Rasa Kartika

Sastra Kawi merekam perjalanan musim dengan kalimat-kalimat yang mengesankan. Pada bulan Srawana (Kasa) musim terasa kering, pepohonan mulai kehilangan kesegarannya, sehingga pada bulan Bhadrawada (Karo) yang dingin, pohon-pohon mulai terlihat gundul. Bulan Asuji (Katiga) terasa panas, air sedikit, sungai-sungai ada yang mengering, burung kalangkyang, menangis, jalan-jalan berdebu dan berbatu. Pada awal bulan Kartika (Kapat) hujan gerimis (riris) mulai turun, guruh terdengar di kejauhan, bunga beraneka warna mulai bermekaran.

Pada bulan Margasirsa (Kalima) biji-biji terlontar dari kelopaknya, awan memenuhi langit, namun ketika awan lewat sinar matahari terasa panas. Ladang-ladang mulai basah pada bulan Posya (Kanem) karena hujan turun deras, sedang pada bulan Phalguna (Kapitu) bulan dan matahari tetap tersembunyi, dan kandang-kandang lembu penuh lumpur. Pada bulan Chaitra (Kasanga) terjadi hujan lokal. Pada Waisakha (Kadasa) pohon-pohon ada yang berbunga, kecuali bunga asana yang belum menampakkan diri, bagaikan sedang menanti hujan yang terakhir. Pada bulan Jycstha (Jesta) terdengar bunyi gemuruh guntur yang terakhir bagaikan kata perpisahan seorang kekasih. Dan di bulan Asadha (Sada) para Kawi berkeluh, menggigil terserang sakit.

Apabila seorang raja memilih bulan Katiga untuk melakukan penyerangan dan pertempuran dengan musuh-musuhnya (dan sang raja biasanya diumpamakan sebagai matahari di bulan Katiga), maka para kawi memilih bulan Kapat (Karttika) untuk ngalanglang kalangwan, angdon lango, menikmati "Keindahan". Karttika adalah bulan yang paling dipilih oleh para pendamba keindahan (mango) untuk menggoreskan tunas-tunas keindahan (lango) ke dalam lontar atau batu tulisnya (karas) dalam bentuk kawya (kalangwan).

KARTTIKA : MASA DAN YASA

Para Kawi dalam setiap karya sastranya memang tidak pernah melupakan lukisan masa Kartika yang diperciki gerimis dari langit. Mpu Monaguna tampak sangat orisinal dalam melukiskan keindahan masa Kartika tersebut : ombak lak henti-hentinya terpecah pada batu-batu karang, burung-burung melayang-layang di atas air, bersamaan dengan laron beriringan keluar dari tanah setelah hujan pertama (tan panti-anty apmuhan ika bangun Karttika sada/ manuknya-Hwatan yan wahu mari jawuh lwir laru-laru//).

Di tempat lain pengarang Kakawin Sumanasantaka ini menyuratkan bahwa seorang raja muda yang tengah menuju swayambara bagaikan bulan Karttika, air mata para wanita yang tergiur mengaguminya bagaikan kabut lembut bulan Karttika, pandangan matanya bagaikan kilat di kejauhan setelah gerimis reda, keluh kesah yang lirih para wanita itu bagaikan suara guruh yang lembut di keiauhan.

Mpu Nirartha dalam karyanya Anyang Nirartha menyuratkan keindahan masa Karttika dengan sangat mengesankan : Rakryan sang kadi megha ring masa Kapat lengeng asemu raras tininghalang/ sang tan wruh ri manah ning eneng alulut puji tan alara yan kanahyunan/ maskw indung wwya tang tika saha wilapa pakirim irang sang sedeng mango/yan yogya n tarimanta rakwa wacanen rasa-rasana suwalta ring tangis// (Dewiku yang bagaikan mendung pada masa Karttika, sungguh indah dan mempesona kalau dipandang/Engkau tidak mengetahui hati yang terpaut karena cinta yang sedih karena senantiasa memikirkan/ Dewiku, ini ada lukisan beserta karangan kiriman seorang yang sedang mengarang/sekiranya dapat diterima, pohon dapat dibaca, mohon dirasakan dan satukan ke dalam tangis //).

