RITUAL GALUNGAN: Dari Tradisi Agraris Menuju Tradisi Metropolis

Setiap 210 hari sekali umat Hindu di Bali merayakan hari Galungan, tepatnya pada hari Budha Kliwon Dungulan. Salah satu ciri perayaan Galungan adalah dibuatnya penjor pada hari Anggara Wage Dungulan. Dalam lontar Jayakasunu disebutkan sebagai berikut:

Ring Anggara Wage Dungulan patut apisuguh ring Ki Buta Tiga mungwing ajeng, malarapan upacra "byakaon/tadah kala" dst...... Ring sorene patut nanceb penjor, tegep saha rerasmenan: magantung-gantung, ubag-abig, sampian, gantungan, jaja-jaja, abug, dodol, satuh, bakayu, bagina, tape maungkus, palawija, palagantung, pala bungkah, pada sawentena, jinah 11 keteng... Mungwing kasuksman penjor puniki, sapuniki: mungwing tetampen sang magama Hindu-Bali, sapadagingan penjore, praja katur ring Hyang Batara lumingga ring Gunung Agung. Maka suksma: ajatan bhakti, misadia ngaturang sarining tahun (sarining bhumi), dening ragane sampun ngamikolihang upon-upon punika, saking sawah wiadin saking tegaL abian.

Perayaan Galungan mulai dari persiapan sampai dengan berakhirnya sebenarnya berjalan dalam kurun waktu yang cukup lama yaitu mulai dari Tumpek Wariga sampai dengan Budha Kliwon Pahang. Tumpek Wariga atau 25 hari sebelum Galungan ditandai dengan upacara yang bermakna untuk mengingatkan tumbuh-tumbuhan agar berbuah lebat yang akan digunakan untuk perayaan Galungan.

Sementara itu dalam Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu I - XV dijelaskan bahwa filsafat Galungan berpusat pada pergulatan Dharma melawan A-Dharma dengan kemenangan di pihak Dharma. Hal ini rupanya terinspirasi dari adanya perayaan Sradha Wijaya Dasami di India.

Berangkat dari kedua sumber tersebut yang berasal dari kurun waktu yang jauh berbeda-secara semiotik, perayaan Galungan di Bali tampaknya menunjukkan pergerakan dari tradisi agraris menuju tradisi metropolis. Mengapa sampai muncul asumsi seperti itu, bukankah tradisi selama ini masih dipandang sebagai sesuatu yang berlaku secara turun-temurun tanpa harus mengalami perubahan pemaknaan?

Agama, Tradisi, dan Kekuasaan dalam Pemaknaan

Menurut Hidayat dalam tulisannya berjudul Dialektika Agama dan Budaya, agama hendaknya mampu mentransendensikan diri, berada di atas pluralitas budaya dan bangsa, lalu memberikan visi, motivasi, dan pencerahan kemanusiaan dalam bingkai kebangsaan dan kebudavaan. Gerakan keagamaan pada akhirnya adalah gerakan kebudayaan karena manifestasi akhir dan perilaku seseorang tampil dalam ranah budaya. Dan jika sebuah agama tidak mampu mengartikulasikan diri dalam wadah budaya sebagai gerakan emansipatoris, maka agama akan ditinggalkan orang.

Sebaliknya, gerakan kebudayaan yang tidak memiliki dimensi transenden juga tidak akan mampu memperoleh dukungan abadi dan militan. Dalam pada itu, agama apapun pada akhirnya akan diuji oleh sejarah dengan ukuran-ukuran kemanusiaan secara empiris. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa agama sebaiknya melakukan reinterpretasi terhadap dogma-dogmanya sehingga selalu aktual dengan zamannya.

Dari paparannya yang sangat mendalam tentang perkembangan agama-agama di dunia ketiga dalam buku berjudul Agama dan Modernisasi Politik, Suatu Kajian Analitis yang diterbitkan di Indonesia tahun 1985 dari judul asli (Religion and Political oevelopmnet, An analitytic Studi, 1970), Smith sampai pada kesimpulan bahwa modernisasi telah menyebabkan terjadi sekularisasi. Penelitian ini cenderung memvonis bahwa modernisasi dalam masyarakat secara otomatis akan melunturkan dan kemudian melenyapkan tradisi.

Dalam kenyataannya modernisasi seringkah menjadi pelengkap dari tradisi dan sama sekali tidak menghapusnya. Pandangan Smith tersebut di atas kiranya perlu diuji di lapangan terutama menyangkut asumsinya bahwa modernisasi telah menyebabkan terjadinya sekulerisasi dan pudarnya tradisi. Apakah tradisi akan hilang atau akan selalu mengalami reinterpretasi sehingga pada akhirnya akan memunculkan tradisi baru lagi, menjadi pertanyaan menarik untuk dicermati.

