Serat Tridatu dalam Niti Sastra

Pandangan dunia (vision du mondel) Niti Sastra dalam agama Hindu melingkupi keseluruhan kompleks gagasan, aspirasi, dan perasaan yang berhubungan dengat serat tridatu etika, moral, dan religiusitas. Tiga rangkaian ini, salit salit dijalin dengan frasa tekstual yang mengintroduksi pembaca memahami pandangan visioner penulisnya.

Keselarasan dan kesatuan (wholeness) dari Niti Sastra dalam membangun totalitas bentuk dan totalitas makna tentang jagat serat tridatu etika, moral, dan religiusitas penting untuk dipahami agar tidak terjadi interpretasi melebar (over interpretation) atau bahkan salah interpretasi (misinterpretation).

Niti Sastra dihadirkan oleh pengarang sebagai kaca benggala intropeksi untuk menghadapi tantangan zaman. Agar tidak merasa teralienasi dalam kehidupan yang semakin kompleks. Apalagi secara eksplisit dinyatakan bahwa pada saat kali sanghara (zaman kali), antithesis segala aspek kehidupan dimuliakan. “Yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan”, semua serba nungkalik (bertolak belakang).

Pandangan dunia (vision du monde) yang dibangun dalam teks Niti Sastra, pertama-tama berkaitan dengan aspek etika sebagai salah satu serat tridatu. Penulisnya membangun doktrin universal tentang etika sebagai perbuatan dan perilaku (etiket) tata cara sopan santun “yang sebaiknya dijaga” dengan pengandaian-pengandaian simbolik yang khas. “Tingkah-laku sopan adalah tanda keluarga yang baik. Tanda makanan yang baik ialah membuat badan gemuk. Tanda persahabatan yang baik ialah sifat ramah tamah yang berlebih-lebihan. Sifat suka memberi ampun dan sifat suka rela ialah tanda orang yang suci”. Demikian Niti Sastra II.8, mengandaikan kontur etika sebagai ajaran luhur yang harus dipegang erat.

Pada gilirannya, doktrin itu menghubungkan seuntai tridatu Niti Sastra dengan kehidupan nyata masyarakat. Latar belakang sejarah, zaman dan social masyarakat turut mengkondisikan terciptanya etika baik dari segi isi atau segi bentuk dan strukturnya. Perilaku (etiket) tata cara sopan santun tidak saja mencerminkan diri pribadi, tetapi sebagai cerminan keluarga yang baik pula. Kemudian juga mencerminkan kelompok sosial lebih besar lagi yang secara genetic “yang sebaiknya dijaga” itu merupakan produk kelompok sosial yang memilikinya berkorelasi dengan situasi social. Dengan situasi sosial itu, maka tidak dapat dipungkiri adanya unsur-unsur sosiokultural menembus batas historis, sosiologis, dan kultural. Apa yang tercermin dalam teks Niti Sastra sesungguhnya merupakan sosio engineering yang terus menerus dimuliakan sepanjang sejarah perdaban agama Hindu.

Simpul serat tridatu Niti Sastra berikutnya yang terefleksi penuh makna ialah masalah moral yang diterima umum. Perbuatan apa saja yang harus dijaga, bagaimanakah bersikap dalam kehidupan sehari-hari, dan kewajiban apa saja yang harus dilaksanakan dalam hidup bermasyarakat digambarkan dengan indah dalam teks Niti Sastra. Termasuk perilaku mulia, budi pekerti, dan tata susila yang baik.

Moralitas mulia, merupakan ajaran penting dalam agama Hindu. Teks Niti Sastra memberikan peringatan dengan menyebut caturtha yang harus dihindari. Salah satu kuplet sloka Niti Sastra III.6 mengemukakan sebagai berikut:

Caturtha wilanging masuk suka ri purwaka mamuhara duhka tan hade, Ikang wwang ahutang lawan c̡rêgala maithuna ri sêdêng minangkana, salah-salaha nekanang wwang atitusta wêkasanika duhka tan hade, wineh suka sêdêng sinanggama wagarbha wekasanika duhka tan hade

Terjemahan:
Ada empat peristiwa, dalam mana kegembiraan selalu diikuti oleh kesedihan, jadi tidak baik, orang berhutang itu dan (juga) srigala kelaparan, suka bersenang-senang melebihi batas. Jangan-jangan orang itu pada akhirnya mendapatkan kesusahan tiada tara. Seorang perempuan yang bersenang-senang dengan bersenggama akhirnya hamil sehingga berduka hati tiada tara.

