Sekilas Tentang Percandian Muara Jambi

Provinsi Jambi terletak di pulau Sumatra merupakan salah saru wilayah negara RI yang sangat kaya dengan situs kepurbakalaan. Situs kepurbakalaan yang masih dijadikan sebagai bukti abadi di bumi Jambi adalah Situs Percandian Muara Jambi yang terletak di kabupaten Muara Jambi, Provinsi Jambi di pulau Sumatra. Untuk mencapai situs percandian ini dapat ditempuh melalui jalan darat dari kota Jambi yang menempuh perjalanan darat sekitar tiga puluh menit, atau juga bisa melalui perjalanan sungai Batanghari dengan perahu bermotor (dalam bahasa lokal dinamai ketek atau pompong). Penulis sangat tertarik mengungkapkan hasil survey ini pada pembaca.

Dalam perjalanan lewat sungai Batanghari merupakan perjalanan yang sangat menarik, oleh karena sungai Batanghari selain sungai terpanjang di Pulau Sumatra, bahwa lintasan sungai Batanghari juga sebagai lintasan komunikasi antara kota Jambi dengan kota-kota lainnya di provinsi Jambi atau lintasan yang penting antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya di wilayah propinsi Jambi. Dalam perjalanan yang menyenangkan pada lintasan sungai Batanghari yang airnya tergolong bersih tidak pernah sepi dari aktivitas masyarakat yang tinggal di sepanjang lintasan sungai, karena sungai dijadikan pusat lintasan ekonomi, perdagangan, wisata, aktivitas budaya, termasuk juga di jaman lampau bahwa sungai Batanghari sebagai poros utama bagi nenek moyang untuk melakukan peletak pertama budaaj unik dan religius saat itu terutama yang bersumber dari budaya Hindu-Buddha dari tanah India dan negeri Cina (Dinasti Tang).

Sesuai informasi yang diterima dari informan di lokasi Situs Percandian Muara Jambi, disebutkan bahwa keberadaan dari candi merupakan pengaruh langsung dari Dinasti Tang dari Cina pada tahun 618-906 dan Dinasti Sung dari Cina pada tahun 960-1279. Selain itu ada juga sumber yang dipercaya di lokasi situs percandian menyebutkan bahwa candi-candi di Muara Jambi dibangun sekitar abad 7 sampai abad 15 Masehi. Luas area Situs Percandian Muara Jambi disebutkan sekitar 2000 hektar lebih dan dinyatakan sebagai Situs Percandian Muara Jambi merupakan yang terluas di Asia. Area Situs Percandian Muara Jambi terletak sekitar 200 meter di pinggiran sungai Batanghari itu memiliki banyak peninggalan bangunan candi, kebanyakan candi dari pengaruh Buddha dan ada juga dari pengaruh Hindu.

Konon Situs Percandian Muara Jambi pertama kalinya ditemukan sekitar tahun 1820 oleh sarjana dari Inggris dan selanjutnya ditemukan lagi situs lainnya di area percandian pada tahun 1884 oleh sarjana dari Belanda. Pada tahun 1970 kemudian pemerintah RI juga melakukan pemugaran (renovasi) dan peneltian yang ditar g oleh tim dari Depdikbud RI. Secara total saat itu telah ditemukan candi-candi sekitar sembilan buah, seperti : Candi Kedaton, Candi Astana/Istana, Candi Kembar Batu, Candi Tinggi, Candi Gedang I, Candi Gedong II, Candi Gumpung, Candi Buko, dan lain-lain. Dengan area situs yang begitu luas masih memungkinkan lagi bahwa ada candi yang belum ditemukan atau belum tergali pada area tanah yang memiliki tanda-tanda gundukan-gundukan yang tertimbun tanah karena sudah usang atau Lapuk dimakan jaman.

Candi Tinggi terletak 200 meter timur laut Candi Gumpung tampak menjulang tinggi. Halaman kompleks candi dikelilingi pagar tembok dengan gapura utama terletak di sisi timur, sedang gapura lain terletak di sisi barat di dalamnya terdapat candi induk dan enam perwara. Pada Candi Induk terdapat tangga naik menuju kedua teras candi dengan tubuh bangunan makin mengecil pada puncaknya Lokasi Candi Gumpung terletak di pusat kunjungan wisata berhadapan dengan museum situs.

