Renungan Menyambut Hari Suci Siwaratri

Apabila kita membaca secara seksama sumber-sumber kitab suci yang memuat ajaran tentang Siwaratri seperti Siwa Purana, Padma Purana, Skanda Purana, Garuda Purana, di samping kitab Siwaratri Kalpa sendiri, segera kita mengetahui bahwa ada landasan tattwa yang mendasari ajaran tersebut. Sejumlah kata kunci dalam kaitannya dengan Siwaratri misalnya turu (tidur), tutur (sadar), lupa (lupa), papa (kesengsaraan), punya (kemuliaan), tapa (pengendalian diri), dan brata (janji diri).

Untuk memahami makna yang terkandung di dalam istilah-istilah tersebut kita harus membaca kitab-kitab tattwa seperti kitab Wrehaspati tattwa. Dalam kitab tersebut ada disuratkan : Ikang raga tar pegat irikang janma manusya, panganturu ya wisesakennya alawas pwa ya makawisesa ng pangan turu, ksaya tekang cetana kasedek dening tamah, apan jatinikang mamangan menak turunya, ikang turu magawe lupaning atma, lupa pwekang inabhyasanya, gatinya denikang wukturu,"..... (nafsu dan keinginan tak pernah putus dalam diri manusia sehingga manusia mengutamakan makan dan tidur, kesadaran menjadi lenyap karena dikuasai oleh kenafsuan, kemalasan dan keserakahan, karena orang yang suka makan juga suka tidur, tidur menyebabkan Atma lupa pada hakikat dirinya, karena dikuasai oleh kegemaran tidur...).

Kata Turu atau tidur juga lupa pada hakekat diri, karena dibelenggu oleh obyek indria menjadi uraian sangat penting dalam kitab tattwa tersebut. Penegasan yang diberikan adalah bahwa orang yang dibelenggu oleh Turu dan Lupa itulah yang disebut Papa. Oleh karena itu Bhagawan Brhaspati mengajukan pertanyaan : Ndya teka luputa ring papa, matangnyan lepasa sakeng lepasa sakeng papa neraka (bagaimana seseorang dapat terbebas dari papa sehingga terbebas pula dari papa neraka). Sang Hyang Siwa menjelaskan : Yan matutur ikang Atma ri jatinya (kalau sadar Sang Hyang Atma pada hakekat dirinya). Artinya Atma tidak lagi dibelenggu oleh obyek indria.

Kata Turu lawan katanya adalah Tutur, sedang dalam bahasa Sansekerta kata Tutur sama artinya dengan Smreti. Siwa Smreti artinya senantiasa ingat kepada Hyang Siwa, Tuhan Maha Pencipta, Tuhan Maha Penganugrah. Seorang mahakawi yang menulis puisi yang sangat indah tentang pemujaan kepada Siwa yaitu Mpu Kanwa ada menegaskan : Yan langgeng ikang Siwa smerti dateng sredha Bhatare swara (kalau tetap kukuh senantiasa ingat kepada Hyang Siwa tentu beliau akan memberikan anugerah. Sementara di dalam karya yang lain disebutkan : Gumego Siwa Smerti nahan karananing anemu ng prayojana (menuruti dan melaksanakan pemusatan pikiran kepada Hyang Siwa adalah penyebab mencapai tujuan.

