Sang Hyang Kumara

Agama Hindu sebagai agama wahyu pada hakikatnya memuat konsep-konsep kebenaran yang hakiki. Konsepsi itu dituangkan dalam kitab-kitab suci, baik dalam bentuk kakawin maupun tutur. Di samping itu bagi umat Hindu di Bali cara yang lazim, juga digunakan sebagai usaha menjembatani diri mereka dengan kebenaran yang tertinggi (Tuhan) adalah melalui yadnya. Agama Hindu yang sekarang diwarisi di Bali adalah sebuah perpaduan akulturatif antara tradisi kecil (budaya Bali) dengan tradisi besar (Hindu) yang datang dari India. Oleh karena agama Hindu merupakan hasil akulturasi maka beberapa tradisi lokal masih tetap bertahan hingga saat ini. Masuknya agama Hindu lebih banyak bersifat mempermulia apa yang telah ada di Bali. Beberapa tradisi lokal yang tetap bertahan misalnya bentuk-bentuk pelaksanaan upacara agama.

Upacara-upacara agama adalah sumber kesatuan masyarakat yang sebenarnya dan di setiap masyarakat upacara adalah pengikat yang sesungguhnya. Upacara-upacara itu mengungkapkan makna agama yang sesungguhnya. Dengan kata lain, Durkhem sebenarnya ingin mengatakan bahwa upacara agama sebenarnya mempunyai makna sosial disamping sebagai bentuk sujud kepada yang sakral.

Agama Hindu terdiri atas tiga kerangka, yaitu tattwa, etika, dan upacara. Dalam realisasinya, ketiga hal tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Artinya, satu aktivitas keagamaan merupakan realisasi dari ketiga kerangka dasar tersebut. Dalam penampilannya secara empiris upacara mungkin tampak lebih menonjol dibandingkan dengan aspek etika dan tattwa. Akan tetapi esensi terdalam dari agama Hindu terdapat dalam tattwa.

Bagi masyarakat Hindu di Bali realisasi ajaran agama itu dilaksanakan dalam bentuk kebaktian dan yadnya. Di Bali dikenal lima jenis yadnya yang disebut Panca Yadnya, yaitu Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Melakukan upacara yadnya merupakan langkah yang diyakini sebagai kegiatan beragama Hindu yang amat penting karena yadnya adalah salah satu penyangga bumi. Demikian disebutkan dalam kitab Atharwa Weda.

Upacara agama adalah merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan yadnya sebagai dasar pengembalian Tri Rna. Weda mengajarkan, Tuhan menciptakan alam semesta ini berdasarkan yadnya. Oleh karena itu, manusia yang bermoral akan merasa berhutang kepada Tuhan. Dari adanya rasa berhutang itu umat Hindu melakukan Dewa Yadnya sebagai rasa bakti umat kepada Tuhan dan melakukan, Bhuta Yadnya untuk memelihara semua ciptaan Tuhan. Rasa berhutang kepada leluhur (pitra) diwujudkan dengan berbakti kepada leluhur atau pitra dalam bentuk Pitra Yadnya dan mengabdikan kepada keturunan karena keturunan tersebut pada hakikatnya adalah leluhurlah yang menjelma.

Mengabdikan kepada keturunan dalam bentuk Manusa Yadnya pada hakikatnya, juga melakukan Pitra Yadnya secara philosofis. Hal ini terjadi karena agama Hindu mengajarkan kepercayaan kepada punarbhawa atau reinkarnasi. Anak-anak yang dilahirkan adalah penjelmaan leluhur yang terdahulu. Sehubungan dengan itu mengupacarai anak dalam bentuk sarira samskara atau di Bali disebut Manusa Yadnya adalah bentuk pengabdian orang tua kepada leluhur melalui anak-anak.

Menurut Koentjaraningrat dalam hampir semua masyarakat manusia di seluruh dunia, hidup individu dibagi oleh adat masyarakatnya ke dalam tingkat-tingkat tertentu. Tingkat-tingkat sepanjang hidup individu sering disebut dengan the stages along life-cycle, seperti misalnya masa bayi, masa penyapihan, masa kanak-kanak, mengingatkan remaja, perkawinan, dan sebagainya. Pada saat peralihan, waktu individu beralih dari satu tingkat hidup ke tingkat hidup lainnya, biasanya diadakan upacara untuk merayakan saat peralihan itu.

Sifat universal dari upacara sepanjang life-cycle disebabkan karena suatu kesadaran umum di antara semua manusia bahwa tiap tingkat baru sepanjang life-cycle itu membawa si individu ke dalam suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas seperti misalnya, kelahiran seorang bayi yang semula berada dalam kandungan ibunya, setelah lahir ia akan masuk dalam suatu lingkungan sosial yang baru dan lebih luas.

