Santi Nawa Warsa: 'Akhir Tahun untuk Mulat Sarira, Mengalami Atman'

A. Maret “Sasih Mulat Sarira”

Hari suci dalam agama Hindu selalu terkait dengan waktu, baik sasih maupun wuku. Hal ini menunjukkan kejelian penerapan ilmu astronomi (jyotisa) oleh para Rsi sebagai ilmuan yang menghubungkan fenomena alam berupa peredaran matahari, bulan, bintang, dan benda langit lainnya serta pengaruhnya terhadap kelahiran, kehidupan, dan kematian. Tak terkecuali hari raya Nyepi yang jatuh pada penanggal 1 sasih ke dasa sekitar bulan Maret.

Bulan Maret merupakan bulan fenomenal yaitu peristiwa titik kulminasi matahari yang terjadi ketika suatu daerah dilintasi garis matahari, pada 0 detik, 0 menit, dan 0 derajat. Peristiwa ini terjadi seathun dua kali tepat di garis khatulistiwa, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan antara 21-23 September. Di kawasan utara khatulistiwa, 21 Maret (Vernal Equinox) adalah penanda awal musim semi, sementara 23 September (Autumnal Equinox) merupakan awal musim gugur. Saat terjadi Kulminasi, posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi.

Para Rsi (astronom) Hindu dengan sagat cerdas menempatkan bulan Maret sebagai tonggak pergantian tahun baru yang dirayakan dengan Nyepi yang terimplementasi kedalam Catur Bratha penyepian. Mengganti aktivitas keseharian dengan aktivitas menciptakan sepi. Nyepi merupakan sebuah perayaan ke dalam “berseminya” jiwa, karena dalam sepi seseorang dapat melihat dirinya sendiri, seperti telaga yang tenang akan terlihat dasarnya manakala air telaga telah menjadi bening.

Mengakhiri tahun saka 1938 yang puncaknya pada tilem ke-sanga (bulan ke-9), memberi makna tersendiri bagi insan Hindu. Angka 9 (sembilan) merupakan angka tertinggi dalam samkhya, karena angka berikutnya adalah pengulangan dari 0 sampai dengan 9. Mengakhiri tahun dibulan 9 merupakan puncak dari perjalanan hidup manusia selama satu tahun, yang hendaknya dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi diri dan mengenali diri sendiri (mulat sarira).

Hindu memiliki pengetahuan praktis dan beragam dalam upaya “mulat sarira” diantaranya tapa (pengendalian diri), bratha (berpantang), yoga (melakukan praktek yoga sebagai cara menghubungkan diri dengan Tuhan), samadhi (kontemplasi). Keempatnya dirangkai menjadi satu kalimat pernyataan yang popular dan mudah diingat, sekaligus sebuah jalan praktis menuju perbaikan kualitas diri menjadi lebih baik. Hanya dengan meningkatnya kualitas diri akhir tahun itu lebih berarti bagi setiap insan yang menginginkan “mulat sarira” itu terjadi pada dirinya.

B. Hambatan (Klesa)

Mulat sarira berarti mengamati diri secara mendalam, mengetahui hambatan spiritual merupakan hal panting sebagai bahan pertimbangan untuk melangkah lebih jauh. Yoga Sutra Pattanjali mengindentifikasi lima hambatan utama dalam pendakian spiritual yang bersumber dari dalam diri, antara lain: kebodohan atau kegelapan batiniah (avidya), egois (asmita), kelekatan atau kecintaan duniawi (raga), benci (dvasa), takut akan kematian (abhinivesa) disebut Panca Klesa.

Avidya adalah kegelapan tanpa pengetahuan yang merupakan sumber dari klesa yang lainnya. Atman terhubung dengan yak tak-kekal, tak-murni, yang bukan-jiwa, yang dalam kondisi menyedihkan. Ada dalam liputan kabut asmita. Sang Subjek tampat teridentifikasi dengan kekuatan penglihatan. Terbenam di dalam kenikmatan dunia dan ragawi adalah kemelekatan atau kebencian (raga); Tersusupi oleh penderitaan sehingga menimbulkan sikap penolakan adalah dvesa; Seakan-akan mengalir dengan sendirinya demikian, bahkan seseorang bijak-pun masih bisa mencintai hidupnya ini dan takut pada kematian (abhinivesa); (YS II.3–II.9).

Perjuangan diri tanpa kenal lelah hendaknya bisa mencontoh ulat yang berjuang menjadi kepompong. Walaupun pada awalnya ulat itu rakus, menjijikan, membahayakan (ulat bulu), namun jika tiba waktunya ia akan diam menjadi kepompong, tidak lagi makan, tidak lagi liar, membungkus dirinya dalam kesendirian hingga berubah menjadi kupu-kupu yang cantik kemudian terbang bebas, mencari sari bunga membantu penyerbukan, hingga tumbuhan berbuah.

