Sibuk Menenggelamkan Usia

Ādityasya gatāgatair ahar ahaḥ saṁkṣīyate jīvitam
Vyāpāraibahu-kārya-bhāra-gurubhiḥ kālo na vijñāyate
Dṛṣṭvā janma-jarā-vipatti-maraṇaṁ trāsas ca notpadyate
Pitvā mohamayīṁ pramāda-madirāmunmattabhūtaṁ jagat
(Vairāgya Śatakam 7)

"Bersamaan dengan terbit dan tenggelamnya matahari maka setiap hari usia hidup juga menjadi semakin berkurang. Disebabkan oleh sibuk lelap dalam pekerjaan maka orang tidak lagi menyadari berlalunya sang waktu. Setelah melihat kelahiran, usia tua, kesulitan-kesulitan, dan kematian pun orang-orang tidak menjadi kecemasan. Dari semua ini dapat diketahui bahwa seluruh mahluk hidup di alam material ini sibuk lelap meminum-minuman keras duniawi memabukkan".

Raja Bhartr Hari, seorang raja yang meninggalkan kerajaannya masuk ke hutan menjadi seorang Sadhaka spiritual, menulis Vairāgya Śatakam. Ādityasya gatāgatair ahar ahaḥ saṁkṣīyate jīvitam – bersamaan dengan terbit dan tenggelamnya matahari maka setiap hari usia hidup juga menjadi semakin berkurang.

Aditya (matahari) setiap pagi hari muncul di ufuk Timur, lalu tenggelam senja hari di Barat. Demikian setiap hari muncul-tenggelam, muncul dan tenggelam. Semua orang menikmati muncul dan tenggelamnya matahari. Akan tetapi, bersamaan dengan datang dan pergi atau timbul dan tenggelamnya matahari, sangat amat jarang, jika tidak dikatakan tidak ada, orang yang memberikan perhatiannya pada semakin berkurangnya nafas hidup.

Timbul dan tenggelamnya matahari setiap hari ternyata menenggelamkan pula usia hidup seluruh mahluk hidup. Kebanyakan orang tidak menyadari hal itu, hal semakin berkurangnya usia hidup. Orang juga tidak menyadari bahwa terlewatnya hari demi hari bersamaan dengan timbul-tenggelamnya matahari ternyata kesempatan untuk bangkit dan berkembang dalam segala hal, sekala-niskala, juga menjadi semakin hilang.

Kesempatan-kesempatan emas untuk berbenah diri orang lewatkan begitu saja tanpa rasa penyesalan perihal kehilagan sedikitpun. "vyāpāraibahu-kārya-bhāra-gurubhiḥ”, karena sibuk lelap dalam pekerjaan-pekerjaan duniawi. Kepentingan hidup sebagai manusia dan kesulitan mendapatkan kesempatan hidup menjadi manusia, selain berharga, ia juga sangat singkat, Ya ……., hanya sekejap sekerlipan kilat, dan itu pun masih diboroskan dalam berbagai kebohongan dan kehidupan palsu di dalam kegelapan, kemarahan serta kemalasan.

Bahadur Shah Zafar, Sultan terakhir dari Dinasti Moghul mengatakan dirinya bersusah payah memohon waktu perpanjangan waktu dari Tuhan. Ia dapatkan hanya empat hari. Hidup yang empat hari tersebut ia boroskan begitu saja; dua hari ia lewatkan untuk mengembangkan asaan, harapan, dan khayalan, sedangkan dua hari lagi ia habiskan di dalam penantian, penantian dari datangnya asaan-asaan tersebut.

Seorang bapak-bapak usia 58 tahun (saya perkirakan usianya karena ia mengatakan dua tahun lagi akan menjalani masa pension dari pekerjaannya), datang menemui saya di Naxxar, Malta, Eropa. Bapak tersebut mengatakan dirinya sangat dan sangat sibuk. Bahkan ketika mempunyai waktu sedikit di rumah, bersama cucu-cucunya, pun kepalanya bekerja sibuk. Sedang bercakap-cakap dengan saya pun seringkali ia mengatakan “Excuse me please….!” (maaf izin….) ia sibuk berbicara di telepon dengan para manager bawahannya.

Sering orang mendapat undangan datang bertamu. Sampai di tempat undangan, orang tersebut melihat dan menyaksikan orang yang mengundangnya tenggelam dalam kesibukkan super sibuknya dengan keluarga atau teleponnya, dan yang mengundang tidak menyadari hal itu. Lelaki warga Malta tadi, sudah sibuk seperti itu selama 30-40 tahun di perusahaan tempat ia bekerja sekarang ini.

Kesibukan super sibuk sudah merambat menyeluruh sampai kepada anak-anak. Baru-baru ini, saya bertamu ke rumah seorang kawan di Eropa. Berkali-kali dan berulangkali ia memanggil anaknya untuk datang, tetapi anak itu mengatakan dirinya sibuk. Ya, ia sibuk di kamarnya dengan permainan game-nya.