Menurut Giddens (2003), tradisi adalah sebuah orientasi ke masa lalu bahwa masa lalu memiliki pengaruh besar, atau, secara lebih akurat, tradisi dibuat memiliki pengaruh yang besar pada masa sekarang. Namun jelas, dalam arti tertentu, tradisi adalah tentang masa depan, karena praktek-praktek yang telah mapan digunakan sebagai cara mengorganisasi waktu masa depan. Masa depan dibentuk tanpa perlu menganggapnya sebagai wilayah yang terpisah dengan masa lalu.

Pengulangan, dalam sebuah hal yang perlu diteliti, merentang untuk membalikkan masa depan ke masa lalu, di samping mengambil masa lalu untuk merekonstruksi masa depan. Tradisi selalu berubah-ubah, tetapi ada sesuatu tentang gagasan tradisi yang memiliki daya tahan jika bersifat tradisional, sebuah kepercayaan atau praktik yang memiliki integritas dan keberlanjutan, yang menentang desakan perubahan. Maka, integritas dan otentisitas sebuah tradisi memiliki arti lebih penting di dalam mendefinisikan sebuah tradisi dibandingkan lamanya sebuah tradisi dapat bertahan.

Lebih lanjut Giddens mengatakan bahwa tradisi terkait dengan memori kolektif; tradisi melibatkan ritual, memiliki penjaga. Memori, seperti halnya tradisi adalah mengorganisasi masa lalu dalam kaitannya dengan masa sekarang. Masa lalu bukan sesuatu yang harus dipertahankan tetapi terus direkonstruksi berdasarkan masa sekarang. Rekonstruksi semacam itu sebagian bersifat individual, meskipun secara fundamental bersifat sosial atau kolektif. Tradisi adalah media pengatur memori kolektif.

Tradisi biasanya melibatkan ritual. Aspek ritual dari tradisi mungkin dianggap sekadar dari karakternya yang otomatis tanpa dipikirkan. Tetapi harus diingat bahwa tradisi pasti bersifat aktif dan interprétatif. Dapat dikatakan bahwa ritual terintegrasi ke dalam kerangka sosial yang akhirnya menyatukan tradisi; ritual adalah sebuah cara praktis memastikan keterpeliharaan tradisi. Ritual menghubungkan keberlanjutan rekonstruksi masa lalu dengan aktivitas praktis. Para penjaga tradisi seperti orang tua, dukun, ahli magi atau pejabat agama, memiliki peran penting dalam tradisi karena mereka dipercaya sebagai agen, atau mediator dasar dari kekuatan kausal tradisi.

Dari paparan tersebut kiranya dapat disepakati bahwa tradisi tidaklah statis tetapi bersifat aktif serta selalu mengalami reinterpretasi sehingga dapat berubah dari waktu ke waktu. Kebenaran dalam sebuah tradisi bisa berarti sebuah kebenaran yang bersifat cair sesuai dengan konteks zaman. Dapat dikatakan bahwa pemaknaan sosial terhadap objek berasal dari makna yang diberikan padanya melalui interaksi. Interaksi atau dunia sosial didefinisikan sebagai suatu tatanan yang dirembugkan secara temporer; jelasnya ia harus dibangun kembali secara terus menerus untuk menafsirkan dunia.

Menurut Foucault "kebenaran" bukanlah sesuatu yang seolah sudah senantiasa ada "di sana" (given) tak tersentuh oleh waktu dan tinggal menemukannya, melainkan terjalin secara intrinsik dalam relasi antara wacana yang digunakan manusia untuk mengungkapkan kebenaran itu, sistem kekuasaan yang berlaku dan kedudukan subjek-subjek yang terlibat. Ketiga hal inipun sekaligus merupakan kenyataan yang menyejarah bersama kebenaran yang direngkuhnya. Dengan kata lain bahwa "kebenaran" suatu wacana tergantung pada apa yang dikatakan, terutama siapa yang mengatakan, kapan dan dimana ia mengatakannya. Ringkasnya kebenaran suatu wacana tergantung pada konteks.

Foucault berusaha menjelaskan bahwa kekuasaan dikendalikan oleh wacana dan bagaimana wacana itu selalu berakar dalam kekuasaan, kekuasaan menghasilkan pengetahuan, kekuasaan dan pengetahuan secara langsung saling mempengaruhi, tidak ada hubungan kekuasaan tanpa ada konstitusi korelatif dari bidang pengetahuannya atau bahwa suatu pengetahuan tidak akan menuntut dan membentuk hubungan kekuasaan pada waktu yang sama. Dengan kata lain Foucault berpandangan bahwa tidak ada pengetahuan abadi yang berlaku di segala jaman. Sementara itu menurut Gidden dalam ilmu, tidak ada satu pun yang pasti. Tidak ada pengetahuan dalam kondisi modernitas yang merupakan pengetahuan dalam pengertian "lama" di mana "mengetahui" berarti yakin. Ini berlaku pada ilmu alam dan ilmu sosial. (Selanjutnya)

Oleh: I Wayan Budi Utama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 526 Oktober 2010