Yadyan tan hana sanmatanta ri sirapuhara pejaha ling ireng wukir/ run rakryan kekesen silulunga nira n pahanutana ri ramya ning wukir/ erang rakwa mangantya tan kalawanan tekap ing ahayu ratna ning puri/ tasyasih pwa warebu haywa tan asih ring alara kena raga murcika// (Jika Dewiku tidak menerimanya ia merasa lebih baik mati, demikian katanya ketika di gunung/ kecantikan Dewi akan dijadikan bekal kematiannya yang disatukan dengan keindahan gunung/ia merasa malu terus menanti namun tidak pernah bersua dengan Dewi yang menjadi permata puri/ kasihanilah ia Dewiku yang mulia, janganlah hendaknya tidak sayang kepada orang yang menderita karena ikena panah asmara//).

Mpu Nirartha dengan sangat menarik melukiskan keindahan masa Karttika sebagai "seorang Dewi yang cantik, yang menyebabkan tergodanya hati sang Kawi. Seorang Kawi yang mabuk asmara telah mengirimkan surat rayuan kepada Sang Dewi, yang ingin menjadikan "kecantikan Sang Dewi" sebagai bekal kematian (silunglungan). Anyang Nirartha yang berarti "pengembaraan seorang Nirartha" memang merekam dengan susunan kata terpilih keindahan masa Kartiika tersebut.

Karya ini boleh jadi memang ditulis oleh Dang Hyang Nirartha atau Mpu Nirartha dalam perjalanan atau pengembaraannya menikmati keindahan (alanglang kalangwan) di bukit-bukit tepi laut : "Sungguh indah riak-riak mendung yang digerakkan angin bagaikan selimut/ bagaikan bunga yang ditaburkan di atas pasir si siput merah/ bunga angsana sedang mekar tertimpa hujan gerimis namun si kumbang mati ketika panili terang di bulan Karttika/ pohon gadung baru tumbuh di tepi jalan, ia tumbuh di atas batu karang".

Di atas batu karang yang putih yang senantiasa di terjang ombak putih, adalah tempat sang Kawi-wiku mendirikan yasa, tempat untuk melaksanakan yoga-sastra. Yasa dalam bahasa Sanskerta berarti "hormat, kemuliaan, nama baik". Dalam bahasa Kawi di samping arti tersebut diatas, yasa juga berarti "perbuatan mulia yang membawa pahala", bahkan dipakai dalam arti yang sangat kongkrit "sebuah bangunan yang membawa kemuliaan" (payasan). Dalam konteks kepenga-rangan biasa dimaksudkan sebagai tempat bagi pengarang atau sang Kawi untuk melakukan yoga sastra, dan mencari "Kesunyian".

Di dalam yasa itu dilukiskan sering sang Kawi meninggalkan karya sastra atau kakawinnya. Mpu Monaguna dalam Kakawin Sumana-santaka ada menyuratkan sbb. : pinggir ning talagawukir wukir anak patani nika manumpak anglenang/ ngkana sri naranathaputra mangenan kakawin ulih nirangdadak-dadak ...... Nahan wastu ni de nirangiket-iket winekasaken irerikang yasa/ prajna sindhumati siramaca kapin tiga tama tumurun sira ...... (Di pinggir telaga terdapat bukit-bukit kecil sementara di atas terdapat payasan atau patani. Di sana sang raja muda menulis sebuah kakawin yang digubahkan secara mendadak ........ Karya sastra kakawin itu ditinggalkannya di dalam yasa. Sri Indumati yang pandai dalam sastra membaca bait-bait puisi itu tiga kali, setelah menghafalnya lalu ia turun ..........). Sementara itu Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma ada menyuratkan, "waneh hana kalangwan ambek atemah tangis awetu palambang ing yasa", (yang lain ada diliput rasa indah lewat ratapan tangis dalam kakawin yang ditinggalkan di dalam yasa).

