Runtuhnya Dunia Atribut

Seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru,
dan mencampakkan pakaian lamanya yang usang,
begitu pula sang jiva menerima badan-badan jasmani yang baru,
dengan meninggalkan badan-badan usang yang tidak berguna itu
(Bhagavad Gita 11:22)

Para Pemulung Atribut

Dalam kehidupan duniawi, apa yang kita lakukan adalah 'memulung atribut'. Berbagai atribut kita pulung mulai dari gelar, profesi, pangkat, jabatan, bahkan hingga atribut-atribut sosio-kultural-religius. Itu adalah atribut yang kita pulung, kita koleksi, kita kenakan dan lekatkan lapis demi lapis pada diri ini. Belum lagi atribut yang kita bawa sejak lahir, sebagai efek langsung dari kelahiran kita ini, seperti wangsa, marga, suku, ras dan bangsa dan sebagainya. Nah .... jadilah kita sesosok makhluk yang tebal, sarat dan ringkih dengan berbagai atribut.

Baik atribut-atribut yang terbawa sejak lahir maupun yang dilekatkan kemudian, mengkondisikan eksistensi kita di masyarakat, di antara manusia lainnya. Masyarakat melihat kita dengan cara seperti itu; belajar daripadanya, maka kita pun percaya bahwa demikianlah seharusnya melihat seseorang. Lambatlaun, berjalan bersama waktu, tanpa disadari kita pun malah ikut menyangka diri kita sebagai atribut-atribut itu. Alhasil, kita mengindentifikasikan diri sebagai atribut-atribut itu. Nah .... dari sinilah muncul ungkapan-ungkapan seperti : 'Saya orang Bali', 'Saya orang Batak', 'Saya Hindu', 'Saya orang Indonesia', Saya dokter', 'Saya insinyur', 'Saya Gubernur', 'Saya Dosen', 'Saya kaum Brahmana', 'Saya Pendeta', dsb,.... dsb.

Sebagai para pemulung atribut, kita berdedikasi terhadapnya. Kita sedia mengerahkan tenaga, memporsikan waktu, memeras otak dan keringat bahkan bilamana dipandang perlu mempertaruhkan jiwa-raga untuk memperolehnya.

Dunia-dunia Atribut

Sebagai konsekuensi dari penyandangan atribut-atribut itu, kitapun merasa punya kewajiban-kewajiban melekat, yang tak terpisahkan dari atributnya. Kita juga merasa pantas ataupun tak pantas melakukan sesuatu sehubungan dengannya. Lalu kita merasa perlu untuk membentuk sebuah lingkungan, sebuah dunia tersendiri, dunia yang eksklusif, dunia yang berbeda dengan dunia-dunia lainnya. Para penduduk dunia kita itu tiada lain adalah para penyandang atribut sejenis, dimana kita merasa cocok berada di dalamnya, merasa diterima di dalamnya, oleh karenanya kita pun merasa 'aman dan nyaman' berada di dalamnya.

Di sinilah sesungguhnya setiap orang hidup; di dunia atribut yang dibangunnya sendiri berdasarkan atribut yang disandangnya atau disandangkan orang padanya berdasarkan minat dan bakat serta kecenderungan dan kegandrungan masing-masing. Apa yang mereka pikirkan, yang mereka bicarakan dan yang mereka perbuat menjadikan mereka semakin eksklusif dan terpisah dari dunia-dunia lainnya. Mereka berkarier disana, mereka mengambil posisi yang dianggap layak dan terposisikan sesuai kiprahnya, mereka merasa 'terlindung' di dalamnya.

Di dunia atribut ini, ada tatakramanya, ada sistem tata-nilai dan penjenjangan, ada aturan-aturan main yang harus dipatuhi. Sebagai konsekuensinya, perlu diadakan pula penghargaan-penghargaan dan sangsi-sangsi atau denda bagi pelanggarnya. Oleh karenanya, di dalamnya juga ada persaingan, ada perselisihan, dan sebagainya, yang serupa dengan dunia luar yang umumnya dikenal. Mereka juga punya para pemimpin, para tetua, para sesepuh dan melengkapi diri dengan struktur hirarki.

Pemulungan atribut-atribut dan pembangunan dunia atribut ini diibaratkan membangun 'tembok, tebal, besar dan tinggi' (great wall) oleh Rabindranath Tagore. Ia menggambarkannya dengan sangat indah dalam Gitanjali XXIX, yang antara lain mengatakan bahwa, 'ia selalu sibuk membangun tembok tersebut di sekelilingnya, dan bersamaan dengan semakin menjulangnya si tembok ke langit dari hari ke hari, ia pun kehilangan pandangannya terhadap Diri-Jatinya dalam kegelapan buangan si tembok'.

