Sang Hyang Kumara: Sebuah Kajian Mitos

Agama Hindu sebagai agama wahyu pada hakikatnya memuat konsep-konsep kebenaran yang hakiki. Konsepsi itu dituangkan dalam kitab-kitab suci, baik dalam bentuk kakawin maupun tutur. Di samping itu bagi umat Hindu di Bali, cara yang lazim juga digunakan sebagai usaha menjembatani diri mereka dengan kebenaran yang tertinggi (Tuhan) adalah melalui yadnya. Agama Hindu yang sekarang diwarisi di Bali adalah sebuah perpaduan akulturatif antara tradisi kecil (budaya Bali) dengan tradisi besar (Hindu) yang datang dari India. Oleh karena itu agama Hindu merupakan hasil akulturasi maka beberapa tradisi lokal masih tetap bertahan hingga saat ini. Masuknya agama Hindu lebih banyak bersifat mempermulia apa yang telah ada di Bali. Beberapa tradisi local yang tetap bertahan misalnya bentuk-bentuk pelaksanaan upacara agama.

Upacara-upacara agama menurut Durkhem (dalam Pals, 2001) adalah sumber kesatuan masyarakat yang sebenarnya dan di setiap masyarakat upacara adalah pengikut yang sesungguhnya. Upacara-upacara itu mengungkapkan makna agama yang sesungguhnya. Dengan kata lain, Durkhem sebenarnya ingin mengatakan bahwa upacara agama sebenarnya mempunyai makna sosial di samping sebagai bentuk sujud kepada yang sakral.

Agama Hindu terdiri atas tiga kerangka yaitu tatwa, etika dan upacara. Dalam realisasinya ketiga hal tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Artinya, satu aktivitas keagamaan merupakan realisasi dari ketiga kerangka dasar tersebut. Dalam penampilannya secara empiris upacara mungkin tampak lebih menonjol diban-dingkan dengan aspek etika dan tatwa. Akan tetapi esensi terdalam dari agama Hindu terdapat dalam tatwa.

Bagi masyarakat Hindu di Bali realisasi ajaran agama itu dilaksanakan dalam bentuk kebaktian dan yadnya. Di Bali dikenal lima jenis yadnya yang disebut Panca Yadnya, yaitu Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Melakukan langkah yang diyakini sebagai kegiatan beragama Hindu yang amat penting karena yadnya adalah salah satu penyangga bumi. Demikian disebutkan dalam kitab Atharwa Weda. Upacara agama adalah merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan yadnya sebagai dasar dari pelaksanaan yadnya sebagai dasar pengembalian Tri Rna.

Weda mengajarkan, Tuhan menciptakan alam semesta ini berdasarkan yadnya. Oleh karena itu, manusia yang bermoral akan merasa berhitang kepada Tuhan. Dari adanya rasa berhutang itu, umat Hindu melakukan Dewa Yadnya sebagai rasa bhakti umat kepada Tuhan dan melakukan Bhuta Yadnya untuk memelihara semua ciptaan Tuhan. Rasa berhutang kepada leluhur (pitra) diwujudkan dengan berbhakti kepada leluhur atau pitra dalam bentuk Pitra Yadnya dan mengabdikan kepada keturunan karena keturunan tersebut pada hakikatnya adalah leluhurlah yang menjelma.

Mengabdikan kepada keturunan dalam bentuk Manusa Yadnya pada hakikatnya juga melakukan Pitra Yadnya secara philosopis. Hal itu terjadi karena agama Hindu merupakan kepercayaan kepada punarbhawa atau reinkarnasi. Anak-anak yang dilahirkan adalah penjelmaan leluhur yang terdahulu. Sehubungan dengan itu, mengupacarai anak dalam bentuk sarira samskara atau di Bali disebut Manusa Yadnya adalah bentuk pengabdian orang tua kepada leluhur melalui anak-anak.

Menurut Koentjaraningrat (1981) dalam hampir semua masyarakat manusia di seluruh dunia, hidup individu dibagi oleh adat masyarakatnya ke dalam tingkat-tingkat tertentu. Tingkat-tingkat sepanjang hidup individu sering disebut dengan the stages along life-cycle, seperti misalnya masa bayi, masa penyapihan masa kanak-kanak, meningkat remaja, perkawinan dan sebagainya. Pada saat peralihan, waktu individu beralih dari satu tingkat hidup ke tingkat hidup lainnya, biasanya diadakan upacara untuk merayakan saat peralihan itu.

Sifat universal dari upacara sepanjang life-cycle disebabkan karena suatu kesadaran umum di antara semua manusia bahwa setiap tingkat baru sepanjang life-cycle itu membawa si individu ke dalam suatu tingkat dan lingkungan social yang baru lebih luas seperti misalnya kelahiran seorang bayi yang semua berada dalam kandungan ibunya, setelah lahir ia akan masuk dalam lingkungan social yang baru dan lebih luas.