C. Tapa, Bratha, Yoga, Samadhi, dan Catur Ashrama

Perubahan dalam tahap alami kehidupan manusia idealnya melewati empat tahap Catur Asrama, demi keseimbangan dan kelangsungan kehidupan masyarakat dan tercapainya empat tujuan hidup manusia Catur Purusa Artha yang terdiri dari dharma, artha, kama, dan moksa. Masa brahmacari hendaknya fokus pada pendidikan, mengurangi aktivitas yang dapat menggangu proses pendidikan, serta menciptakan kondisi yang mendukung proses belajar. Brahmacari adalah pondasi paling bawah bagi tahap-tahap berikutnya dalam Catur Asrama. Ia adalah penentu, bilamana masa ini kokoh maka tahap berikutnya juga akan menjadi kokoh, manakala rapuh maka tahap berikutnya akan terhambat.

Masa grehasta lebih focus pada pemenuhan kebutuhan keluarga melalui artha berdasarkan dharma. Artha merupakan penunjang sebuah keluarga dalam mencapai kesejahteraan hidup. Setiap keluarga yang sejahtera akan menunjang sebuha negara yang sejahtera. Institusi keluarga adalah pondasi pijakan menuju masyarakat sejahtera lahir dan bathin. Disini terjadi proses belajar dan mempraktekkan parawidya (ilmu kerohanian) dan aparawidya (ilmu duniawi). Setiap kepala keluarga harus memenuhi kebutuhan anggotanya secara fisik dan mental, memimpin dan membimbing ritual keagamaan sehingga menjadi keluarga yang mentradisikan ajaran agama melalui praktek keagamaan.

Wanaprastha, memberikan ruang yang lebih banyak pada upaya pendalaman rohani, dimana anak sebagai anggota keluarga yang telah mandiri merupakan pondasi yang diperlukan. Dalam prakteknya masa ini dapat berorientasi ke dalam diri dengan meningkatkan praktek tapa, bratha, yoga, samadhi. Tapa (pengendalian diri) mengarahkan diri pada penyucian atma; Bratha (janji diri) menguatkan setiap langkah menuju peningkatan spiritual; Yoga (menghubungkan diri) meraih karunia untuk keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa; Samadhi (kontemplasi) menyatukan atman dengan Paramatman. Orientasi keluar dapat berupa pelayanan kepada sesama menusia melalui praktek cinta kasih yang berlandaskan ahimsa, dalam berbagai kegiatan social nirlaba. Hal ini bergantung pula pada guna dan karma yang mempengaruhi setiap orang sebagai kecenderungan yang muncul dari dalam diri, yang terus dikembangkan dan dijaga sehingga menjadi sebuah karakter dan akan menjadi wasana dalam kelahiran berikutnya.

Kekuatan tapa, bratha, yoga, dan samadhi, diumpamakan seperti laku kura-kura, yang masuk ke dalam tempurungnya. Jika terganggu atau merasa tidak aman, kura-kura menarik kepala, empat kaki dan ekornya ke dalam tempurung. Seperti itu pula orang tapa, bratha, yoga, dan samadhi, ketika kenyamanannya terusik, dia menarik lima panca indriyanya serta pikirannya, manunggal di dalam jiwanya hingga mencapai ketenangan yang mendalam. Dia menarik diri dari dunia, dengan menarik seluruh panca indriyanya, sehingga matanya tidak digunakan untuk melihat objek-objek duniawi, telinganya tidak digunakan untuk mendengarkan suara-suara indah untuk kelezatan, seluruh panca tidak lagi menyentuh objek duniawi. Dengan cara ini, keragu-raguan, keserakahan, kemalasan, kebingungan, dan kegelisahan disapu bersih. Tumbuhlah ketenangan (santih), kekuatan keyakinan (sraddha), semangat, kekuatan konsentrasi (dharana) dan kebijaksanaan (wiweka).

Sanyasin, menyuguhkan pembebasan diri dari ikatan duniawi dengan wanaprasta sebagai landasan untuk meraihnya. Tahap ini adalah puncak pencapaian diri manusia yang berusaha menyadari bahwa dirinya yang sejati adalah atman. Kondisi terbaik yang dialami manusia manakala atma itu sendiri telah bangkit dalam kesadarannya “yan matutur ikang atma ri jatinya”. Kondisi Santih karena atman terlepas dari pengaruh guncangan tri guna, kondisi nol karena atman telah berhasil melepas “baju” ikatan duniawi, kondisi sejati karena atman telah mencapai pemurnian, berwujud kesadaran pengetahuan, hening, dan terserap ke dalam sunya. Inilah kondisi santih yang sejati sebagai puncak dari kondisi mengalami atman.

Shanti Nawa Warsa 1939 Saka.

Oleh: Gde Adnyana
Source: Majalah Wartam, Edisi 25, Maret 2017