Revitalisasi Nilai Tradisi dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Keragaman agama budaya dan etnis serta berbagai variasinya dalam suatu masyarakat bukanlah fenomena baru. Para ahli ilmu-ilmu sosial telah mengembangkan beberapa skema yang menggambarkan situasi perbedaan dan penjelasan dari terjadinya (dan tidak terjadinya) konflik antar etnis di suatu negara. Terlepas dari berbagai diskursus teori, skema itu menegaskan bagaimana antar etnis dihubungkan dengan perbedaan-perbedaan yang mempengaruhi akses kepada kekuasaan dan sumber daya material antara kelompok yang dominan dengan kelompok minoritas. Lebih jauh lagi, pola-pola hubungan antar etnik tidaklah statis, melainkan berkembang dan berubah. Akibatnya, nation "hidup berdampingan secara damai" sebenarnya rapuh dan penuh masalah.

Indonesia umumnya adalah sebuah masyarakat yang terdiri atas 604 buku bangsa yang secara bersama-sama mewujudkan diri sebagai bangsa atau nasion (nation), yaitu bangsa Indonesia. Dan khususnya Bali ada 4 sub suku bangsa yang dalam arti sejarah menetap cukup lama yaitu Bali Dataran, Bali Age, Nyama Selam, dan Loloan. Perkembangan selanjutnya di Bali juga dihuni oleh berbagai paguyuban suku-suku bangsa yang ada di Indonesia seperti Jawa, Madura, Minang, Makasar, Manado, dan lain-lain.

Sebagai sebuah bangsa, masyarakat Indonesia hidup dalam sebuah satuan politik yaitu sebuah negara kesatuan yang bercorak republik, yang berdasarkan pada prinsip-prinsip demokrasi, yang menempati sebuah wilayah yang berada di bawah kekuasaan negara Indonesia. Dalam masyarakat majemuk, seperti Indonesia, masalah-masalah yang kritikal yang biasanya dihadapi adalah hubungan antara sistem nasional atau pemerintahan negara, dengan masyarakat-masyarakat sukubangsa yang menjadi rakyat negara tersebut; hubungan diantara sukubangsa-sukubangsa yang berbeda kebudayaannya (termasuk keyakinan-keyakinan keagamaannya); dan hubungan diantara sesama warga masyarakat di tempat-tempat umum, terutama di pasar dan berbagai pusat kegiatan pelayanan ekonomi.

Hampir setiap suku bangsa di Indonesia dewasa ini mengalami krisis identitas, seperti krisis norma dan moralitas. Kaburnya nilai baik dan buruk karena tingginya intensitas dinamika dan semakin lebarnya divergensi sikap (cultural lag/gap). Krisis dalam tatanan sosial seperti etika bermasyarakat dan krisis struktur. Dari kedua jenis krisis seperti itu akan berdampak pada krisis hasil karya seperti rendahnya daya saing produk anak bangsa. Adanya kebijakan pemerintah dengan melalui "jalan pintas" untuk menaikkan PAD seperti memberi peluang kepada perusahaan minuman keras yang dampaknya tentu tidak sesuai dengan kepribadian suku bangsa Bali umumnya. Kenapa masyarakat yang agamais banyak melakukan bunuh diri?

Gerakan Revitalisasi Budaya
Dengan adanya berbagai krisis tersebut diatas maka perlu ada "gerakan revitalisasi budaya". Revitalisasi sebagai sebuah konsep diartikan bermacam-macam. Akibatnya revitalisasi juga dapat diartikan perwujudannya dalam berbagai bentuk kegiatan mulai dari kegiatan dokumentasi, pemetaan tradisi, preservasi, pemeliharaan, pemberdayaan atau penguatan kembali tradisi. Akan tetapi apapun pengertiannya, revitalisasi pertama-tama dan utamanya titik tolak pandangan kita pada masyarakat pendukung tradisi bersangkutan. Dari titik tolak di atas revitalisasi juga dimaksudkan sebagai sarana komunikasi interaktif lokal, nasional dan global.