Suwardani (2004) mengatakan bahwa kehadiran seorang bayi merupakan dambaan setiap orang yang telah berumah tangga. Karena itulah segala bentuk upacara keagamaan (ritual) dilakukan sebagai sujud sradha bhakti manusia. Upacara keagamaan adalah realisasi dari Bhakti Marga. Dasar Bhakti Marga adalah rasa cinta. Cinta kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, cinta kepada anak maupun sesama, dan cinta kepada lingkungan.

Pelaksanaan upacara kelahiran manusia berdasarkan pada petunjuk pustaka rontal Janma Prawerti yang menyebutkan tentang pesan Sang Hyang Jagatnatha kepada Sang Hyang Aditya bahwa apabila bayi lahir hendaknya dibuatkan upacara sebagai manusia yang layak, bila tidak dibuatkan upacara maka manusia yang lahir itu tidak ubahnya seperti tingkah laku binatang saja. Sejalan dengan petunjuk itu maka upacara kelahiran bayi atau mapag rare merupakan pertanda bahwa manusia merupakan mahluk utama dan mulia mempunyai bayu, sabda dan idep, bila dibadingkan dengan mahluk hidup lainnya sesama ciptaan Tuhan.

Menurut Sudharta (1993), kelahiran seorang bayi perlu dibuatkan upacara, sesajen yang terdiri atas nasi muncuk kukusan (seperti kerucut) lengkap dengan buah-buahan (raka-raka), rerasmen, kacang, saur, garam, sambal dan ikan), canang sari serta sebuah penyeneng, yang dihaturkan kepada roh orang yang numitis atau menjelma kembali pada bayi itu. Setelah ari-ari (plasenta) dari si bayi dipotong, maka ari-ari tersebut kemudian dibersihkan dan selanjutnya dilakukan upacara penanaman ari-ari.

Ari-ari yang telah bersih dimasukkan kedalam sebuah kelapa yang telah dibelah, atau dapat pula dipergunakan sebuah payuk pare. Pada bagian atas dari kelapa atau payuk pare ditulisi Ongkara, dan pada bagian bawah ditulisi Ahkara. Setelah ari-ari dimasukan, diisi dengan berbagai jenis duri-durian seperti terung, mawar, jeruk, salak dll, kemudian dimasukkan juga pinang sirih. Kelapa itu lalu dibungkus dengan ijuk atau cukup dengan kain putih. Ari-ari itu ditanam di sebelah kanan pintu kelkuar kalau bayi laki-laki dan di sebelah kiri kalau bayinya perempuan (dilihat dari dalam rumah).

Setelah puser bayi lepas dibuatkan suatu upakara yang bertujuan membersihkan secara spiritual tempet-tempat suci dan bangunan yang ada di sekitarnya. Puser si bayi dibungkus dengan secarik kain lalu dimasukkan ke dalam sebuah kulit ketupat kecil disertai dengan sejenis rempah-rempah yang khasiatnya menghangatkan misalnya cengkeh. Ketupat kecil ini kemudian digantungkan pada atas tempat tidur si banyi.

Dalam kepercayaan umat Hindu, mulai saat itu bayi diasuh oleh Sang Hyang Kumara dan untuk itu dibuatkan sebuah stana Sang Hyang Kumara di atas kepala bayi tidur yang disebut Pelangkiran Kumara. Sang Hyang Kumara ini ditugaskan oleh Bhatara Siwa menjadi pengasuh atau pelindung anak-anak yang giginya belum tanggal. Sesajen untuk Kumara ini berisi Ajuman (ajengan, sodan, Rayunan) memakai nasi putih dan kuning berisi lauk telur dadar dan rerasmen (kacang, saur, sambel, garam, raka-raka (jajan dan buah-buahan), memakai sampian pelaus.

Perlengkapan lainnya berupa kekiping, pisang emas, tebu, nyah-nyah gringsing, canang sari, canang buratzuangi, lengawangi, miyik-miyikan (bunga-bunga yang harum terutama berwarna putih kuning). Selain itu juga disertai guli-guli, batu buah salak, ketela rambat, keladi, kunyit. Dalam kepercayaan Hindu , Kumara adalah Dewa yang tidak mau mempunyai keturunan sehingga tetap sebagai anak-anak, tetapi suci dan lugu. Kalau seorang bayi dalam tidurnya tertawa kecil sendiri, ia dianggap sedang bermain-main dan melucu dengan penjaganya yaitu Kumara. (Bersambung)

Oleh: I Gusti Made Yuni Indriyani
Source: Warta Hindu Dharma NO. 540 Desember 2011