Rwa Bhineda: Memahami Makna Suka dan Duka

Rwa Bhineda artinya dua hal yang berbeda atau berlawanan. Hal ini ada disebutkan dalam kitab Ramayana sebagai di bawah ini.

Pasang putih tulya mala mangeliput. Luput sareng sadu (pasangan atau lawan dari putih yaitu hitam yang bagaikan kegelapan yang meliputi diri manusia tetapi orang bijaksana bebas (luput) dari kegelapan (kebingungan) itu.

Kegelapan atau kebingungan itu ada dua macam yaitu gelap pikiran berarti berpikiran tak tenang dan gelap hati berarti berperasaan gelisah. Orang yang kegelapan disebut orang yang dalam keadaan duka. Lawan dari kegelapan itu adalah terang yaitu terang pikiran yang berarti berpikiran tenang dan terang hati berarti berperasaan senang (suka). Biasanya yang disebut rwa bhineda dalam agama Hindu adalah suka duka.

Darimana datangnya suka dan duka itu?

Mengenai asal suka dan duka Bapak Drs. Ketut Wiana pernah menjelaskannya pada harian Bali Post sebagai berikut:

Adanya suka dan duka itu karena pengaruh tri guna yaitu sattwam, rajas dan tamas :
1. Kalau guna sattwam bertemu dengan guna rajas maka orang itu akan berbuat baik iapun akan menikmati kesukaan dan akhirnya rohnya masuk surga.
2. Bila guna tamas bertemu dengan guna rajas orang itu akan berbuat yang tak baik (kedukaan yang ditemukan dan atmanya masuk neraka).
3. Kalau guna sattwam bertemu dengan guna rajas dan tamas maka orang itu akan merasakan suka dan duka.
Orang yang menjelma ke dunia, suka dan duka itu silih berganti dirasakan¬nya.

Kebingungan yang disebut duka itu tak bisa dihilangkan hanya dengan berdoa saja terhadap Tuhan, selama pikiran itu diselimuti oleh sifat rajas dan tamas. Hal ini disebutkan dalam kitab Arjuna Wiwaha sebagai berikut:

Wyarthekang japa mantra yan kasehimun dening rajas muang tamah

Artinya : Usaha untuk menghilangkan kebingungan itu tidak akan berhasil bila pikiran itu masih diselimuti oleh sifat rajas dan tamas

Untuk menghilangkan sifat rajas dan tamas itu, Bagawan Satya Narayana memberikan petunjuk kepada para siswanya agar jangan makan makanan yang bersifat rajas dan tamas, yang dimakan hanya makanan yang bersifat sattwik (sattwam). Makanan yang bersifat sattwik mengakibatkan pikiran jernih dan suci terdapat pada sayur-sayuran dan daging itik. Makanan yang bersifat rajas menimbulkan nafsu besar dan gampang marah terdapat pada daging ayam. Makanan tamas membuat orang tolol, malas dan mengeruhkan pikiran terdapat pada daging babi.

Selain dari itu agar pikiran orang itu suci pergaulannya pun harus dengan orang suci pula. Tak ubahnya bagai besi akan berkarat kalau bergaul dengan tanah dan akan menjadi besi yang suci kalau bergaul dengan api. Ada pakar yang mengatakan, "Tunjukkanlah kepadaku apa yang engkau makan dan dengan siapa engkau bergaul maka akan kukatakan bagaimana watakmu".

Agama Hindu yang berfilsafat samkya menyebutkan selama ada pengaruh tri guna dalam diri manusia maka ia tak bisa lepas dari ikatan suka dan duka. Oleh karena itu seorang Resi mengatakan "Wahai manusia untuk apa berduka karena duka atau kebingungan ada di sebutkan dalam kitab suci Upanisad berbentuk kalimat doa sebagai di bawah ini.

Tamaco maa jyotirgamaya (Bimbinglah saya dari kegelapan (duka) menuju terang (suka)

Doa ini merupakan cara untuk mencapai tujuan agama Hindu yang disebut moksa. Kata moksa berasal dari kata moha yang berarti bingung dan ksaya yang berarti menghilangkan. Jadi moksa berarti usaha untuk hidup tenang dengan menghilangkan kebingungan (duka). Untuk menghilangkan kebingungan (duka) filsafat samkya dalam agama Hindu mengajarkan. "Bergembiralah dalam kesedihan".

Pengamalan atau penerapan ajaran ini kita jumpai pada umat Hindu di Bali pada waktu mereka menggotong jenasah, mereka bersorak-sorak padahal mereka itu dalam kedukaan. Itulah sebabnya mereka yang menggotong jenasah itu berbusana hitam lambang dari kesedihan (kegelapan).

Pada akhirnya rwa bhineda yang berbentuk kelompok kata suka duka bentuknya berubah menjadi ungkapan dengan menambahkan kata lara dan pati dibelakangnya sehingga ungkapan itu menjadi SUKA DUKA LARA PATI. Kata lara berarti menderita atau sengsara orang awam menyebutkan hidup itu sengsara. Pada awalnya hidup itu disebut samsara. Kata samsara berasal dari kata sam yang berarti terus-menerus atau mengalir dari sara artinya hidup. Jadi samsara artinya hidup terus-menerus yaitu hidup — mati — menjelma — mati — menjelma, demikian seterusnya. Hidup yang begini dianggap sengsara. Akhirnya timbul ungkapan hidup itu sengsara.

Hidup di dunia ini dianggap ibarat orang di penjara atau orang hukuman. Bila orang hukuman dalam penjara banyak berbuat baik maka lama hukumannya bisa dikurangi karena mendapat pengampunan.

Kata pati berarti mati. Dunia tempat kita hidup ini disebut jagat yang berasal dari kata ja = lahir dan gat = mati. Dunia ini tempat kita hidup yang berawal dengan lahir dan berakhir dengan mati. Jadi orang yang hidup di dunia ini tidak luput dari kematian. Dunia ini disebut juga mercapada yang berarti tempat mati.

Berdasarkan segenap uraian tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa rwa bhineda yang berbentuk ungkapan suka duka lara pati satu keharusan yang dialami oleh orang yang hidup di dunia dan duka itu bisa dihilangkah dengan usaha makan makanan yang bersifat sattwik yaitu makanan yang dianggap suci.

 

Source: I Gusti Rai Partia l Warta Hindu Dharma NO. 414 Agustus 2001