Semua Sistem Keyakinan Ciptaan Tuhan

Yo-yoyaam-yaamtanun
bhaktaat sraddhaya 'rcitum,
iccati tasya-tasya a'calam
sraddham tam eva widhadhamy aham

(Bhagawad Gita VII.21)

Maksudnya: Apapun bentuk sistem kepercayaan pada Tuhan yang ingin dipeluk oleh penganut agama, dengan bentuk apapun keyakinan yang tak berubah itu sesungguhnya Tuhanlah yang mengajarkan.

Berbagai bentuk sistem keyakinan pada Tuhan di bumi ini adalah ciptaan Tuhan. Bentuk sistem keyakinan itu ada yang berbentuk agama ada yang berbentuk sistem spiritual untuk menempuh jalan Tuhan dengan tidak menyebut dirinya sebagai agama. Menurut Sloka Bhagawad Gita VII.21 di atas sesungguhnya semuanya adalah ciptaan Tuhan. Bahkan ada orang di dunia ini yang menyatakan dirinya tidak beragama, tetapi ber-Tuhan.

Penulis sendiri di luar negeri pernah berjumpa dengan orang yang mengaku dirinya tidak beragama tetapi mereka percaya pada Tuhan. Alasan orang itu, dirinya tidak beragama karena beragama itu bikin ribut saja tidak ada perdamaian. Tentunya pernyataan orang tersebut tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Karena faktanya banyak sekali orang yang tenang merasa rukun aman dan damai karena memeluk agama. Memang faktanya ada umat yang ribut bahkan sampai berperang karena alasan agama. Mereka yang ribut sampai berperang karena alasan agama itulah yang dibesar-besarkan sehingga semakin muncul orang tidak mau secara resmi memeluk suatu agama, tetapi mereka percaya pada Tuhan.

Sesungguhnya bukanlah agama yang mengajarkan konflik seperti itu. Hanya mereka yang ribut itulah yang salah menafsirkan ajaran agama yang mereka anut. Mungkin mereka baru merasa memiliki agama yang dianutnya tetapi belum menjadi orang seperti apa yang diajarkan oleh agama yang dianutnya. Atau ada yang hapal pada ajaran agama yang dianutnya tetapi mereka tidak berubah menjadi semakin baik, bahkan karena merasa hapal justru menjadi semakin sombong mereka menjadi mabuk oleh kepintarannya.

Seperti menghapalkan teori tentang kejujuran sangat gampang menghapalnya. Tetapi untuk melatih diri dan menjadi orang yang benar-benar jujur tidak segampang menghapalkan teorinya. Sama halnya dengan orang menghapalkan teori berenang. Meskipun sangat hapal tentang teori berenang kalau tidak pernah terjun ke air berlatih berenang dia pun tidak akan bisa berenang.

Ada penganut agama yang demikian fasih menghafal teks-teks ajaran agama yang dianutnya. Tetapi dalam tataran prilaku belum tentu teks-teks ajaran agama yang dianutnya itu tercermin dalam prilakunya. Dalam ajaran Hindu pun dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra 11.118, lebih baik orang yang hanya menguasai Savitri Mantram tapi mampu mengubah dirinya menjadi lebih baik, daripada orang yang menguasai Catur Weda tetapi tidak mampu menguasai dirinya.

Sesungguhnya semua sistem kepercayaan pada Tuhan yang dianut oleh manusia penghuni bumi ini adalah ciptaan Tuhan. Manusia yang menganut sistem kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa (Ekam Sat) dan Maha Kuasa itu adalah memiliki berbagai perbedaan. Perbedaan yang meliputi berbagai aspek dan berbagai dimensi kehidupan ada perbedaan yang menyangkut tahapan hidup. Tahapan hidup menurut Hindu ada tahapan hidup berguru menuntut ilmu yang disebut Brahmacari Asrama. Ada tahapan hidup berumah tangga yang disebut Grhastha Asrama, ada tahap hidup Wanaprastha dst. Demikian pula menyangkut profesi; Ada yang berprofesi sebagai Brahmana varna, ada yang berprofesi Ksatriya varna, ada yang Vaisya varna dst.nya. Demikian juga manusia bertempat tinggal di lingkungan yang berbeda-beda. Baik menyangkut lingkungan alam maupun lingkungan sosial budaya.

Kebutuhan manusia yang berbeda-beda dimensi itu tentunya harus diapresiasi oleh sistem ber-Ketuhanan dalam memberikan kontribusi spiritual pada semua dimensi kehidupan manusia itu. Sistem kepercayaan pada Tuhan itu tentunya memberikan tuntunan yang berbeda-beda pada semua dimensi kehidupan tersebut. Yang penting sistem kepercayaan pada Tuhan itu mampu memberi tuntunan yang mampu men-sublimasi secara spiritual semua dimensi kehidupan tersebut. Sublimasi spiritual itu dibutuhkan oleh setiap orang untuk meningkatkan keluhuran moralnya dan menguatkan daya tahan mentalnya. Karena semua dinamika kehidupan membutuhkan keluhuran moral dan daya tahan mental. Tanpa moral yang luhur dan mental yang tangguh di dunia ini tidak mungkin mendapatkan kehidupan yang aman damai dan sejahtera.

Yang perlu diperhatikan bersama, perbedaan dalam sistem kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa itu tidak dijadikan ajang persaingan secara negatif saling menjelekkan. Persaingan harus diarahkan pada persaingan yang bermartabat, tidak saling menjelekkan dan untuk menghasilkan penganut yang humanistis peduli pada nasib sesama manusia dan kelestarian alam sebagai manusia ciptaan Tuhan. Sikap yang humanistis itu diaplikasikan dengan tidak memandang perbedaan sistem keyakinan pada Tuhan yang dianut.

Semua umat manusia yang menganut berbagai sistem kepercayaan pada Tuhan itu bekerja sama menghadapi musuh bersama. Musuh bersama manusia adalah prilaku yang melanggar hak-hak azasi manusia, melanggar hukum yang berlaku, merusak eksistensi alam dan tidak menghargai perbedaan ciri khas budaya. Karena itu pembangunan dunia yang diarahkan oleh UNDP yaitu badan pembangunan dunia di bawah PBB menetapkan bahwa pembangunan dunia tidak boleh melanggar HAM, hukum, lingkungan alam dan ciri khas budaya. Itulah sesungguhnya musuh bersama umat manusia yang menganut sistem kepercayaan pada Tuhan.

Kenyataan yang terjadi di beberapa belahan dunia dewasa ini, ada sementara penganut agama yang merasa paling supperior. Sistem ber-Ketuhanan yang dianutnya dianggap sebagai sistem yang paling benar sehingga sampai hati membunuh manusia yang dianggap tidak sehaluan. Hal ini seharusnya menjadi perhatian semua pihak, terutama para pemuka-pemuka agama dan semua sistem kepercayaan pada Tuhan.

Umat manusia seharusnya mampu mendaya gunakan ajaran agama yang dianutnya untuk mengatasi berbagai persoalan hidup di muka bumi. Seperti ketidakadilan, kesewenang-wenangan, arogansi kekuasaan, arogansi kekayaan, arogansi intelektual dan keberingasan sosial. Enam bahaya domestik inilah yang seyogianya diatasi dengan ajaran agama. Citra agama harus dipertahankan sebagai suatu yang paling suci di dunia ini.

 

Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Pon, 24 Mei 2015