Sabdopalon dalam Konsep Ratu Adil

Ratu berasal dari kata rat yang berarti bumi. Tempat tinggalnya disebut ke-rat-on atau keratin. Kata ratu biasanya diartikan sebagai raja yang berjenis kelamin perempuan (queen), sedangkan raja laki-laki disebut lord. Dalam bahasa Jawa Kuna ratu berasal dari kata ra artinya “terhormat” dan tu artinya seseorang atau orang, jadi ratu artinya orang yang terhormat. Namun, dalam falsafat Jawa pengertian ratu adalah orang yang memiliki kekuatan mutlak, yang dalam dirinya terpusat bhuwana alit (mikrokosmos) dan bhuwana agung (makrokosmos). Ratu adalah sosok yang memusatkan kekuatan kosmis dalam dirinya. Kesakten sang ratu diukur dari besar kecilnya monopoli kekuasaan dan kekuatan gaib yang dimilikinya.

Ratu Adil didefenisikan sebagai raja yang akan membawa keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Pertanda kedatangannya adalah kemelut sosial dan malapetaka alam, kejatuhan raja besar yang ditakuti dan pemerintahannya tidak terlalu lama lalu tiba hari kiamat. Oleh karena cerita tersebut mirip dengan cerita Iman Mahdi maka dianggap Iman Mahdi versi Jawa. Pertanda kedatangannya adalah sesudah kacau-balau, zaman musibah maka Ratu Adil datang.

Hal itu sebenarnya hanyalah turunan dari sesusah zaman kali, datanglah zaman Kreta, yakni terdapat ketentraman dan keadilan. Kalau harapan umat manusia (Hindu) zaman dahulu tertumpu pada datangnya zaman Kreta, maka harapan orang Jawa pada abad ke-18 – 19 tertumpu pada datangnya Ratu Adil, yang digambarkan sebagai seorang yang suci dan sakti. Zaman Kreta adalah salah satu bagian dari Catur Yuga, yakni treta yuga, kreta yuga, dwapara yuga, dan kali yuga. Dalam konteks ini, ada kemungkinan orang yang mengharapkan datangnya mahluk super ini diartikan keliru dan salah. Ratu disitu mestinya diartikan pemerintah (an), jadi bukanlah seorang raja yang adil, tetapi sesuatu pemerintah (an) yang kuat dan adil.

Konsep Ratu Adil adalah gerakan-gerakan keagamaan, baik yang terjadi di Jawa maupun di luar Jawa. Namun demikian gerakan-gerakan di Jawa telah diberi nama dengan berbagai cara, seperti: gerakan juru selamat (messianisme), Ratu Adil (millenarianisme), pribumi (nativisme), kenabian (prophetisme), atau penghidupan kembali (revivalisme). Mitos tentang juru selamat di Jawa dihubungkan dengan munculnya Ratu Adil, yang juga dinamakan Erucakra; dalam kekuasaan Ratu Adil, keadilan akan ditegakkan dikalangan rakyat. Mereka akan bebas dari kejahatan, penyakit dan wabah.

Pada masa kekuasaan raja-raja Hindu Jawa dikenal sebagai Ratu Adil, seperti Raja Erlangga yang naik tahta pada tahun 1028, sesudah kekacauan yang disebabkan oleh runtuhnya Kerajaan Darmawangsa pada tahun 1006, diyakini sebagai juru selamat (Ratu Adil). Jayabaya, hanya kira-kira 20 tahun kemudian juga diyakini sebagai juru selamat setelah dapat menghancurkan seorang penjahat (kalana). Kedua raja tersebut dianggap penjelmaan Dewa Wisnu.

Kemudian Ken Arok (+_ 1222) muncul sebagai penegak keadilan dan pelindung para Brahmana yang diusir oleh Raja Dandanggenis, juga dianggap sebagai juru selamat. Singkatnya, bilamana keadaan kehidupan rakyat sangat sengsara, kekacauan timbul di segala bidang, rakyat mengharapkan datangnya juru selamat (Ratu Adil), apakah dia Wisnu, Budha, atau Mahdi tidak menjadi masalah. Pada masa pergerakan kolonialisme kasus tertua yang tercatat di luar Jawa adalah gerakan Batara Gowa di Makassar tahun 1777. Adapun di Jawa Pangeran Diponogoro diwisuda menjadi raja bergelar Panembahan Erucakra Senapati Ingalaga Diponegoro memberontak melawan Belanda (1825 – 1830) pada masa kekuasaan Sultan Mataram, Amangkurat IV; gerakan Kjai Hasan Maulani dari Lekong tahun 1824; gerakan Mas Malangjuda dari Radjwana Kidul tahun 1877; dan gerakan Kjai Nurhakim dari Pasirwetan tahun 1870-1871.

