Sejarah Pura Batur

Segala sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada, kemudian menjadi ada, pasti memiliki saat awal penciptaan serta awal pengadaannya di muka bumi ini. Pura sebagai tempat pemujaan umat Hindu mempersembahkan sujud kepada Hyang Widi/ Tuhan Yang Maha Esa, juga tidak luput dari diktum ini. Eksistensi pura di Bali adalah merupakan perwujudan interaksi hakiki antara manusia dengan pencipta-Nya, antara manusia dengan manusia, manusia dengan dunia tempatnya berada.

Untuk mengingat sejak awal berdirinya atau saat selesai restorasi sebuah pura, para undagi sering memahatkan tanda-tanda, angka tahun, atau gambar, yang diharapkan dapat memberi petunjuk tentang sejarah awal berdirinya sebuah pura. Petunjuk ini sering dilukiskan secara jelas, dan acapkali dipahatkan secara sembunyi dalam bentuk candrasengkala atau sengkalan memet. Akan tetapi kebanyakan pura-pura utama di Bali tidak memuat data awal sejarahnya, baik dalam bentuk prasasti yang dipahatkan maupun dalam sumber-sumber tertulis. Keadaan ini selalu menjadi kendala bagi para peneliti yang ingin mengetahui dan merekonstruksi sejarah sebuah pura. Untuk memecahkan masalah ini, biasanya dilakukan interpretasi, dengan mencoba menemukan kaitannya dengan peristiwa bersejarah yang sejaman.

Untuk menemukan dan merekonstruksi sejarah Pura Batur, para peneliti terantuk pada kendala yang sama seperti tersebut di atas. Dalam penelitian awal ini, belum ditemukan sumber-sumber tertulis yang diharapkan dapat memberi petunjuk untuk menjawab pertanyaan kapan Pura Batur didirikan. Peninggalan-peninggalan phisik, seperti prasasti, sengkalan atau yang sejenis dengan itu, hampir tidak berhasil ditemukan, karena seluruh kompleks pura tua telah hancur dan terbenam oleh lahar Gunung Batur.

Beberapa sumber tradisional, seperti Usana Bali, Babad Batur, dan yang lainnya, hanya mampu memberi gambaran tentang proses awal pendewaan tanpa mengkaitkannya dengan saat pura dibangun secara phisik. Sumber»ini hanya memberikan gambaran tentang pendewaan yang disuratkan secara mitologis atau legendaris.

Menurut Usana Bali, yang dipuja di Pura Batur adalah saktinya dewa gunung yang diwujudkan secara pradana sebagai Dewi Danu. Dalam sejarah kebudayaan Nusantara, pemujaan dewa gunung sudah membudaya dalam abad VII. Hal-ini dapat dibuktikan dengan berdirinya kerajaan Funan (di Kamboja sekarang) dan Kerajaan Syailendra di Jawa Tengah. Kata funan atau syail berarti dewa gunung.

Dilihat dari sudut pemujaan dewa gunung, maka pemujaaan di Pura Batur sudah dilaksanakan dalam abad VII. Dengan disebutkan nama "Kuturan" dalam sumber itu, maka diperoleh petunjuk bahwa telah terjadi pengembangan pemujaan di Pura Batur, yang dilakukan oleh Kuturan.

Dalam sejarah kebudayaan Bali, Senapati Kuturan diperkirakan sudah berperanan di Bali dalam abad X, telah terjadi berbagai atau peningkatan pemujaan di Pura Batur yang diprakarsai oleh Kuturan. Usana Bali sebagai sumber, ditulis sejaman dengan masa berperanannya Dang Hyang Nirartha sebagai pendeta Hindu yang sedang aktif menyebarkan dan menguatkan akar-akar kebudayaan dan agama Hindu di seluruh Bali. Aktivitas ini dilaksanakan sebagai bantalan untuk menghadapi dampak proses islamisasi yang melanda Nusantara pada masa pemerintahan raja Dalem Watu Renggong yang berstana di Gelgel (Klungkung). Disebutnya Pura Batur sebagai satu pemujaan penting umat Hindu di Bali oleh sumber ini, memberi petunjuk bahwa perhatian Nirartha dan Bali.

