Problematika Keagamaan Generasi Muda

Makna agama dalam pandangan generasi muda, "sementara" ini masih dianggap sebagai suplemen yang hanya sewaktu-waktu dibutuhkan, baru kemudian diikutsertakan untuk memecahkan segala persoalan yang dialami. Dalam banyak hal, peran agama belum tampak mendominasi, terlebih sebagai motor penggerak segala aktivitas berkehidupan dalam rangka pencapaian tujuan hidup. Meskipun sangat disadari bahwa, masa muda adalah dunia yang penuh gejolak, penuh ego-emosional, termasuk tantangan situasi konkrit yang bertalian dengan "dunia asmara".

Semua ini terkadang mengakumulasi dalam sebuah "perjudian", sebab sedikit saja salah memainkan ritme kehidupan ini maka akan berakibat fatal, dan tidak jarang terperosok dalam konflik sosial seperti: penggunaan narkoba, seks bebas atau tindakan kriminal. Padahal, pada kondisi seperti inilah agama memainkan peranan sebagai pondamen yang membangun sendi-sendi moral, mental dan spiritual.

Fenomena di atas, menjadi gambaran betapa besar problematika keagamaan di kalangan generasi muda. Dalam keyakinan saya, generasi muda Hindu dimanapun mereka berada pastilah generasi yang masih lekat dengan budaya dan adab ke-Hindu-annya, terlebih di kota-kota besar dimana tantangan agama-agama lain memberi spirit tersendiri untuk lebih memahami apa dan bagaimana agama itu. Namun tidak sedikit yang terbuai oleh maya kehidupan ini. Persoalannya adalah mengapa fungsi agama belum menyentuh aspek sosial dan aspek alamiah kehidupan generasi muda Hindu. Adakah yang salah dalam pembinaannya atau sudah berubahkah cara pandang generasi muda terhadap agamanya. Entahlah, yang jelas kita hendaknya tidak terjebak untuk tidak saling: Siapa menyalahkan Siapa ? Namun mencari pembenar untuk mendapatkan solusi dan langkah antisipasinya.

Ketidakmampuan generasi muda dalam merangkai motif-motif keagamaan yang bersifat geneologis, psikologis, filosofis dan theologis, menjadi satu-kesatuan yang utuh (holistik), tampaknya menjadi benang merah gagalnya usaha pembangunan paradigma religius di kalangan generasi muda dalam membaca realitas kehidupan ini. Indikasi kegagalan ini tentu berimflikasi buruk pada sifat dan sikap keberagamaan seperti: fanatisme, feodalisme, eksklusivisme bahkan ekstrimisme. Sifat dan sikap keberagaman seperti ini jelas tidak menguntungkan.

Seyogianya, motif-motif keagamaan yaitu Geneologis; menempatkan agama sebagai warisan dari leluhur, Psikologis; menempatkan agama hanya sebagai suplemen saja, Filosofis; menempatkan agama sebagai media filsafat dimana dalam mencari eksistensi Tuhan senantiasa berfilsafat, berteori dan merasionalisasikan ajaran-ajaran agama, Theologis; menempatkan agama sebagai faktor sentral yang menggerak-kan pikiran, perkataan dan perbuatan. Semuanya ini tidak dipandang dan dipahami serta dilaksanakan secara terkotak-kotak, apalagi ada upaya mendikotomikahnya. Namun dipahami sebagai satu-kesatuan yang setiap motif-motif tersebut saling melengkapi.

Penumbuhan sikap dan prilaku dengan landasan motif keagamaan yang harmonis, diharapkan dapat mengikis pola/struktur berpikir yang apriori untuk bersama-sama menyikapi dengan cerdas perkembangan agama dengan perkembangan jaman yang demikian dinamis. Sehingga tidak akan lagi terdengar bahwa, agama hanyalah sebagai pelengkap yang dihadirkan ketika mereka tertimpa masalah hebat/musibah dimana akal dan ratio tidak mampu menyelesaikannya, mereka lari pada ajaran-ajaran agama dan memuja Tuhan sebagai penyelamat. Namun setelah persoalan selesai, ajaran agama dan nama Tuhan sudah tidak nyaring lagi terdengar dalam doa-doa.

Sikap apriori yang sering tampak gtyata adalah keengganan untuk mempelajari agama secara serius di usia dini. Bahkan tidak jarang timbul sikap "tidak pede" ketika ada dorongan kuat untuk belajar agama, ya takut dibilang jadi pemangku, ya takut dikatakan terlalu konservatif dan 1001 macam alasan lainnya.

Menyadari tantangan keberagamaan yang demikian ketat, tampaknya generasi muda Hindu sejak sekarang mempersiapkan diri untuk ikut dalam persaingan global dengan tetap agama menjadi landasan moral, mental dan spiritual. Ketika dipertengahan Abad XVIII terjadi revolusi industri di Inggris, dunia seakan kecil dan sempit karena kemajuan IPTEK (ilmu dan pengetahuan). Semuanya berbau "science" dengan ciri otomatisasi dan mesinisasi. Kemajuan dahsyat ini tidak mesti harus ditolak secara mentah-mentah tetapi diterima secara arif dengan wiweka dalam kerangka pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM). Kearifan ini diharapkan mampu membentuk karakter generasi muda Hindu yang khas, yaitu modern, berwawasan global, beriman tebal dan bersradha ketuhanan yang kuat. Dari sini diharapkan pula muncul manusia Hindu yang ekonom yang religius, teknolog dan teknokrat yang religius, dokter yang religius atau jenderal yang religius. Bukan manusia Hindu yang "frigid". Intinya adalah: Jangan Takut dan Malu Belajar Agama.

