Sabda Pandita Ratu

Pemimpin negara menurut agama Hindu ialah prabhawa Tuhan sebagai Dewa Wisnu yang hadir di tengah masyarakat untuk mensejahterakan rakyat. Teks Ramayana bahkan menyebutkan bahwa tugas seorang pemimpin yang paling esensial adalah ksayanikangpapa nahan prayojana, menyirnakan kepapaan seluruh masyarakat yang dipimpin. Tidak itu saja, seorang pemimpin negara bahkan disebut bertugas mensejahterakan manusia dan segela isi alamnya. Itulah sebabnya, seorang pemimpin negara menurut Kitab Suci Weda haruslah Rajarsi, yaitu seorang pemimpin negara sekaligus maha pandita (rsi).

Kedudukan pemimpin negara sebagai Rajarsi itu menyebabkan sabdanya mutlak harus diikuti. Sebab semua perkataannya mahawakya, perkataan besar yang mengandung kebenaran mutlak tidak boleh dibantah. Perkataan yang akan menentukan peradaban manusia selanjutnya. Disebut sebagai sabda pandita ratu yang bersifat bhawalaksana atau perbuatan yang selaras dengan perbuatan dan tindakan.

Negara dalam agama Hindu tidak hanya dimaknai sebagai 'negara' seperti pengertian umum. Namun mencakup seluruh aspek universum diri setiap insan manusia. Diri manusia, pepohonan, dan binatang adalah 'negara'-nya sendiri. Diri manusia memimpin 'negara'-nya sendiri, yaitu dirinya sendiri, seperti makhluk lainnya. Ia harus mensejahterakan dirinya sekaligus bertujuan mensejahterakan 'dunia'-nya sendiri. Di dalam keluarga, suami menjadi pemimpin anak-istrinya dengan tujuan sama, yaitu mensejahterakan keluarganya. Klian Banjar, Kepala Desa, Camat, Bupati, Gubernur, dan Presiden bertugas dengan tujuan yang sama, yaitu mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya sekaligus menjaga kesejahteraan alam semesta.

Itulah sebabnya Sabda Pandita Ratu, memang seharusnya demikian. Sabda yang seharusnya diikuti dan ditaati oleh penerimanya sekaligus sebagai harapan hakiki yang mesti diterima. Ia adalah bhisama yang mengatur sesuatu yang benar demi kesejahteraan penerimanya.

Namun demikian, kitab Ramayana yang menjadi salah satu pegangan etik tertinggi agama Hindu menceritakan mengenai Sabda Pandita Ratu dengan tragik yang menyedihkan, tetapi berakhir membahagiakan. Dalam kitab Ramayana itu, Prabhu Dasarata, rajadiraja kerajaan Ayodyapura diceritakan memiliki tiga orang istri, yaitu Dewi Kausalya yang berputra Ramawijaya, Dewi Kakayi berputra Bharata, dan Dewi Sumitra berputra Laksamana dan Satrugna.

Pangkal masalahnya ternyata ada pada siapa yang berhak melanjutkan kepemimpinan maha raja Dasarata. Pada saat Prabhu Dasarata merasa waktunya untuk lengser kaprabon (menanggalkan status sebagai raja), maka dengan ketetapan hati dinobatkanlah Ramawijaya sebagai penggantinya. Penobatan itu didukung oleh segenap pembesar kerajaan dan rakyat yang menyambutnya dengan gegap gempita.

Sabda Pandita Ratu itu, kemudian ternyata digugat oleh Dewi Kakayi atas hasutan Mantara, pengasuh putranya Bharata. Mantara mengingatkan Dewi Kakayi janji Prabhu Dasarata saat meminangnya. Bahwa Prabhu Dasarata pada saat itu pernah berjanji kelak akan menobatkan putranya sebagai Raja Ayodyapura.

Awalnya Dewi Kakayi tak ambil peduli penobatan Ramawijaya sebagai putra mahkota pengganti Prabhu Dasarata. Namun, bisa hasutan Mantara menjalar ke sekujur tubuhnya dan akhirnya menggugat Sabda Pandita Ratu yang sudah diujarkan prabhu Dasarata. Tidak hanya menuntut warisan singgasana kerajaan Ayodyapura untuk Bharata, Dewi Kakayi juga menuntut agar Ramawijaya menjalani masa pembuangan di hutan.

