Rudra

Semua makhluk hidup merupakan keluarga besar Dia yang Agung Rudra. Apabila Bapa itu hanya satu, lalu mengapa harus ada kasta dan keyakinan yang berbeda? Semuanya adalah sama, tidak ada seorangpun yang lebih rendah dan tidak ada yang lebih tinggi. Mereka yang menciptakan perbedaan-perbedaan adalah musuh bagi peradaban manusia. Pada dasarnya kalian semua satu, hanya pada bentuk luar kelihatannya kalian berbeda dan berjumlah banyak. Rudra merupakan substansi terakhir bagi seluruh makhluk hidup.

Mengapakah Tuhan itu disebiit "Rudra"? Rudra dalam bahasa Sansekerta berarti "mengeluarkan air rriata", seperti menangis. Tetapi Tuhan tidak hanya membuat orang menangis, Dia juga menyebabkan orang tertawa. Dalam kedua keadaan itu, pada kepedihan yang teramat sangat dan pada kegembiraan yang memuncak, orang mengeluarkan air mata. Pada waktu sedih, air mata itu keluar dari bagian dalam mata dan pada saat-saat gembira air mata itu keluar dari bagian luar atau sudut mata dan pada saat-saat gembira air mata itu keluar dari bagian luar atau sudut mata. Seorang ibu akan menangis ketika anaknya menikah dan berangkat ke rumah menantunya dan si ibu itu juga menangis ketika anaknya kembali pulang padanya. Di satu pihak, ibu menangis karena sedih, di pihak lain ia menangis karena gembira.

Apabila makhluk hidup itu hidup dalam satu keadaan saja, maka kehidupan ini akan menjadi sangat membosankan dan tidak ada seorangpun yang mau melanjutkan kehidupan ini. Apabila pada cerita drama akhir ceritanya sudah diketahui dari semula, maka permainan itupun tidak menarik lagi. Kita membutuhkan ketega-ngan, naik dan turun dan kejutan-kejutan terakhir agar kehidupan ini jadi menarik. Tuhan, yang adalah Rudra merupakan ahli drama tingkat paling utama. Dia yang mengatur kehidupan ini tetap mengambang di anatara dua ekstrim kenikmatan dan kesedihan demikian itulah liila-Nya, permainan-Nya berlangsung.

Kepada Rudra kita berdoa sebagai berikut; "O Tuhan! antarkan hamba dari ketidak kekalan menuju kekekalan!" Karena semua perwujudan adalah sementara, hanya Tuhan saja yang tidak pernah berubah, sat, kebenaran. Jadi bawalah hamba dari asat, ketidak kekalan, menuju sat, kesejatian yang kekal.

"O Tuhan! Bimbinglah hamba dari kegelapan menuju terang!" Kegelapan disini berarti maya atau kebodohan yang menyebabkan terjadinya kebingu-ngan terhadap kesejatian. Apabila maya ini kita tiadakan, maka jiwa individu akan menjadi jiwa universal.

"O Tuhan! Bawalah hamba dari kematian menuju kehidupan!" Kematian berarti perubahan. Di alam ciptaan ini semuanya berubah dan sedang berubah. Jadi segala-galanya, semua makhluk akan tertimpa kematian. Bebaskan hamba dari alam kematian dan jadikan hamba menikmati kehidupan kekal yang tidak terkena perubahan.

"O Tuhan Rudra, paduka memanifestasikan diri ke dalam segalanya dalam berbagai bentuk, hamba ingin merasakan kehadiran-Mu di dalam sanubariku!".

Seorang sadhaka akan mendapatkan perasaan ini dengan mudah. Kalian akan menyem-purnakan tugas di dalam kehidupan ini, agar kita semua dapat melakukan tugas yang lain di beberapa planet lain! Rudra adalah Guru (pembasmi kegelapan), ayah dan pengajar bergabung menjadi satu kesatuan.

Rudra digambarkan sebagai mempunyai lima wajah. Apakah maksudnya? Rudra itu satu, tetapi mempunyai lima jenis fungsi pengatur. Setiap orang mempunyai tugas. Demikianpun Tuhan, memanifestasikan diri-Nya ke alam relativitas, dan mempunyai tugas. Dia bekerja keras untuk kepentingan kehidupan-Nya di dunia, untuk kepentingan makhluk-makhluk yang adalah anak-anak-Nya.

Kepala-Nya yang berada di ujung paling kanan disebut Daksineshvara. Perannya memberi-tahukan kepada umat manusia, "O anak-anak-Ku, jangan kalian lakukan ini-aku akan sakit apabila kalian lakukan ini ". Inilah peringatan yang sangat lunak untuk mencegah kejahatan.

