Sara Sarira

Pesta Kesenian Bali tahun ini mengambil tema "Mulat Sarira". Mulat sarira sesungguhnya istilah yang penuh makna religiusitas, tertuang di dalam kitab-kiab tattwa atau filsafat agama. Frase itu sebenarnya berarti "melihat ke dalam diri".

Sebuah kisah perjalanan sang Bhima mencari tirtha amerta atas perintah Bhagawan Drona, sehingga ia bertemu dengan Dewa Ruci, sebagaimana disuratkan di dalam kitab Nawa Ruci, adalah kisah yang paling tepat untuk mengungkapkan makna Mulat Sarira tersebut. Karena Bhima bertemu dengan dirinya sendiri yang berujud sebagai Dewa Ruci yang sangat kecil, namun sang Bhima dapat masuk ke dalamnya. Dan sang Bhima berhasil mendapatkan tirtha amerta setelah melakukan dialog panjang dengan Dewa Ruci.

Kisah Dewa Ruci ini telah dikenal luas di Jawa, menjadi bacaan mistik dan religiusitas, walaupun telah ini berasal dari teks yang ditulis di Bali, tepatnya di Gelgel, Klungkung. Pada bagian akhir kitab ini ada juga disuratkan susunan kata "iti tatwa jnana nirmala apusira Mpu Siwamurti" (ini adalah tatwa jnana yang suci yang dikarang oleh Mpu Siwamurti). Artinya Kitab ini mengandung ajaran filsafat yang tinggi, mengandung ajaran kesucian.

Ada dialog antara sang Bhima dengan Dewa Ruci yang perlu kita catat disini : "Anak mami sang Bayusuta, ngongwastoni kita rumangsuka maring garbha ning ulun". "Atut bapa Nawaruci, masa kawaca kita, apan agung carira ningong". "Anakku sang Senapati, kawaca sira rumangsuka. Rat bhuwana iki kawaca rumangsuka ring carira ning ulun". ("Anakku sang Bhima, Aku meminta anakku masuk ke dalam Diriku". "Baiklah Dewa Nawaruci, namun apakah hamba dapat masuk kedalam tubuhmu, karena tubuhku begitu besar. "Anakku sang Bhima, engkau dapat masuk kedalam tubuhku, malah seluruh dunia ini pun dapat masuk kedalam tubuhku yang kecil").

Kitab-kitab tattwa memang mengajak kita untuk mulat sarira, masuk ke dalam diri, dan mengenal sang diri. Kitab Dharma Sunya menyuratkan : sara sariranta delon kayatnaken/ sarat samasta pahilang ya dohaken/ samahita ng sadhya tepet panuksma ya/ prabhuttamatma sira nitya niskala// (sari dirimu perhatikan dan ketahuilah/ maka seluruh dunia yang nampak hilangkanlah/ pusatkan pikiran pada yang tepat rahasiakanlah/maka Atma sebagai penguasa akan selalu tanpa bentuk //). Di sini jelas bagi kita bahwa konteks pembicaraan tentang sari sarira aualah konteks spiritual yang penuh makna.

Kitab yang sama juga menyuratkan sebagai berikut : tatan hana ri purvva daksina ri pascimeng uttara/ ri madhya ri hi sor ing urdha nguniweh ri pungkur y arep/ ri doh mwang aparek malit agenga len hala mwang hayu/ hidepta pamekas panangkana kabeh prihen tan madoh// (tidak ada di timur, di selatan, di barat maupun di utara/ di tengah, di bawah, di atas, terlebih lagi dibelakang maupun di depan/ tidak juga jauh maupun dekat, kecil maupun besar, dan buruk maupun baik/ namun pikiranlah hakekat penyebabnya, usahakan karena ia tidak jauh//). Bait inipun mengajak kita untuk melihat kedalam diri, melihat dan masuk ke dalam pikiran kita sendiri.

Sari sarira, dimana Sang Pencipta berada, tempat kita mohon amerta memang tidak jauh adanya. Tapi untuk bisa masuk ke dalamnya sang Bhima harus melawan segala godaan, dan menang atas godaan itu.

Source : Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 510 Juni 2009