Ramayana dan Mahabharata: Antara Dongeng dan Kenyataan

Dharmartha-kama-moksanam
Upadesa-samanvitam
Purva-vrttam katha-yuktam
Itihasam pracaksate
(Visnu Dharma 1.15.1)

“ITIHASA dikatakan sebagai Itihasa karena ia memuat cerita-cerita yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Pemaparan kejadiannya nyata (yang sudah pernah terjadi) tersebut dipergunakan untuk menyampaikan ajaran-ajaran mulia perihal dharma (kewajiban-kewajiban suci), artha (mengumpulkan uang dan harta benta), kama (pemenuhan keinginan-keinginan), dan moksa (pembebasan abadi dari kesengsaraan).

Acharya Dandi dalam karya terkenalnya bernama Sahitya Darpana menjelaskan persyaratan penting dan merupakan keharusan dari sebuh karya Itihasa. Menurut Dandi, karya sastra yang dapat dikelompokkan ke dalam karya Itihasa harus mengambil topik sejarah, atau kejadian yang telah pernah terjadi sebelumnya. Cerita nyata tersebut diceritakan kembali dalam bentuk karya sastra oleh para Rakawi yang bijaksana dan menguasai segala bidang pengetahuan. Melalui kejelian, keahlian dan kebijaksanaan dari para Rakawi tersebut, kejadian sejarah tersebut lalu dijadikan medium untuk menyampaikan ajaran-ajaran suci Catur Purusartha, yaitu dharma, artha, kama, dan moksa kepada umat manusia.

Dalam peradaban Veda khususnya sastra Veda, Itihasa atau sejarah dihubung-hubungkan sebagai penyampaian pesan-pesan mulia kepada umat manusia, khususnya sebagai pembawa “pesan” Dharma (kebenaran), Artha (harta benda), Kama (keinginan-keinginan di jalan dharma), dan Moksa (pembebasan dari kesengsaraan).

Banyak yang menganggap Ramayana (dan Mahabharata) adalah suatu kisah fiktif yang berisikan ajaran luhur tentang kisah Sri Rama yang merupakan Awatara Visnu. Akan tetapi, Ramayana sesungguhnya adalah kisah nyata yang benar-benar pernah terjadi di masa lampau. Banyak bukti-bukti peninggalan sejarah yang menjelaskan tentang hal ini. Salah satunya yang terkenal adalah Ramsetu atau Setubandhanam (setu = jembatan), yaitu jembatan kuno yang memisahkan Teluk Mannar (Barat Daya) dan Selat Palk (Timur Laut). Jembatan ini terbentang melewati pulau Pamban (India) dan pulau Mannar (Sri Langka). Pada zaman dahulu kala jembatan tersebut dibuat oleh Sri Rama dibantu oleh pasukan kera untuk menyebrang ke Lanka mencari Dewi Sita. Perihal jembatan Ramsetu tersebut dijelaskan di dalam kitab Ramayana. Baru-baru ini NASA (National Aeronautics and Space Administration) merilis foto jembaran Ramsetu yang diambil dari luar angkasa. Bekas-bekas jembatan terbentuk sangat nyata dan jelas. Sekitar 31 tahun yang kami sempat berkunjung ke sana dan bulan Juni kemarin kembali melihat Ramsetu tersebut yang berada di daerah Rameshwaram di pengujung India Selatan.

Sama pula halnya bekas istana Dwarawati (Dvarika), istana Shri Krishna yang tenggelam di laut, sekitar tahun 1986 para arkeolog India mengadakan penelitian ke dasar laut, dijumpai bekas-bekas bangunan istana yang diperkirakan berasal dari tahun-tahun zamannya Krishna sekitar 5 ribu tahun lalu. Banyak pula peninggalan sejarah zaman Ramayana dan Mahabharata yang diyakini masih ada sampai sekarang, sebagai bukti sejarah Itihasa.

Pada kelompok literatur Veda atau kitab-kitab suci agama Hindu, ada satu kelompok dinamakan Itihasa. Kitab-kitab suci termasuk dalam kelompok Itihasa adalah Mahabharata dan Ramayana.

Sarasamuccaya yang merupakan “Bhagavad-gita”-nya umat Hindu di Nusantara menganjurkan Itihasa sebagai penunjang penting dalam mempelajari dan menjelaskan mantra-mantra Veda. Dikatakan bahwa ajaran-ajaran suci Veda sangat takut dengan orang yang sedikit pengetahuannya dikarenakan tidak mempelajari Itihasa dan Purana (apan sang hyang veda atakut ring akidik ajinya). Kitab-kitab Itihasa mempunyai peran sangat penting dalam usaha pemahaman arti serta makna mantra-mantra Veda.

Vayu Purana menegaskan pentingnya peran Itihasa dalam usaha mempelajari dan menjelaskan mantra-mantra Veda, yang sering mengandung arti ganda, mendalam dan rahasia (itihasa-puranabhyam) vedam samupabrmhayet bibhety alpa-srutad vedo mamayam prahasrisyati).