Kompleks candi dikelilingi pagar tembok berukuran 150 x 155 meter. Disebutkan bahwa pada waktu dilakukan pemugaran pada tahun 1982 hingga 1988 telah diselamatkan beberapa temuan penting diantaranya patung Prajna Paramita, Padmasana Bata, Peripih Candi Wajra, serta potongan gelang perunggu. Candi Gedong I dan Candi Gedong II dikelilingi pagar tembok berukuran 76 x 765 meter dengan reruntuhan gapura terletak di sisi timur, dari sisa-sisa yang ada dapat diketahui candi ini semula memiliki lantai bata serta di depan Candi Induk terdapat bangunan perwara, temuan penting lainnya yaitu Arca Gajah, Arca Singa, serta sejumlah pecahan arca batu dan pecahan keramik asing maupun lokal.

Dalam pengamatan langsung penulis di lokasi bahwa ada juga keterangan mengenai patung Dwara Pala (tetapi masih dipinjam oleh pihak terkait untuk dipamerkan di Jakarta, sesuai sumber informasi yang dipercaya di lokasi). Diketahui bahwa Patung Dwara Pala seperti layaknya ditemui di daerah lainnya di Indonesia, terutama di Bali, ada sedikit perbedaan bentuk Patung Dwara Pala dengan yang di Situs Percandian Muara Jambi yang memiliki bentuk tubuh yang agak kecil. Sedang Patung Dwara Pala di Bali rata-rata agak besar lengkap dengan senjata Gada.

Penulis juga pernah menemui patung Dwara Pala di tempat suci Hindu di Benares yakni di Mandir Wiswanath, bahwa patung Dwara Pala disana memiliki bentuk tubuh yang menengah atau tidak terlalu besar atau tidak terlalu kecil yang sama-sama memakai senjata Gada. Sepintas diamati gambar patung Dwara Pala di Muara Jambi ya agak mungil dan pendek dengan bentuk kepala agak gundul, namun sayang sekali saat penulis ke lokasi bahwa patung dimaksud sedang diboyong ke Jakarta katanya untuk keperluan eksibisi, mudah-mudahan patung itu tidak menjadi raib!

Selain itu ada juga patung Prajna Paramita ditemukan disana, namun sayang kepalanya sudah tidak ada, jadi patung hanya bisa diamati mulai dari leher ke bawah sampai kaki patung. Konon patung serupa juga ada ditemukan di daerah Singosari Jawa Timur sesuai informasi dari informan di lokasi situs. Diketahui bahwa patung Prajna Paramita juga sangat banyak dimuliakan oleh umat Hindu di daerah West Bengal atau di daerah Benggala India Timur. Ini berarti di masa lalu bahwa pengaruh Hindu juga bersama-sama hadir dari negeri kelahiran agama Hindu di India untuk dikembangkan ke Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk di Indonesia (khususnya di Muara Jambi-Sumatra).

Hal ini mengingatkan kepada kita sebagai pewaris dan pelanjut dari perkembangan dan keberadaan agama Hindu di Indonesia, bahwa di masa lalu para nenek moyang Hindu dari India yang dinamai Jambhu Dvipa telah mengembangkan dan meletakkan tonggak spiritual Hindu di tanah Indonesia (yang dinamai Suvarna Dvipa), hal ini dibuktikan bahwa memuliakan Prajna Paramita juga berawal di India (India Timur, tepatnya di Benggala, seputar : Calcuta, Bihar, Patna, atau juga dikenal daerah Nalanda). Jadi pengaruh India terutama Hindu dan Buddha sangat nampak pada lokasi Situs Percandian Muara Jambi.

