Sarasvatīpūjā Pendorong Semangat Belajar dan Cinta Ilmu Pengetahuan

Salam Kasih

Kavyaṁ vyākaraṇaṁ tarkam,
Veda śāstraṁ Puraṇakam.
Kalpaśiddhīni tantrāni,
Tvat prasadat samārabhet.

(Atas karunia Hyang Sarasvatī umat manusia mempelajari kitab suci Veda dan sastra, syair, tata-bahasa, logika, berbagai disiplin dan sejarah)
(Sarasvatīpūjā, 5)

1. Sarasvatī, dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan
Di Indonesia, setiap hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung, hari terakhir dari Wuku terakhir dan hari Minggu Pahing Wuku Sinta, hari pertama dari Wuku pertama merupakan hari pemujaan kehadapan dewi Sarasvatī, dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Bagi umat Hindu, memuja berbagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang jumlahnya tidak terbatas itu adalah merupakan sarana untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Di antara ribuan manifestasi atau Udbhava-Nya itu terdapat tiga manifestasi utama Sang Hyang Vidhi, Tuhan Yang Maha Esa, yakni Brahma, Viṣṇu dan Śiva sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur alam semesta dan segala isinya. Dalam sekala kecil, dalam setiap sel dari makhluk hidup terjadi proses pencipta, tumbuh dan terpelihara dan lebur dalam bentuk kematian. Kata Brahma dalam bahasa Sanskerta berarti: bertambah besar, meluap, mengembang dan sejenisnya.

Brahma disebut Svayambhu, yang artinya tercipta dengan sendiri-Nya karena tidak ada yang menciptakan-Nya. Sakti Brahma adalah Sarasvatī yang artinya yang mengalir tiada hentinya, pencipta huruf, penganugrah ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, yang menurunkan kitab suci Veda, pemberi inspirasi, pendorong semangat belajar dan sejenisnya. Brahma yang disebut juga Caturmukha dan Caturbhuja menunjukkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa menguasai seluruh alama semesta dengan kemahakuasaan(Cadu Śakti)-Nya yang sangat dahsyat.

Kata Viṣṇu berarti: pekerja yang tekun, yang meresapoi segalanya, yang memelihara segala dan sejenisnya. Sakti Viṣṇu adalah Śrī dan Lakṣmī yang di Bali disebut Śrī Sādhanā dan Bhaṭārī Melanting. Kata Śrī berarti kebahagiaan, kemakmuran, keberuntungan, kekayaan, kebesaran, keagungan, kecantikan, kemuliaan dan sejenisnya dan Lakṣmī berarti kesejahtraan, kemakmuran, keberuntungan, kecantikan, keindahan, kenang-kenangan yang indah dan sejenis dengan itu. Sedang Sādhanā berarti merealisasikan, jadi Śrī Sādhanā dimaksudkan mewujudkan atau merealisasikan kesejahtraan dan kebahagiaan dalam diri, keluarga dan lingkungan masyarakat.

Selanjutnya Śiva berarti: yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, yang ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, membahagiakan dan sejenisnya. Sakti Śiva adalah dewi Durgā dan Parvatī. Kata Durgā berarti yang sulit dilalui, yang sulit di atasi, dibendung dan yang tidak dapat ditentang. Segala kuasanya selalu terjadi, tidak pernah gagal dalam menjalankan missinya sedang Parvatī adalah dewi gunung yang juga bermakna menganugrahkan kemakmuran, sebab pada wilayah yang banyak terdapat gunung, di sanalah sungai-sungai mengalir dan pada wilayah-wilayah itu selalu merupakan daerah-daearh yang subur yang memberikan kemakmuran kepada umat manusia.