Alpa-srutad berarti dari orang-orang yang sedikit pengetahuan atau orang-orang yang tidak mempelajari Itihasa. Bibheti berarti ketakutan, bahwa Veda merasa ketakutan dengan orang-orang yang tidak memanfaatkan Itihasa untuk menjelaskan rahasia-rahasia Veda. Menurut kitab-kitab Purana dan Sarasamuccaya, kitab suci Veda berkata, “orang itu akan mengobrak-abrik diriku…” (mamayam praharisyati). Disebutkan bahwa mereka yang mempelajari mantra-mantra Veda tetapi tidak mempelajari Itihasa dan Purana, maka mereka kadang bisa keseleo memberikan penerjemahan serta pemahaman yang tidak benar atau bahkan pemaknaan terbalik pada mantra-mantra tersebut.

Dalam literatur Sansekerta, Itihasa mendapat tempat yang sangat penting tidak hanya dalam Purana-Purana tetapi juga dalam kitab-kitab Upanisad. Sama halnya dengan Veda, Itihasa pun dianggap keluar dari nafas Tuhan Yang Maha Esa. “Asya mahatobhutasya nihsvaitametad yad rg-vedo yajur-vedah sama vedo’tharavangirasah itihasah puranam.” (Brhadaranyaka).

Selain itu, Itihasa juga diterima sebagai “Veda-nya Veda”: “Sahovaca rg-vedam bhagavo’dhyeni yajur-vedam sama-vedam atharvanam caturtham, Itihasa-Puranam pancamam vedanam vedam.” (Chandogya Upanisad).

Makna yang terkandung di dalam kutipan Cahandogya Upanisad di atas adalah bahwa Itihasa bukan hanya dianggap sebagai Pancama Veda atau Veda kelima saja melainkan ia juga adalah alat untuk menunjukkan arti Veda yang sebenarnya. Hal yang sama juga ditekankan oleh Bhagavata Purana: “Itihasa Puranani pancanam vedam isvarah sarvebhya eva vaktrebyah sasrje sarva-darsanah.”

Beberapa kutipan di atas yang diharap dapat memberikan gambaran akan pentingnya Itihasa dalam pelajaran Veda. Kata Itihasa berasal dari kata iti+ha+asa. Iti berarti demikianlah seperti yang sudah tersebutkan, dalam hal ini merujuk pada kitab-kitab Ramayana dan Mahabharata. Ha berarti pasti, dan Asa berarti yang benar-benar telah terjadi. Istilah Itihasa sendiri mempertegas peristiwa Ramayana dan Mahabharata memang benar-benar telah terjadi. Ia merupakan kejadian nyata, suatu sejarah nyata benar-benar telah perah terjadi.

Melihat pengertian kata Itihasa, mestinya tidak ada keraguan lagi menerima Ramayana dan Mahabharata sebagai sejarah yang memang benar-benar terjadi. Satu hal yang mungkin menyebabkan orang-orang meragukan kejadian Ramayana dan Mahabharata adalah kerana Ramayana dan Mahabharata terbentuk atau tertulis dalam bentuk puisi (sloka-sloka). Akan tetapi hampir semua kitab-kitab suci agama Hindu tertulis dalam bentuk puisi.

Jadi, alas an ini tidak tepat untuk menyebutkan kitab-kitab Itihasa sebagai story dan bukan history, atau ia hanya dongeng yang berisikan ajaran-ajaran moral dan agama. Selain sebutan Itihasa, Ramayana dan Mahabharata juga disebut sebagai Akhyayika dan Mahakavya. Akhyayika dalam kamus Sansekerta terkenal Amarakosa oleh Amara Singh disebutkan sebagai cerita yang benar telah terjadi (akhyayiko-palabdhartha). Ia juga disebut Mahakavya karena Akhyayika (dalam hal ini Ramayana dan Mahabharata) harus mengambil sumber cerita sejarah nyata atau mengambil sumber cerita satu tokoh amat terkenal di masyarakat. Bagi masyarakat Indonesia barangkali kakawin Nagarakertagama dapat dipakai contoh karena ia adalah kejadian sejarah yang dipuisikan.

Acarya Dandi dalam Kavyadarsa-nya menyebutkan persyaratan sebuah karya, Mahakarvya, yaitu “sarga-bandho mahakavyam ucyate tasya laksanam asir-namaskriya vastur-nirdeso vapi tan-mukham, itihasa-kathodbhutam itarad va sadasrayam catur-varga-phalopetan caturo-datta-nayakam” – yang dinamakan Mahakavya adalah karya sastra yang terbentuk dalam Sarga (bait-bait yang terikat oleh berbagai aturan-aturan). Ciri-ciri Mahakavya adalah: Asirvacana (kata-kata berberkah), sembah sujud kepada Tuhan, Dewa, Guru dan lain-lain atau dimulai dengan ulasan singkat tentang keseluruhan isi karangan/perkenalan para pelaku utama. Mahakavya harus berlindung pada cerita sejarah, atau tokoh umat terkenal, dan Mahakavya harus pula menjelaskan tentang Catur Varga (Dharma, Artha, Kama, dan Moksa) dan pahalanya, pelaku utama harus mempunyai sifat-sifat yang agung, dan lain-lain.

Jadi, sebuah karya Mahakavya harus bernilai sejarah nyata (Itihasa-kathodbhutam). Hal inilah yang menyebabkan Mahakavya mendapat perhitungan-perhitungan penting dalam penyusunan sejarah.

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Kliwon 13 Agustus 2017