Revitalisasi Makna Tumpek Landep Dalam Kehidupan Masyarakat Modern [2]

(Sebelumnya)

Hari baik untuk melakukan persembahan dan pemujaan, maka tujuan bhakti tersebut sangatlah jelas, yaitu untuk mendapatkan kasih dari Hyang Widhi (manusa bhakti dewa asih). Dalam konteks spiritual, Tumpek merupakan hari yang istimewa untuk melakukan perenungan dan permenungan mengenai hakikat diri sejati sehingga Sang Atman menyadari kesejatiannya (matutur ikang atma ri jatinia). Tumpek adalah hari yang utama untuk melakukan pemujaan kepada Bhatara Siwa sebagai asal mula dan tujuan segala yang ada, sangkan paraning dumadi.

Menyimak uraian di atas jelas bahwa Tumpek memiliki kedudukan, fungsi, dan makna yang penting bagi kehidupan manusia dan semesta alam. Dalam struktur kesusasteraan Veda, Tumpek adalah tradisi religius (acara) yang memiliki kedudukan penting sebagai salah satu sumber pelaksanaan ajaran Agama Hindu. Menjadi kewajiban bagi seluruh penganut Siwa-Buddha untuk melaksanakan Hari suci Tumpek. Lain daripada itu bahwa dengan menyadari hakikat Tumpek akan menuntun manusia pada kesadaran diri untuk melaksanakan Kerti, Yasa, dan Karma, yakni karya nyata menciptakan kebahagiaan masyarakat melalui pengabdian, pelayanan, dan tindakan.

Tumpek Landep adalah hari suci Hindu yang didasarkan pada pertemuan wawaran dan pawukon dalam sistem kalender Jawa-Bali, yakni Saniscara Kliwon (Sabtu Kliwon) wuku Landep. Kata landep berarti tajam atau merupakan wuku ke-2 dalam sistem pawukon. Bagi umat Hindu, hari ini diyakini menjadi otoñan atau selamatan bagi semua senjata tajam, alat perang, peralatan dari besi, dan sebagainya (Tim, 2002: 123). Dasar pelaksanaan upacara ini adalah Lontar Sundarigama, yang berbunyi sebagai berikut:

"Kunang ring wara Landep, Saniscara Kliwon, puja wali Bhatara Siwa, mwah yoganira Sanghyang Paceupati, puja wali Bhatara Siwa tumpeng putih kuning adan-adanan, iwak sata sarupania, grih trasibang, sedah wah, haturakna ring sanggar. Yoga Sanghyang Sri Pasupati, sesastra jayeng prang, sesayut kusuma yudha, suci, daksina, peras, canang wangi-wangi, astawakna ring sarwa sanjata, lendepaning prang.
Kalingania ring wwang, denia paceupati, landeping idep, samangkana talaksanakna kang japamantra wisesa Paceupati"

Artinya:

Pada hari Wuku Landep, Saniscara Kliwon (Sabtu Kliwon) adalah hari pemujaan Bhatara Siwa dan hari yoganya Sanghyang Paceupati. Adapun sarana untuk pemujaan Bhatara Siwa adalah tumpeng putih selengkapnya, lauknya ayam sebulu-bulu, grih trasibang (ikan asin dan terasi merah), sedali woh, dihaturkan di Sanggar Pamujan (tempat pemujaan). Sementara itu, untuk pemujaan Sanghyang Paoeupati dihaturkan, sesayut jayeng prang, sesayut kusuma yudha, suci, daksina, peras, canang wangi-zvangi. Babantenan ini ditujukan (di-ayab-kan) kepada semua jenis senjata sehingga bertuah dalam perang. Adapun hakikatnya dalam diri manusia, ialah tajamnya pikiran (idep), untuk itu laksanakanlah japa mantra untuk mendapatkan anugerah Pasupati.

Dari uraian lontar tersebut dapat dipahami bahwa ista dewata yang dipuja dalam pelaksanaan Tumpek Landep adalah Bhatara Siwa dalam manifestasi-Nya sebagai Sanghyang Pasupati. Paoeupati dalam teologi Hindu adalah manifestasi Siwa sebagai Raja binatang (Paceu = binatang; pati = raja). Akan tetapi dalam praktik keagamaan Hindu di Indonesia, Paceupati juga berarti upacara pemberkatan, upacara untuk memberikan tuah pada benda-benda pusaka untuk mendapatkan kekuatan magis (Tim, 2002:81). Dengan demikian upacara Tumpek Landep tepat dimaknai sebagai pemujaan kepada Sanghyang Paceupati untuk mendapatkan anugerah berupa tuah (kekuatan/sakti) bagi senjata tajam atau alat-alat perang dan peralatan kehidupan manusia khususnya yang terbuat dari logam. Ini sekaligus menegaskan bahwa upacara Tumpek Landep bukanlah pemujaan kepada besi sebagaimana pemahaman masyarakat yang keliru selama ini.

Pada kenyataannya pelaksanaan upacara Tumpek Landep telah mengalami perubahan dalam pelaksanaannya sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia. Kata "landep" yang berarti tajam menunjuk pada alat-alat kehidupan yang telah digunakan manusia sejak dahulu kala. Pada zaman berburu sudah dikenal beberapa senjata tajam yang terbuat dari batu atau logam untuk tujuan perburuan. Kemudian, pada masa bercocok tanam juga muncul peralatan-peralatan untuk bertani seperti, cangkul, sabit, dan sebagainya.