Berdasarkan tinjauan etimologis dan makna semantik nama-nama yang ditujukan kepada keagungan dan kemahakuasaan-Nya adalah hal-hal yang sangat didambakan oleh umat manusia. Demikian pula adalah merupakan kewajiban bagi umat manusia untuk mempersembahkan pūjā bhakti atas karunia yang telah dilimpahkan kepada umat-Nya itu. Bagi umat Hindu, perwujudan rasa syukur dan terima kasih yang tulus kepada-Nya dilakukan melalui pemujaan, mempersembahkan kesucian hatinya kepada-Nya melalui peringatan atau perayaan hari-hari besar agama, seperti halnya hari Sarasvatīpūjā yang kita rayakan bersama.

Kini timbul pertanyaan, mengapa hari Sarasvti jatuh pada pertemuan Wuku terakhir dan pertama dalam perhitungan kalender Bali-Jawa, apakah perayaan Sarasvatī di India juga jatuh pada hari yang sama, hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung? Sesuai dengan sejarah perkembangan agama Hindu di India dan di negara-negara lainnya. Kedatangan agama Hindu di daerah-daerah itu tidak mengubah atau menghapuskan pola budaya masyarakat setempat, justru mengangkat (mempermulia) unsur-unsur budaya-budaya setempat dengan memasukkan nilai-nilai ajaran agama Hindu di daerah yang memeluk agama Hindu yang dikenal dengan Sanatana Dharma, yakni ajaran yang beṛṣifat kekal abadi.

Di India kita tidak mengenal sistem Wuku (Pawukon) seperti kalender Jawa-Bali (Nusantara) seperti yang kita waris kini. Oleh karena itu perayaan Sarasvatīpūjā di sana tidak bersamaan jatuhnya dengan perayaan Sarasvatīpūjā di Indonesia. Di India pemujaan kepada Hyang Sarasvatī umumnya dikaitkan dengan Durgāpūjā, Dīpavalī dan Rāmanavāmi, yang jatuhnya pada sekita awal bulan Nopember dan April setiap tahun. Dengan demikian, Sarasvatī juga dipūjā dua kali dalam setahun (tahun Masehi) seperti halnya di Indonesia. Mengapa Sarasvatīpūjā jatuh pada hari terakhir dan hari pertama dari tahun Wuku ? Rupanya hal ini dapat dijelaskan bahwa ketika agama Hindu masuk ke Indonesia, orang Nusantara (khususnya Jawa dan Bali) sudah mengenal sistem tahun yang dikenal dengan Wuku atau Pawukon itu.

Demikianlah hari-hari pemujaan kepada Iṣṭadevatā-Iṣṭadevatā, yakni manifestasi-manifestasi Tuhan Yang Maha Esa tertentu yang sangat didambakan oleh umat manusia yakni pengetahuan, kesejahtraan, kemakmuran, keberuntungan, keselamatan dan sejenisnya yang terdapat di India dimasukkan dalam sistem kalender Wuku itu. Sebagai contoh, hari-hari pemujaan kepada Iṣṭadevatā-Iṣṭadevatā seperti pemujaan kepada Sarasvatī dijatuhkan pada hari Sabtu Umanis Watugunung dan Minggu Pahing Wuku Sinta, hari Ayuddhapūjā dijatuhkan pada Tumpek Landep, hari Śaṁkarapūjā dijatuhkan pada Tumpek Variga, Śrī Lakṣmīpūjā pada Senin Pon dan Selasa Wage Wuku Sinta, Gurupūjā (Parameṣṭiigurupūjā) pada hari Rabu Kliwon Sinta dan lain-lain.

2. Meningkatkan Semangat Belajar
Adalah sangat memperihatinkan bahwa semangat belajar khususnya semangat membaca buku sebagai dilansir oleh berbagai media massa adalah sangat lemah di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, khususnya di Asia. Hal ini secara sederhana dapat dilihat dari jumlah penerbitan buku setiap tahunnya dan kebiasaan masyarakat untuk membaca buku sangat jarang kita temukan di tempat-tempat istirahat, di ruang tunggu rumah sakit atau praktek dokter, di taman-taman kota, di kereta api atau dalam perjalan dengan transfortasi lainnya.

