Revitalisasi Makna Tumpek Landep Dalam Kehidupan Masyarakat Modern [3]

(Sebelumnya)

Berkenaan dengan pelaksanaan upacara Tumpek Landep menurut isi lontar Sundarigama di atas maka upacara ini difokuskan pada pemujaan Bhatara Siwa dalam manifestasi-Nya sebagai Sanghyang Pasupati. Adapun tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut. (a) Di Sanggar Pamujan atau Sanggah/ Merajan dihaturkan tumpeng putih selengkapnya, lauknya ikannya ayam, grih trasibang (ikan asin dan terasi merah), sedah, dan woh (buah-buahan). Banten ini dipersembahkan kepada Bhatara Siwa. Dengan pangastawa-nya sebagai berikut.

Om Namah Siwaya sarwaya
Dewa-dewa ya wai namah
Rudraya bhuwanesaya
Siwa rupaya wai namah

(b) Pada sarana yang akan diupacarai (senjata, alat-alat dari besi, mobil, motor, dan sebagainya) dihaturkan sesayut jayeng prang, sesayut kusuma yudha, suci, daksina, peras, dan canang wangi-ivangi. Babantenan ini di-ayab-kan kepada semua sarana tadi dengan puja astawa dipersembahkan kepada Sanghyang Pasupati. Adapun pangastawa-nya sebagai berikut.

Om Namaste Bhagawan Wisno
Namaste Bhagawan Hare
Namaste Bhagawan Krsna
Jagat raksa namostute

Dalam praktik keberagamaan Hindu nusantara yang tidak saja berasal dari etnis Bali maka tata cara pelaksanaan Tumpek Landep dapat disesuaikan dengan kebudayaan daerah masing-masing. Tradisi Jawa (kejawen) misalnya, juga mengenal ritual membersihkan senjata pusaka seperti keris, tumbak, dan pedang pada tanggal 1 Suro. Di keraton Yogyakarta (Ngayogyakarta Hadiningrat) upacara ini dilaksanakan secara besar-besaran dengan gelaran acara "Kirab Pusaka Kraton". Ini menunjukkan bahwa tradisi yang sejenis dengan Tumpek Landep sangat mungkin ditemukan dalam berbagai tradisi lokal. Oleh karena itu, akan lebih baik jika tradisi lokal tersebut tetap dilanjutkan serta memadukannya dengan sentuhan khas Hinduisme sehingga tradisi ini melekat dalam sanubari umat Hindu di seluruh Indonesia.

Fungsi dan Makna Tumpek Landep

Bagi manusia religius keberadaan ritual memang begitu penting dalam kehidupannya. Melalui upacara manusia religius membangun semangat baru dalam kehidupannya, juga menggantungkan sebagian angan dan cita-citanya menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam mewujudkan angan dan cita-cita kehidupan tersebut banyak jalan yang ditempuh manusia, sebagian rasional dan sebagian lainnya adalah jalan mistis. Pendekatan rasional saja ternyata tidak selamanya mampu membawa manusia pada realitas yang seiring sejalan dengan harapan sehingga manusia juga memerlukan jalan mistis, salah satunya melalui ritual keagamaan (sacrificial).

Ritual diharapkan menjadi kekuatan yang mampu menghubungkan manusia dengan Yang Gaib. Kehadiran spirit Yang Gaib (para Dewa, Bhatara) diharapkan menjadi kekuatan yang mampu menuntun dan mengarahkan manusia pada jalan yang benar menuju pencapaian tujuan hidupnya. Selain itu juga kehadiran para Dewa diharapkan menjadi pemberi anugerah keberhasilan atas usaha rasional yang telah dilakukan. Manungsa mung saderma nglampahi, Gusti ingkang mungkasi (manusia yang sebatas menjalani, Tuhanlah yang menentukan hasilnya), demikianlah manusia Jawa memaknai pentingnya kehadiran Yang Gaib dalam kehidupannya sehingga aktivitas ritual penting dilaksanakan.

Dalam konteks Hindu, upacara keagamaan dilakukan sebagai wujud karma dan bhakti marga yang menghubungkan manusia dengan Tuhan Sang Pencipta/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ajaran karma dan bhakti marga inilah yang menjadi spirit umat hmdu untuk menghaturkan persembahan terbaik dari apapun yang mereka miliki tanpa motivasi terhadap hasil yang berlebihan. Melalui jalan bhakti umat Hindu mengharapkan agar setiap gerak aktivitasnya mendapatkan kasih dari Hyang Widhi (manusa bhakti dewa asih). Dengan demikian segala karma yang dikerjakan akan mendapatkan pahala (phala) menurut hukumnya sehingga kebahagiaan dunia (jagadhita) dan kebebasan absolut (moksa) sebagai tujuan tertinggi diharapkan akan terwujud.

