Sepi Ing Api, Rame Ing Bhakti

Selama ini orang lebih mengenal ungkapan “rame ing gawe, sepi ing pamrih”, yang artinya kurang lebih hendaknya dalam melaksanakan kerja lakukanlah dengan tulis ikhlas, tanpa perlu berpikir apalagi bertanya perihal pamrih yang akan didapat. Kerja, kerja, dan kerja begitu kira-kira intisarinya, yang akhirnya kini menjadi slogan popular kabinet kerja Jokowi. Lalu apa makna untaian kata “sepi ing api, rame ring bhakti”?

Api adalah salah satu unsur alam ciptaan Tuhan, sebagaimana disuratkan di dalam kitab suci Bhagawadgita, VII.4 : “Tanah, air, api, dan udara ether, udhi pikiran dan ego merupakan delapan unsur alam-Ku”. Keberadaan api, bersama unsur Panca Mahabhuta lainnya adalah sebagai material pembentuk fisikal alam, dunia, atau bumi, dimana manusia eksis di dalamnya sebagai entitas yang beridentitas, bahkan tak lepas dari unsur ego (ahamkara). Kemelekatan ego atau sifat keakuan pada diri manusia itulah yang tampaknya menjadi unsur “api” pembangkit energy hawa nafsu, sehingga cenderung memicu, memacu, bahkan terus cemburu objek-objek indrawi yang beraroma duniawi.

Dikaitkan dengan ungkapan “sepi ing api rame ing bhakti”, tampaknya merefleksikan makna mendalam bahwa yang namanya “api” apapun bentuk dan jenisnya, baik yang bersifat sakala (material) yang mengandung unsur panas, sinar atau cahaya (teja), maupun yang berdimensi niskala (inmaterial), terutama yang berkaitan  dengan hawa nafsu indrawi-duniawi (kama-indria), memang wajib dikondisikan. Empatnya, api jenis nafsu duniawi yang digerakkan oleh pancingan Panca Indria penikmat inilah yang patut dikendalikan, bukan dipadamkan, tetapi diredam untuk nantinya dihidupkan lagi pada saat yang tepat, baik, dan benar.

Pencerahan Krishna kepada Arjuna melalui ayat-ayat Bhagawadgita, XII, 4; VIII, 8 menyiratkan petunjuk: “dengan mengendalikan panca indria, menganggap sama dalam segala pengertian, berusaha guna kesejanteraan semua insani mereka sampai kepada-Ku; dan dengan pikiran terkendali dalam samadi, tidak akan mengembara kemana-mana, dia akan menuju Maha Purusa bila dia melaksanakan meditasi kepada-Nya, O Arjuna”.

Sampai pada penjelasan ini, makna untaian kata “sepi ing api rame ing bhakti”, hendak menuntun umat bahwa untuk menuju dan sampai kepada-Nya, patut dimulai dari pengendalian panca indria yang bila bertiup hembusan hawa panas api nafsu acapkali membakar dan mengobarkan keinginan (kama) memenuhi hasrat ego (ahamkara) menikmati segala objek pemua indria. Hal ini menyebabkan kesadaran sang Atma dalam tubuh terbelenggu, menjadi kehilangan cahaya benderang dari sang Brahman, yang telah memberikan percikan sinar suci-Nya.

Kemelekatan atas objek indrawi yang bersifat materi-duniawi itu menyebabkan kegelapan pikiran, membutakan hati, mengaburkan nurani, dan menjerumuskan sang diri dalam penjara tubuh/badan. Dalam konteks kekinian, tubuh-tubuh yang terpenjara itu dapat menjadikannya sebagai “narapidana”, sementara yang diharapkan ajaran kerohanian adalah menstanakan atma dalam tubub suci sebagaimana layaknya Sang Narayana. Dengan demikian, tuntunan yang di dapat dari ungkapan “sepi ing api rame ing bhakti”, tiada lain, bagaimana menjadikan tubuh bermaterikan Panca Maha Bhuta tidak terjerumus pada semata-mata pemenuhan panca indria, dalam segala bentuk aktivitasnya yang cenderung mencari untuk menimkati segala objek-objek pemuas api hawa nafsu duniawi.