Demikian, kesibukan super sibuk sudah menjadi bagian dari hidup orang, menyebabkan orang tidak mampu lagi memberikan perhatiannya kepada hal-hal super penting, khusunya perihal tujuan kehadirannya di dunia material ini.

Vyāpāraibahu-kārya-bhāra-gurubhiḥ, disebabkan oleh kesibukkan pada pekerjaan-pekerjaan duniawinya maka orang-orang menjadi tidak sadar bahwa usia hidup pun dirampas hari demi hari oleh sang waktu (kālo na vijñāyate). Bahkan waktu yang seikit itu ia akan manfaatkan untuk sibuk super sibuk dalam mengkhayal untuk menambah ini dan itu, untuk menjadi ini dan itu.

"Dṛṣṭvā janma-jarā-vipatti-maraṇaṁ trāsas ca notpadyate" – Setalah melihat kelahiran, usia tua, kesulitan-kesulitan, dan kematian pun orang-orang tidak menjadi cemas atau ketakutan akan berkurangnya usia hidup dan semakin dekatnya kematian datang kepadanya. Orang perlu menjadi tunduk hati untuk menerima kenyataan ini bahwa orang melihat setiap hari di depan matanya, bagaimana orang, binatang, dan lain-lain semua tumbang berjatuhan, mati satu persatu, dijemput oleh kematian. Akan tetapi, orang masih menganggap bahwa dirinya tidak akan mati. Ia akan bisa hidup langgeng dan kematian akan akut padanya sehingga tidak akan berani datang menjemputnya.

Segala khayalan lebih dikembangkan dengan cara menambah serta menumpuk lagi dan lagi harta kekayaan, entah dengan cara apa pun. Orang ingin melihat semakin bertambahnya harta kekayaan serta kesenangan-kesenangan, "Datang dan datang lagi semakin banyak kepada saya dan keluarga saya," itulah kita semua, jika jujur melihat diri.

Dṛṣṭvā, setelah melihat langkah segala kejadian kelahiran-kelahiran (janma), usia orang dan bahkan diri kita sendiri menjadi semakin surut dan tua (jarā), atau bagaimana hidup ini selalu didatangi oleh berbagai jenis kesulitan, bahkan tidak sedikit orang yang tidak mampu menghadapi dan menerima cobaan hidup sehingga menempuh jalan pintah bunuh diri (vapatti), dan akhirnya kita dṛṣṭvā, melihat langsung tumbuhan mengalami kematian, kucing mati, anjing mati, orang-orang meninggal, atau bahkan keluarga kita ada yang meninggal (maraṇaṁ), tetapi semua itu tidak membuat kita menjadi kapok atau sadar, tidak membuat kita menjadi cemas akan kesempatan hidup manusia kita, dan kita sama sekali lupa akan ketakutan (trāsas ca notpadyate), takut bahwa semua itu yang terjadi pada orang atau mahluk lain sedang terjadi pula pada diri kita.

Disebabkan oleh kesibukan super sibuk kita semua mengabaikan hal ini sehingga raja Bhartr Hari mengumpamakan orang-orang di dunia ini sebgai minum-minuman keras memabukkan yang membuat orang ketagihan terus untuk meminumnya sampai mabuk. Dalam kemabukkanlah ia akan menganggap menemukan dirinya, menemukan diri dalam kehilangan jati diri.

Pada suatu hari, saya diajak oleh satu keluarga ke luar rumah sambil menuju ke tempat pertemuan. Dalam perjalanan saya ditanya, "Anda perlu sesuatu barangkali?" Saja menjawab, “Oh iya saya perlu sesuatu….” maka pergilah kami ke mall. Pertama kali saya memasuki mall di Malta walaupun sudah berkunjung ke sini 11-an kali. Kami bertujuan membeli satu benda yang saya perlukan. Singkatnya, selama setengah jam berkeliling-keliling di mall dengan membawa barang belanjaan sangat banyak. Tetapi, untuk tujuan apa kami datang ke mall ternyata kami tidak membawa bersama kami.

Demikian kita datang ke “mall” dunia ini untuk tujuan Hyang Tunggal, tetapi, begitu kita sampai di Jagatmaya ini maka segala “tawaran” keindahan datang, dan memang sangat masuk akal bahwa kita menginginkan dan/atau memerlukan semua barang-barang dan kesenangan-kesenangan tersebut. Akan tetapi, begitu usia datang menjemput, barulah kita akan menyadari bahwa kita keluar “mall” jagatmaya ini tanpa membawa Yang Tunggal yang sesungguhnya merupakan tujuan utama kita datang berkungjung ke “mall” Mayapada ini.

Oleh: Dharmayasa
Source: Koran Bali Pots, Minggu Umanis, 21 Mei 2017