Dalam babad Batur disebutkan bahwa penguasa Majapahit, setelah berhasil menaklukkan Bali, telah menempatkan penguasa di desa Batur. Dalam sumber ini disebut-sebut Dalem Ketut sebagai pelaksana penempatan pejabat itu. Penempatan ini berkaitan dengan penyucian beberapa tempat pemujaan seperti Gunung Agung, dan Pura Batur, Batukaru, Saderi dan yang lainnya.

Melalui sumber ini dapat diperoleh petunjuk bahwa Pura Batur telah mendapat perhatian utama dari Dalem Ketut sebagai penguasa Bali yang berkedudukan di Gelgel. Bali dikuasai oleh Majapahit tahun 1343, setelah ekspedisi Gajah Mada berhasil menguasai pusat kerajaan Bedahulu. Dalem Ketut sebagai raja Bali ke-3 dari dinasti Kresna Kepakisan memerintah Bali atas nama Raja Majapahit, mulai berkuasa sekitar tahun 1380-an sampai tahun 1460. Beliau kemudian diganti oleh putranya bergelar Dalem Watu Renggong. Jadi sumber ini telah memberi petunjuk bahwa Pura Batur yang disungsung oleh penduduk desa Batur dan sekitarnya, telah memperoleh perhatian dari penguasa Bali yang baru.

Pura Batur tua terletak di desa Batur, yang berlokasi di lembah kaldera Gunung Batur, menghadap ke danau Batur. Kebenaran lokasi ini, selain dimuat oleh sumber-sumber tradisional seperti tersebut di atas, juga dimuat dalam sumber-sumber Barat (terutama sumber Belanda). Para peneliti Barat baik para ahli gunung berapi maupun peminat-peminat kebudayaan, banyak menyuratkan pengalaman mereka dalam karya tulis yang diterbitkan sebgai artikel dalam majalah atau buku tersendiri. Mereka banyak bercerita dan mengabdikan gunung Batur sebagai gunung berapi, tentang Pura Batur yang terancam lahar, tentang desa-desa lembah yang menghuni kaldera gunung Batur, dan tentang danau Batur yang luas.

Beberapa dari sumber itu, banyak yang mengabadikan pura Batur tahun 1969-an sebelum pura itu benar-benar telah ditelan oleh lahar. Ada pula sumber yang menguraikan bagaimana pura itu dalam tahun 1990-an, setelah lahar benar-benar melalap pintu gerbang utama dan sebgaian besar lokasi dan bangunan pura. Semua sumber itu memberi petunjuk, bahwa sampai dengan tahun 1919 Pura Batur masih dipuja dan dikunjungi di tempat asalnya di desa Batur, di lembah kaldera.

Seorang ahli ilmu bumi berkebangsaan Swiss bernama H. Zollinger pada tahun 1857 telah mengadakan penelitian terhadap gunung Batur dan desa-desa sekitarnya yang terletak di lembah kaldera. Pada saat kunjungan Zollinger ke pura Batur, pura sedang ditutup dan tidak boleh dikunjungi, karena sedang cuntaka manakan salah. Maksudnya bahwa di salah satu desa yang menyungsung Pura Batur telah lahir bayi kembar laki perempuan (buncing), yang dianggap mencemari kesucian desa dan pura.

Walupun dilarang masuk pura, namun dari puncak pendakiannya, Zillinger dapat menyaksikan kebesaran pura Batur. Pura terdiri atas tiga pelataran, dan masing-masing pelataran dibatasi oleh tembok yang dihubungkan poleh pintu gerbang. Untuk memasuki pelataran pertama (jabaan) harus melewati gerbang kembar (candi bentar). Untuk memasuki pelataran ke dua (jaba tengah), harus, melewati gerbang lebih kecil (paduraksa). Untuk memasuki pelataran ketiga (jeroan) harus melintasi gerbagn utama (kori agung) yang tinggi ramping menjulang, dengan beberapa gerbang kecil sebelah menyebelahnya.

