Praktek Keagamaan Hindu Etnis Jawa

Berbicara tentang Hindu di Indonesia, maka khalayak ramai selalu berasumsi bahwa mereka pasti orang Bali. Dan dalam kenyataannya memang seperti itu. Ketika penulis baru awal-awal bekerja di sebuah instansi, banyak yang menganggap bahwa penulis adalah seorang Hindu etnis Bali, bertemu dengan komunitas yang berbeda agama juga sering ditanya, Bali-nya dimana? Padahal Hindu di Indonesia dianut oleh berbagai etnis selain etnis Bali, yaitu Jawa, Madura, Batak Karo, Dayak dan lain-lain. Dan sudah tentu karena latar belakang etnis yang berbeda itu pula maka praktek keagamaan pun juga sudah pasti berbeda. Hal ini dikarenakan Hindu berkembang di suatu tempat maka ia akan berkembang sesuai dengan adat dan budaya tempat tersebut.

Hal ini selaras dengan apa yang dinyatakan dalam Weda Sruti VII. 10, yaitu Dharma Sidhiyartha (Panca Tarka) antara lain: Iksa, Sakti, Desa, Kala dan Tattva. Iksa memberi pesan bahwa suatu praktek keagamaan haruslah benar-benar menuju pada tujuannya, alias tidak salah arah. Sakti, yaitu bahwa kegiatan-kegiatan tersebut harus mempertimbangkan kemampuan, baik kemampuan finansial maupun non finansial, tidak dianjurkan untuk memaksakan kehendak. Desa, yaitu sesuai dengan kondisi tempat tersebut, adat dan budayanya, tidak menerapkan adat dan budaya yang lain. Kala, yaitu menyesuaikan dengan jaman yang sedang berlangsung. Tattva, yaitu tidak keluar atau bertentangan dengan kebenaran, atau ajaran Veda, Veda selalu menjadi ukuran yang tertinggi.

Orang Hindu etnis Jawa selalu dikatakan memiliki tradisi budaya keagamaan yang simpel dan sederhana. Simpel dan sederhana bukan berarti kurang makna. Simpel dan sederhana di sini adalah men-gacu pada bahwa segala sesuatunya bisa dilakukan dengan cepat dan singkat serta tidak begitu membutuhkan perlengkapan yang sangat beragam.

Karena begitu sederhananya maka upacara yang dilangsungkan sore hari pun sesajennya dapat dibuat pagi harinya dalam waktu yang tidak terlalu lama karena bahan-bahannya ada di lingkungan sekitar. Tidak perlu membuat sesajen 3 hari atau bahkan seminggu sebelumnya sehingga ketika hari saatnya tiba sesajen sudah membusuk.

Karena dibuat dalam waktu itu juga maka ketika upacara berlangsung hingga selesai sesajennya masih segar dan layak untuk dijadikan prasadam. Persembahan pribadi yang dibawa sendiri dari rumah tidak ada yang dipaksakan harus ada buah ini dan buah itu, harus beli ini dan beli itu, selalu mempersembahkan apa yang bisa dipersembahkan pada saat itu. Mungkin di rumah ada pisang, ya itulah yang dibawa ke Pura dengan digoreng atau direbus, mungkin di rumah ada singkong, maka itulah yang dimasak lalu dibawa ke Pura untuk persembahan.

Banyak yang membawa masakan mereka sendiri yang mereka jadikan persembahan pada saat itu. Mereka tidak mengenal apel Washington, pisang California maupun jeruk Sankis. Singkong rebus, tahu, tempe, pisang goreng, telur dadar, sambal goreng; semua itu sudah biasa menghiasi persembahan yang mereka bawa dari rumah.

Nasinya pun beragam, ada nasi beras, nasi tiwul (nasi dari singkong) dan nasi ampok (nasi jagung), tergantung yang mana yang mereka punyai di rumah masing-masing. Adalah kebanggaan tersendiri bisa membawa persembahan ke Pura yang merupakan hasil dari memasak di rumah sendiri, dan inilah yang dilakukan istri penulis.