Konsep bhakti dan karma marga ini seperti dijelaskan dalam Bhagavadgita Adhyaya III, sloka 10, 11, dan 12, sebagai berikut:

Saha-yajnah prajah srstva,
puro'vaca prajapatih,
Anena prasavi yadhvam,
eso vo'stv ista kamadhuk

Artinya:
Pada awal penciptaan,
Prajapati (Penguasa Semua Makhluk)
menciptakan manusia dan para dewa
sambil menyampaikan sabda "Berbahagialah engkau
dengan kurban suci (yajna) ini karena ia (yajna)
akan menjadi kamadhuk yang menganugerahkan
kepadamu kebahagiaan dan tercapainya pembebasan".

Devan bhavayata'nena,
te deva bhavayantu vah,
Parasparam bhavayantah,
Ureyah param avapsyatha

Artinya:
Dengan ini kamu memelihara para
Dewa dan dengan ini pula para Dewa
memelihara dirimu. Dengan saling
memelihara satu sama lain,
kamu akan mencapai kebahagiaan yang maha-tinggi.

Istan bhogan hi vo deva,
dasyante yajna bhavitah, tair dattan apradayaibhyo,
yo bhunkte stena eva sah.

Artinya :
Dipelihara oleh yajna, para dewa akan memberi
kamu kesenangan yang kamu ingini.
Akan tetapi, ia yang hanya menikmati
pemberian-pemberian ini tanpa menghaturkan
persembahan kepada-Nya, sesungguhnya ia adalah pencuri.

Pelaksanaan Tumpek Landep merupakan wujud yadnya umat Hindu kepada Siwa dalam manifestasi-Nya sebagai Sanghyang Pasupati. Upacara ini menjadi media persembahan, ucapan terima kasih, sekaligus permohonan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Persembahan kepada Bhatara Siwa yang telah menganugerahkan pikiran (idep) kepada manusia sehingga mampu menggunakan cipta, rasa, dan karsanya untuk mencipta berbagai alat-alat teknologi yang berguna bagi kehidupannya.

Ucapan terima kasih karena alat-alat kehidupan yang diciptakan telah memberikan berbagai kemudahan bagi manusia untuk menyelesaikan persoalan hidupnya, mendapat penghidupan yang layak, dan sebagainya. Ini menegaskan bahwa umat Hindu bukanlah "pencuri" yang hanya begitu saja menikmati anugerah Tuhan yang diberikan kepadanya. Kemudian, upacara ini juga berfungsi untuk memohon anugerah Pasupati, yakni spirit yang akan menuntun manusia untuk menggunakan setiap instrumen kehidupannya dengan benar sehingga instrumen itu berfungsi dan bermanfaat bagi kehidupannya, bukan sebaliknya menjadi peng¬hancur kehidupan umat manusia.

Di samping fungsinya sebagai wujud pengungkapan bhakti, momentum pelaksanaan Tumpek Landep sesungguhnya adalah penyadaran kepada manusia mengenai instrumen terpenting dalam kehidupannya, yaitu idep (daya pikir). Hindu meyakini bahwa keutamaan manusia dibandingkan makhluk lainnya adalah pada idep-nya. Dikatakan bahwa tumbuh-tumbuhan hanya memiliki kekuatan hidup (bayu), binatang memiliki bayu dan kemampuan berkomunikasi menurut cara binatang (bayu dan sabda), sedangkan manusia di samping memiliki bayu dan sabda, juga memiliki kemampuan berpikir (idep).

Kemampuan berpikir (idep) inilah yang menjadikannya makhluk termulia dibandingkan tumbuhan dan hewan. Upadesa juga menjelaskan bahwa manusia yang berasal dari kata "manu" berarti makhluk berpikir. Jadi, memahami pikiran manusia adalah memahami hakikat manusia itu sendiri, yakni kemanusiannya.

Menurut Poedjawijatna (1986:54) dasar kemanusiaan adalah akal-budi dan kehendak (yang bebas) manusia. Akal-budi adalah daya tahu manusia dan kehendak adalah daya pilih manusia. Jadi, dapat dikatakan bahwa yang memanusiakan manusia ialah daya tahu (budi) dan daya pilih (kehendak). Karena kedua unsur ini disebut pribadi maka manusia mempunyai kepribadian. Untuk melakukan pilihan, manusia harus tahu akan yang dipilih itu. Artinya, agar dapat memilih yang baik, budi haruslah memiliki pengetahuan yang benar tentang baik dan buruk. Itulah sebabnya, manusia susila (yang bertindak menurut kemanusiaannya) ialah orang yang selalu memilih tindakan yang menurut keyakinannya (penerangan budinya) adalah baik. Ini merupakan esensi kemanusiaan yang tidak pernah berubah dalam perkembangannya. (Bersambung)

Oleh: Nanang Sutrisno
Source: Warta Hindu Dharma NO. 529 Januari 2011