Dalam pelataran ke tiga, Zollinger menyaksikan banyak meru dengan atap bertumpang dan rumah-rumah dewa lainnya. Dari berita Zollinger ini dapat diketahui bahwa dalam tahun 1850-an Pura Batur sudah merupakan pura pemujaan yang besar yang terletak di desa Batur, di lembah kaldera Gunung Batur.

R. Van Eck seorang budayawan Belanda, dalam artikelnya tentang Bali tahun 1879, melukiskan Pura Batur sebgai pura besar yang terletak di tengah-tengah desa Batur di lembah kaldera gunung Batur. Disebutkannya pula bahwa Pura Batur adalah tempat pemujaan kepada Dewi Danu yang dapat disamakan dengan pemujaan Dewi Gangga di India.

Sorang ahli ilmu bumi lainnya, C.m. Pleyte dalam artikelnya yang berjudul "Kenang-kenangan dari India Timur Bali" melukiskan lebih teliti pengalaman perjalanan ke Pura batur. Dipaparkannya Pura Batur sebagai pura besar dan keramat, penuh dengan meru dan bangunan kecil lainnya. Di tengah-tengah kompleks pura yang suci, terdapat bangunan pemujaan orang-orang Cina. Dari berita ini dapat diketahui bahwa dalam tahun 1901, ketika pura masih berokasi di lembah, sudah terdapat pemujaan orang Cina di tengah pelataran yang suci. Jadi pemujaan orang Cina yang disebut palinggih Ratu Subandar di Pura Batur sekarang, sudah ada dalam abad XIX. Hal ini merupakan satu bukti tolerasi religi yang berderajat tinggi, yang telah terjadi di Pura Batur. Toleransi ini ternyata telah berlangsung dalam abad XIX.

Berita lebih lengkap tentang Pura Batur tua dipaparkan oleh W.O.J. Nieuwenkamp. Ia adalah salah seorang dari sekian banyak peneliti dan pengunjung yang telah tiga kali mengunjungi Pura Batur. Perkunjungannya yang pertama tahun 1904, ia masih menyaksikan Pura Batur sebagai pura yang besar dan keramat. Pura itu terletak di tengah desa Batur, di lembah kaldera Gunung Batur. Pura dikelilingi oleh dinding yang kokoh, dan terbagi atas tiga halaman yang besar. Pada saat itu lahar Gunung Batur sudah menyentuh bagian belakang pura. Hal in memperkuat bukti bahwa Gunung Batur suadah meletus sebelum kunjungan Zollinger tahun 1857.

Untuk memasuki halaman pertama (jabaan), harus melalui gerbang utama yang terbelah dua (candi bentar). Pada halaman pertama ini tumbuh pohon beringin besar. Pada pelataran pertama ini tidak ditemukan bangunan suci untuk sembahyang. Memahami halaman kedua (jaba tengah) harus melewati gerbang yang lebih kecil (paduraksa) ramping dan indah. Pada sebelah kiri dan kanan paduraksa terdapat gerbang-gerbang kecil (peletasan), sebagai pintu lalu lalang dari halaman pertama ke halaman kedua, atau sebaliknya.

Untuk memasuki halaman yang ketiga (jeroan) yang merupakan pelataran yang paling suci, harus melalui gerbang utama (gelung kori agung) yang besar lancip dan tinggi menjulang. Gerbang utama yang tinggi dan ramping ini, merupakan bangunan yang terbesar dan terindah, yang menjadi ciri kebesaran dan kemegahan Pura Batur tua.

Apabila dilihat dari bentuk dan hiasan gerbang yang dilukiskan oleh Nieuwenkamp, gerbang utama Pura Batur memperhatikan bentuk dan corak Candi Lorojongrang, salah satu candi di kompleks Candi Perambanan jawa Tengah, Ornamen yang dilukiskansecara detail, memperlihatkan hiasan yang sejaman dengan ornamen pura abad XIV atau XV, sebagai ragam hias pengaruh candi-candi di Jawa Timur.

Dalam halaman ketiga yang suci ini, terdapat meru beratap tumpang sekitar 11 buah, mulai meru beratap tumpang satu sampai meru beratap tumpang sebelas, bebaturan meru dibuat dari batu-batu cadas keras, sedangkan mahkota tersebut dari kayu beratap ijuk. di samping-samping ' bangunan meru, masih terdapat banyak bebaturan sebagai pelinggih yang di sucikan.