Kepala yang berada di ujung paling kiri disebut Vamadeva. Dia bersabda/'Mengapa kalian lakukan ini ?" Aku akan hancurkan kalian". Dan sebenarnya Dia menghukum dan memusnahkan. Kepala kedua dari ujung pal¬ing kanan disebut Iishana. Dia bersabda, "Jangan kalian lakukan ini, kalian bisa dihukum kalau dilanggar". Dia sedikit marah, tetapi tidak mengamcam. Kepala kedua dari ujung kiri disebut Kalagni. Dia mengancam dengan keras tetapi tidak menghukum.

Di tengah-tengah ialah wajah yang tenang tentram dan indah sekali. Wajah itu disebut Kalyana Sundaram. Misalkan terdapat seorang anak kecil umur 3-4 bulan. Kedua orang tuanya memandangi dirinya dengan penuh kecintaan. Tidak ada sedikitpun kemginan untuk menghukumnya. Wajah yang ditengah dari Rudra merupakan sifatnya yang kekal. Sifatnya memberikan berkah dan indah satu-satunya sifat yang kekal dari Rudra. Perubahan yang terjadi ke kanan atau ke kiri hanya untuk kepentingan mengatur saja.

Para bhakta berdoa kepada Rudra sebagai berikut, "O Tuhan, mohon pandanglah hamba dengan wajah-Mu di ujung paling kanan agar dijauhkan hamba dari pengaruh jahat sehingga hamba tidak tertimpa hukuman". Tetapi Tuhan itu satu dan selalu memberkati dan pengasih. Aspek destruktif Tuhan itu juga adalah karena kasih sayang-Nya yang sangat besar terhadap ciptaan-Nya. Apabila baju sudah robek dan diganti dengan yang baru, maka perbuatan itu bukan merupakan kekejaman. Tuhan menciptakan alam semesta ini, memeliharanya dan langsung pula memusnahkan bagian - bagian yang tidak berguna atau menggantikannya dengan yang baru. Rudra sebagai kekuatan terakhir di alam semesta raya, juga mempunyai tanggung jawab terakhir yaitu melindungi, memelihara dan menguasainya. Kekuasaan dan tanggung jawab harus saling bergandengan tangan.

Ketika Dia menemukan suatu struktur tertentu tidak mampu dengan baik melakukan tugasnya, Dia lalu mencarikan penggantinya. Seperti seorang dalang yang mengganti salah satu dari wayangnya. Karena itu, di dalam aspek pemusnahannyapun Tuhan tida perlu ditakuti. Dia hanya untuk dicintai saja.

Tidak akan terjadi penghancuran total terhadap keseluruhan. Jagad Raya ini. Tetapi andaikanlah hal itu terjadi, umat manusia tidak perlu khawatir, karena manusia akan kembali ke pangkuan Rudra. Karena itu tidak boleh seorangpun merasa takut. Perkataan "takut" hendaknya digapuskan dari dalam kamus manusia.

Jangan pikir bahwa kalian kecil dan tidak terpelajar, maka Tuhan tidak memperdulikan kalian. Dia memperhatikan dengan sama terhadap gajah yang paling besar dan semut yang paling kecil. Bagi Dia keduanya itu satu dan sama yaitu keturunan-Nya Sendiri. Apabila tidak ada seorangpun lagi yang berfikir tentang dirimu, jangan khawatir, Rudra tetap berfikir tentang dirimu.

Semakin mendalam kalian masuk ke dalam jiwa, semakin dekatlah kalian itu kepada Rudra. Akhirnya ketika jiwa kalian telah menyatu dan di dalam sumbernya itu, kalian pun bersatu dengan Rudra. Kalian memiliki kemung-kinan yang luar biasa, Tuhan Yang Maha Kuasa dapat kalian capai" dengan mudah. Lalu mengapa kalian takut?

Bagian liila yang paling manis-permainan Tuhan- ialah bahwa Dia itu bersembunyi di dalam jiwa setiap orang dan semua orang mencari-Nya. Dia ingin agar anak-anak-Nya mencari berputar-putar dan Dia bermain sembunyi-sembunyian dengan mereka. Demikianlah sehingga mereka dapat melakukan fungsi-fungsi penting tertentu di dalam proses tersebut. Hal ini dapat menyenangkan baik bagi Pencipta maupun bagi yang diciptakan. (Bersambung)

Oleh: S.S Anandamurti
Source: Warta Hindu Dharma NO. 538 Nopember 2011