Untuk mendapatkan hasil kegiatan tersebut diatas secara representatif, langkah pertama yang harus dilakukan melalui dialog. Karena bentuk-bentuk tradisi itu sangat luas dan beragam jenisnya. Jenis-jenis tradisi apa yang akan dan atau perlu direvitalisasi? Seberapa besar makna revitalisasi bagi masyarakat pendukungnya dan bagi perkembangan kebudayaan itu sendiri? Apakah dengan kegiatan revitalisasi nilai tradisional akan mampu membentuk watak bangsa yang unggul dan mampu bersaing dengan bangsa lain? Apakah krisis tersebut menyerang langsung nilai-nilai budaya tradisional masyarakat? Sejumlah pertanyaan lain dapat dideretkan sehubungan dengan kegiatan revitalisasi budaya khususnya Budaya Bali yang notabene sekarang ada dipersimpangan jalan. Kalau terbukti dan benar, maka saya menganjurkan refleksi-kultural berupa tindakan revitalisasi nilai-nilai tradisional sebagai salah satu cara untuk mengangkat krisis tatanan sosial budaya itu ke tingkat yang lebih relevan dengan konteks zaman ini.

Krisis Tatanan Sosial Budaya Suatu Dinamika
Pertanyaan awal adalah apakah krisis tatanan sosial budaya itu terjadi di dalam masyarakat kita dewasa ini? Sebagai salah satu upaya untuk mencoba menjawab pertanyaan ini, dalam makalah ini akan difokuskan deskripsi tentang "krisis" ini secara positif, yaitu bahwa krisis adalah hasil dinamika pergeseran paradigma dari sesuatu yang terus-menerus berkembang dan bahkan berlangsung dari masa ke masa. Oleh karena itu dalam makalah ini tidak membahas aspek negatif dari krisis (mungkin dibahas oleh pemakalah lain). Sedangkan tatanan berarti aturan, tata tertib, atau sistem.

Dalam kaitan dengan kajian sosial budaya, krisis tatanan sosial budaya adalah hasil dinamika pergeseran paradigma sistem sosial budaya (rangkaian aktivitas dan tindakan berpola dari manusia di dalam masyarakat) yang terus-menerus berkembang dan bahkan berlangsung sangat cepat dari masa ke masa. Nah, kalau krisis adalah hasil dinamika pergeseran paradigma sistem sosial budaya, maka kita sebenarnya sedang berbicara tentang sesuatu yang senantiasa berubah dalam kebudayaan (dinamika kebudayaan). Itu berarti bahwa kebudayaan itu sesuatu yang dinamis (selalu berubah) bahkan sangat cepat, dan oleh karena itu tidak ada kebudayaan yang statis. Krisis perubahan kebudayaan itu bisa nampak dalam bentuk disorientasi kebudayaan (kita seperti kehilangan arah) atau bisa juga dalam bentuk disintegrasi kebudayaan (hancurnya tatanan-nilai lama dimana kita pernah merasa aman dan tenteram).

Dengan kata lain, aspek dinamis dari kebudayaan merupakan suatu proses yang karakteristik. Mengapa? Sebagai mahluk biopsikologis, di dalam setiap kebudayaan, setiap individu selalu memiliki kebabasan tertentu untuk memperkenalkan variasi dalam cara-cara bertingkah laku dan dalam pola bertindak yang pada akhirnya menjadi milik bersama. Tingkahlaku dan tindakan manusia ini selalu bisa berubah dari waktu ke waktu karena manusia berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan fisik geografis, tuntutan kebutuhan-kebutuhan biologis, tuntutan lingkungan sosial, dan juga tekanan-tekanan sosial. Maka tanpa masuknya pengaruh unsur budaya asing sekalipun, suatu kebudayaan lokal dalam masyarakat tertentu pasti akan berubah sejalan dengan mengalirnya waktu, apalagi dalam era globalisasi dan modernisasi teknologi dewasa ini.