Berdasarkan paparan pengalaman dab pengamatan Nieuwenkamp itu, dapatlah diketahui bahwa pura Batur tua masih dapat bertahan lebih dari 40 tahun, dari ancaman lahar gunung Batur, Lahar Gunung Batur terhenti dan hanya menyentuh tembok belakang pura. Keadaan pura Batur yang dilukiskan oleh Zollinger tidak jauh berbeda dengan yang dilukiskan oleh W.O.J. Nieuwenkamp 47 tahun kemudian.

Awal tahun 1905, Gunung Batur meletus lagi dengan hebat, Berdasarkan atas penelitian para ahli gunung berapi pada masa-masa itu, diberitahukan bahwa letusan Gunung Batur tahun 1905 itu, adalah yang paling dahsyat dan paling banyak memuntahkan lahar. Lahar hitam paket telah melanda dan menimbun sebagian besar pura Batur setinggi 10 meter.

Pada kunjungan Nieuwencamp yang kedua tanggal 2 Nopember 1906, dari kejauhan ia hanya Menyaksikan puncak gerbang utama (kori agung) yang tetap tegak dengan kokoh. Sebagian besar meru roboh dan terbakar, sehingga keindahan dan kemegahan pura sudah tidak tampak lagi. Batara gunung Batur telah murka dan menimbun pura besar dan suci itu.

Dalam percakapan Nieuwenkamp dengan raja Bali I Dewa Gde Tangkeban, sebelum ia berangkat menyaksikan sendiri pada kunjungannya yang kedua itu, dengan jelas dilukiskan bagaimana malapetaka Gunung Batur itu, yang telah melenyapkan sebagian besar bangunan pura dan desa Batur. Tampaknya mala petaka selalu membayangi pura Batur dan mengancam akan menelannya.

Pada tanggal 21 Januari dan 4 Pebruari 1917, telah terjadi gempa bumi yang mengoncangkan daratan Bali Selatan, dengan kekuatan sangat dahsyat. Berita tentang gempa bumi dahsyat yang menimbulkan kerusakan hebat dan korban jiwa itu, diberitakan oleh koran-koran di Batavia. Berita tentang gempa bumi itu dimuat oleh de Java Courant terbitan tanggal 26 Januari dan 16 Pebruari 1917, dan juga oleh surat kabar de Telegraf tanggal 21 April 1917.

Dalam koran itu diberitakan bahwa wilayah distrik Kintamani, Bangli dan Susut, mengalami rusak berat. Desa Batur, Songan, dan Buahan menderita sangat parah. Tercatat sekitar 400 penduduk desa yang luka-luka, dan lebih dari 300 orang yang mati. Gempa kedua yang terjadi tanggal 4 Pebruari 1917 jam 05.00 dini hari, telah memporak-porandakan desa-desa Bateng, Dausa, Bantang, Kutadalem, Buahan, Trunyan. Dapat diyakinkan bahwa gempa besar ini telah mempercepat dan menyempurnakan kemusnahan Pura Batur tua.

Pada kunjungan Nieuwen-kamp yang ketiga tahun 1919, dilaporkan bahwa hancurnya Pura Batur terutama disebabkan oleh timbunan lahar Gunung Batur yang meletus tahun 1905, dan gempa bumi dahsyat yang terjadi tanggal 21 Januari dan 4 Pebruari 1917. Dalam kunjungannya yang ketiga kalinya ini, Nieuwenkamp telah menyaksikan satu keajaiban yang mencengangkan. Gerbang utama yang sebagian besar telah terbenam di lahar hitam, pucaknya tetap utuh tegak kokoh dan indah, tidak runtuh olen goncangan gempa yang sangat hebat.

Berdasarkan laporan perjalanan Nieuwenkamp yang ketiga ini dapat diketahui, nahwa paling sedikit sampai tahun 1919 pura Batur masih tetap berlokasi di lembah lahar Gunung Batur. Belum tampak ada tanda-tanda untuk memprakarsai pemindahan pura ke desa tempatnya sekarang.

