Rekonstruksi Konsep "Ngayah" di Zaman Global

Perkembangan zaman yang terjadi membawa perubahan yang sangat signifikan. Bahkan di zaman globalisasi pengaruh budaya dari luar telah merubah tatanan kehidupan masyarakat. Hal ini pun dirasakan oleh masyarakat Bali yang bertumpu pada sektor pariwisata. Dengan berkembangnya sektor pariwisata, maka budaya Bali secara tidak langsung bersentuhan dengan kebudayaan luar yang dibawa oleh wisatawan. Paham kehidupan masyarakat yang modern telah merambah masuk dalam kehidupan masyarakat Bali tanpa terkendali.

Kehidupan masyarakat dan juga mata pencaharian yang dulu bergerak pada sektor agraris dengan mayoritas masyarakat Bali menjadi petani mengalami pergeseran dan perubahan. Dalam tatanan kehidupan sosial dan kehidupan beragama, maka perubahan-perubahan yang terjadi tampak jelas dirasakan.

Perubahan dan pergeseran kehidupan masyarakat Bali jelas terlihat dalam perkembangan zaman yang semakin modern. Pergeseran yang terjadi dari pola kerja yang tradisional-agraris menjadi industrial-modern. Wujudnya adalah dulu kehidupan masyarakat yang bertumpu pada sektor pertanian (tradisional-agraris) dan banyaknya waktu luang untuk berinteraksi sosial dan juga aktivitas spiritual, mulai bergeser dengan banyaknya waktu yang tersita untuk melakukan aktivitas kerja di sektor industri (industrial-modern). Begitu juga konsep kehidupan yang dulu diterapkan antara yang sekala dan niskala masih dilakukan secara seimbang.

Dalam kehidupan sekarang justru yang lebih dominan adalah hal-hal yang bersifat sekala (materi). Kecenderungan yang muncul dalam kehidupan masyarakat Bali yang dulu religius dengan mengedepankan konsep ngayah berangsur-angsur mengalami perubahan dengan lebih mengedepankan pemenuhan kebutuhan hidup secara material. Artinya masyarakat Bali yang dulu lebih memfokuskan diri untuk ngaturang ayah dalam aktivitas keagamaan, kini lebih sibuk dengan aktivitas pemenuhan kebutuhan hidup secara materi.

"Ngayah"

Bila dicermati kembali konsep ngayah sesungguhnya adalah suatu aktivitas yang dilakukan untuk keperluan tertentu dalam bentuk kegiatan kemasyarakatan ataupun kegiatan ritual keagamaan dengan dasar ikhlas (tanpa dibayar). Penerapan konsep ngayah berlandaskan pada Tri Hita Karana. Wujud aktivitasnya yaitu dilakukan melalui persembahan atau sujud bhakti dengan dasar tulus ikhlas untuk menciptakan hubungan harmonis kepada Tuhan (Parhyangan). Dalam aktivitas kemasyarakatan untuk menjaga hubungan harmonis dengan sesama manusia (Pawongan) melalui kegiatan gotong-royong dan saling membantu dengan dasar tulus ikhlas. Aktivitas untuk menata dan menjaga keharmonisan dengan alam lingkungan (Palemahan) dilakukan dengan menjaga dan melestarikan lingkungan dengan dasar tanggung jawab dan ungkapan syukur serta terima kasih yang penuh keikhlasan. Intinya bahwal konsep ngayah yang dilakukan adalah untuk menjaga, menata dan melestarikan kehidupan yang harmonis secara sekala dan niskala, sehingga tercipta kesejahteraan dan kebahagiaan.

Dalam perkembangan zaman yans semakin modern dengan pola kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, maka aktivitas ngayah sudah mulai berkurang dilakukan. Hanya beberapa masyarakat saja yang masih peduli dan memilik waktu luang yang mampu melakukannya. Ditambah lagi perubahan paham kehidupan masyarakat Bali dengan pola pikir materialis dan kapitalis, maka konsep ngayah telah luntur seiring berjalannya waktu.