Maka boleh dikatakan bahwa krisis yang terjadi karena perubahan paradigmatik dalam sistem sosial budaya merupakan suatu keniscayaan transisi historis atau suatu keharusan sejarah yang niscaya terjadi. Artinya "sebagai mahluk yang kodratnya adalah bebas, manusia harus mengembangkan dirinya menuju kesempurnaan hakikat dirinya. Apa yang ada pada manusia sebagai kemungkinan (potensi) harus berkembang menjadi kenyataan, sebab manusia tidak hanya ditentukan oleh karakternya tetapi juga oleh prinsip-prinsip hakikinya yaitu kemampuan untuk berubah dan hasrat untuk meraih kesempurnaan. Oleh sebab itu krisis perubahan itu bukan malapetaka tetapi belaskasih yang mengingatkan kita akan hakikat diri kita dan hakikat kebudayaan kita. Jadi perubahan dan pembaha-ruan adalah suatu keharusan sejarah, dan oleh karena itu siapa pun tidak bisa melawan keharusan sejarah ini. Dan berbagai bentuk krisis selalu terjadi atau timbul pada masa-masa transisi.

Salah satu fenomena krisis tatanan sosial budaya yang paling menonjol pada masyarakat dewasa ini adalah perubahan ini mengacaukan orientasi normatif pada berbagai kelas sosial yang berbeda dan membawa serta masalah hubungan antara masa lalu dan masa kini, antara masa tradisionalitas dan modernitas, dan antara homogenitas dan pluralitas. Toynbee (1972) melihat perubahan hirarki nilai dalam sejarah kebudayaan ini sebagai suatu kondisi disequilibrium yang menuntut penyesuaian-penyesuaian kreatif baru, karena yang sedang terjadi adalah proses interaksi antara tantangan dan tanggapan. Artinya tantangan-tantangan dari lingkungan alam dan lingkungan sosial selalu memancing tanggapan kreatif dari suatu masyarakat atau kelompok sosial tertentu.

Sering sekali terjadi ketidakseimbangan antara tantangan dengan tanggapan kreatif, sehingga kondisi ketidakseimbangan atau disequilibrium ini menjadi semacam time of trouble, yaitu suatu periode peradaban manusia dimana lembaga-lembaga sosial budaya beserta potensi-potensi aktivitasnya yang dulu merupakan pusat-pusat kreatif dari kebudayaan, kini tidak bisa berfungsi lagi. Itu berarti bahwa lembaga-lembaga dan pranata-pranata sosial yang dulu menjadi tumpuan dalam penyelesaian problem-problem masyarakat, dalam era time of trouble justru tidak berfungsi dan bahkan dapat menyebabkan lahirnya problem-problem baru sehingga lembaga-lembaga dan pranata-pranata ini bukannya menjamin tetapi malah mengancam integritas dan eksistensi budaya. Beberapa contoh dapat disebutkan di bawah ini:

- Lemahnya fungsi lembaga-lembaga adat dan pranata-pranata adat ketika menghadapi tantangan kehadiran lembaga-lembaga dan pranata-pranata baru bentukan negara seperti LKMD, BPD, dan lain sebagainya.
- Tata ekonomi agraris dan lembaga-lembaga agraris yang dulu relatif adil dan merata selalu kalah berha¬dapan dengan tata ekonomi global yang eksploitatif dan didukung oleh watak ekonomi koneksi antara mo¬dal pasar dengan korporatisme elit politik.
- Pranata-pranata demokrasi prose-dural yang baru selalu tidak berkutik berhadapan dengan pranata-pranata otoriter yang lama (status quo).
- Tata nilai kekeluargaan dan kebersa-maan pada masyarakat tradisional menjadi rapuh kekuatannya ber-hadapan dengan kehadiran tata nilai ekonomi yang mementingkan untung rugi di dalam masyarakat ini.

Krisis tatanan sosial budaya dalam dinamika perubahan kultur juga disebabkan oleh masalah kontak kebudayaan atau yang disebut oleh pakar Antropologi sebagai the problem of acculturation or culture contact. Akulturasi adalah perubahan kebudayaan yang terjadi apabila kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda itu bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan terus-menerus, sehingga kemudian menimbulkan perubahan pada pola kebudayaan yang asli dari salah satu kelompok atau pada kedua kelompok tanpa menghilangkan kepribadian kelompok atau kebudayaan tersebut. Proses akulturasi atau kontak kebu-dayaan ini menjadi sangat rumit dan menimbulkan masalah, ketika unsur-unsur kebudayaan yang saling berkontak itu sangat ditentukan oleh kedua kekuatan sikap dari masyarakat yakni: sikap yang menerima dan sikap yang menolak perubahan.

