Revitalisasi Makna Tumpek Landep Dalam Kehidupan Masyarakat Modern

Di Bali, budaya dan agama Hindu menjadi dua fenomena dalam satu realitas. Transformasi kebudayaan menuju tradisi religius terjadi begitu apik dalam ruang Hinduisme yang menebarkan aroma harmoni budaya dan agama. Fenomena budaya muncul sebagai ekspresi kebenaran (satyam), kesucian (sivam), dan kebahagiaan (sundaram) menuju realitas absolut (Brahman). Berbasis persembahan suci (yajna), masyarakat Hindu di Bali menyelaraskan gerak kehidupan adat dan budayanya menjadi kesatuan rasa (keindahan), agama (tradisi suci), dan buddhi tepet (kebijaksanaan).

Ekspresi religius dalam aktivitas berkebudayaan inilah menjadikan agama Hindu Bali begitu unik dan khas. Bukan merujuk kepada Veda, tetapi mengalir dari Veda. Bukanlah agama yang hanya tekstual, tetapi agama yang dihayati dan dilaksanakan dalam konteks sehingga nilai-nilai agama menginternal menjadi ribadian dan jati diri pemeluknya.

Perpaduan tradisi lokal dan Hinduisme memang menjadi karakter khas Hindu Indonesia umumnya dan Bali khususnya. Melalui proses dialektis yang panjang dan berliku maka agama Hindu di berbagai daerah menunjukkan keunikan dan kekhasannya sendiri, tetapi esensinya tunggal. Pandangan dialektis berpendapat bahwa kebudayaan lokal telah memiliki kemampuan dan posisi yang sama kuat ketika berhadapan dengan kebudayaan vang datang dari luar sehingga proses lahirnya kebudayaan baru terjadi dalam proses dialogis yang panjang (Utama, 2003). Pertemuan antara bentuk-bentuk kepercayaan asli Indonesia dengan Agama Hindu yang datang dari India telah menghasilkan agama Hindu Indonesia.

Proses interaksi ini terjadi secara alkulturatif, di mana unsur-unsur asing diolah ke dalam kebudayaan lokal tanpa kehilangan kepribadian dasar kebudayaan lokal. Hal ini sejalan dengan pernyataan Magetsari (1986) bahwa masuknya unsur India sebaiknya dianggap sebagai zat penyubur yang menumbuhkan Hindu Indonesia dalam kekhasannya. Kearifan lokal ini terutama nampak dalam aktivitas ritual sehingga sulit merujuk langsung keberadaannya dalam tradisi Veda. Mengingat ritual merupakan sistem simbolis yang mengandung makna berlapis sehingga untuk menemukan inti ajarannya diperlukan pengupasan yang berlapis-lapis pula. Oleh karena itu, terburu-buru menolak tradisi ritual yang tidak tersurat dalam Veda tentu bukanlah tindakan yang bijaksana. Sekali lagi, Veda adalah mata air yang menjadi sumber aliran sungai kebijaksanaan yang tak terhitung jumlahnya.

Pada setiap aliran sungai ini Veda memberikan warna sesuai dengan kondisi lingkungan alam, sosial, dan budaya masyarakatnya. Dengan cara demikian Veda dapat hidup dimanapun, memberikan warna kehidupan masyarakatnya, menumbuh-suburkan kebudayaan, dan akhirnya mengantarkan manusia pada kesejahteraan dunia (jagadhita) dan kebahagiaan tertinggi (moksa). Sekali lagi, baik yang merujuk kepada Veda maupun yang mengalir dari Veda sesungguhnya semua bersumber dan bermuara kepada Veda.

Bali mewarisi ritual keagamaan yang beberapa di antaranya kental nuansa lokal. Adalah upacara tumpek yang hadir setiap Saniscara Kliwon. Upacara tumpek hadir dari pertemuan antara Panca wara, Sapta wara, dan Pawukon dalam sistem kalender Hindu (Jawa-Bali). Sebagaimana diketahui bahwa dalam sistem kalender Hindu Nusantara dikenal beberapa istilah, seperti penanggal, panglong, wewaran (dari eka wara hingga dasa wara), pawukon (berjumlah 30), dan sasih (jumlah 12).