Bila Atribut-atribut itu dilepas paksa

Jelas kita akan melakukan perlawanan gigih seperti telah kita sebutkan sebelumnya, kita bahkan rela mempertaruhkan jiwa-raga-untuk mempertahankan semua itu. Bagaimana mungkin apa yang telah kita perjuangkan dengan susah-payah, penuh dedikasi seperti itu, yang menghabiskan hampir sebagian besar dari usia kita, mau dilepas atau hendak dirampas orang begitu saja?

Bilamana 'keadaan' memaksa dimana kita pun dihadapkan pada fakta bahwa kita tak kuasa lagi mempertahankannya maka pelepasan ini akan amat sangat menyakitkan. Betapa tidak? Dunia yang telah dibangun sedemikian rupa megahnya tiba-tiba runtuh. Sebagian puing-puingnya menimpa kita, dan sebagian lagi berserakan di sekitar kita; sedangkan kita tak punya daya sama sekali untuk menyelamatkannya, menghimpunnya dan membangunnya kembali. Kita merasa bagai ditelanjangi paksa, dilucuti paksa, dikuliti seinci-demi-seinci; pedih, sangat pedih.

Namun, siapa yang harus dipersalahkan atas semua itu? Kita tak mungkin menyalahkan 'keadaan', kita tak bisa membenci atau mendendamnya. Kalaupun ada orang atau sekelompok orang bisa dikambinghitamkan, namun kita tak bisa berbuat sesuatu untuk itu. Kita telah kehabisan tenaga, kita telah terlalu tua untuk itu, semangat dan daya juangpun sebetulnya sudah runtuh bersamaan dengan runtuhnya dunia kita itu. Yang bisa kita lakukan kini hanyalah merasakan kesakitan dan kepedihan yang amat sangat. Hingga akhirnya, kita pun mati dalam kepedihan itu, mati terpanggang dalam kobaran api neraka ciptaan sendiri.

Dengan Sadar melepas sendiri

Mungkin saja bentuk kehidupan yang dipaparkan tadi terasa terlalu didramatisir; akan tetapi, bila kita mau sedikit peduli, fakta-fakta yang kurang lebih serupa dengan mudah dapat kita saksikan di sekeliling kita setiap waktu. Ada yang mengatakan : "Life began at fourties", ada pula yang mengatakan bahwa kehidupan sesungguhnya baru dimulai sejak menginjakkan kaki dalam kehidupan berumah-tangga (grehasta).

Menyaksikan dan menyadari bahwa kita semua adalah para pemulung atribut, yang hidup di dunia-dunia atribut, serta mengetahui dan menyaksikan betapa akan menyakitkannya bila suatu ketika dunia, atribut itu runtuh, bila suatu ketika kita dipaksa oleh 'keadaan' menanggalkan atribut demi atribut itu, kita tentu tidak berkeberatan untuk mempersiapkan diri.

Dalam Hindu, kita mengenal brahmacari ashrama, sebelum jenjang kehidupan berumahtangga. Bila dalam jenjang kehidupan grehasta ini kita memulung atribut dan membangun dunia atribut itu, maka dalam brahmacari kita membekali diri, mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dalam masa-masa menjalani kehidupan sebagai brahmacarin inilah sepantasnya kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya, sedemikian rupa, sehingga bisa diharapkan kita tidak akan terjebak dalam profesi pemulung atribut dan membangun dunia atribut semua itu.

Akan tetapi, bila kini telah terlanjur memasuki jenjang kehidupan grehasta, dan telah juga terlanjur memulung berbagai atribut yang kita lekatkan pada diri ini, telah terlanjur membangun dunia atribut semu, maka saya kira kita masih belum terlambat untuk menyadarinya. Hindu telah mengantisipasinya, bahkan telah berulang-ulang kali mengingatkan tentang itu lewat ajaran-ajaran luhurnya. Banyak kitab-kitab, pustaka-pustaka, shastra-shastra tersedia bagi siapa saja untuk membantu lebih menyadari keberadaan kita sebagai manusia dalam arti yang sebenar-benarnya.

Bhagavadgita misalnya, mengingatkan bahwa kita sesungguhnya para dewata. Kita warisi percikan Sinar-sinar suci-Nya dalam kelahiran berjasad seperti ini. Itulah hakekat kita yang sejati; bukan 'jati-diri' seperti yang digembar-gemborkan dan diidam-idamkan di dunia-atribut itu.

Mulai dengan Penyederhanaan

Svadhaya, adalah mempelajari ajaran-ajaran luhur kasuksman, yang amat direkomendasikan bagi setiap orang, Selengkapnya Yoga Sutra menyebutkan : "Pola hidup sederhana dengan penuh kedisiplinan (tapa), mempelajari sendiri ajaran-ajaran suci (svadhayaya), dan penyerahan diri, penyerahan kerja dan hasil kerja dengan tulus dalam pengabdian kepada-Nya (isvaraprani-dhana) guna meraih penyatuan, disebut Kriya Yoga. Ini dilaksanakan guna melenyapkan segala kekotoran (klesa) dan mencapai panunggalan, Samadhi." - YS. II-l dan II -2.