Jadi proses akulturasi pasti akan selalu dihadapkan dengan dua (2) kelompok kekuatan sikap masyarakat ini, sehingga permasalahan akulturasi itu selalu diwarnai hal-hal sebagai berikut:

a. Ada unsur-unsur kebudayaan pendatang yang mudah diterima tetapi ada pula unsur-unsur kebudayaan pendatang yang ditolak oleh masyarakat penerima.
b. Ada unsur-unsur kebudayaan masyarakat penerima (resipien) yang mudah berubah, tetapi ada pula unsur-unsur kebudayaan yang sulit sekali berubah.
c. Ada individu-individu masyarakat resipien yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan pendatang, tetapi ada pula individu-individu yang sukar sekali atau lamban menerima.
d. Ada lapisan-lapisan masyarakat resipien yang sukar menerima unsur-unsur kebudayaan pendatang, tetapi pula ada lapisan-lapisan masyarakat resipien yang sukar menerima/menolak; generasi tua dengan generasi muda, kaum terpelajar dan kaum tidak berpendidikan, golongan bangsawan dengan rakyat jelata, kaum perempuan dengan kaum laki-laki.
e. Ada pelbagai macam saluran yang dilewati oleh proses akulturasi dan yang paling sering tumpang tindih, seperti lewat perdagangan, lewat pendidikan, lewat politik penjajahan, lewat penyebaran agama, dan lain-lain.

Kompleksitas proses akulturasi atau kontak kebudayaan ini telah terbukti menimbulkan ketegangan-ketegangan dan krisis-krisis sosial budaya di antara anggota-anggota masyarakat atau antara kelompok masyarakat.

Revitalisasi Nilai-Nilai Tradisional
Migrasi budaya (perpindahan budaya) dan pergeseran paradigma kebudayaan (cultural paradigm-shift) tentunya mengandung pelbagai bentuk krisis perubahan yang mungkin juga saling tumpang tindih. Apalagi pengalaman manusia akan dunia (the life world) di masa lampau mengandung sarat-sarat kecukupannya sendiri jika diucapkan dalam bahasa yang sesuai untuk pengalaman itu, sehingga tidak mudah untuk memindahkannya ke dalam konteks lain dan dalam bahasa yang lain. Akan tetapi dinamika pengalaman manusia itu sendiri menunjukkan bahwa, dalam setiap migrasi budaya dan pergeseran paradigma kultur, tradisi pasti diciptakan kembali (reinvensi tradisi) sebagai salah satu bentuk perwujudan dari revitalisasi (penguatan kembali) tradisi lokal. Unsur-unsurnya yang kurang relevan bisa ditinggalkan tetapi unsur-unsurnya yang dirasa cocok bisa diserap ke dalam tindakan reinvensi tradisi. Di dalam konteks ini, bakat-bakat kreatif dan inovatif dari manusia dan masya¬rakat pasti terlibat dalam penyusunan kembali pengalaman masa lalu untuk kebutuhan masa kini yang sudah berbeda.

Tindakan Pelestarian Budaya
Tindakan ini lebih mengacu kepada wujud kebudayaan baik sebagai kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan adat istiadat, maupun sebagai suatu kompleks aktivitas dan tindakan berpola dari manusia di dalam masyarakat serta benda-benda hasil karya manusia. Wujud kebudayaan ini umumnya dilestarikan karena merupakan kekayaan khasanah khasanah budaya yang masih memiliki fungsi dan makna dalam proses pembudayaan yang berkelanjutan. Atau sebagaimana yang disinyalir oleh Siegel (1996) bahwa wujud kebudayaan tersebut masih berperan sebagai pusat-pusat keunggulan (center of excellence) yang secara simbolis dapat menjadi semacam exemplary authenticity (contoh keaslian) yang dapat mengikat perkembangan-perkembangan selanjutnya ke dalam suatu kontinuitad dan permanensi yang tidak pernah putus-putus bagi anggota-anggota masyarakatnya sendiri.

Source: Drs. I Made Purna, M.Si l Warta Hindu Dharma NO. 481 Februari 2007