Sumber-sumber yang memberi-takan dengan jelas perpindahan Pura Batur tua ke desa tempatnya sekarang, belum ditemukan. Oleh karena itu, agak sulit memaparkan kapan pura itu dipindahkan, oleh siapa, atas prakarsa siapa, dan bagaimana proses perpindahan itu terjadi.

Faktor-faktor yang mendorong timbulnya prakarsa untuk memindahkan Pura Batur dari lembah lahar ke desa tempatnya sekarang, dapat diterka dengan agak jelas. Keparcayaan masyaraka terhadap karisma dan kekeramatan Pura Batur merupakan pendorong pertama untuk menyelamatkan pura besar dan keramat yang telah dilahap lahar hitam. Untuk mencegah ancaman kerusakan oleh bencana aliran lahar Gunung Batur, maka lokasi pura harus dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi dan aman, dengan tetap mengacu kelokasinya yang pertama. Maksudnyan bahwa pemindahan tempat selalu mengharapkan agar karisma dan pulung pura terbawa ke tempatnya yang baru.

Dalam sejarah dan kepercayaan pendirian pura di Bali, pemilihan tempat merupakan faktor utama dan menentukan, agar pura memiliki kesucian dan kesakten. Setelah harus sesuai dengan kosmologi menurut pengider-ideran, juga kepercayaan kepada magi, suci, dan keramat selalu mempengaruhi pemilihan lokasi pura.

Pemindahan lokasi Pura Batur kedesa tempatnya sekarang, mungkin juga atas pertimbangan agar umat dapat lebih mudah datang melakukan persembahyangan. Mereka tidak akan terhalang lagi untuk melaksanakan ibadah, walaupun Gunung Batur meletus dan memuntahkan laharnya. Jalur transportasi yang melintas di depan pura, semakin memudahkan umat untuk datang melaksanakan sembahyang ke pura, setiap saat.

Raja dan rakyat kerajaan Bangli, khususnya penduduk desa-desa sekitarnya, seperti Batur, Sukawana, kintamani, Kedisan, Songan, dan yang lainnya, bertanggungjawab atas pemindahan pura itu. Tampaknya, Pemerintah Belanda yang telah berkuasa penuh di Bali sejak runtuhnya kerajaan Klungkung tahun 1908, ikut mendukung gagasan pemindahan pura ke desa tempatnya sekarang. Kebijakan Pemerintah Belanda di Bali, untuk mendukung dan melindungi kebudayaan dan agama Hindu di Bali, terutama didukung oleh kelompok orientalis pendukung Baliserijng. Kelompok ini meminta agar Pemerintah Belanda, melindungi dan membina kebudayaan dan agama Hindu di Bali dari ancaman proses akulturisasi budaya dan agama lain.

Menurut ingatan beberapa tokoh tua setempat, diperkirakan proses perpindahan Pura Batur ke tempatnya sekarang, pertama kali dilaksanakan dalam tahun 1926. Apabila berita di atas benar, berarti pura Batur yang kita saksikan, sekarang, baru berusia 62 tahun.

Pada bulan Pebruari 1963, Gunung Agung meletus, dengan dahsyat. Beberapa bagian wilayah kabupaten Karangasem dan Klungkung dilanda lahar panas. Lahar panas melanda desa-desa di lereng timur, tenggara dan selatan gunung Agung. Abu, debu dan pasir, yang terbang membubung tinggi ke arah barat dan barat laut, telah menutupi desa-desa di wilayah kabupaten Bangli dan Buleleng. Banyak rumah dan Pura roboh karena atapnya tidak mampu menyangga berat debu dan pasir Gunung Agung.

Pura Batur yang terletak di sebelah barat laut gunung Agung, juga tetimpa debu dan pasir. Pura Batur mengalami rusak cukup berat, karena atap-atap meru dan bangunan kecil lainnya, tidak mampu menyangga berat debu dan pasir. Gempa vulkanis yang disebabkan letusan gunung Agung, telah menambah kerusakan pura, sehingga harus dilakukan restorasi secara besar-besaran, pura yang dapat kita saksikan sekarang, merupakan hasil restorasi itu.

Source: Warta Hindu Dharma NO. 531 Maret 2011