Suwardani mengatakan bahwa kelahiran seorang bayi merupakan dambaan setiap orang yang telah berumah tangga. Karena itulah segala bentuk upacara keagamaan (ritual) adalah realisasi dari Bhakti Marga. Dasar Bhakti Marga adalah rasa cinta. Cinta kepada Ida Sang Hyang Widhi wasa, cinta kepada anak maupun sesama, dan cinta kepada lingkungan.

Pelaksanaan upacara kelahiran manusia berdasarkan pada petunjuk pustaka rontal Janma Prwawerti yang menyebutkan tentang pesan Sang Hyang Jagatnatha kepada Sang Hyang Aditya bahwa apabila bayi lahir hendaknya dibuatkan upacara sebagai manusia yang layak. Bila tidak dibuatkan upacara maka manusia yang lahir itu tidak ubahnya seperti tingkah laku binatang saja. Sejalan dengan petunjuk itu maka upacara kelahiran bayi atau mapag rare merupakan pertanda bahwa manusia merupakan mahluk utama dan mulia mempunyai bayu, sabda dan idep, bila dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya sesama ciptaan Tuhan.

Menurut Sudharta kelahiran seorang bayi perlu dibuatkan upacara, sesajen yang terdiri atas nasi muncuk kukusan (seperti kerucut) lengkap dengan buah-buahan (raka-raka) rerasmen (kacang, saur, garam, sambal dan ikan), canang sari, serta sebuah penyeneng, yang dihaturkan kepada roh orang yang menitis atau menjelma kembali pada bayi itu. Setelah ari-ari (plasenta) dari si bayi dipotong, maka ari-ari tersebut kemudian dibersihkan dan selanjutkan dilakukan upacara penanaman ari-ari.

Ari-ari yang telah bersih dimasukkan ke dalam sebuah kelapa yang telah dibelah, atau dapat pula dipergunakan sebuah payuk pere. Pada bagian atas dari kelapa atau payuk pere ditulisi Ongkara, pada bagian bawah Ahkara. Setelah ari-ari dimasukkan, diisi dengan berbagai jenis duri-durian seperti mawar, terung, jeruk, salak dan lain-lainnya, kemudian dimasukkan juga pinang sirih. Kelapa itu lalu dibungkus dengan ijuk atau kalau tidak ada ijuk, cukup dibungkus dengan kain putih. Ari-ari itu ditanam di sebelah kanan pintu keluar kalau bayi laki-laki dan disebelah kiri kalau bayinya perempuan (dilihat dari dalam rumah).

Setelah puser bayi lepas dibuatkan suatu upakara yang bertujuan membersihkan secara spiritual tempat-tempat suci dan bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya. Puser si bayi dibungkus dengan secarik kain lalu dimasukkan ke dalam sebuah kulit ketupat kecil, disertai dengan sejenis rempah-rempah yang khasiatnya menghangatkan misalnya cengkeh. Ketupat kecil ini kemudian digantungkan pada arah kaki tempat tidur si bayi.

Dalam kepercayaan umat Hindu, mulai saat itu bayi diasuh oleh Sang Hyang Kumara, dan untuk itu dibuatkan sebuah Stana Sang Hyang Kumara di atas kepala bayi itu tidur, yang disebut Pelangkiran Kumara. Sang Hyang Kumara ini ditugaskan oleh Bhatara Siwa menjadi pengasuh atau pelindung anak-anak yang giginya belum tanggal. Sesajen untuk Kumara ini berisi Ajuman (Ajengan, Sodan, Rayunan) memakai nasi putih dan kuning berisi lauk telur dadar dan rerasmen (kacang saur, sambel, garam), raka-raka (jajan dan buah-buahan), memakai sampyan pelaus. Perlengkapan lainnya berupa kekiping, pisang emas, tebu nyah-nyah geringsing, canang sari, canang burat wangi, lenge wangi, miyik-miyikan (bunga-bunga yang harum terutama yang berwarna putih kuning).

Selain itu juga disertakan guli-guli, batu buah salak, ketela rambat, keladi, kunyit. Dalam kepercayaan Hindu, Kumara adalah Dewa yang tidak mau mempunyai keturunan sehingga tetap sebagai anak-anak, tetapi suci dan lugu. Kalau seorang bayi dalam tidurnya tertawa kecil sendiri, ia dianggap sedang bermain-main dan melucu dengan penjaganya, yaitu Kumara.