Siwa smerti memang tidak hanya dilakukan pada hari suci Siwaratri, namun pada hari suci ini kita patut memberi penekanan yang lebih besar, renungan yang lebih mendalam tentang tutur (ingat, sadar) dan Turu (tidur), tentang Lupa (lupa) dan Papa (sengsara)! Pada hari ini kita parut merenungkan secara mendalam makna kisah perbuatan seorang pemburu, si Lubdhaka (Nisada, Pulinda, Sabara) yang karena melaksanakan Brata Siwaratri dengan tepat pada saat yang tepat akhirnya dibebaskan dari kepapaan serta diterima oleh Hyang Siwa. Juga kisah penuh makna perjuangan ksatria Arjuna untuk mengabdi kepada kakaknya sang Dharmawangsa yang senantiasa ingin merahayukan negeri (mahaywang rat lan kuparahitan), perjuangan jalan yoga yang berat, tapi akhirnya mendapat anugerah senjata Pasupati dari Hyang Siwa. Dalam kisah Sang Arjuna ini kita melihat betapa kuatnya tapa brata yang dilaksanakan oleh ksatria Pandawa tersebut, dan betapa kokohnya keyakinan dirinya sehingga semua godaan yang menghadangnya dapat dilewatinya.

Teguh dalam Brata

Lubdhaka dinyatakan melaksanakan brata pada malam Siwa yang suci walaupun ia tidak menyadari perbuatannya itu. Ia telah melaksanakan brata Siwaratri dengan benar, artinya ia. telah melaksanakan ajaran Hyang Siwa yang begitu penting, yang selama itu dilupakan orang. Demikian juga halnya dengan sang Arjuna yang melaksanakan brata dengan teguh, sehingga ksatria Pandawa ini disebut juga sebagai sudhira ring brata. Mereka yang melaksanakan brata seperti itu pasti akan mendapat anugrah Hyang Siwa.

Ketika Arjuna menyembah Dewa Siwa yang memberikan anugrah kepadanya ia menyebut Hyang Siwa bagaikan api di dalam kayu, minyak didalam santan. Untuk mendapatkan api di dalam kayu orang harus meng¬gosok dua potong kayu dengan berketetapan hati. Hal itu disebut sebagai makusu. Menggosok dua batang kayu ini tujuannya ialah untuk mendapatkan api. Namun demikian begitu banyak orang yang tidak memiliki ketetapan dan keteguhan hati, ketika kayu itu bani mengeluarkan asap boleh jadi ia berhenti menggosoknya. Dan api pun tidak akan keluar.

Namun sang Arjuna memiliki ketetapan hati, ia memiliki keteguhan dan keyakinan diri yang begitu kuat. Panah yang dilepaskannya mengenai seekor babi ternyata menyatu dengan panah yang dilepaskan oleh seorang pemburu yang tiada lain adalah siluman Dewa Siwa sendiri. Sang Arjuna bersikeras dan bersikukuh bahwa panah itu adalah panah dirinya. Ia mempertaruhkan jiwanya untuk sebuah panah, tapi adalah untuk sebuah keyakinan yang kuat, untuk sebuah kepastian.

Hyang Siwa menganugrahi orang-orang yang sudhira ring brata seperti itu, bukan kepada orang yang lemah dalam keyakinan, orang yang mudali diombang-ambingkan. Seorang yang memiliki keyakinan yang kuat seperti itu memiliki pula kesadaran tentang darimana semua makhluk ini berasal (utpeti), semua makhluk berkembang (sthiti), dan kemana mereka lebur (pralina). Itulah sebabnya sembah sang Arjuna memuat juga pernyataan bahwa Hyang Siwa adalah penyebab segala yang ada yang mengalami lahir, hidup, dan mati, Hyang Siwa adalah asal dan tujuan seluruh jagat. (Utpeti, Sthiti, Linaningdadi kita ia karanika; sang sangkan paraning sarat sakala niskalatmaka kita). Ada satu asal kita, dan satu pula tujuan akhir kita semua.