Berbeda dengan sistem kalender India yang hanya menggunakan sistem surya-candra (lunar-solar system). Singkatnya, sistem wewaran dan pawukon merupakan penanggalan khas Indonesia (Jawa-Bali) sehingga upacara-upacara yang berlangsung dalam sistem ini juga, mencerminkan tradisi lokal.

Menjadi persoalan adalah bagaimana tradisi lokal ini dapat dikatakan sebagai upacara Hindu? Adakah rujukan sastra yang otentik sehingga upacara tersebut tidak bertentangan dengan Veda? Ini menjadi pertanyaan yang lumrah terjadi dalam diri umat Hindu karena rujukan otentik dan literer memang dibutuhkan bagi pelaksanaan tradisi religius. Oleh karena itu, penting mendapatkan jawabannya sehingga ritual keagamaan tidak sekadar menjadi tradisi yang terberi (given), tetapi menjadi nilai yang bermanfaat kehidupan. Demikian juga penting memahami nilai kearifan lokal dalam suatu ritual keagamaan sehingga dapat diterapkan dalam konteks kekinian.

Transformasi Ajaran Veda dalam Tumpek Landep

Tumpek adalah bagian dari Acara agama Hindu. Acara secara umum mencakup bidang yang sangat luas terutama berkaitan dengan tradisi ritual. Acara agama Hindu mencakup hal sebagai berikut: (1) ajaran tentang yadnya; (2) ajaran tentang hari-hari suci keagamaan; (3) ajaran tentang tempat suci atau tempat-tempat pemujaan; dan (4) ajaran tentang orang suci. Dalam Manawa Dharmasastra Bab II, sloka 6 dijelaskan mengenai acara agama sebagai berikut.

"Idanim dharma
pramanamyaha,
wedo khilo dharma mulam,
smrti sile ca tadvidam,
Acara's ca iwa sadhunam,
atmanastutirewa".

Artinya:
Seluruh pustaka suci Veda (Sruti dan Smerti)
merupakan sumber pertama dari Dharma,
kemudian adat istiadat, setelah itu tingkah laku yang
terpuji dari orang-orang bijak yang
mendalami ajaran suci Veda; juga tata
cara kehidupan orang suci, dan
akhirnya kepuasan pribadi.

Dalam hubungannya dengan pelaksanaan ajaran Agama Hindu, kata acara sering diberi awalan upa, yang bermakna sekitar, sehingga kata upacara bermakna sekitar tata cara pelaksanaan Agama Hindu. Dengan demikian maka acara Agama Hindu menyangkut persoalan sekitar tempat upacara (lokasi), saat upacara (durasi), suasana upacara (situasi), rangkaian upacara (prosesi), ucapan upacara (resitasi), alat upacara (sakramen), dan bunyi-bunyian upacara (instrumen).

Upacara Tumpek secara khusus dibahas dalam Lontar Sundarigama. Untuk diketahui bahwa lontar Sundarigama merupakan intisari dari ajaran wariga gemet. Hal ini tertulis dalam bait ke-3 yang berbunyi, sebagai berikut.

Ham, ranak si Purahita mekabehan, Siwa, Sogata, rengen pawarahkwe kita anakku, an Ling aji Sundarigama, pakertin tikang pawitran, pangisining wariga gemet, pacatuning rat bhawana, wastu wayang ning ngastuti, Sanghyang bunten ing wwang mahayu raga sarira, dadi hawan ing krta nugrahanira Sang Hyang Maha Wisesa, tumurun ring bhuwana, Iwih tinemunia, rahayu hanrus ring Tribhuwana, palaning han dadi wwang, mapageh ikang sundih aji, mening mahening kajagadhitan ta purahita kabeh, bhyuh bala, byuh sisya, kadang apa lwir nia, nihan"