Upacara ini semakin mendapatkan signifikansinya pada zaman kerajaan sehingga senjata tajam dan peralatan perang (landeping prang) menjadi objek utama dalam pelaksanaan Tumpek Landep. Akan tetapi, sekarang ini momentum Tumpek Landep digunakan umat Hindu untuk mengupacarai peralatan besi hasil teknologi modern seperti, mobil, sepeda motor, dan komputer. Ini menandakan telah terjadinya pergeseran dalam pelaksanaan Tumpek Landep dalam masyarakat Hindu. Namun pergeseran itu terjadi pada tataran fisik, bukan pada substansi maknanya. Pertanda ini sekaligus membuka peluang untuk melakukan reinterpretasi dan revitalisasi makna Tumpek Landep sehingga keberadaannya dapat didialogkan dengan konteks kekinian.

Upaya menyelami kedalaman makna Tumpek Landep dilakukan dengan menyimak kutipan lontar Sundarigama bahwa hakikat Tumpek Landep adalah mengasah ketajaman pikiran (landeping idep). Landeping idep dipandang menjadi spirit Tumpek Landep yang hendak dibangun sang kawi melalui lontar tersebut. Memahami spirit yang ingin dibangun sang kawi dan memadukannya dengan konteks kekinian merupakan langkah hermeneutis yang ditempuh untuk memaknai Tumpek Landep. Selain itu, dengan menggunakan Sundarigatna sebagai landasan berpijak untuk menyelami makna Tumpek Landep maka pemaknaannya tidak kehilangan sentuhan otentik. Di sini lontar Sundarigatna diposisikan pada otensitasnya sebagai susastra Hindu yang mengejewantahkan spirit ajaran suci Weda terutama mengenai acara agama.

Berkenaan dengan upacara Tumpek Landep Seperti dijelaskan dalam Manawa Dharmasastra (II, 6) bahwa acara agama merupakan salah satu sumber ajaran agama Hindu.

Idhdnim dharma pramdnamydha
Wedo 'khilo dharma mulam smrti sile ca tadviddm
Acara'scaiva sadhunam atmanastustir eva ca

Artinya:

Seluruh pustaka suci Veda merupakan sumber pertama dari Dharma, kemudian adat istiadat, lalu tingkah laku yang terpuji dari orang-orang bijak yang mendalami ajaran suci Veda; juga tata cara kehidupan orang suci dan akhirnya kepuasan pribadi.

Uraian sloka dalam Manawa dharmasastra di atas menegaskan bahwa upacara Tumpek Landep memiliki dasar sastra yang jelas. Selanjutnya, sastra inilah yang menjadi sumber kebenaran dari pelaksanaan Tumpek Landep sehingga melegitimasinya menjadi sistem ritual Hindu yang otentik dan utuh. Sistem ritual yang utuh setidak-tidaknya terbangun oleh (a) adanya sistem keyakinan yang mendasari pelaksanaan upacara; (b) tata cara pelaksanaan upacara (dudonan atau eed); (c) sarana ritual (upakara); dan (d) pelaku upacara. Dengan memahami setiap komponen dari sistem ritual tersebut maka dapat digali keseluruhan makna dari ritual Tumpek Landep.

Tata Cara Pelaksanaan Tumpek Landep

Dalam hubungannya dengan pelaksanaan ajaran Agama Hindu, kata acara sering diberi awalan upa, yang bermakna sekitar sehingga kata upacara bermakna sekitar tata cara pelaksanaan Agama Hindu. Dengan demikian acara agama Hindu menyangkut persoalan sekitar tempat upacara (lokasi), saat upacara (durasi), suasana upacara (situasi), rangkaian upacara (prosesi), ucapan upacara (resitasi), alat upacara (sakramen), dan bunyi-bunyian upacara (instrumen). Akan tetapi dalam pelaksanaannya upacara agama Hindu terkadang menunjukkan adanya perbedaan di berbagai daerah sesuai dengan sirna atau drsta-nya masing-masing.

Acara dalam maknanya sebagai kebiasaan memang memiliki arti yang kurang lebih sama dengan kata "drsta"." Drsta berasal dari urat kata Sansekerta "drs" yang berarti memandang atau melihat. Kemudian, kata "drsta " memiliki makna konotatif yang sama dengan tradisi (Sudharma, 2000). Acara atau drsta dibagi menjadi 5 (lima), yaitu : (1) sastra drsta berarti tradisi yang bersumber pada pustaka suci atau sastra agama Hindu; (2) desa drsta berarti tradisi agama yang berlaku dalam suaru wilayah tertentu; (3) loka drsta adalah tradisi agama yang berlaku secara umum dalam suatu wilayah; (4) kuna/purwa drsta berarti tradisi agama yang bersifat turun temurun dan diikuti secara terus menerus sejak lama; dan (5) kula drsta adalah tradisi agama yang berlaku dalam keluarga tertentu saja (Sudharma, 2000).

Perbedaan pelaksanaan acara agama karena perbedaan drsta ini hendaknya tidak menjadi masalah, tetapi sebaliknya menjadi kekuatan Hindu untuk menumbuh-kembangkan lokal jenius di setiap daerah sehingga Hindu dapat tampil dengan karakter lokal yang unik dan khas. (Selanjutnya)

Oleh: Nanang Sutrisno
Source: Warta Hindu Dharma NO. 526 Nopember 2010