Rudra dan Samudra

Ketika kita melaksanakan Siwaratri di Pura Luhur Uluwatu kita menyadari bahwa kita berada di atas samudra. Pura Sad Kahyangan dan juga Dangkahyangan ini memang berdiri di atas sebuah bukit kapur yang menjorok ke samudra Hindia. Pura yang sangat disucikan ini adalah salah satu pura yang senantiasa dikunjungi oleh orang-orang suci, dan terakhir dibangun kembali oleh Danghyang Nirartha. Beliau yang dikenal sebagai pembaharu dan pemberi pencerahan agama Hindu di Bali dengan mewujudkan konsep padma, telah menjadikan tempat ini sebagai tempat moksa.

Di pura inilah dipuja Dewa Rudra, sebagaimana posisi dewa dimaksud dalam konsep Padma Bhuwana, yaitu dewa yang menempati posisi Barat daya. Namun demikian sesungguhnya pemujaan kepada Dewa Rudra telah dituangkan di dalam kitab suci Weda. Dalam kitab suci Hindu ini Rudra dipahami sebagai Satu Tanpa Yang Kedua (Eko Rudro Na Dwitaya Tasthau).

Sifat dasar Rudra adalah dua sisi, yaitu menakutkan (Ghora) dan tenang (Santa). Dalam wujudnya sebagai Rudra yang menakutkan, Beliau bersifat melebur. Oleh karena itu para pemujaNya menyebut nama Beliau untuk menerangkan kemurkaannya dan untuk mengubah Satarudriya (Seratus Rudra) menjadi Santaradriya (Rudra yang tenang). Rudra yang sangat murka menunjukkan bentuk Bhairawa dan menjelajahi bumi dengan tubuh permaisurinya. Sari, dipundaknya.

Nama lain dari Rudra adalah Ahirbudhnya, secara harfiah bermakna naga besar yang ada di samudra. Ada sebuah kisah yang menyebutkan bahwa samudra yang dalam adalah tempat bersembunyinya Naga Ahi-Vritha, yaitu sebuah wilayah yang sangat gelap atau wilayah asal kegelapan.

Demikianlah dalam kitab suci Hindu, Rudra berhubungan dengan samudra, Rudra yang sangat menakutkan ternyata juga berada di pusat kegelapan samudra. Di sini kita memahami mengapa posisi Rudra dalam Padma Bhuwana menempati posisi Barat Daya, di samudra luas, dan dalam konteks Bali sebagai Padma Mandala di posisikan di Pura Luhur Uluwatu.

Rudra di Bali mendapat pemujaan yang istimewa, terbukti dengan dilaksanakannya Karya Agung Eka Dasa Rudra setiap seratus tahun sekali, yaitu ketika Tahun Saka berakhir dengan 00 (Rah windu tenggek windu). Upacara ini terakhir dilaksanakan pada tahun Saka 1900 (1979 M) dan pertama kali dilaksanakan pada jaman Gelgel dalam pemerintahan Raja Waturenggong, dengan penasehat rohani Danghyang Nirartha.

Pemujaan pada Rudra sesungguhnya adalah kesadaran pemujanya betapa Tuhan Yang Maha Kuasa dapat murka dan menggerakkan air samudra, menenggelamkan daratan, dan menyapu bersih segala yang tumbuh di atasnya. Namun demikian Tuhan Yang Maha Kuasa juga menjadi Santa atau tenang, memberikan kebahagiaan dan kesenangan kepada pemujanya yang memiliki kesadaran bahwa Tuhan memang Maha Kuasa, dan manusia memang bukan apa-apa.

Ketika kita berada di Pura Luhur Uluwatu kesadaran itu tumbuh dan berkembang terlebih lagi ketika kita mendekatkan diri kepadaNya dihari Suci Siwaratri.

Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 456 Januari 2005