Sewaka Dharma

Sosok bayang-bayang yang tersentuh hujan kian mendekat tatkala kami bersimpuh di pelataran pura gunung memohon berkah Bhatara-Bhatari. Seorang Pamangku tua datang dari kegelapan memercikkan air suci. Air suci yang luluh bersama tetes anugerah langit bernama hujan. Ia tak gentar membawa kendi air suci, mungkin pengabdiannya mendidihkan semangat halau dingin dan hempas terjangan hujan. Ia tumpahkan hidup sebagai abdi Tuhan sekaligus pelayan umat. Begitulah secuil kisah kehidupan ketika manusia mengambil jalan hidup melayani sebagai sebuah kewajiban. Melayani sebagai sebuah kewajiban dalam Hindu disebut Sewaka Dharma.

Kini pengamalan dan implementasi Sewaka Dharma kian memudar, terkikis materialisme dan hedonisme. Hal ini dibuktikan orientasi masyarakat Bali tidak lagi ngayah, namun mengharapkan untuk di bayah 'upah'. Bahkan banyak tak memahami kewajiban dalam peran kehidupan di dunia ini, ada juga manusia gengsi dengan kewajiban. Apakah kita sudah berkewajiban dengan baik? Mari kita sama-sama renungkan.

Spirit Sewaka Dharma mengamanatkan kepada umat manusia agar tidak gengsi melakukan kewajiban. Dalam menjalankan kewajiban manusia mampu tahan uji, tahan godaan. Orang-orang yang mengamalkan Sewaka Dharma adalah orang yang telah mengecap aneka rasa pengabdian. Ia telah dididik dalam kampus pengalamannya atau dalam mengabdikan diri di masyarakat. Namun, Sewaka Dharma juga mengisyaratka ketika seseorang telah melaksanakan kewajibannya, orang tersebut berhak mendapatkan haknya. Ajaran Sewaka Dharma, ajaran keadilan. Ingatkah kita kepada perawat-perawat muda di rumah sakit yang rela bekerja kadang hingga dua belas jam tanpa hak yang mereka terima. Pula, guru-guru di pelosok desa tetapi gajinya kembang kempis. Sebab hidup kadang juga sebuah kemungkinan-kemung-kinan yang tak menentu.

Pengamal Sewaka Dharma memiliki kesamaan dengan seorang filsuf. Jika filsuf mengabdikan diri dengan penuh cinta kepada kebijaksanaan, seorang pengabdi jatuh cinta pada pengabdian. Cinta dengan apa yang dilakukan adalah sesuatu gerakan diri untuk mengalahkan kemalasan. Seperti contoh pemangku tadi, tak merasakan tubuh rentanya dalam pengabdian penuh semangat. Apakah ketika mengecap manisnya pengabdian dalam suatu kewajiban telah membuat luputnya rasa seorang abdi untuk merasakan tubuh tua renta? Apakah ia telah terlepas dari jeratan fisik yang masih terikat akan tua dan muda? Luput dari tua dan muda adalah Atman. Mungkin seorang pengabdi yang mecurahkan hidupnya dalam kewajiban mengabdi akan menyadari hakikat jiwa dalam diri.

Pada zona pengabdian, diri diserahkan pada takdir. Takdir adalah kehendak Tuhan, namun bukan semata-mata berpasrah pada takdir, berserah pada takdir diiringi usaha-usaha untuk selalu dipacu rasa percaya diri dalam mewujudkan tujuan-tujuan mulia. Mereka bertindak bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk kepentingan orang banyak. Kerja tidak lagi dilakukan sebagai sradha, namun telah menjadi suatu kewajiban. Mengosongkan diri dari kepentingan pribadi dan keinginan sendiri juga merupakan perwujudan dari pengamalan Sewaka Dharma.

Dalam kehidupan religius, menyerahkan diri pada Tuhan adalah puncak dari ajaran Sewaka Dharma. Hinduisme mengajarkan tentang sumber manusia adalah Tuhan yang menjadi, menjadi segala yang tampak maupun yang tak tampak. Untuk kembali pada Tuhan, banyak jalan yang dapat ditempuh, salah satunya adalah jalan bhakti dengan selalu mengabdikan diri di jalan Tuhan atau jalan dharma. Untuk itu diperlukan keyakinan atau sradha dalam suatu usaha yang merupakan landasan bhakti. Karena bhakti kita memupuk cinta. Karena cinta diri dan di sekitar kita menjadi harmoni. Sebagai pengabdi bukanlah budak. Hidup sebagai abdi memiliki kebebasan memilih jalan hidup. Pengabdian adalah suatu kemerdekaan. Kemerdekaan diri bebas dari keterikatan.

Selain itu, ikut ambil bagian dalam permainan Tuhan di dunia adalah semua kewajiban umat manusia, seperti halnya kerja adalah salah satu kewajiban dalam hidup. Berprofesi sebagai apapun sejatinya tindakan yang merupakan kewajiban. Setiap tindakan pasti akan menghasilkan akibat yang pasti, entah berdampak langsung maupun tak langsung bagi diri, orang lain, dan alam.

Sankara, seorang Maharsi India sebagai tokoh Adwaita Vedanta sempat berkata, karma dan bhakti adalah sarana untuk mencapai kebebasan spiritual. Dalam hal ini, Sewaka Dharma merupakan bagian penting sebagai proses manusia untuk mengecap kenikmatan hidup spiritual dan menyadarkan diri dalam reinkarnasi ke dunia. Dengan bhakti seorang abdi melayani, penyerahan diri total, mendedikasikan diri pada sesuatu kewajiban. Kewajiban adalah profesi. Dengan pengabdian penuh merupakan salah satu jalan manusia tidak terikat dengan lingkaran karma di dunia. Jika dapat dikatakan, mengabdi dan melayani adalah karma sekaligus bhakti. Contohnya, jika Anda membaca sebuah novel yang menarik dan disenangi, banyak hal yang akan dilupakan, seperti makan, minum dan lain sebagainya. Bahkan Tuhan pun dalam keyakinan umat Hindu memiliki kewajiban atas dunia ini. Apa jadinya jika Tuhan tanpa kerja? Konon alam semesta ini akan kiamat.

Oleh karena itu, untuk menumbuhkembangkan sikap-sikap Sewaka Dharma, perlu memupuk diri untuk selalu bersyukur, iklas, sikap kerendahan hati, mencintai tanpa pamrih, mencurahkan seluruh hidup pada Tuhan, sadar akan kewajiban adalah karma, sadar akan kewajiban tanpa memberatkan dan memaksakan diri, selalu menjalin hubungan iman dan cinta kepada Tuhan, tak kenal pamrih, mengabdi kepada diri, sesama, alam, dan Tuhan, menjadikan diri ini bangkit dari keterpurukan, membawa diri ini menuju tepat guna dalam kehidupan. Mengabdi pada sesama, saling mengasihi adalah salah satu pengabdian, membantu saudara yang memerlukan. Mengabdi pada alam, dimana manusia tidak menjadi antroposentris, individualis yang berujung pada disharmoni alam dan ketersingkiran diri dari ruang sosial, namun menjadi ekoposetris dan teosentri dimana manusia harmoni dengan alam begitu dengan Tuhan yang menjadikan alam.

Oleh: Made Arista Bangah
Source: Wartam, Edisi 21, Nopember 2016