Hanya dengan begitu, tubuh ini dapat berfungsi sebagai media kerja (karma) dan kasih (bhakti), tidak sekadar menjadi piranti pemuas nafsu indrawi berbasis materi dan beraroma duniawi. Dengan menyepikan gejolak dan gelora api hawa nafsu duniawi, jalan bhakti menuju Hyang Widhi, selaku energi api tertinggi dapat dilampaui. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai macam bentuk bhakti, diantaranya: 1) bhakti alami (ngaturang sembah), 2) bhakti insani (melayani sesama), 3) bhakti karmin (ngayah tanpa upah), 4) bhakti jnanin (persembahan ilmu pengetahuan), dan 5) bhakti yogin (menempuh dan menempa disiplin diri, melalui olah bathin, meditasi, dan kontemplasi ataupun samadi). Suratan sloka Bhagawadgita berikut merangkumnya:

Tunjukan semua kerjamu itu kepada-Ku, dengan pikiran terpusat pada Paramatman, bebas dari nafsu keinginan dan ke-Aku-an, perangilah (nafsu), enyahkan rasa gentar (ego) mu itu (III.30)

Dia yang tiada bersenang, tidak membenci, tidak berduka dan menuruti nafsu keinginan, membebaskan dari kebaikan dan kebatilan dengan penuh kebhaktian dialah yang Ku-kasihi (XII, 17)

Hendaknya tidak melaksanakan kerja yang didorong nafsu, dan meninggalkan pahala semua kerja, oleh orang arif bijaksana dikatakan tyaga (XVIII,2)

Melenkapi pemahaman dan penghayatan terhadap makna “sepi ing api rame ing bhakti” ini cuplikan cerita berikut ini memberikan suatu pelajaran tentang bagaimana mengendalikan nafsu, terutama nafsu marah (krodha) yang seringkali menguasai diri kita, yang menyebabkan rasa bhakti kita pudar dan tercemar, tidak alami, tidak asli, dan jauh dari kadar murni.

Diceritakan di sebuah gudang milik seorang tukang kayu, berserakkan peralatan/perabotan kerja, termasuk sebuah gergaji. Suatu ketika masuklah seekor ular, mengendap, dan merayap hingga tubuhnya melintasi gergaji, alat pemotong bergerigi. Tajamnya mata gigi gergaji menyebabkan perut ular terluka. Sangkaan ular, geregaji itu telah menyerang dan melukainya. Ularpun marah dan membalas dengan mematuk gergaji berulangkali. Tentu saja membuat mulutnya luka berdarah. Tetapi kejadian menyakitkan itu, tidak membuat ular mereda marahnya, si ular malah bertambah marah. Iapun kemudian membelit kuat-kuat berbaji itu, hingga membuat sekujur tubuhnya berdarah-darah. Akibat lukanya semakin parah, si ular pemarah itu akhirnya pejah (mati).

Ternyata, dengan contoh yang kelihatan sepele, dalam bentuk api nafsu marah tak terkendali dan kemudia dilampiaskan secara “berlebihan” akibat dorongan ego berkobar-kobar, akhirnya dapat membakar sang ular, mati, dan binas. Ini baru soal nafsu amarah, belum lagi-nafsu-nafsu indrawi-duniawi lainnya, yang apabila tidak sungguh-sungguh dikondisikan dalam status “aman terkendali”, akan dapat berubah menjadi peluru kendali, begitulah melesat tak dapat dicegat dan dihambat lagi laju pencariannya terhadap objek-objek nikmat pemuas kesenangan materi-duniawi. Hanya dengan menyepikan api segala nafsu duniawi, keramaian dan kegairahan bhakti mencapai Hyang Widhi akan dapat ditemui dan pastinya dicapai.

Oleh: I Gusti Ketut Widana
Source: Majalah Wartam, Edisi 25, Maret 2017