Raja Manimantaka dalam Kekawin Arjuna Wiwaha

ARJUNA Wiwaha sebagai karya sastra kakawin, selalu menyediakan ruang untuk dimasuki. Pengunjung yang masuk ke dalamnya, mesti bersiap-siap dengan kejutan-kejutan yang disajikan. Kejutan dalam sastra lebih menegangkan daripada kejutan sebagai hadiah ulang tahun, atau hadiah-hadiah lainnya yang waktu dan tanggalnya telah pasti. Ada rasa yang "dimainkan" di dalam sastra. Meskipun telah banyak orang yang masuk ke "candi kata" Arjuna Wiwaha ini, namun tetap saja menyediakan hal-hal yang menarik untuk dipikirkan kembali. Sebab, tidak ada yang benar-benar selesai jika kita membicarakan perihal sastra. Masuklah ke dalam sastra, maka temuilah berbagai kemungkinan-kemungkinan yang patut dipikirkan. Apa sesungguhnya yang dimaksudkan?

Arjuna adalah tokoh yang menjadi poros perhatian ketika membaca Kakawin Arjuna Wiwaha, terutama proses yang dialaminya untuk mendapatkan anugerah dari Siwa berupa Pasupatishastra, juga setelah anugerah itu didapatkan. Perhatian manusia, memang sangatlah tendensius, sebab keinginan manusia itu selalu mengutamakan yang mendapatkan kemenangan. Sesuatu yang menang, atau dimenangkan menawarkan keindahan-keindahan, anugerah, kesenangan, dan segala hal yang berkaitan dengan kepuasan. Sesuatu yang dimenangkan dalam sastra patut diapresiasi dan dijadikan contoh, sementara yang dikalahkan dalam shastra perlu dipikirkan dan dipahami sebagai titik terendah yang mungkin dialami manusia. Artinya, yang dikalahkan pun menyediakan sesuatu untuk dipikirkan kembali. Oleh karena itu, mari pikirkan juga yang dikalahkan di dalam sastra, tidak hanya yang menang.

Niwatakawaca adalah salah satu tokoh yang patut diperhatikan dalam membaca Arjuna Wiwaha. Bukankah konflik yang dikemukakan dalam Arjuna Wiwaha terjadi akibat kegalauan Batara Indra atas kesaktian yang (dimiliki Niwatakawaca? Bahkan Bagawanta surga yakni Bagawan Wrespati menyatakan bahwa Niwatakawaca adalah raja raksasa yang cerdas, sakti dan juga bijaksana (mwang ikang Niwatakawacatisaya nipuna sakti nitiman). Niwatakawaca juga raksasa yang teguh dalam tapanya. Ia bertapa di sebuah gua yang terletak di gunung Himawan, yang dipujanya adalah Siwa dalam wujud Rudra (rudra radhana nirmala satata). Akibat tapanya itulah ia kemudian dianugerahkan tidak dapat dibunuh oleh dewa, yaksa, dan asura.

Sebagai raja yang bijaksana di negara Manimantaka, Niwatakawaca berhasil menjadikan negaranya disegani oleh negara lainnya, bahkan mengalahkan surga sepuluh kali lipat lebih indah (dumadasa guna ng suralaya halepnya). Tidak diragukan lagi bahwa Niwatakawaca adalah raja yang hebat. Kehebatan serta kemasyuran yang didapatkannya bukan berdasar melecehkan atau pun melakukan trik-trik politik seperti era kekinian. Niwatakawaca mendapatkannya dengan cara kekunoan.

Kehebatan Niwatakawaca juga terlihat ketika ia berperang melawan pasukan Indra. Niwatakawaca menunjukkan kesaktian yang ia miliki, banyak senjata yang muncul dari setiap helai bulunya. Jenis senjata yang muncul dari bulu di badan juga matanya ialah senjata panah dan musala. Pasukan raksasa yang telah diporakporandakan oleh pasukan Indra, berhasil dibangkitkan kembali keberaniannya oleh Niwatakawaca. Formasi perang yang disiapkan oleh Indra pecah menjadi empat bagian akibat serangan yang dilakukan oleh Niwatakawaca. Saat itulah Arjuna merapalkan Sang Hyang Pasupatastra Mantra, muncullah tujuh juta raksasa lengkap dengan senjata dari ujung panahnya. Kalahlah pasukan Niwatakawaca.

Niwatakawaca kemudian memuja Batara Bherawa (siddhi sri manimantakadipa manusmarana wara bhatara bherawa), lalu muncul pasukan raksasa dari mulutnya yang memiliki kekuatan sepuluh kali lipat dari sebelumnya. Pasukan para Dewa ketakutan karenanya, lalu berlari mundur dari medan perang. Sampai di sana, kekuatan Niwatakawaca tidak dapat diragukan lagi. Ia adalah seorang raja yang teguh dan pemberani.

Keberanian
Keberanian Niwatakawaca terlihat dengan jelas dari caranya menghadapi musuh-musuh. Niwatakawaca tidak segan-segan menghadapi musuh-musuhnya secara langsung. Bahkan ketika ia sesungguhnya telah mengetahui bahwa yang akan dilawannya adalah Arjuna, yang konon akan mengalahkannya. Juga setelah ia mengetahui bahwa Arjuna telah bekerja sama dengan Suprabha untuk memperdaya dirinya, agar mengatakan letak kelemahannya. Niwatakawaca masih dengan gagah berani menghadapi Arjuna dan pasukan Indra. Pertanyaannya kemudian, adakah yang belajar membaca keberanian Niwatakawaca? Ataukah kebanyakan orang dan orang kebanyakan hanya sibuk menyalahkannya hanya karena ia raksasa dan mendapat anugerah dari Siwa. Ternyata banyak orang yang hanya melihat dari sudut pandang Dewa dan manusia, kemudian menafikan sudut pandang raksasa. Padahal raksasa, manusia, dan Dewa diyakini berada di dalam satu tubuh.