IPTEK akan lebih bermakna bila IMTAK (iman dan takwa) menjadi dasar penyeimbang dan penyelarasnya, begitu juga sebaliknya. IPTEK-IMTAK jika telah menjadi satu kutub dengan prinsip timbal balik (principle of reci-procity), kemuliaan dan kemudahan berkehidupan adalah sebuah keniscayaan. Penulis suatu ketika pernah terkesima saat menyaksikan seorang Ida Rsi dengan amat lihai memainkan jemarinya di atas keyboard komputer dalam situs internet, atau ketika beliau memainkan segala jenis musik yang terbilang canggih. Pada kesempatan lain saat beliau muput sebuah upacara yajna terlihat beliau seorang Ida Rsi yang mumpuni di bidang agama. Dalam hati pun muncul pertanyaan, inikah profil manusia Hindu yang menjadi harapan kita semua. Tanpa bermaksud membuat kontroversial baru, tampaknya contoh nyata ini menyadarkan kita bahwa IPTEK bukan sesuatu yang harus ditabukan, setuju?

Tantangan keberagamaan tidak saja karena faktor internal, tetapi juga faktor eksternal. Langkah strategis pembinaan generasi muda Hindu kembali berpulang kepada pribadi masing-masing dan pihak-pihak berkompeten seperti lembaga adat dan lembaga keagamaan. Posisi Hindu yang minoritas semestinya juga menjadi sugesti aktif untuk tetap mengibarkan Dharmaning Agama yaitu kewajiban umat Hindu untuk menegakkan ajaran agama dan mengamalkannya, dan Dharmaning Negara yaitu kewajiban umat Hindu untuk ikut andil dalam mengisi pembangunan nasional, sebab bukankah Hindu yang minoritas adalah juga pemilik sah republik ini?!

Jembatan Emas

Salah satu tantangan terbesar umat Hindu adalah adanya kesenjangan pembinaan antara umat Hindu di Bali dengan di luar Bali. Kenyataan ini berpengaruh besar terhadap upaya memperkaya pengetahuan umat. Sebab apapun dalihnya, salah satu media umat belajar agama adalah dengan pembinaan yang intensif dan berkesinambungan. Sementara media yang lain belum cukup ampuh dijadikan komoditas, seperti keterbatasan bahan bacaan atau minimnya audiovisual, sementara suatu kemustahilan untuk mem-Bali-kan umat Hindu di luar Bali. Apalagi keadaan dan keberadaan umat di luar Bali ada di daerah-daerah pedalaman sehingga pola pembinaan belum mencapai titik optimalisasi. Tidak kondusifnya situasi ini jelas berekses kepada tingkat pemahaman dan pengamalan agama yang "terkesan" stagnasi. Permasalahan adalah ada tidaknya keberanian untuk menjadikan pembinaan umat di daerah luar Bali sebagai jembatan emas untuk mengabdikan diri sepenuhnya sebagai karma.

Selain masalah pembinaan adalah tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini Parisada dan Departemen Agama, kiranya sebuah penghargaan besar apa bila generasi muda Hindu baik asli putra daerah ataupun transmigran, aktif menjadi jembatan emas itu. Sebab kemajuan umat di daerah ada di tangan anda dan akan terus berjalan berpacu dengan tarntangan keberagamaan.

Adalah sebuah lagu lama yang selalu klise terdengar, yaitu setiap usaha, masalah dana adalah kendalanya. Betul, tetapi berkarma untuk sebuah kebenaran (dharma) jauh lebih berpahala, namun bukankah hidup ini adalah sebuah kenyataan, maka perhatian besar dari pemerintah (Parisada dan Departemen Agama) sangat diharapkan, misalnya Dharma Dutta mendapatkan kesejahteraan yang layak. Satu hal terpenting adalah Parisada dan Departemen Agama semestinya mempunyai "bar-gaining fower" untuk secara mudah merekomendasikan generasi muda yang berminat belajar untuk diteruskan ke lembaga-lembaga pendidikan formal seperti Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, STAHN Denpasar atau STAH-STAH lain yang sudah tersebar di beberapa daerah. Bentuk kepedulian dari lembaga-lembaga ini dapat berupa kemudahan dalam penggunaan fasilitas dan biaya kuliah. Dari hasil pembelajaran yang sungguh-sungguh diharapkan lahir generasi muda Hindu yang "militan" sebagai pembina umat yang andal, sebab sesungguhnya andalah jembatan emas itu!.

 

Source: Nyoman Yoga Segara l Warta Hindu Dharma NO. 427 September 2002