Artinya:
Wahai anakku para purahita semuanya, Siwa Budha, dengarkanlah nasehatku untukmu anakku, bahwa ajaran Sundarigama merupakan tuntunan pelaksanaan pesucian, inti dari wariga gemet, bagi kehidupan dunia, wujud memuja Hyang Widhi Wasa dan menjadi perantara bagi manusia untuk menyelamatkan dirinya, menjadi jalan tuntunan dalam memohon nugraha Sang Hyang Wisesa. Ajaran ini diturunkan ke dunia dan diberikan kepada manusia agar manusia dapat menikmati kebahagiaan kekal di atas dunia. Makmurlah Negara karena menikmati keutamaan, yaitu kesela¬matan terus-menerus di tri bhuwana (bhur, bwah, siuah), inilah keutamaan yang amat mulia bagi manusia, dan itulah yang menyebabkan langgengnya kesucian bagi Negara dan rajanya. Keheningan dan kemurnian para purahita adalah kebahagiaan dunia, kemakmuran rakyat, para pelajar, para saudara dan siapapun juga. Artinya, tujuan utama dari pelaksanaan hari-hari baik dan suci adalah untuk kebahagiaan semua makhluk (bhuta hita, sarzva prani hita). Dalam bait ke-4, Lontar Sundarigama juga dijelaskan bahwa "pada saat hari yang uttama (kala wayutama) adalah waktu pesucian para dewa-dewi, bhatara-bhatari, widyadara -widyadari, pitara-pitari. Beliau beryoga semedi untuk kebahagiaan dunia maka manusia pun patut untuk ikut serta melaksanakan pujawali untuk menyambut cinta kasih yang akan dilimpahkan oleh Hyang Widhi, berbakti dengan upacara yang disuguhkan kepada para Bhatara". Dengan demikian maka melalui persembahan bhakti pada Hyang Widhi Wasa tatkala hari-hari suci adalah utama demi terciptanya keselamatan dan kebahagiaan dunia.

Pada dasarnya Hari Raya Tumpek adalah hari raya yang jatuh pada hari Saniscara Kliwon. Adapun bentuk pemujaan dan perayaan disesuaikan dengan Wuku yang mengikutinya sehingga akan lahir 6 (enam) jenis upacara Tumpek dengan maksud dan tujuan yang berbeda satu dengan lainnya. Mengenai arti penting dari pelaksanaan upacara Tumpek, seperti dijelaskan dalam Lontar Sundarigama sebagai berikut.

"Saniscara Kliwon ngaran, wekasing tuduh rikang wioang, haywa lali amusti Sang Hyang Maha Wisesa, haywa deh, ndan haywa pisah, apasamana tumunin kertanira Sanghyang Anta Wisesa ring rat kabeh. Pangacinia kayeng lagi, sedengnging latri tan wenang anambut karya, meneng juga pwa ya, heningakna juga ikang adnyana malilian, umengetaken Sanghyang Dharma, mwang kawyiadnyana sastra kabeh, mangkan telas kangetakna haywa sang wruhing tattwa yeki tan mituhu, mwang alpa ring mami, tan panemwa rahayu ring saparania, apania mangkana, wwang tan pakarti, tan payasa, tan pakrama, sania lawan sato, binania amangan sega. Yan sang wiku tan manut, dudu sira Wiku, r anak ira Sanghyang Dharma".

Artinya:
Hari Saniscara Kliwon dinamakan hari inti, hakikat dari anugerah Hyang Widhi, yang diberikan kepada manusia. Oleh karenanya, janganlah lupa menyembah Hyang Maha Wisesa, jangan menjauhkan diri, bahkan janganlah sampai terpisah dengan Beliau. Sebab segala sesuatu yang ada ialah karena turunnya kesempurnaan Hyang Widhi yang terus menerus dilimpahkan kepada seluruh dunia. Jadi, cara pemujaan kepada-Nya adalah sebagaimana biasa.

