Ritual Kematian Nyorat

Kekayaan tradisi keagamaan umat Hindu tidaklah diragukan lagi. Nusantara saja memiliki beragam tradisi yang terjalin harmonis dengan tiga kerangka dasar, yaitu; tattwa, susila, dan upacara. Demikian pula apabila menelusuri kearifan lokal warisan leluhur Suku Dayak di berbagai aliran sungainya. Seperti sebuah upacara unik yang telah dilak-sanakan turun temurun, dikenal sebagai Ritual Nyorat, yang dilaksanakan setelah prosesi penguburan kemudian dapat dilanjutkan dengan Ritual Tiwah sebagai puncaknya. Kata Nyorat sendiri berasal dari bahasa Dayak Ot Danum, yang berarti ritual kematian.

Prosesi ini kendati memiliki perbedaan cukup signifikan dengan Ritual kematian Dayak Kahayan, namun secara esensial memiliki persamaan makna filosofis. Roh/Liau Haring Kaharingan diupacarai dengan tujuan menghantarkannya menuju alam terakhir/Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang dan menyatu dengan Ranying Hatalla/Tuhan. Karena, umat Hindu Kaharingan meyakini bahwa ritual kematian adalah salah satu yang utama dan sakral dimana melalui jalan inilah manusia kembali kepada-Nya. Dalam Kitab Panaturan 32:4 disampaikan; "Ranying Hatalla berfirman, kepada keturunan Raja Bunu/manusia; kalian kelak yang hidup menyebar di Pantai Danum Kalunen/dunia dan mendapat bagian yang bisa mati, serta kalian hidup seperti merantau, demikian pula pada akhirnya kalian kembali menyatu bersama AKU, yaitu tempat abadi untuk selamanya".

Kesadaran akan hakikat kematian tersebut menjadikan ritual kematian Suku Dayak menjadi ritual yang unik dimana kesedihan dan sukacita berbaur menjadi satu. Rasa sedih kehilangan anggota keluarga kemudian dimaknai dengan sukacita untuk menghantarkannya ke tempat sempurna. Seperti diamati pada Ritual Nyorat almarhum Rontang Sendung yang dilaksanakan di Desa Sei Hanyu, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah pada Sabtu, 12 September 2015. Prosesi dibagi menjadi dua tahapan, yaitu penguburan dan Nyorat sebagai puncaknya. Pada tahap pertama, jenasah yang telah dimandikan dan dibersihkan ditempatkan pada tempat khusus selama dua hari dua malam hingga kemudian dimasukkan kedalam peti mati (dayak; raung/kangkurung) diiringi bunyi gong dengan irama khusus. Jenasah tersebut kemudian dimakamkan setelah disemayamkan selama satu malam. Pemakaman pada umumnya dilaksanakan keesokan harinya diiringi doa-doa dari tokoh agama dan lantunan kidung/Kandayu yang menghantarkan roh ke alam peristirahatan/Bukit Pasahan Raung.

Ritual Nyorat dilaksanakan setelah tiga hari jenasah dimakamkan. Hari pertama dimulai dengan pembuatan sarana dan Pandung (tempat hewan korban). Persiapan dilakukan oleh seluruh anggota keluarga dengan bergotong royong. Prosesi Nyorat berlangsung selama tiga hari tiga malam, dilaksakan pula tarian Kanjan mengelilingi Sangkaraya, yaitu beberapa tiang yang dijadikan satu dengan bentuk persegi empat dan diletakkan ditengah-tengah lapangan. Basran U. Talawang selaku Basir/Pandita menyampaikan bahwa ritual ini dilaksanakan dengan tujuan mengembalikan unsur ibu/Liau Balawang Panjang, unsur bapak/Liau Karahang Tulang dan unsur Ranying Hatalla/Liau Haring Kaharingan ke asalnya.

Source: Sihung, Palangkaraya l Wartam Edisi 8 l Oktober 2015