Ratu Adil selalu bertindak sesuai dengan moral yang baik dan tidak terkalahkan, yang akan muncul pada masa penghancuran dan mengeyahkan kekuatan-kekuatan jahat. Selanjutnya ia akan mengembalikan orde yang murni dan harmonis, yakni berhubungan dengan tahap-tahap awal dari siklus waktu yang berasal dari Hindu. Oleh karena gelombang pengaruh Buddha-Hindu dibawa ke Jawa oleh para pedagang India, pendeta dan ahli kitab. Ide tentang raja penyelamat diwarnai oleh berbagai macam pemikiran eskatologis Hindu dan Buddha yang terfokus pada kedatangan Erucakra atau pemulih orde.

Ratu Adil adalah figure sentral yang mendefinisikan kembali dunia tradisional dan pembangkit kembali lembaga-lembaga pribumi yang menghadapkan diri dengan kekuatan asing yang didefinisikan mengancam eksistensi ketradisionalan mereka. Meskipun yang dimaksud Radu Adil dalam dunia kenyataan tidak pernah bisa dibuktikan siapa orangnya, tetapi dalam teks  sejarah bangsa Indonesia selama 300 tahun terakhir, ada banyak tokoh sejarah yang diklaim atau dianggap Ratu Adil, seperti Batara Gowa di Makassar, Pangeran Diponegoro, Tjokroaminoto, Bung Karno di Jawa, Islam, dan Kristen juga memiliki tokoh-tokoh sendiri yang disamakan dengan Ratu Adil. Dalam masyarakat Jawa, misalnya kedatangan Sabdopalon, Noyogenggong, dan munculnya Semar diartikan sebagai datangnya Sang Ratu Adil, kemudian bagi komunitas Islam ada tokoh Iman Mahdi, yang pengertiannya sama dengan Ratu Adil, serta bagi Kristen ada tokoh kelahiran kembali Isa.

Apropriasi mitos-mitos lama, seperti Ratu Adil misalnya dipergunakan untuk melakukan proses transformative bagi terpenuhinya rasa keadilan serta persamaan. Kajian-kajian tentang gerakan messianistik dan millenarianistik di Asia Tenggara oleh James Scott berama Ben Kerkvliet misalnya menunjukkan eratnya ide-ide Ratu Adil dengan kondisi ekonomi dan sosial nyata.

Dalam pandangan agama Hindu, yakni dikenal adanya tokoh juru selamat yang mungkin disebut dengan avatara. Avatara adalah perwujudan Sang Hyang Widhi ke dunia dengan mengambil suatu bentuk, yaitu dengan perbuatan atau ajaran-ajaran sucinya, memberi tuntunan untuk membebaskan manusia dari kesengsaraan yang diakibatkan oleh kegelapan awidya (Upadesa, 1978:34). Wujud awatara seperti: Sri Rama, Kresna, Budha, Kalki (perwujudan Wisnu), dan lain-lainnya. Meskipun secara tetapi dalam pemahaman teologi Hindu tokoh-tokoh itu adalah juru selamat yang mampu membawa ketentraman umat manusia di dunia.

Dengan demikian maka secara konseptual tentu awatara dapat diyakini sebagai juru selamat umat manusia. Juru selamat ini berkaitan dengan kedatangan millennium baru menurut Hindu dan diyakini sebagai zaman yang penuh kedamaian serta kesejahteraan.

Dikutip dari buku I Nengah Duija, Tokoh Sabdopalon Rekonstruksi Pemaknaan Politik Kebudayaan Hindu-Islam di Blambangan Banyuwangi.

Oleh: I Nengah Duija
Source: Majalah Hindu Raditya, Edisi 240, Juli 2017