Rasionalisme atau Nasionalisme Hindu?

Modernitas telah membawa arus besar perubahan pola pikir umat manusia yang ada puncaknya di tandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pola pikir rasional yang menjadikan akal sebagai titik sentrum dalam memperoleh pengetahuan dan kebenaran. Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama, gejala seperti ini merambah ketataran agama, di mana agama mengedepankan iman, keyakinan sebagai pondasi kebenaran. Rasionalis menjadi virus kuat hinggap ke akal dan pikiran umat Hindu, sehingga benar obrolan di bale banjar kalangan kaum terdidik bahkan petani menanyakan apa makna, apa nilai, apa fungsi (kasuksman) upacara, simbol agama, bahkan Tuhan?.

Magnis Suseno "sikap yang menolak pemikiran rasional Tuhan di sebut Fideism nalar tidak bisa sampai Tuhan" namun di satu sisi dawaut agar orang tidak asal harus juga bisa mempertanggungjawabkannya. Iman yaitu keyakinan keyakinan kepada Tuhan dapat dipertanggung-rasional dalam arti secara teologis bahwa apa yang diimani dan kehidupan yang dijalani berdasarkan iman dan wahyu dari Tuhan sebagai sumber kebenaran. Hal ini sejalan denga Bhgawadgita IX.22 bahwa bagi umat Hindu yang mempunyai iman kuat pada Hyang Widhi, akan dilindungi:

"Annanyas cintayanto man, Ye janah paryupasate, Lesam nityambhiyuktanam, Yogake-samam vahamy aham"

Artinya :
Akan tetapi mereka yang menyembah Aku. Memusatkan pikiran hanya pada Aku pada mereka yang selalu tekun, Aku memberikan apa yang mereka tidak punyai dan memberikan perlindungan pada apa yang telah dimilikinya.

Rasionalisme itu tentunya bukan untuk memporak porandakan nasionalisme, memperhatikan kilas balik masa kegelapan sekitar dari tahun 400-1500 M yang selama kurun waktu yang lama itu filsafat skolastiklah yang sangat mendominasi pasa masa itu. Filsafat skolastik adalah filsafat gereja yang sangat tekstual dan para filosof ini tidak menerima sebuah pandangan yang berlawanan dengan kitab suci. Sehingga filsafat pada masa itu sangatlah lamban karena dominannya filsafat skolastik yang sangat tekstual. Kemudian muncul aliran rasionalisme memberikan ruang kebebasan tidak terkungkung pada gereja yang dikenal dengan kebangkitan kembali (renaisance). Tentunya agama Hindu lebih evolusif dari jaman weda, brahmana, upanisad nampak dinamika pemikiran Hindu yang fleksiibalitas.

Menyikapi kerasionalan dan iman maka percaya pada Tuhan dapat diajukan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal yaitu agama cara berpikirnya ilmu. Orang percaya bahwa batu akik itu dapat membuat sakti mandraguna, tidak mungkin mengajukan pertimbangan rasional, begitu pula orang mau bom bunuh diri dapat masuk surga, 38 orang California bunuh diri karena percaya bahwa mereka aka pindah ke sebuah kapal dari out space yang menunggu mereka di belakang komet Hall-Bop tidak masuk akal. Jadi bahwa "orang dengan akal yang sehat, yang mampu bernalar, tidak mudah percaya, tidak bertakhyul, hidup di alam modern dan menghayatinya sebagai lingkungan kultural biasa, berkomunikasi biasa dengan lingkungannya, kalau tetap percaya pada Tuhan, tidak melakukan sesuatu yang aneh, tidak masuk akal".

Menjadi tantangan pula ketika nasionalisme yang mengedepankan persatuan, kebersamaan, gotong royong, Bhagavad Gita, Nyanyian Tuhan. Pada bagian Shanti Parwa memberikan penjelasan tentang Bisma memberikan ajaran moral dan kewajiban seorang raja dengan maksud untuk memberi ketenangan jiwa kepada Yudistira dalam menghadapi kemusnahan bangsanya. Maknanya, yaitu kita akan mendapatkan ketetangan jiwa jika selalu berada pada ajaran agama yang selalu memberikan ketentraman. Untuk itu kita harus mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat kebangsaan menempati posisi penting dalam upaya memperkuat karakter dan jati diri bangsa. Berkaca pada cerita tokoh Bisma dalam Mahabharata khususnya epos Bisma Parwa tentang perang Bharatayuda dengan harapan menumbuhkan semangat Nasionalis. Tokoh Bisma menjadi panutan sebagai prajurit pemberani, dengan mental dan jiwa baja pada saat menghadapi suatu permasalahan atau dalam peperangan. Ajaran Mahabharata menyarankan bahwa setiap manusia terlibat dalam simbiosis kerja tiada henti dengan dharma sebagai pijakan. Dalam kondisi apapun apabila dharma diingkari, maka akan tergelincir kejurang kenistaan dan Bhagawad Gita. Sloka III.9 menyatakan seagai berikut. "Kecuali untuk tujuan berbakti dunia ini terbelenggu oleh hukum kerja, oleh karenanya bekerjalah demi bhakti tanpa kepentingan pribadi, oh kuntiputra".

Inti pokok nilai Bismaparwa antara lain (1) Dharma memiliki dua pengertian, yaitu perangkat untuk mendapatkan dhana (sesuatu yang bernilai, baik berwujud materi maupun aspek spiritual) dan perangkat untuk memelihara dan melindungi dari bahaya dan memberi kebaikan). (2) Nilai kesetiaan/satya, yaitu nilai kesetiaan yang diwakili oleh Yudistira, berupa satya wecana, satya hredaya, satya laksana, satya mitra, dan satya semaya. (3) Nilai pendidikan, yaitu guru hendaknya menekankan pada penguasaan satu bidang ilmu, disesuaikan dengan bakat, dan minat siswanya. Kepekaan semacam itu seperti yang diperankan Mahaguru Drona terhadap Bima yang berbadan kekar sangat kuat dan baik untuk ahli memainkan senjata gada, sedangkan Arjuna mempunyai bakat dibidang senjata panah sehingga didik menjadi ahli memanah. Dalam kontek tersebut memberikan pemahaman kepada generasi muda untuk bersemangat, berdisiplin, dan kerja keras untuk mencapai tujuan dan meraih sukses. (4) Nilai Yajna, yaitu korban suci dan keihklasan yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud tidak mementingkan diri sendiri dan menggalang kebahagiaan bersama sebagai pelaksanaan ajaran dharma yang tertinggi. Bentuk yajna dalam Mahabharata, antara lain berbentuk benda, dengan tapa, yoga, mempelajari kitab suci, ilmu pengetahuan, dan kebahagiaan orang tua.

Penulis adalah Dosen UNHI Denpasar
Source: Wartam Edisi 16 Juni 2016