Kehidupan masyarakat yang mengedepankan pemenuhan kebutuhan hidup secara material telah menggeser konsep ngayah sebagai bentuk kearifan lokal Bali. Masyarakat yang dengan tingkat kesibukan tinggi dengan sedikitnya! waktu luang telah meninggalkan aktivitas ngayah dalam kehidupannya. Apalagi muncul kecenderungan hidup yang hanya mengejar hal-hal yang bersifat sekala (materi) yang secara tidak langsung telah mengabaikan hal-hal yang bersifat niskala (yadnya). Walaupun konsep ngayah in tidak boleh dipaksakan dalam kehidupan masyarakat, tetapi semestinya masyarakat  sadar bahwa harus adanya keseimbangan dalam hidup untuk mampu menciptakan keharmonisan. Jangan sampai masyarakat Bali hanya mengedepankan hal-hal yang bersifat sekala (materi) dalam kehidupannya dan mengabaikan hal-hal yang bersifat niskala (yadnya/persembahan).

Ironis

Hal yang paling ironis adalah banyak pemimpin yang dalam wacananya menyampaikan bahwa tugas dan kewajiban yang dilaksanakan adalah ngayah. Dalam kenyataannya justru melenceng dari hakikat ngayah dengan mementingkan diri sendiri ataupun kelompoknya serta melakukan tindakan KKN. Bila memang betul-betul didasari dengan konsep ngayah, maka segala bentuk kebijakan yang dilakukan, sesungguhnya untuk kepentingan rakyat dan tidak memperkaya diri sendiri. Bahkan konsep ngayah dalam kekinian mengalami dilema dalam penerapannya di masyarakat.

Kewajiban krama yang dibebankan untuk ngayah, karena terbentur dengan rutinitas/aktivitas kerja, banyak yang sudah digantikan dengan uang (ngayah dana). Bentuk ini memang tidak disalahkan, tetapi yang terpenting adalah tumbuhnya kesadaran dalam diri masyarakat Bali, agar mampu meluangkan waktunya untuk dapat melakukan kegiatan ngayah. Terlebih kegiatan ngayah tersebut berkaitan dengan ritual keagamaan. Sesibuk apapun, sebagai umat beragama, diwajibkan untuk melakukan kegiatan ngayah sebagai wujud rasa bhakti kepada Sang Pencipta.

Perubahan dalam kehidupan itu pasti, begitu juga perkembangan yang terjadi di zaman global yang tanpa batas ini. Kehidupan yang semakin modern dengan berbagai jenis pekerjaan dan mata pencaharian yang ada. semestinya tidak merubah konsep ngayah dalam kehidupan masyarakat di Bali. Seperti apapun kesibukan dan rutinitas yang dijalani, konsep ngayah semestinya tetap lestari sebagai bentuk perwujudan dari keyakinan yang dimiliki. Pentingnya adalah kesadaran dalam menata kehidupan secara sekala dan niskala, agar seimbang dan terwujud kehidupan yang harmonis.

Kesadaran tentang kewajiban untuk ngaturang ayah perlu dibangun kembali (rekonstruksi) sebagai bentuk rasa bhakti dengan dasar tulus ikhlas. Bila manusia dalam hidupnya hanya mengejar hal-hal yang bersifat sekala (material), sesungguhnya kehidupan yang dibangun adalah kehidupan yang kering tanpa makna. Keseimbangan hidup yang perlu di-tata dan dibangun kembali (rekonstruksi) melalui konsep ngayah merupakan jalan yang dipilih dalam wujud Bhakti Marga Yoga. Hakikatnya adalah terwujudnya keseimbangan hidup secara vertikal dan horizontal untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan. Mari bangun kembali kesadaran untuk ngayah dalam menata kehidupan yang seimbang menuju keharmonisan hidup untuk mewujudkan Moksartam Jagadhita ya ca iti dharma.

Oleh: I Nyoman Agus Sudipta
Source: Koran Bali Post, Minggu Wage 29 Mei 2016