Jalan Pembebasan

Di dalam Padma Purana dapat kita baca sembah Dewa Yama kepada Dewa Siwa sebagai berikut : namas trailokyanathaya mahabalapinakine; saksat kalawinasaya kalanirdahine namah; sivagamanavantasthajnanarata pradayine; hri sthitaya sarvesam saksine jagatam vibho; ajnanatimirandasya tamaso 'titamurtaye; anasritaya tustaya kapalaya namo 'stute; [anadimalabhetre ca cidgunodayahetave; gunapradaya gudharthadyotakaya namo'stute]. Sembah kepada Penguasa triloka, sembah kepada yang berwujud pelebur kematian, Yang membakar enyah kematian. Penganugrah permata yang berisi samudra ajaran suci tentang Siwa, yang ada di dalam hati segala dan yang menjadi saksi, O Dewa, Sembah kepada-Mu yang tak tergantung kepada apapun, yang penuh berisi yang mengambil wujud melampaui kegelap¬an dari hitam legamnya Tamas. Sembah kepada-Mu pelebur ketidak sucian yang telah ada sejak semua keabadian, yang menjadi sebab bangkitnya kualitas kesadaran, sembah kepada-Mu pemberi segala sifat baik, sebagai penerang segala yang gelap dan tersembunyi.

Lewat sembah Dewa Yama ini dapat kita ketahui predikat yang diberikan kepada Penguasa Ketiga Dunia itu, seperti Pelebur Kematian, Penganugrah, Pelebur ketidak sucian dan sebagainya. Dewa Yama sebagai penguasa neraka di dalam Siwaratri-kalpa juga bertanya kepada Hyang Siwa tentang mengapa seorang pemburu mendapat anugrah Hyang Siwa. Sebelum mengajukan pertanyaan tersebut Dewa Yama pun menyatakan sembahnya: Om sembah ning anasraya caranapangkaja bhuwanapatiki tinghali/ wahyawahya panembah i ngwang i kiteka satata kinabhaktyan i nghulun/ byaktabyakta kiteng sarat kita hurip ning ahurip agawe halahayu/ sang manggeh pinakesti ningmahalilang manah anilaraken dasendriya// (Om sembah hamba ke-hadapan-Mu, O Dewa Penguasa Dunia semoga tersaksikan/ lahir bathin sembah hamba kepada-Mu yang senantiasa hamba sembah/nyata dan hdak nyata Engkau di dunia, Engkau adalah Jxwa segala yang ada serta yang membuat baik dan buruk/ Engkau senantiasa disembah oleh orang yang ingin   menyucikan   pikiran   dan mengendalikan indria//). ring diksadi niwrty atita pinakantanika kita wisesa tan kalen/ yan ring zueda kitatvak ning pranawamantra taya lewiha len sake kita/ murtyamurti kitatisuksma saka ring tanu kita maganal sakeng agong/ munggwing sthawara janggamadi kita kewala para ning angungsi sunyata// (Engkau merupakan penguasa sarana mencapai "Kelepasan"/ dalam   Weda   Engkau   berwujud "pranawa mantra", tidak ada lebih mulia dari padaMu/ dengan wujud dan tanpa wujud Engkau, sangat gaib pancaran sinarMu, Engkau lebih besar daripada yang mahabesar/ Engkau berada pula dalam tumbuh-tumbuhan dan binatang melata, dan Engkau pula menjadi tujuan orang yang ingin mencapai alam "Sunyata"//)

Jadi Hyang Siwa yang diyakini berada dimana-mana, dan menjadi Jiwa segala yang ada, adalah Dewa Penganugrah. Hyang Siwa adalah juga menjadi tujuan orang yang ingin mencapai sunyata. Beliau adalah juga penguasa sarana mencapai kelepasan, maka beliau adalah pembebas manusia dari kesengsaraan. Jalan yang disiapkan adalah jalan tapa, brata, yoga dan samadhi. Jalan ini adalah jalan penuh kesucian, jalan pengendalian diri dengan landasan ajaran kesusilaan. Jadi pada intinya pelaksanaan Siwaratri dengan melaksanakan brata Siwaratri, adalah pelaksanaan ajaran yoga, sebagaimana diajarkan oleh Hyang Siwa.

Source: Ki Dharma Tanaya l Warta Hindu Dharma NO. 505 Januari 2009