Pandangan moral yang dikemukakan tersebut sesungguhnya berkorelasi dengan prinsip dasar agama Hindu mengenai Sad Ripu (kama-nafsu atau keinginan, lobha-tamak atau rakus, krodha-kemarahan, moha-kebingungan, mada-mabuk, dan matsya-dengki, iri hati) yang menyelimuti manusia. Pandangan itu, merupakan suatu bentuk kesadaran kelompok kolektif yang menyatukan individu-individu menjadi suatu kelompok yang memiliki identitas kolektif. Namun demikian, bukan merupakan refleksi dari suatu kesadaran kolektif yang nyata ada, melainkan merupakan puncak dalam suatu level koherensi yang amat tinggi dari kecenderungan-kecenderungan khusus bagi kelompok tertentu, suatu kesadaran yang harus dipahami sebagai suatu realitas dinamik yang diarahkan ke suatu bentuk keseimbangan tertentu.

Dengan demikian, pandangan moral yang dikemukakan oleh Niti Sastra sesungguhnya bukan merupakan fakta empiris yang langsung, tetapi lebih merupakan struktur gagasan, aspirasi, dan perasaan yang dapat menyatukan kelompok social masyarakat. Jadi segala pandangan moral yang dikemukakan dalam teks Niti Sastra merupakan gagasan, aspirasi, dan perasaan yang terus menerus dicamkan oleh masyarakat sehingga masyarakat sendiri merasakan dengan sepenuhnya bahwa aspek moralitas merupakan suatu hal yang penting dan patut sebagai sebagai cerminan kehidupan. Dan dengan demikian pula, segala tindakan masyarakat diintroduksi untuk budi pekerti yang baik, senantiasa mempertimbangkan yang baik dan buruk dalam melakukan tindakan sesuai dengan moral atau tingkah laku yang baik.

Simpul serat tridatu berikutnya dalam teks Niti Sastra berhubungan dengan religiusitas agama Hindu yang merupakan kompleks makna keseluruhan teks. Sejak awal ketaatan pada agama sudah dintunjukkan oleh teks Niti Sastra. Setelah menguratkan mahawakya Om. Awighnamsastu yang bermakna “Atas nama Tuhan Semoga Tiada Rintangan”, pertama-tama disampaikan pujaan terhadap Tuhan sebagai berikut:

Sêmbahning hulun ing Bhatara Hari sarwajnâtma bhuh nityac̡a, sang tan seng hrêdayantikta tulisen ngke suprap-tisthe-namer, ring wahyâ stuti sembahing hulun i jӧng sang hyang sahasrângc̡umân, dadya prâkrêta nîticâstra hinikêt lambang winâktc̡ng prajâ.”

Terjemahannya:
Sembah hamba kehadapan Bhatara Hari (Tuhan Yang Maha Esa) Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa selama-lamanya, Beliau selalu bersemayam di dalam hati hamba, disini digambarkan, agar seakan-akan terwujudlah Beliau itu agaknya. Keluar sembah saja tertuju ke bawah duli Sang Hyang Seribu sinar (Bhatara Surya), supaya isi Nitisastra yang saya karang oni menjadi terkenal oleh semua orang.

Ketaatan kepada ajaran agama, merupakan pandangan dunia (vision du monde) dialektik utama yang hendak dikemukakan dalam teks Niti Sastra. Kausa hubungan masalah religiusitas yang dijelaskan pada stanza Niti Sastra tersebut koheren dengan fakta kemanusiaan yang akan tetap abstrak apabila tidak dikonkretisasi dengan mengintegrasikan ke dalam keseluruhan. Oleh karena itu keseluruhan teks Niti Sastra memerlukan “pemahaman penjelasan”.

Religiusitas yang dikemukakan dalam keseluruhan teks Niti Sastra secara keseluruhan (wholeness) berkorenpondensi dengan sifat Tuhan sebagai “pemelihara”, yaitu Wisnu. Oleh karena itu, pengarang melakukan pujaan kepada Bhatara Hari. Maka, fakta individu yang ditatah secara konseptual mengntegrasikan paham waisnawa puja (pemujaan Wisnu) secara keseluruhan yang ditebar dalam keseluruhan teks agar pembaca menyadari bahwa religiusitas yang dibangun diharapkan membawa pemahaman pentingnya “kesejahteraan” itu. Dengan jagadhita (kesejahteraan lahiriah dan betiniah) maka tujuan beragama (moksartham jagadhita ya ca iti dharma) akan tercapai. Demikian serat tridatu etika, moral, dan riligiusitas terjalin sempurna dalam teks Niti Sastra.

Oleh: Jelatik Sutanegara Pidada
Source: Majalah Wartam, Edisi 29, Juli 2017