Pusaka – Pustaka – Petaka

Sejumlah Pemikiran, Proses Pembalikan dan Luhur....

Entah dalam buku apa pernah saya baca bahwa bentuk peta Kabupaten Badung menyerupai sebilah keris. Penulis artikel dalam buku itu menyebutkan ujung keris itu ada di utara. Hanya itu yang saya ingat. Mungkin pula memang hanya itu yang dikatakan buku itu.

Informasi tentang sebilah keris itu menyebabkan saya betah lama-lama memandang gambar peta Kabupaten Badung. Saya sepakat dengan penulis itu. Memang bentuknya seperti sebilah keris. Ujung runcing keris itu betul ada di utara. Dan bukit selatan yang bentuknya sedemikian rupa nampak seperti sebuah gagang yang unik. Dibandingkan dengan keris pada umumnya, keris Badung ini kelihatan gemuk pendek dengan lekukan yang tidak beraturan. Dalam gambar peta, keris itu nampak berdiri tegak di atas gagang yang berisi beberapa permata. Salah satu permata yang terbesar adalah permata Api Rudra berbentuk Pura Huluwatu. Ajaibnya, gagang berpermata api Rudra itu mengambang di atas laut selatan.

Asosiasi gambar Badung dengan sebilah keris tidak perlu ditafsirkan terlalu jauh. Gambaran itu tidak merepresentasikan apa-apa, selain memang seperti keris. Jagat Badung memiliki sejarah dan problematikanya sendiri. Demikian juga keris sebagai salah satu bentuk senjata tradisional memiliki sejarah dan filsafat sendiri pula. Bahwa keris pernah dipergunakan dalam beberapa peristiwa sejarah yang terjadi di jagat Badung tidak memiliki spesifikasi luar biasa. Karena pemakaian keris dalam beberapa peristiwa sejarah tidak hanya terjadi di Badung, melainkan di banyak tempat.

Keris mengingatkan kita pada sejumlah pemikiran tentang mula Pusaka. Keris berbeda dengan lontar yang mengingatkan kita pada sejumlah pemikiran tentang mula-Pustaka. Keris berbeda dengan alat-alat mematikan lainnya yang mengingatkan kita pada sejumlah mala-Petaka. Trilogi pusaka-pustaka-petaka ini, seperti menjadi antiklimaks atas sejumlah citra luhur dan luhung. Keris akhirnya menjadi seperti barang biasa yang baik buruknya sangat tergantung pada tujuan orang yang memakainya.

Proses pembalikan dari luhur ke biasa ini, yang digotong-royongi bersama-sama, sering akhirnya menimbulkan perasaan kehilangan. Orang merasa kehilangan sesuatu yang abstrak yang menyebabkan perasaan kehilangan. Orang merasa kehilangan sesuatu yang abstrak yang menyebabkan mereka merasa menjadi makhluk yang biasa-biasa saja. Ketika dengan sadar mereka kemudian mengadakan keluhuran itu kembali dengan merekonstruksi ini dan itu, hasilnya jelas tidak akan sama. Karena yang namanya pengadaan kembali adalah kerja artifisial.

Masalah pusaka-pustaka-petaka jauh lebih rumit untuk dibicarakan daripada apa yang sekadar diilustrasikan di atas. Masalah trilogi ini muncul akibat asosiasi gambar peta dengan sebilah keris. Padahal bukan itu sebenarnya yang ingin saya katakan. Namun demikian masalah trilogi itu membuat saya sadar, bahwa orang sering tergiring untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia katakan. Contohnya, Kumbhakarna!

Beliau sebenarnya ingin mengatakan kesaktian tapi yang keluar justru ucapan tidur. Maka Dewa yang siap menganugerahi keberhasilan tapanya akhirnya memberikan tidur panjang padanya. Jadilah ia manusia tukang tidur. Apakah Kumbhakarna keseleo pikiran atau keseleo lidah? Menurut ceritanya ia keseleo lidah. Karena Saraswatilah yang membelokkan lidahnya sehingga beliau salah ucap.

Dan lidah itu bentuknya ternyata juga seperti keris. Ujung runcingnya menjulur ke luar, seakan siap menikam siapa saja dengan kata. Kedua sisinya juga sangat tajam. Lendir yang membungkus sekujur lidah adalah pamor yang berbisa. Lendir itu merindukan dan mengundang rasa. Tapi lidah bukan hanya itu. Lidah adalah juga pusaka. Saraswati yang ada di ujung lidah adalah pustaka. Keseleo lidah adalah petaka.

Keris dan lidah adalah dua hal yang muncul dari kerja memandang peta Kabupaten Badung. Kita belum lagi masuk ke dalam jagat Badung itu sendiri. Kalau masuk ke dalam barangkali kita akan bertemu dengan Mpu Gandring yang menjelma menjadi Mpu Gondrong. Ken Umang, Ken Arok, dan Ken Dedes menjadi Sing Ken Ken. Atau bisa jadi kita tidak akan melihat semua pelaku sekaligus korban itu. Karena bukan hanya lidah Kumbhakarna yang bisa keseleo, mata kita pun sering “keseleo” dalam melihat. Keseleo barangkali pangkal trilogi Pusaka-Pustaka-Petaka! Mula dan Mala.

Oleh: IBM Dharma Palguna
Source: Koran Bali Post Minggu Umanis, 20 September 2009.