Dalam kehidupan sehari-hari, Kumara begitu hidup dalam pemikiran dan benak kebudayaan Bali, bahkan sangat dipuja-puja oleh setiap ibu terutama yang baru melahirkan. Kumara menduduki tempat teristimewa di dalam hati ibu-ibu karena setiap ibu menginginkan bayinya senantiasa ada dalam keadaan selamat. Ibu-ibu Bali sangat yakin bahwa Kumara adalah dewa pelindung dan penyelamat bayi-bayi mereka sehingga di dalam setiap kamar bayi dapat dipastikan ada satu tempat yang digunakan untuk melakukan pemujaan kepada Kumara, yaitu kumara. Untuk mengetahui kejelasan mengenai dasar-dasar pemikiran logis pemujaan kepada Hyang Kumara rupanya tidaklah mungkin dapat ditelusuri dari perilaku pemujaan tersebut, kecuali melalui menyelidiki dasar-dasar mitosnya, yaitu jembatan penghubung antara pemikiran logis dengan metafisika.

Dasar-dasar Tattwa

Pada masyarakat Bali bentuk ritual (upacara) diwujudkan dengan membuat sesajen (banten). Banten atau sesajen dibuat untuk dipersembahkan kepada kekuatan-kekuatan yang ada di luar kemampuan akal manusia. Dasar utama kepercayaan seseorang tentang adanya kekuatan-kekuatan di luar kemampuan akal manusia adalah (1) Manusia mulai sadar akan adanya paham jiwa; (2) Manusia mengakui adanya banyak gejala yang tidak dapat diterangkan dengan akalnya; (3) bermaksud menghadapi krisis-krisis yang ada dalam jangka waktu hidup manusia; (4) Kejadian-kejadian yang luar biasa dalam hidupnya dan alam sekelilingnya; (5) Suatu getaran atau emsi yang ditimbulkan dalam jiwa manusia sebagai akibat dari pengaruh rasa kesatuan sebagai warga manusia; dan (6) Manusia mendapat suatu firman dari Tuhan.

Setiap upacara yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali memiliki makna yang didalamnya mengandung nilai-nilai luhur yang telah kita warisi. Sebelum melangkah ke makna upacara pemujaan Sang Hyang Kumara, ada baiknya diuraikan terlebih dahulu mitologi dari Sang Hyang Kumara sebagai Putra Siva yang dikutuk tetap menjadi kecil dan memiliki tugas menjaga bayi yang baru lepas tali pusarnya, sampai si bayi berumur akupak atau tanggal giginya untuk pertama kalinya.

Mitos merupakan suatu cara untuk meyakinkan orang agar percaya kepada Tuhan. Dalam agama Hindu untuk menyampaikan suatu ajaran kepada orang yang tingkat pemikirannya masih sederhana maka disusunlah mitos yang di dalamnya sudah terkandung maksud-maksud tertentu.

Pada manusia arkhais religius (meminjam istilah Eliade untuk menunjuk manusia terdahulu = premitif) "Bagi masyarakat arkhais, mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita ini dimiliki mereka yang paling berharga karena merupakan sesuatu yang suci, bermakna, menjadi contoh model bagi tindakan manusia, memberikan makna dan nilai pada kehidupan". Lebih lanjut dikatakan bahwa masyarakat arkhais menganggap mitos menjadi suatu kebenaran yang pasti dan menetapkan kebenaran absolut yang tidak bisa diganggu gugat. "Sesuatu itu demikian karena memang demikian, titik dan ahabis perkara".

Mitos melukiskan peristiwa primodial in Mo tempore yang mempunyai akibat pada masa kini sehingga keadaan dunia dan manusia menjadi seperti sekarang ini. Bahkan peranan mitos sebagai contoh model kadang-kadang mengandung suatu tanggung jawab yang amat berat bagi masyarakat. Sehubungan dengan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat modern, telah terjadi proses demitisasi terhadap mitos-mitos tersebut, yaitu munculnya kritik-kritik terhadap mitos.

Proses demitisasi yang diperkuat pula dengan alegorisasi, mitos dianggap sebagai dunia imajiner, disejajarkan dengan suatu rasionalisme elementer dan psikologi yang simplitis. Artinya mitos-mitos tidak lagi dilihat secara literal, yang digali sekarang adalah makna-manka yang bersembunyi di dalamnya dan dilakukan pengkajian-pengkajian. Menurut Blumer dalam Paloma seperti dikutip Triguna bahwa (1) Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka; (2) Makna tersebut berasal dari "interaksi sosial seseorang dengan orang lain"; (3) Makna-makna tersebut disempurnakan pada proses interaksi sosial berlangsung.

Terkait dengan Pemujaan Sang Hyang Kumara pada masyarakat Bali dimana kepercayaan tentang adanya Sang Hyang Kumara sebagai Dewanya Anak-anak dan bertugas sebagai pengasuh bayi dari kepus puser sampai tanggal gigirnya untuk pertama kali. Ada beberapa mitos dan dasar-dasar tattwa yang terkait dengan pemujaan Sang Hyang Kumara. (Selanjutnya)

Source: I Gusti Made Yuni Indriani l Warta Hindu Dharma NO. 497 Mei 2008