RITUAL GALUNGAN: Dari Tradisi Agraris Menuju Tradisi Metropolis [3]

(Sebelumnya)

Dengan demikian dapat dibayangkan bahwa ditengah-tengah kegamangan akibat terjadinya peralihan dari tradisi agraris menuju pada tradisi jasa yang terjadi pada masyarakat, badai besar sedang mengancam kehidupan manusia. Semua sendi-sendi kehidupan manusia menjadi porak peranda. Apa benar seperti itu kenyataan yang akan dihadapi manusia saat ini, apa sudah tiada lagi harapan terhadap agama sebagai pemberi keteduhan hati bagi umat manusia?

Seorang peramal masa depan Alvin Toffler mengatakan bahwa agama masih punya peran dalam mengendalikan masyarakat yang sedang ekstasi, imoralitas, sikap ketidakacuhan moral yang melanda masyarakat postmodern. Toffler boleh punya keyakinan seperti itu, namun melihat kenyataan yang sesungguhnya terjadi dalam istitusi keagamaan sungguh merupakan ironi. Agama kini cenderung menjadi alat legitimasi untuk menekan mereka yang memiliki sistem keyakinan berbeda, bahkan atas nama agama mereka rela membunuh sesamanya.

Masyarakat Bali boleh jadi belum mengalami malapetaka kehidupan postmodern seperti yang dialami masyarakat di negara-negara maju, karena modernitas atau kemodernan masyarakat Bali baru dalam pertumbuhan awal. Namun demikian masyarakat yang berada pada masa transisi dari tradisional ke modern, seringkah memunculkan persoalan yang tidak kalah rumitnya. Secara fisik masyarakat Bali nampak modern namun dalam kehidupan mental dan alam pikiran masih tradisional. Tradisi lama belum ditinggalkan sementara pola pikir modern belum dikuasai. Kalau memijam pemikiran Comte (dalam Koento Wibisonol983) masyarakat berdiri dalam kondisi satu kaki pada tahap teologi sementara kaki yang lainnya ada pada tahap positif.

Yang jelas bahwa manusia dewasa ini makin sadar bahwa seluruh krisis di bumi ini tidak hanya disebabkan oleh alasan material tapi justru lebih pada sebab-sebab transendental. Dunia modern sekarang ini tidak lagi memiliki horizon spiritual. Manusia modern melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang pinggiran eksistensi, tidak pada "pusat spiritualitas dirinya" sehingga mengakibatkan ia lupa siapa dirinya. Perhatian yang lebih terpusat pada dunia materi memang telah memberikan kemajuan yang sangat mengangumkan, tapi secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnya ternyata sangat dangkal. Dekadensi atau kejatuhan manusia saat ini telah kehilangan pengetahuan tentang dirinya, dan menjadi sangat tergantung pada pengetahuan eksternal, yang tak langsung berhubungan dengan dirinya.

Kecenderungan ini terjadi karena proses rasionalisasi yang menyertai modernitas telah men-ciptakan sekularisasi kesadaran dan memperlemah fungsi kanopi suci agama dari domain kehidupan para pemeluknya, sehingga menimbulkan ketidakberartian pada diri manusia modern. Hal-hal sakral yang berfungsi sebagai faktor sublimasi dan penguatan eksistensi manusia, digantikan oleh hal-hal yang serba rasional sehingga terjadilah dekonstruksi transendensi kognisi manusia atau dengan istilah sekularisasi alam bathin.

Dari paparan tersebut di atas semakin tampak bahwa agama memang diperlukan dalam menata perilaku manusia. Hal ini menjadi penting karena pengalaman manusia yang diperoleh dari ketidak pastian, ketidakberdayaan dan kelangkaan yang memang merupakan karakteristik fundamental kondisi manusia. Dalam hal ini fungsi agama adalah menyediakan dua hal. Pertama, memberikan suatu cakrawala pandang tentang dunia luar yang tak terjangkau oleh manusia, dalam arti di mana deprivasi dan frustasi dapat dialami sebagai suatu yang mempunyai makna. Kedua, menyediakan sarana ritual yang memungkinkan hubungan manusia dengan hal di luar jangkauannya, yang memberikan jaminan dan keselamatan bagi manusia mempertahankan moralnya.

Menurut Radhakrisnan, dalam diri manusia senantiasa akan terjadi fermentasi (peragian) mental dan moral, yaitu suatu ketegangan antara fakta dan keberadaannya sekarang dan keadaan diri yang ingin dicapainya, antara materi yang menawarkan eksistensi dan roh yang menempanya menjadi suatu keberadaan yang signifikan. Agama-agama berusaha untuk memuaskan kebutuhan fundamental manusia dengan memberinya kepercayaan, cara hidup, suatu iman, dan suatu komunitas. Dengan demikian, bisa memulihkan hubungan yang terputus antara dirinya dan dunia spiritual di atasnya dan dunia manusia di sekitarnya.