Apa daya, Sabda Pandita Ratu itu harus dilanggar demi Sabda Pandita Ratu sebelumnya. Akan tetapi, Sabda Pandita Ratu tetaplah sabda yang tidak boleh dilanggar. Kedua sabda itu dalam kisah Ramayana tetap dilaksanakan. Bharata diangkat sebagai maha raja dan Ramawijaya pun menjalani masa pembuangan dengan segala insiden yang dideritanya sebelum kembali sebagai maha raja.

Kalau begitu Sabda Pandita Ratu bisa digugat? Bisa berakibat tragik? Begitulah kenyataan yang diceritakan dalam kitab Ramayana. Prabhu Dasarata yang memerintahkan Ramawijaya menjalani pembuangan di hutan dan melantik Bharata sebagai putra mahkota akhirnya wafat karena menanggung beban derita akibat antara menepati janjinya dan melaksanakan keinginan yang rasional.

Pengarang mengambil sikap mematikan tokoh Prabhu Dasarata karena melanggar Sabda Pandita Ratu yang pernah diucapkannya dan membuat Sabda Pandita Ratu baru meskipun berdasarkan objektifitas akurat. Yaitu memilih Ramawijaya sebagai putra mahkota karena sebagai putra sulung dan memiliki kecakapan melebihi saudara-saudara lainnya.

Seperti disebutkan sebelumnya, Sabda Pandita Ratu itu mutlak adanya. Suatu hukum yang harus ditaati oleh masyarakat. Namun demikian, bagi pemimpin Sabda Pandita Ratu itu bila sudah disabdakan tidak boleh ditarik lagi. Apabila ditarik, apalagi dilanggar, maka akan berakibat fatal. Prabhu Dasarata yang melanggar Sabda Pandita Ratu yang disabdakan sebelumnya memperoleh ganjaran wafat karena tidak kuasa menanggung derita merasa bersalah karena sebagai maha raja bersabda atas dasar tendensi diterima lamarannya oleh Dewi Kakayi.

Fakta teks Ramayana memberi pemahaman bahwa Sabda Pandita Ratu yang disampaikan berdasarkan tendensi tertentu akan menyebabkan akibat buruk bagi yang mengeluarkannya. Namun demikian, Sabda Pandita Ratu tetaplah merupakan kebenaran yang harus ditaati. Bharata, meskipun dilantik sebagai putra mahkota menerima pelantikannya atas nama kakandanya Ramawijaya yang memang berhak. Bharata sebagai putra Prabhu Dasarata tetap setia (susastya) mentaati Sabda Pandita Ratu yang dikeluarkan oleh ayahandanya, yaitu agar Ramawijaya sebagai pewaris tahta Astinapura.

Boleh jadi seorang maha raja merasa Sabda Pandita Ratu yang dikeluarkannya tidak sesuai, tetapi bagi yang menerima sabda tersebut tetaplah merupakan kebenaran yang harus diimplementasikan. Oleh karana itu, apapun keadaannya Sabda Pandita Ratu itu harus ditaati oleh masyarakat.

Seperti diceritakan dalam teks Ramayana, tokoh utama Ramawijaya yang diyakini oleh pemeluk agama Hindu sebagai jelmaan Tuhan ke dunia menyelamatkan manusia dari cengkeraman kejahatan. Dalam upayanya menegakkan kebenaran itu, Ramawijaya mengalami berbagai insiden yang mengalur sebagai batang tubuh cerita mencapai klimaks dalam pertempuran melawan Prabhu Rahwana yang mencapai anti-klimaks kemenangan heroik. Lalu diakhiri dengan penyelesaian (dedoument) berhasilnya kebenaran mengalahkan kejahatan. Itulah sebabnya Sabda Pandita Ratu yang disabdakan oleh Prabhu Dasarata merupakan kebenaran yang harus diikuti yang pada gilirannya menentukan jalannya peradaban manusia selanjutnya.

Oleh: Jelantik Sutanegara Pidada
Source: Wartam, Edsi 20, Oktober 2016