Antagonis
Niwatakawaca adalah tokoh antagonis yang dikatakan sakti dan beristana di bagian selatan gunung Mahameru. Ia juga dikatakan telah berhasil mengalahkan seluruh jagat (dunia). Semua itu didapatkannya berkat tapa (pemanasan) dan juga brata (pengekangan) yang telah ia lakukan. Artinya, ia mendapatkannya setelah memanaskan dan mengekang. Arti lainnya, bahwa Niwatakawaca mendapatkan segalanya karena usaha. Tetapi, Niwatakawaca ketika dihadapkan pada keinginannya untuk menguasai surga, ia kalah oleh keinginannya sendiri.

Disebutkan dengan jelas bahwa Niwatakawaca ingin merusak surga. Juga terhadap keinginannya untuk memperistri salah satu bidadari surga yakni Suprabha, ia kalah. Ada persamaan di antara kedua hal yang menjadi latar belakang perang antara Niwatakawaca dengan pasukan para Dewa, yakni keinginan atas surga. Surga adalah godaan yang dihadirkan pada siapapun yang memperoleh anugerah. Jika surga adalah representasi dari kebahagiaan, maka kebahagiaan itu merupakan godaan. Jika bahagia itu godaan, apakah penderitaan adalah anugerah? Anugerah atau pun godaan, keduanya sulit dibedakan.

Lalu apa penyebab Niwatakawaca dapat dikalahkan oleh manusia sakti yakni Arjuna? Jawabannya ada pada anugerah yang diberikan kepadanya ialah sebagai berikut "akan tetapi jika manusia sakti berhati-hatilah kau. demikian ucapan Batara kepadanya". Ada dua hal yang patut mendapatkan perhatian yaitu manusa sakti dan hati-hati. Artinya jika Niwatakawaca memiliki sikap hati-hati terhadap manusia sakti, maka ia memiliki harapan untuk tetap hidup. Manusia dari jenis manakah yang dimaksud dengan manusa sakti? Arjuna dinobatkan sebagai manusa sakti karena mendapatkan anugerah dari Siwa yaitu cadu sakti berupa panah yang disebut Pasupatisastra.

Cadu sakti itu terdiri dari empat kekuatan yaitu wibhu (menyusup tanpa disusupi), prabhu (mengendalikan tanpa dikendalikan) Jnana (maha tahu) dan kriya (maha karya). Anugerah itulah yang didapatkan oleh Arjuna sehingga disebut manusa sakti. Niwatakawaca adalah jenis raksasa yang sakti, sedangkan Arjuna adalah jenis manusia sakti. Sakti pada akhirnya bertempur sesama sakti, pertempuran yang diakibatkan oleh anugerah. Sekali lagi anugerah macam apa yang menyebabkan pertempuran? Sampai pada tahapan itu, anugerah bertindak sekaligus sebagai godaan. Godaan atau pun anugerah keduanya masih sulit dibedakan.

Anugerah
Hati-hati (yatna) juga ditekankan oleh Siwa pada anugerah yang diberikan kepada Niwatakawaca. Pada tahapan inilah Niwatakawaca mengalami kegagalan. Niwatakawaca gagal hati-hati terhadap keinginannya sendiri untuk menguasai surga, juga untuk mendapatkan Suprabha. Keinginannya untuk menguasai surga menyebabkan para Dewa dan juga Resi di surga mengadakan rencana untuk mengetahui kelemahan Niwatakawaca. Keinginannya untuk mendapatkan Suprabha menyebabkan ia mengatakan letak kelemahannya. Keduanya sama saja, akibat dari keinginan yang gagal dikendalikan.

Niwatakawaca gagal menyelamatkan hidupnya, sebab ia tidak hati-hati. Terutama pada dirinya sendiri. Tempat rahasia yang berada di mulutnya gagal ia jaga, karena terlalu senang merasa menang melawan Arjuna. Niwatakawaca tidak sadar bahwa Arjuna telah mempersiapkan panah utama yang disebut Naracastra, yakni panah pengikat tubuh. Niwatakawaca menyerang Arjuna dengan senjata tombak, Arjuna mengepitnya lalu berpura-pura jatuh dari kereta. Niwatakawaca sangat senang, sehingga mulutnya terbuka, maka kelihatanlah kelemahannya yang selama ini ia sembunyikan. Seketika itu Arjuna membidik dan melepaskan panah utama, maka matilah Niwatakawaca.

Niwatakawaca mati di medan perang, maka ia adalah raksasa ksatria utama. Mpu Kanwa menuliskan "rereb kuwung kuwung awilet ring ambara, anila nila jalada manghemu hudan, rawi prabha ka-langaniranisih katon, wisesa cihna sang adikarayan pejah; gerimis juga pelangi melengkung di langit, mendung berwarna hitam menahan hujan, matahari sinarnya hanya terlihat setengah, sangat baik ciri ia yang penuh wibawa ketika meninggal". Penggambaran kematian yang indah untuk raja raksasa dari kerajaan Manimantaka: Niwatakawaca.

Oleh: I Gde Agus Darma Putra
Source: Koran Bali Post, Minggu Kliwon, 15 Januari 2017