Sedangkan pada malam harinya, tidak dibenarkan mengambil pekerjaan jasmani, melainkan hanya melakukan renungan suci, yakni mengheningkan cipta dan diarahkan untuk menyadari Sanghyang Dharma. Lain daripada itu, juga diarahkan kepada inti sari ajaran agama seluruhnya. Demikianlah semuanya agar diingat-ingat, terutama harus disadari oleh orang yang mendalami tattwa. Apabila hal ini tidak dilaksanakan, lebih-lebih jika malah dinodai, niscaya tidak akan mendapatkan keselamatan di manapun nantinya berada, mengapa demikian?

Karena orang yang tidak melaksanakan Kerti, Yasa, dan Karma (tindakan terpuji, pengabdian, dan perbuatan baik), dapatlah disamakan dengan binatang, bedanya hanya karena ia memakan nasi. Jika sang Wiku yang bijaksana tidak menuruti ajaran ini, bukanlah dia disebut Wiku yang disayangi oleh Sanghyang Dharma.

Dari uraian Lontar Sundaraigama di atas dapat digali beberapa keunggulan hari raya Tumpek. Pertama, hari ini adalah hari inti untuk memohon anugerah Hyang Widhi bagi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Oleh karena itu, wajib bagi umat Hindu untuk menghaturkan persembahan, melakukan puja, sujud bhakti kepada kemuliaan dan kebesaran Hyang Widhi, Beliau yang Mahapemurah dan pemberi anugerah keutamaan bagi kehidupan manusia.

Kedua, malam hari Tumpek adalah malam yang baik untuk melakukan renungan suci, tapa-brata-yoga-samadhi. Hubungan transendental terus-menerus ditujukan kepada Sanghyang Dharma, Kebenaran Abadi. Anugerah utama yang dimohon adalah supaya kehidupan manusia senantiasa ditimtun oleh dharma, demi tercapainya tujuan tertinggi (purusa artha), yakni moksartham jagadhita ya ca itu dharma. Seperti dijelaskan dalam Sara-samuccaya, seloka 14 "ikang dharma ngarania, henuning mara ring swarga ika, kadi gatining perahu an hetuning banyaga nentasing tasik" (yang disebut dharma adalah jalan menuju sorga, seperti sebuah perahu yang digunakan nelayan untuk menyeberangi samudera).

Ketiga, hari raya Tumpek mengingatkan kembali pada keutamaan manusia dibandingkan makluk lainnya. Keutamaan itu terletak pada kesanggupannya melaksanakan Kerti, Yasa, dan Karma (tindakan terpuji, pengabdian, dan perbuatan baik), karena jika tidak dilaksanakan maka ik ada bedanya manusia dengan hewan. Ini merupakan pesan moral dari pelaksanaan upacara Tumpek sehingga upacara ini begitu penting untuk dilaksanakan dalam keberagamaan umat Hindu. Keempat, upacara Tumpek memiliki kekuatan mengikat bagi umat Hindu untuk melaksanakannya. Dalam tataran bhakti, ditegaskan dengan perbedaan antara "anugerah" dan "hukuman" yang menjadi akibat dari dilaksanakan atau tidaknya upacara ini. Bagi yang melaksanakannya tentu anugerah pahalanya, tetapi jika tidak maka akan diperoleh kenistaan dan kepapaan.

Keempat, Secara filosofis Tumpek memiliki hakikat mendalam yang mesti dipahami secara berjenjang dari ritual menuju tattwa. Penguasa hari Saniscara adalah Bhatara Vasu atau Vasudewa, yakni Bhatara Wisnu sebagai pemelihara eksistensi alam semesta. Sementara itu, Kliwon, dewanya Bhatara Siwa menempati posisi di tengah; Dengan demikian hari Klizuon menempati poros kosmis, baik di alam maupun diri manusia. Di sinilah bersthana Bhatara Siwa yang menjaga keseimbangan seluruh alam. Hari raya Tumpek mempertemukan Bhatara Wisnu dengan Bhatara Siwa dalam satu titik yang sama. (Selanjutnya)

Oleh: Nanang Sutrisno
Source: Warta Hindu Dharma NO. 526 Oktober 2010