Dalam konteks ini, sekurang-kurangnya Svadhyaya inilah yang dapat dikembangkan dalam mempersiapkan diri agar dapat melepas dengan sadar atribut-atribut itu. Melepas dengan sadar, tentu tidak menyakitkan; atau paling tidak, tidak seperti dramatisasi tadi. Jadi, pelepasannya dengan sadar bermula di dalam, tanpa paksaan dalam bentuk apapun dari luar.

Memulai sesuatu, apalagi sesuatu yang sama sekali baru, tidaklah dapat dilakukan serta-merta atau sekaligus. Berjalanpun kita awali dari merangkak, berdiri tegak dengan stabil, baru mulai melangkah dengan tertatih-tatih. Kita tidak serta-merta lari bukan?

Bila diibaratkan kita ini sebagai yang telah terlanjur mengenakan sedemikian banyak baju-baju dan sweater-sweater di musim dingin. Dimana ketika musim panas datang kita jadi kegerahan, merasa sumpek dan ingin melepaskannya satu persatu. Nah ... dalam konteks ini, penyederhanaan yang dimaksud terfokus pada pelepasan atau mungkin lebih tepat disebut penyangkalan terhadap atribut terluar. Demikian seterusnya secara susul-menyusul hingga hanya pakaian dalam saja yang tersisa. Yang teramat penting disini, adalah semua itu dilakukan dengan penuh kesadaran, penuh rasa tanggung-jawab dan tanpa paksaan atau desakan dari luar manapun samasekali. Dalam sikap batin seperti itulah kita melakoninya.

Paksaan atau desakan dari luar, sekecil apapun, malah akan mengantarkan kita pada pembentukan atribut baru, pada perangkap pembangunan dunia baru yang lebih eklusif dan lebih canggih lagi. Dunia ini, sejak awal, bukanlah apa yang dituju. Ini justru akan menyimpangkan dari tujuan semula. Ketika Jiddu Krishnamurti membubarkan "Order of tha Star in the East", yang telah ia ketuai sejak usia 16 tahun, ia menyatakan bahwa 'Kebenaran tak dapat ditemukan melalui organisasi manapun, kecuali membebaskan diri dari segala bentuk pengkondisi'.

Dengan melepas satupersatu atribut-atribut itu secara sukarela tidaklah begitu menyakitkan, dan kita pun tak perlu melakukan hal-hal yang ekstrim untuk itu. Dengan cara itu, kegerahanpun sirna secara berangsur-angsur, sementara cukup waktu bagi kita untuk beradaptasi. Waktu adaptif, amat penting bagi kebanyakan kita guna mengurangi kejutan-kejutan yang tak perlu, tidak kondusif dan mengganggu.

Apa kata Tagore tentang itu?

Peristiwa pelepasan atribut sejenis juga dapat kita saksikan pada sosok seorang Gandhi yang tadinya adalah seorang pengacara sukses di Afrika Selatan dan pada sosok seorang Swami Sivananda yang tadinya adalah seorang dokter yang mengepalai sebuah rumah sakit swasta di Malaysia, dan banyak yang lainnya lagi. Mungkin yang paling ekstrim di antaranya adalah pelepasan yang dilakukan oleh seorang Pangeran Mahkota wangsa Sakya dari Kapilavastu sebuah kerajaan kecil di Timur aut India. Beliau kemudian kita kenal sebagai Buddha Avatara atau Buddha Sakyamuni.

Di Nusantara sendiri kita mengenal nama-nama (nama samaran) orang-orang suci yang menyiratkan esensi serupa, seperti : Tanakung, Tantular, Nirartha dll. Demikianlah, semua itu mencontohi kita tentang paradigma keruntuhan sebuah dunia atribut; dunia atribut yang kita bangun sendiri. Fenomena pelepasan atau penyangkalan atribut-atribut ini, rupanya juga tak luput dari perhatian seorang Rabindranath Tagore. Dalam Gitanjali antara lain ia melukiskannya begini ;

If the day is done,
if birds sing no more,
if the wind has flagged tired,
then draw the veil of darkness thick upon me,

even as thou hast wrapt the earth with the
coverlet ofslepp and tenderly closed the
petals of the drooping lotus at dusk.
From the traveller, whose sack of provisions is empty before the voyage is ended,
whose garment is torn and dustladen,
whose strength is exhausted,
remove shame and poverty,
and reneio his life like a flower under the cover of thy kindly night.
[Gitanjali XXIV]

Puisi ini sengaja dikutipkan dan sajikan telanjang dalam bahasa aslinya. Saya khawatir mengaburkan pesan yang hendak disampaikan sang pujangga dengan menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mudah-mudahan ia menghadirkan sebentuk inspirasi. Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita. Semoga Kedamaian dan Kebahagiaan senantiasa menghuni kalbu semua insan.

Source: Anatta Gotama l Warta Hindu Dharma NO. 504 Desember 2008