Kehidupan dewasa ini sekalipun secara kuantitatif telah memberikan kenyamanan dan kenikmatan materi, ternyata belum mampu menghadirkan kebahagiaan. Oleh karena itu, manusia membutuhkan agama. Agama yang mampu membebaskan manusia dari ketakutan, yang mampu membangkitkan keyakinan bukan ketakutan - Abhaya. Radhakrisnan (2003) mengatakan bahwa:

"Ciri-ciri agama murni adalah abhaya atau terbebas dari ketakutan, pengungkapan diri dalam harmoni, keseimbangan dan kesesuaian yang sempurna antara tubuh dan jiwa, tangan dan otak, dan ahimsa atau kasih. Abhaya dan ahimsa, kesadaran dan simpati, kebebasan dan kasih merupakan dua fitur (ciri istimewa) teoritis dan praktis dari agama"

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia sangat membutuhkan agama lebih-lebih ketika mereka mengalami problem-problem hidup. Ketika manusia menghadapi problem-problem kemanusiaannya, mereka membutuhkan sarana penghubungan dengan Yang Maha Kuasa yang diyakini mampu memberikannya perlindungan.

Ringkasnya secara fungsional, agama mengidentifikasikan individu dengan kelompok, menolong individu dalam ketidakpastian, menghibur ketika dilanda kecewa, mengaitkannya dengan tujuan-tujuan masyarakat, memperkuat moral, dan menyediakan unsur-unsur identitas.Harus diingat bahwa ketika muncul gejala-gejala berikut maka agama yang secara fungsional oleh O'Dea dikatakan akan memberikan perlindungan dan rasa aman sebagaimana tersebut di atas bisa berubah menjadi sebuah bencana kemanusiaan manakala: Pertama, bila suatu agama mengklaim kebenaran agamanya sebagai kebenaran yang mutlak dan satu-satunya. Kedua, bila muncul ketaatan buta kepada pemimpin keagamaan. Ketiga, ketika agama gandrung merindukan zaman ideal, lalu bertekad merealisasikan zaman tersebut ke dalam zaman sekarang. Tanda keempat adalah apabila agama membenarkan dan membiarkan terjadinya "tujuan yang membenarkan cara"; sementara tanda kelima, adalah ketika agama tak segan-segan memekikkan perang suci.

Dari paparan di atas secara ringkas dapat dikatakan bahwa (1) nilai-nilai agama harus selalu didekonstruksi, konstruksi, direkonstruksi sehingga selalu aktual dalam membantu manusia mengatasi problema kehidupannya, (2) terdapat interrelasi antara agama dan politik kekuasaan. Berangkat dari sini dengan melihat upaya-upaya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Hindu di Bali dalam menafsirkan perayaan Galungan, tampak jelas bahwa rekonstruksi terhadap makna Galungan mengindikasikan pergerakan pemikiran dari tradisi agraris menuju pada tradisi metropolis.

Pada awalnya pemaknaan Galungan adalah sebagai ungkapan rasa sukur kepada Hyang Widhi Wasa karena telah memberikan anugrah-Nya berupa bahan sandang dan pangan yang disimbolkan dalam bentuk penjor. Selanjutnya setelah makin kuatnya pengaruh Hindu Majapahit di Bali, muncullah mitos tentang Raja Bali bernama Mayadanawa yang dikatakan sebagai raja lalim yang melarang masyarakatnya melaksanakan kegiatan-kegiatan ritual keagamaan, namun berhasil ditundukkan oleh Dewa Indra (lihat Usana Bali).

Rupanya kisah ini dikaitkan dengan raja Bali yang disebut Bedahulu yang berhasil dikalahkan oleh Gajah Mada (lihat Purana Bali Dwipa, 1986). Munculnya sebutan Bedahulu ini secara mitos dikatakan bahwa raja Bali tersebut memiliki badan manusia tetapi berkepala babi. Sementara itu secara hermeneutik istilah Bedahulu dapat berarti berbeda dengan hulu, hulu dalam hal ini adalah Majapahit. Dengan kata lain kemungkinan raja Bali tersebut tidak mau tunduk pada kekuasaan raja Majapahit sehingga akhirnya harus ditundukkan dengan peperangan.

