RITUAL GALUNGAN: Dari Tradisi Agraris Menuju Tradisi Metropolis [2]

(Sebelumnya)

Foucault sebenarnya telah mengadopsi pemikiran Nietzsche tentang hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan, tetapi hubungan itu lebih banyak dianalisisnya secara sosiologis. Dalam genealogis kekuasaan, Faucoult membahas bagaimana orang mengatur diri sendiri dan orang lain melalui produksi pengetahuan. Di antaranya, ia melihat pengetahuan menghasilkan kekuasaan dengan mengangkat orang menjadi subjek dan kemudian memerintah subjek dengan pengetahuan. Foucault juga memberi perhatian cukup besar pada teknik, teknologi yang berasal dari pengetahuan (terutama yang berasal dari ilmu pengetahuan ilmiah), dan memperhatikan cara teknologi digunakan oleh berbagai instansi untuk memaksakan kekuasaan terhadap manusia. Meski ia melihat kaitan antara pengetahuan dan kekuasaan, namun ia yakin bahwa pengetahuan dan kekuasaan selalu bersaing; antara keduanya selalu terjadi resistensi. Berangkat dari pemikiran-pemikiran tersebut di atas akan digunakan dalam mendeskripsikan pemaknaan Galungan dari tradisi agraris menuju tradisi metropolis.

Galungan Dalam Tradisi Agraris

Rangkaian perayaan Galungan sudah dimulai pada Sabtu Kliwon Wariga yang lebih dikenal dengan Tumpek Wariga. Pada asaat ini masyarakat Hindu di Bali melakukan ritual dengan tujuan memohon anugrah Hyang Widhi agar pohon-pohonan menghasilkan buah-buahan yang baik agar dapat digunakan dalam perayaan Galungan yang akan dilaksanakan 25 hari kemudian. Pada Wraspati Wage Sungsang disebut dengan Sugihan Jawa. Kata Jawa ini mengingatkan pada bentuk biji-bijian (kebutuhan akan pangan) yang akan digunakan pada perayaan Galungan seperti ketan, beras dan lain sebagainya.

Keesokan harinya pada hari Sukra Kliwon Sungsang disebut Sugihan Bali. Kata Bali dalam hal ini barangkali ada hubungannya dengan bebali yang bisa diartikan sebagai perlengkapan sandang. Redite Paing Dungulan (panyekeban) saatnya untuk mempersiapkan buah-buahan seperti pisang dan lain-lain agar menjadi matang pada perayaan Galungan. Soma Pon Dungulan yang disebut juga sebagai hari penyajaan (dari kata jaja = jajan) saatnya membuat berbagai penganan untuk perayaan. Anggara Wage Dungulan adalah hari penampahan Galungan, saatnya memotong hewan untuk kegiatan upacara.

Persiapan-persiapan Galungan yang terpapar di atas secara heuristik adalah semacam persiapan pesta menyambut Galungan. Hal ini mengindikasikan bahwa mungkin di zaman dahulu pada masa pemerintahan raja-raja Bali Kuna, Galungan adalah semacam pesta panen raya. Hal ini bila dikaitkan dengan umur padi lokal di Bali pada masa sebelum ditemukannya jenis padi unggul memang berumur sekitar enam bulanan. Perayaan Galungan pada tradisi agraris terkait erat dengan sistem keyakinan pada agama asli Bali yang belum begitu banyak mendapat pengaruh luar. Ciri-ciri agama asli itu adalah meliputi kegiatan sendiri, memiliki ajaran, kaidah, moral, upacara khusus serta pejabat-pejabat tertentu untuk upacara dimaksud. Salah satu agama asli di Indonesia adalah agama Bali Aga.

Dengan semakin intensnya pergaulan dengan agama-agama yang datang dari luar muncullah pemaknaan Galungan yang lebih disesuaikan dengan situasi zaman. Secara hermeneutik perayaan pesta panen ini kemudian dimaknai sebagai saat-saat yang baik untuk melakukan pemujaan kepada Hyang Widhi sesuai dengan makna-makna yang terkandung dalam istilah-istilah yang diberikan pada hari-hari menjelang Galungan. Hari panyekeban dimaknai sebagai saat untuk melakukan pengekangan terhadap nafsu indriya, penyajaan dimaknai sebagai keteguhan dan kesungguhan hati (dari kata saja = sungguh-sungguh).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada tradisi agraris perayaan Galungan kemungkinan adalah perayaan pesta panen semacam ungkapan rasa sukur kepada Hyang Widhi Wasa karena telah memberikan anugrahnya berupa makanan yang berlimpah. Hal ini bisa dilihat mulai dari bentuk penjor yang berisikan berbagai bentuk hasil bumi yang dipersembahkan kepada Hyang Giri Putri di Gunung Agung. Gunung sebagai pusat orientasi pada agama agraris karena gunung dipandang sebagai alam dewa atau roh suci leluhur. Gunung juga sebagai sumber kemakmuran karena hutan yang ada di gunung memberikan sumber air untuk pertanian dan kehidupan manusia. Gunung sebagai sthana Hyang Widhi kemudian dibuatkan replikanya dalam sistem pemujaan sehingga memunculkan bentuk meru, tumpeng dan sebagainya.