Kuat dugaan penulis bahwa Situs Percandian Muara Jambi merupakan pusat kerajaan Sri Wijaya di masa lalu, yang juga disebut-sebut oleh para ahli sejarah nasional dan luar negeri bahwa kerajaan Sri Wijaya ada menyatakan berada di daerah Palembang Sumatra Selatan. Tetapi hal ini masih perlu ditelusuri terus dengan arif dan seksama. Dimana sesungguhnya lokasi kerajaan Sri Wijaya itu berada? Jika melihat peta wilayah Sumatra, khususnya Sumatra Selatan dan Jambi adalah berdampingan atau sebelah menyebelah. Kuat dugaan bahwa pusat kerajaan Sri Wijaya berlokasi di daerah Situs Percandian Muara Jambi, dengan pertimbangan bahwa situs itu banyak ada peninggalan Buddha termasuk juga peninggalan bernafaskan Hindu.

Kalau di India bahwa Hindu dan Buddha adalah asalnya sama, Hindu berasal dari lembah sungai Sindhu, sedangkan Buddha berawal di daerah Lumbini dan Sarnath, yang juga ada dikenal dengan kota pengembangan Buddha di India. Selain itu ada kota Pataliputra yang sekarang dikenal Patna termasuk juga pusat studi Buddha di dunia adalah di perguruan Nalanda-lndia. Pertimbangan lain bahwa daerah Palembang juga mewilayahi daerah Jambi dengan pusat pemujaan bagi umat Buddha ada di Muara Jambi seperti yang dilihat sekarang di lokasi situs.

Dalam beberapa tahun terakhir ini juga disebutkan oleh sumber terpercaya di lokasi bahwa umat Buddha Indonesia telah memusatkan pemujaan untuk perayaan Waisak di situs Percandian Muara Jambi. Dari situs yang begitu luas dan ditambah lagi bangunan-bangunan suci Budha begitu jelas di area situs, semogalah dugaan ini tidak meleset, bahwa area Situs Percandian Muara Jambi sebagai pusat kerajaan Sri Wijaya di masa lalu. Hal ini perlu penelitian lanjutan terus dari berbagai perspektif.

Menurut penjelasan dari sumber terpercaya di lokasi situs dan juga amatan langsung dari penulis bahwa Situs Percandian Muara Jambi memiliki beberapa peninggalan, seperti: Padma (3 buah), Arca gajah, Arca Gajah Singa (2 buah), Arca Prajna Paramita yang berasal dari Candi Gumpung, Arca Dwarapala, Belanga (Candi Kedaton), Batu Relief Bunga Teratai, Abjad Pallwa, Bata Bercap, fata Berukir, Peripih Candi Gumpung degan 9 jenis tanah pripih, Guci, Kendi, Uang Logam Cina/Uang Kepeng, Artefac Logam, Lesung Muara Jambi (2 buah), beberapa serpihan bata merah yang sudah lapuk dengan tulisan Pallaiva. Bila dibandingkan dengan Candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah, bahwa bahan utama candi terbuat dari batu hitam, tetapi candi-candi di Muara Jambi rata-rata terbuat bata merah yang sangat kuat, diperkirakan bahwa bata merah tersebut merupakan produk lokal Jambi yang menyesuaikan dengan material yang mampu diproduksi oleh masyarakat setempat saat itu.

Bila dibandingkan dengan temuan tulisan Pallwa di kerajaan Kutai oleh para ahli sejarah kenamaan baik nasional dan luar negeri tempo dulu, memberikan isyarat bahwa perjalanan dan perkembangan agama Hindu dan Buddha di masa silam akhirnya sampai juga di tanah Jambi, oleh karena para missionaris agama Hindu dan Buddha saat itu rupanva juga melewati simpangan lintasan antara Melayu-Sumatra-Kalimantan, sehingga kuat dugaan bahwa saat itu Jambi merupakan pusat wilayah perdagangan para pedagang internasional dari berbagai negara termasuk dari Cina dengan Dinasti Tang sebagaimana disebut-sebut oleh para ahli sejarah. Hal ini membuktikan saat ini bahwa daerah Kepulauan Riau (Kepri, terutama daerah Batam) dan Singapura sebagai pusat perdagangan internasional di era modern ini. Moga ada manfaatnya informasi ini sebagai catatan kecil sesuai hasil survey penulis secara langsung ke lokasi Situs Percandian Muara Jambi.

Source: Prof. Drs. I Ketut Subagiasta, M.Si., D.Phil l Warta Hindu Dharma NO. 512 Agustus 2009