Putra dan Pitara

Pitra Yajna adalah salah satu bagian dari Panca Mahayajna, terdiri atas Dewa Yajna, Pitra Yajna, Rsi Yajna, Manusa Yajna dan Bhuta Yajna. Di Bali Pitra Yajna terjelma dalam upacara Ngaben (Palebon) dan Nyekah (Mamukur, Maligia). Melaksanakan Pitra Yajna adalah kewajiban seorang putra.

Di dalam kakawin Ramayana ada disuratkan bahwa Sang Dasaratha dinyatakan sebagai orang yang sangat memahami Weda, bhakti kepada para Dewa, namun tidak pernah melupakan Pitra Puja (tar malupeng pitra puja). Dalam banyak karya sastra kakawin senantiasa ditekankan betapa pentingnya melaksanakan pitra puja dan pitra yajna itu, karena menjadi jalan bagi seorang putra disebut sebagai suputra.

Kakawin Nitisastra menguraikan tentang apa yang disebut sebagai ciri-ciri jaman kehancuran atau kaliyuga. Bahwa bila jaman kali datang, orang hanya menghargai kekayaan, orang-orang pandai dan rohaniawan mengabdi kepada orang-orang kaya; pelajaran-pelajaran yang dirahasiakan oleh para pendeta dilupakan orang, keluarga raja menjadi hina dan sengsara; dan orang-orang mencela orang tuanya (putra adwe pita), dan orang-orang hina mendapat kepandaian. Apa yang disuratkan di dalam bait kakawin tersebut menjadi bahan renungan kita yang sangat penting karena setiap orang ingin terlepas dari jaman kali atau jaman kehancuran itu. Oleh karena itu orang pun ingin melaksanakan putra sasana yang memuat aturan-aturan kesusilaan bagi seorang putra.

Kakawin yang sama ada juga menyuratkan bahwa ilmu pengetahuan dan ajaran kemuliaan menerangi ketiga dunia dengan cahayanya yang cemerlang; namun demikian putra yang suputra, seorang putra yang mulia menjadi penerang yang menyinari seluruh keluarganya (yan ing putra suputra sadhu gunawan mamadangi kula wandu wandawa).

Agaknya Danghyang Nirartha pengarang kakawin Nitisastra tersebut begitu menekankan pendidikan sumber daya manusia ini, yaitu setiap orang yang adalah seorang putra haruslah menjadi seorang suputra. Ada sebuah bait yang memuat perumpamaan yang menarik dalam kakawin tersebut yang ingin kita catat di sini :

Padaning ku-putra taru cuska tumuwuh i ri madhyaning wana/maghasagerit matemah agni sahana-hananing halas geseng/ikanang su-putra taru candana tumuwuh i ring wanantara/plawagoraga mrega kaga bhramara mara riya padaniwi.

Artinya:

Seorang putra yang jahat (ku-putra) adalah bagaikan pohon kering di tengah hutan/ karena pergesekan yang terjadi maka keluarlah apinya lalu membakar seluruh hutan/ akan tetapi seorang putra yang mulia (suputra) adalah bagaikan pohon cendana yang tumbuh dihutan/ berbagai binatang seperti ular, kera juga kumbang dan burung-burung mengerubunginya.

Demikianlah seorang putra yang dicita-citakan adalah seorang putra yang suputra bukan seorang putra yang ku-putra. Seorang putra yang tentu tidak melupakan pitra puja, seorang putra yang memiliki kewajiban untuk melaksanakan pitra yajna. Pitra yajna memang bukan sekedar prosesi pembakaran mayat dengan segala kemeriahan dan kemewahannya, namun bagaimana seorang putra dapat membebaskan orang tuanya untuk menuju alam Siwa atau Sunyata.

Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 499 Juli 2008