Mpu Nirartha yang dikenal sebagai mahakawi yang mengelilingi pulau Bali, kiranya telah menjadikan tempat-tempat yang indah di tepi pantai pulau Bali sebagai yasa (sebagian besar yasa tersebut telah menjadi Pura Dang Kahyangan). Suatu kali Mpu Nirartha melahirkan sebuah karya sastra Rasmi Sancaya berikut : .... Sebagai seorang kawi yang belum mendapat kasih dari Keindahan, maka saya pun berkeliling menyelesuri pantai, senantiasa mendambakan kasih Keindahan. Menuruti belak-belokan pantai yang sepi, tiba di bukit-bukit kapur, juga di jurang-jurangnya yang dalam, kemudian kembali menuju puncak bukit. Di sana saya mengaso, di bawah pohon kamalaka, sambil menulis karya sastra, menikmati keindahan laut, yang ombaknya senantiasa membentur tebing, mengeluarkan asap putih, bagaikan asap tungku pemujaan (pahoman)"

Gambaran yang diberikan dalam karya sastra ini segera mengingatkan kita pada bukit kapur kaki Pulau Bali, khususnya bukit kapur Uluwatu, yang kini berdiri Pura Luhur Uluwatu. Ternyata di masa silam tempat suci ini adalah sebuah yasa, tempat seorang mahakawi mengembangkan kreativitas dan imajinasinya, seorang mahakawi yang juga adalah seorang mahapandita. Dari yasa yang sepi ini lahir karya berikut ini :........... ryyak ryyaknya nembura maguti parang grong sakukusa putih hatur kukasing pahoman gegernya lwir sang apalungguh/ Muwang sawonika agung rragraningacala yaya badanika gung klabing walikapti sabhasmanika putih sruti pujastawanya haneng swaraning guruh mandramandra muni dukilyan angrimangi kriyanging ghantanika paptaking sawung wananyangde kung// Rarabing mendung riris halit hatur camaniya sumrak rebuking pudhak dhawuhing watu haputih katlesan lwir gandha mrik minging puspaning pidadha rurw anjrahing pasisi sakambang-uranika wah lana pilih ngganya muja anangga sinuksma kalangun lengong i manusa langonya tan rat hinapti tuhu yaya ring panupna nusanyalit araras lila mawya maranti mapasang-pasang makasang- hulung//"   

....... gelombang ombak membentur goa-goa tebing mengeluarkan asap putih bagaikan asap api pemujaan, sedangkan bukitnya bagaikan sang pandita// Pohon sawo yang besar tumbuh di puncak bukit bagaikan bhawa (hiasan kepala sang Pandita) yang terlihat agung, daun muda si kayu walik bagaikan bhasma (abu yang dioleskan di antara ke dua alis) yang terlihat putih, adapun weda-weda dan puja-astawanya adalah suara guruh, yang terdengar perlahan, suara gentanya yang indah adalah suara ayam hutan yang menyebabkan perasaan terpesona// Tersebarnya mendung dan hujan gerimis bagaikan tirtha penyucian, sedangkan sari bunga pudak (bunga pandan) yang jatuh pada batu karang yang putih yang dibasahi oleh gerimis bagaikan bunga-bunga harum sang pandita, bunga pidada yang berserakan di tepi samudra bagaikan bunga yang ditaburkan sang pandita, semuanya membangun perasaan senang, sang pandita bagaikan memuja Sang Hyang Semara (Dewa Keindahan) yang tengah menyusup di dalam setiap keindahan, yang menyebabkan penikmat keindahan itu merasa bagaikan tidak di dunia, memasuki alam mimpi, tidak ada bandingannya rasa terpesona yang merasuk ke dalam hatinya, berada di antara pulau-pulau kecil yang tersusun indah, sebuah tempat penghentian".

KARTTIKA : BHASA DAN RASA

Para kawi yang berkelana di masa Karttika tidak saja melahirkan karya-karya "besar" seperti kakawin, tetapi yang istimewa adalah melahirkan karya-karya "kecil" yang disebut bhasa. Bhasa adalah suatu bentuk puisi Jawa Kuna, menggunakan metrum kakawin, tetapi secara khusus memuat kedalaman emosi mengenai "rasa asmara" maupun suatu reaksi terhadap keindahan alam. Mpu Tan Tular dalam kakawin Sutasoma menyatakan: "anulis kakawin inapi bhasa ring yasa" (menulis kakawin dan bhasa di dalam yasa). Sementara itu Mpu Tan Akung dalam Kakawin Siwaratrikalpa menyuratkan, "kede mametwa bhasa kakawin" (ingin melahirkan bhasa dan kakawin).