Gejala ini sebenarnya merupakan kendala dalam meningkatkan kecerdasan bangsa sebagai diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni: melindungi tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahtraan umum dan ikut serta mewujudkan perdamaian dunia. Kondisi ini juga rupanya didukung pula oleh situasi penjajahan dahulu. Di negara-negara bekas jajahan Inggris, pada umumnya masyarakat di sana dengan mudah kita saksikan tradisi mereka membaca buku-buku sebagai pengisi waktu dalam berbagai kesempatan terutama saat menunggu atau saat bepergian dengan berbagai sarana transfortasi.

Belajar atau membaca buku sebenarnya diamanatkan dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu yang lain, sebab tanpa belajar atau membaca bagaimana mungkin kita meningkatkan kecerdasan individu, masyarakat dan bangsa kita. Dengan tekun belajar dewi Sarasvatī akan memberikan inspirasi atau kiat-kiat yang dapat meningkatkan kesejahtraan dan kebahagiaan hidup manusia. Perhatikanlah kutipan-kutipan berikut:

Pāvamānīr yo adhyeti ṛṣibhiḥ saṁbhṛtaṁ rasam,
tasmai Sarasvatī duhe kṣiraṁ sarpir madhūdakam

Siapa saja yang senang mempelajari kitab suci Veda, yang terdiri dari inti sari yang dipelajari oleh para rsi.
Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud-Nya dewi Sarasvatī akan senantiasa menganugrahkan kesejahtraan
(susu,mentega cair, madu dan air Soma (panjang umur dan rejeki) yang berlimpah.
Ṛgveda IX.67.32

Satyaṁ vada dharmaṁ cara svādhyāya mā pramadah

Hendaknya setiap orang berbicara benar/jujur,berbuatlah kebajikan (berdasarkan Dharma),tekunlah belajar/membaca buku dan rajin sembahyang, janganlah lalai.
Taittiriya Upanisad I,11,1

Tad viddhi praṇipātena paripraśnena sevayā,
upadekṣyanti te jñānaṁ jñāninas tattvadarśinaḥ.

Belajarlah dengan tekun, sujud dan berdisplin, dengan bertanya-tanya dan bekerja dan berbhakti. Guru yang budiman,yang telah sempurna (yang melihat kebenaran) akan mengajarkan kepadamu kebijaksanaan, ilmu dan budi pekerti yang luhur.
Bhagavadgītā IV.34

Śāstra yonitvāt

Untuk memahami keagungan Tuhan Yang Maha Esa dan segala ciptaan-Nya,
tidak ada yang lain sebagai sebagai sumber yang valid yaitu hanya kitab suci Veda dan susastranya.
Brahma Sūtra Bhāṣya I.1.3

Sesungguhnya masih banyak ajaran dalam agama Hindu yang dapat kita jumpai seperti dalam kitab-kitab Upaniṣad, Rāmāyana, Mahābhārata, Nītiśāstra baik yang berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno ataupun Bali. Di Bali sebuah pupuh Ginadha yang sangat memasyarakat menekankan sekali supaya setiap orang tiada henti-hentinya belajar:

Eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin,
gaginane buka nyampat anak sai tumbuh luhu,
hilang luhu, ebuke katah, yadin ririh liu enu, ne pelajahin.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, sebenarnya dengan persembahyangan memuja kebesaran Sang Hyang Vidhi melalui memuja keagungan dewi Sarasvatī kita dituntut untuk belajar terus, satu sarana yang efektif adalah dengan membaca buku-buku yang bermanfaat. Bila yang melakukan Brata Sarasvatī, memang disebutkan adanya pantangan untuk tidak membaca dan menulis selama pemujaan kepada dewi Sarasvatī, namun maknanya dengan kontemplasi pada hari Sarasvatīpūjā kita berhasil lebih terdorong untuk terus dan giat belajar, oleh karena itu membaca adalah salah satu untuk dapat menguasai terangnya pelita ilmu.

Oṁ Kṣama svamām
Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ

Oleh: Goes De Tantrayana Gautama