Saripati Pendidikan Hindu

Manu adalah Sang Pemimpin setiap manwantara atau siklus dalam satu kurun zaman dalam satu kalpa. Sebelum pralaya (kiamat) tiba, ada empat belas manwantara harus dilalui.

Sehingga akan ada empat belas Manu dan Manu pertama disebut sebagai Swayambu Manu. Setelah Swayambu Manu menikah dengan Satarupa maka lahirlah para manawa (anak manusia,). Setelah itu apa yang terjadi? Tentu saja para manawa beranak pinak menjadi tambah banyak, dan tambah banyak terus. Meski ada yang mati, yang lahirpun semakin banyak. Dalam siklus kelahiran dan kematian itu terjadilah tumimbal lahir (punarbhawa).

Tumimbal lahir terjadi karena karma, dan bersama karma pula setiap insan manusia mengakhiri tapanya setelah atma tak lagi dikandung badan. Lalu apa yang dilakukan sang aku saat dikandung badan? Berkarma! Begitu bila diringkas hakikat hidup yang diemban sang atma bersama baju badan kasarnya. Tiada lain hanyalah berkarma.

Sepanjang perputaran evolusinya (cakraning gilingan), para manawa dibekali ilmu yang disebut Weda. Di dalam teks Weda itulah doktrin tujuan hidup (way of life) manusia yang disebut mokhsartam jagadhitaya ca iti dharma tersurat. Kebahagiaan lahiriah dan ba-tiniah di dunia sakala maupun di dunia niskala. Sukha tan pawali dukha, bahagia tiada duka.

Semudah itukah? Ya, memang semudah itu. Dalam Agama Hindu Hyang Widhi memang maha pengasih, maha penyayang, dan maha memudahkan segala niat dan maksud berbuat baik untuk mencapai kedudukan sejati sebagai insan manusia menuju sifat dewata (daivi sampad). Saripati pendidikan Hindu hanyalah berkarma untuk mencapai kesejahteraan hidup di dunia nyata (sakala) dan di dunia sejati (niskala), mokhsartam jagadhitaya ca iti dharma.

Namun demikian, yang mudah itu sesungguhnya kompleks. Mudah untuk dipahami, namun tak mudah untuk dilaksanakan. Demikian pula sebaliknya, mudah untuk dilaksanakan sekaligus tak mudah untuk dipahami. Mudah untuk memahami apa itu karma phala, namun tidak akan mudah melaksanakan ajarannya. Mudah untuk merapalkan mantram gayatri, namun tak mudah memahami hakikat makna yang tersirat didalamnya. Kolokasi tepat berupa tautan padu dalam lingkup diskursif adagium saripati pendidikan Hindu harus dipahami terlebih dahulu sebelum memahami kompleksitas hakikat, yang "mudah" itu.

Adagium mokhsartam jagadhitaya ca iti dharma itu berkorelasi dengan Catur Purusa Artha sebagai tujuan pragmatik. Empat tujuan Catur Purusa Artha saling gayut dalam ekuilibrium takaran yang tepat. Dharma sebagai tujuan pertama Catur Purusa Artha berarti kebenaran dan kebajikan, yang menuntun umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan. Dharma ini pulalah sebagai suluh untuk memandu upaya tujuan artha berupa benda-benda atau materi yang dapat memenuhi atau memuaskan kebutuhan hidup manusia. Di sini tampak dilematika materialisme yang mengikat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan nafsu untuk menikmati kebendaan secara berlebihan. Jadi takaran materialisme ditentukan oleh etika dharma yang berlandaskan kebenaran dan kebajikan.

Demikian pula dharma menjadi pedoman bagi kama yang pada dasarnya berarti 'hawa nafsu, keinginan, dan kesenangan'. Tanpa 'hawa nafsu, keinginan, dan kesenangan' itu, dinamika kehidupan manusia tidak akan terwujud. Kehidupan manusia menjadi statis sehingga tujuan akhir dari kehidupan manusia, yaitu mokshartam jagadhita ya ca iti dharma tidak akan terwujud. Diperlukan kama sebagai upaya mencapai tujuan hidup itu. Namun demikian, ekspoitasi berlebihan atas kama itu sendiri dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan hina dina terikat pada dasa mala, yaitu:

1) Tandri, berarti orang malas, suka makan dan tidur saja. Tidak tulus melakukan sesuatu dan hanya ingin melakukan kejahatan saja;
2) Kleda, berarti selalu putus asa, suka menunda dan tidak mau memahami maksud orang lain;
3) Leja, berarti berpikiran gelap, bernafsu besar, dan melakukan kejahatan dengan gembira;
4) Kutila, berarti suka menyakiti orang lain, pemabuk, dan penipu;
5) Kuhaka, berarti pemarah, suka mencari-cari kesalahan orang lain, berkaata sembarangan, dan keras kepala;
6) Metraya, berarti suka berkata menyakitkan hati, sombong, iri hati, dan suka menggoda istri orang;
7) Megata, berarti suka berbuat jahat, tetapi dibungkus dengan perkataan manis;
8) Ragastri, berarti suka mengumbar nafsu birahi dan suka memperkosa orang;
9) Bhaksa Buana, berarti suka menyakiti orang lain, penipu, dan suka hidup berfoyafoya melewati batas;
10) Kimburu, berarti suka menipu dan mencuri terhadap siapa saja tidak pandang bulu, juga pendengki dan iri hati.

Dalam pada itu, untuk menghindari terjadinya sifat-sifat dasa mala menguasai diri manusia, maka dharma pula menjadi pengendalinya. Dengan demikian, maka moksa sebagai tujuan akhir dari Catur Purusa Artha akan tercapai. Di dalam hal ini, moksa berarti kebahagiaan tertinggi.

Artha adalah benda-benda atau materi yang dapat memenuhi atau memuaskan kebutuhan hidup manusia. Kama artinya hawa nafsu, keinginan, juga berarti kesenangan sedangkan Moksa berarti kebahagiaan yang tertinggi atau pelepasan. Baik di dunia sakala maupun di dunia niskala.

Saripati pendidikan Hindu sesungguhnya berkaitan erat dengan empat hal yang terkandung di dalam doktrin Catur Purusa Artha, yaitu dharma, artha, kama, moksa. Dimana keempatnya dicapai dengan kalibrasi yang seimbang sesuai takarannya atas dasar kendali dharma, yaitu kebenaran dan kebajikan. Sesuai dengan tujuan hidup (way oflife) manusia yang disebut mokshartam jagadhita ya ca iti dharma.

Oleh: Jelantik Sutanegara Pidada
Source: Wartam Edisi 15, Mei 2016