Untuk melegitimasi kekuasaan Majapahit di Bali maka dibuatkan mitos tentang raja Mayadenawa. Mitos memang efektif sebagai salah satu cara untuk melanggengkan kekuasaan. Kisah inilah yang kemudian dikaitkan dengan perayaan Galungan. Dapat diduga bahwa kekuasaan sangat berperan dalam menafsirkan hal-hal yang bersifat keagamaan, dengan kata lain penguasalah yang melegitimasi tafsir-tafsir keagamaan sehingga akhirnya catatan-catatan yang ada rupanya adalah catatan-catatan yang ditulis oleh pemenang.

Pemaknaan terhadap Galungan pada masa selanjutnya, atau sebut saja masa tradisi metropolis mulai berkembang yang ditandai dengan intensnya pergaulan antar budaya dan antara agama lewat dunia komunikasi dan dunia maya, maka penafsiran terhadap makna Galungan juga berubah. Berdasarkan hasil Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu yang dilaksanakan mulai tahun 1985, Galungan ditafsirkan sebagai simbol kemenangan Dharma melawan A Dharma.

Padangan ini antara lain merujuk pada perayaan Wijaya Dasami di India. Perayaan Galungan saat ini lebih ditandai oleh ketakmampuan manusia dalam mengendalikan hasratnya. Galungan lebih ditandai dengan pesta makan dan minuman pada bar-bar yang muncul bagai jamur di musim hujan menjelang dan selama perayaan Galungan dan Kuningan. Pemotongan hewan tidak lagi bermakna sebagai ungkapan rasa sukur atas segala karunia yang telah diterima manusia tetapi mengarah pada pesta pemenuhan hasrat kemanusiaan. Makna persembahan sebagai bentuk keikhlasan untuk mengembalikan sebagian dari milik pribadi semakin pudar, sehingga memunculkan dorongan egoisme pemenuhan kebutuhan pribadi dan komunal. Individualisme mendapat ruang yang semakin lebar pada gaya hidup metropolis.

Pemaknaan Galungan menjadi sangat formalistik, tentu saja peran para intelektual tradisional (meminjam istilah Gramsci) dalam memberikan penafsiran terhadap makna Galungan tak dapat dilepaskan dari pengaruh tangan-tangan kekuasaan. Paruman-paruman yang dilakukan untuk reinterpretasi terhadap aspek-aspek agama dengan melibatkan para intelektual tradisional bekerjasama dengan pihak Pemerintah Daerah sebagai penyandang dana untuk mengangkat makna Galungan ke panggung yang lebih luas dari hanya sekedar ritual tradisional kedaerahan menuju panggung yang lebih metropolis, memberi warna baru dalam pemaknaan Galungan.

Hal ini tampak dari dasar-dasar ideologis yang dirujuk adalah ritual yang berkembang di India yang dikenal dengan istilah Wijaya Dasami. Hal ini sah-sah saja, karena makna tentang sesuatu bersifat cair, tergantung kepada siapa yang memaknainya serta untuk kepentingan apa pemaknaan tersebut. Hanya saja yang terasa agak konyol adalah penafsiran bahwa Galungan adalah sebuah ritual kemengan Dharma melawan A Dharma (Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu, 1985:7). Dengan kata lain A Dharma telah mati yang ada hanyalah Dharma.

Bila statemen ini dibaca secara heuristik akan memunculkan begitu banyak pertanyaan. Pertanyaan yang mungkin agak nakal adalah, jika Dharma telah menang dan Adharma telah kalah, siapa lagi yang harus menjadi sparing partner Dharma sehingga perjuangan hidup ini masih harus tetap dilanjutkan? Jika A Dharma telah kalah mengapa kejahatan atau hal-hal lain yang dikategorikan sebagai A Dharma masih selalu mengacaukan kehidupan manusia?

Penutup

Dari paparan di atas kiranya dapat disepakati bahwa reinterpretasi terhadap nilai-nilai agama memang diperlukan, namun demikian harus dilakukan dengan hati-hati. Ritual adalah sebuah ruang dan waktu bagi umat manusia untuk melakukan sublimasi agar hidupnya menjadi lebih bermakna, sebab tantangan hidup akan selalu muncul setiap saat. Ada saat untuk melakukan peng-hentian terhadap gerak hasrat yang selalu bergerak liar bagaikan sebuah truk besar yang di lepaskan dari atas bukit tanpa dilengkapi dengan rem. Ritual adalah pengingat, atau semacam rem agar manusia tak terjebak dalam hiruk pikuk semarak hasrat yang bergerak tak terkendali, sehingga dengan demikian manusia punya kesempatan untuk menyadari kembali makna hidup dan kehidupannya.

Oleh: I Wayan Budi Utama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 528 Desember 2010