Gunung sebagai sumber kemakmuran bagi masyarakat dapat juga dijumpai dalam kisah pemutaran Gunung Mandara oleh para Dewa dan Raksasa. Konon, para Dewa dan Raksasa bersepakat akan mencari Amrtha yaitu air suci yang menyebabkan hidup kekal. Mereka kemudian menggunakan gunung Mandara sebagai alat pemutarnyra. Gunung ini kemudian dibawa ke kolam susu dengan dialasi Bedawang (sejenis kura-kura dengan moncong panjang). Bedawang ini berfungsi sebagai penyangga agar gunung tidak tenggelam ketika diputar. Gunung ini kemudian dibelit dengan naga, sehingga gunung ini dapat diputar ibaratnya gangsing. Pada bagian kepak naga dipegang oleh para raksasa sedangkan pada bagian ekornya dipegang pada dewa. Para dewa dan raksasa secara bergantian menarik ulur naga tersebut sehingga menyebabkan gunung Mandara berputar seperti gangsing di kolam susu. Setelah lama diputar maka susu mulai mengental. Setelah lama diputar maka dari gunung Mandara kemudian keluar Dewi Sri dan Dewi Laksmi, Kuda Uccaisrawa Manik Kastuba, dan Amrtha.

Secara hermeneutik segala sesuatu yang dihasilkan dari pemutaran Gunung Mandara ini sebenarnya memberikan tuntunan kepada manusia bahwa jika mereka bijaksana dalam mengelola alam ini (gunung) maka alam akan memberikan segala yang dibutuhkan manusia seperti sandang dan pangan (Sri dan Laksmi, dan Manik Kastuba), alat transportasi (kuda Uccaisrawa), serta kebahagian rohani berupa Amrtha.

Mitos ini mengindikasikan bahwa pesan-pesan moral disampaikan secara implisit lewat kisah-kisah vang harus dikupas sehingga menemukan makna yang sesungguhnya. Mitos memang hanya sebagai formulasi, namun isinya adalah kuno dan mengacu pada sakramen- yaitu pada tindakan yang mengasumsikan realitas mutlak, realitas yang bersifar ekstrahuman.

Galungan dalam Tradisi Metropolis

Banyak pengamat mengatakan masyarakat Bali sedang bergerak dari masyarakat agraris dengan budaya respresif sedang bergerak atau bahkan telah berada pada kategori masyarakat jasa dengan budaya progresif. Salah satu faktor pendorong secara eksternal adalah kepariwisataan, sementara itu secara internal masyarakat Bali memang menginginkan perubahan dengan segala konsekuensi yang ditimbulkannya.

Disadari ataupun tidak, suka maupun tidak masyarakat sebenarnya telah memasuki zaman yang dikenal sebagai zaman postmodern, yang salah satu cirinya adalah terciptanya skizofrenia. Piliang (2004) menggambarkan skizofrenia sebagai sebuah dunia, yang di dalamnya "hasrat" dan manifestasinya pada produk, tanda, gaya, mengalir dengan kecepatan tinggi dan dengan intensitas semakin tinggi, fluktuasi, berpindah dari satu daan ke keadaan lainnya dalam tempo yang semakin tinggi sehingga menggiring manusia ke dalam kondisi ketiadaan "ego', ketiadaan identitas, ketiadaan teritorial, ketiadaan makna.

Hasrat, kegairahan, dan kesenangan-kesenangan mengalir tanpa, henti menuju arah vang ia sukai, tanpa dapat lagi dikendalikan oleh ego sehingga dunia realitas itu kini dibentuk oleh dorongan-dorongan insting manusia yang tidak terkendalikan lagi oleh ego. Citra dan tanda-tanda mengalir dengan kecepatan tinggi di dalam media (televisi, produk, tontonan), dan didalam kegilaannya, ia sampai pada satu titik dimana ia tidak meninggalkan jejak makna apapun bagi peningkatan kehidupan manusia yang bermakna. Manusia hanyut dalam kegilaan tanda, di dalam kegilaan tren, di dalam kegilaan gaya hidup, di dalam kegilaan prestise, di dalam kegilaan tempo pergantiannya, tanpa sempat menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam tanda-tanda tersebut. Hutan rimba hasrat dan tanda tersebut menciptakan manusia-manusia dengan "diri yang terbelah".

Kondisi ini dalam pandangan postmodefn bukan sebagai kondisi "abnormalitas" namun lebih sebagai "gerakan pembebasan diri" atau "revolusi hasrat" dari berbagai aturan keluarga, masyarakat, negara, bahkan agama. Kondisi seperti ini akan membawa manusia kontemporer ke arah tiga posisi psikis. Pertama, posisi orphans, yaitu posisi yang tidak dibatasi aturan keluarga atau sosial, yang selama ini dipandang telah membelenggu sehingga menjadikannya kurang produktif. Kedua, posisi ateis, yaitu tidak dikendalikan kepercayaan atau keyakinan tertentu yang membatasi arus hasrat. Agama-agama selama ini dianggap hanya membelenggu hasrat-hasrat yang hidup di dalam diri manusia.

Hasrat-hasrat tersebut dianggap sebagai sesuatu yang merusak dan bersifat negatif. Padahal sesungguhnya ia dapat bersifat positif dan produktif. Ketiga, posisi nomads, yaitu tidak pernah berada pada keyakinan, teritorial, ideologi, tanda, atau identitas yang sama pada waktu yang berbeda. Manusia harus dibiarkan berpindah dari satu keyakinan ke keyakinan lainnya, dari satu ideologi ke ideologi lainnya, dari satu identitas ke identitas lainnya, layaknya seorang nomad. (Selanjutnya)

Oleh: I Wayan Budi Utama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 527 Nopember 2010