Mpu Tanakung sendiri memang melahirkan karya-karya bhasa. Beberapa bhasa yang dilahirkan oleh Mpu Tanakung, yang juga mengarang Kakawin Wrettasancaya ini adalah : Bhasa Saddhanayoga, Bhasa-amreta-masa, Bhasa Sangu Tangis, Bhasa Gumiringsing, Bhasa Kinalisan, Bhasa Tan Akung. Sementara itu Anyang Nirartha karya Mpu Nirartha sesungguhnya adalah kumpulan bhasa, terdiri atas Bhasa Nirartha sangu sekar, Bhasa Anyang Nirartha, Bhasa Lambang Puspa Sancaya, Bhasa hanjahanja Turida, dan Bhasa Hanja-hanja Sungsang.

Mpu Tanakung secara khusus menyatakan masa Karttika sebagai "amreta-masa", masa yang memberikan "vitalitas hidup" masa yang memberikan "kegairahan" untuk melakukan yoga-sastra. Dalam kakawin liris ini Mpu Tanakung melukiskan "kehancuran" hati seorang pengarang yang merindukan kekasihnya, ketika bulan sempurna di langit : Ketika purnama di masa Karttika yang guruhnya lemah terdengar di kejauhan, ketika sinar rembulan menyirami bunga-bunga asoka dengan sinarnya yang cemerlang, ketika burung-burung kuwong bersuara indah merasuk ke dalam hati dengan suara tuhu-tuhu, ketika itu aku teringat dengan kecantikan dan kejelitaan diri-Mu, Oh Dewi".

Dewi Keindahan memang dipuja-puji oleh para Kawi, di saat yang tepat yaitu pada masa Karttika, di tempat yang tepat, yaitu di sebut yasa. Sang Dewi lalu dirayu dengan susunan kata terpilih, terangkai dalam sebuah bhasa, yang juga dijadikan tempat untuk mensthanakan Sang Dewi. Maka karya sastra adalah candi-bahasa, tempat mensthanakan Dewa/Dewi pujaan.

Dalam doa-doa sang Kawi, atau dalam keseluruhan karyanya telah tersirat bagaimana Sang Kawi dengan penuh gairah menghimbau, merayu, membuai Dewa/Dewi dambaan dan pujaannya untuk dapat "menerima" dirinya, dirinya yang "miskin", "bodoh", atau tidak mengerti "cinta". Maka dipilihlah nama-nama seperti Tan Akung (tanpa cinta) untuk mendekatkan diri dengan Akung ("Cinta"), Nirarta (miskin, tanpa tujuan) untuk dapat mendekatkan diri dengan Paramartha (Dia yang menjadiTujuan), Tan Arsa (tidak senang, sing demen (BB) untuk dapat mendekatkan diri atau untuk dapat menemui Arsa atau Ananda (Kebahagiaan Tertinggi).

Maka para Kawi, teristimewa para Kawiswara terus melakukan yoga-sastra, menulis karya sastra, menulis bhasa-kakawin untuk menikmati rasa. Rasa diyakini didapat dalam proses kreatif, teristimewa dalam "kemanung-galan" dengan-Nya. "Ketika yang dua telah menjadi satu itulah rasa bahagia", demikian makna yang terkandung dalam ucapan adwaita anandam. "Dia adalah Rasa" demikian makna ucapan Rasa vai Sah.

Seorang Kawi yang berkelana di masa Karttika, yang membenamkan dirinya di dalam alam, yang menulis karya sastra merangkai kata, yang berteduh di bawah pohon pandan, yang memungut kelopak bunga pandan yang harum lalu menulisnya dengan rangkaian aksara, sesungguhnya melaksanakan yoga, yang ingin mencapai Kelapasan (sadhana sang kawiswara asadhya kalepasan i sandhi ning mango), yang ingin manunggal dengan Sang pencipta.

Oleh : Ki Dharma Tanaya

Source : Warta Hindu Dharma No. 514 Oktober 2009