup papa.

Source: I Ketut Wiana l Majalah Raditya Edisi 224 l 2016