Canang sarinya pun unik, mereka tidak memaksakan diri untuk memakai janur. Bagi umat pedesaan haruskah beli janur, iya kalau punya uang sisa hari itu. Haruskah mencari janur, iya kalau punya pohon kelapa dan ada yang bisa memanjatnya dan pohonnya tidak sedang basah. Karena bahaya memanjat pohon kelapa yang sedang basah karena hujan. Kalau ternyata janur tidak bisa didapatkan, maka daun pisang pun bisa menjadi canang.

Seperti yang penulis baca di majalah MH kemarin yang memberitakan tentang upacara Ngenteg Linggih di beberapa Pura di Tengger bahwa daun pisang pun banyak menghiasi sesajen yang dibuat, dan itu tidak salah, tidak ada yang kurang ataupun tidak ada yang aneh terkait penggunaan daun pisang. Jadi penulis sebagai orang Hindu etnis Jawa sangat menyayangkan kalau ada umat Hindu siapapun dia yang mengatakan bahwa seperti penggunaan daun pisang untuk canang maupun untuk yang lainnya itu tidak boleh atau tidak sah terlebih lagi mengatakan upacara dengan sesajen seperti itu adalah gagal. Hindu di Indonesia tidak mengacu kepada tradisi Hindu emis tertentu. Biarkan Hindu etnis Jawa dengan tradisi Jawanya, etnis Madura dengan tradisi Maduranya, etnis Batak dengan tradisi Bataknya dan sebagainya.

Sokasi adalah yang umum kita lihat sebagai wadah persembahan yang dibawa dari rumah oleh umat Hindu etnis Bali, dan bagi sebagian umat itu menunjukkan suatu prestise dengan membawa sokasi yang begitu indah menawan, namun tidak bagi sebagian besar umat Hindu etnis Jawa yang pernah penulis alami. Wadah mereka bikin dari pelepah pohon pisang. Sesampai di Pura persembahan mereka taruh di tempatnya dan ketika acara sudah selesai maka ada satu atau dua orang yang membagikan prasadam tersebut, jadi mengambilnya secara acak dan sudah tentu kemungkinan besar setiap orang akan mendapatkan prasadam yang tadinya bukan miliknya, jadi bertukar satu sama lain.

Mungkin saja tadi dari rumah membawa persembahan singkong rebus namun mendapatkan prasadam nasi dan telur dadar atau mungkin sebaliknya. Dari rumah bawa nasi beras pulang dapat prasadam nasi tiwul atau nasi ampok itu hal yang biasa. Dan tidak ada yang mengambil sendiri miliknya sendiri. Pada prinsipnya bagi umat Hindu etnis Jawa, makanan apa yang ada di rumah itulah yang patut dipersembahkan, bukan dengan hasil membeli.

Liburan Idul Fitri kemarin penulis mudik ke tempat asal istri yaitu di Lampung. Di sana ada sebuah pura kecil di pedalaman yang hanya disungsung oleh 4 KK. Kondisi pura penuh dengan keterbatasan, namun begitu 4 KK yang menyungsungnya perlu mendapat acungan jempol dalam hal mempertahankan ke-Hindu-an mereka. Melihat dari kondisi yang ada sepertinya tidak pernah terjamah oleh Penyuluh Agama. Bagaimana dengan perayaan Saraswati yang berlangsung di sana, sesajen utamanya adalah tumpeng beserta lauk pauknya. Apakah itu salah? Bagi orang Jawa itu tidak salah karena hanya itulah yang bisa mereka persembahkan. Bagi umat Hindu etnis Jawa tumpeng itu mengandung filosofi yang sangat penting. Sebagai simbol Lingga, kemakmuran dan kebesaran Tuhan.

Mengenai puasa bagi orang Hindu etnis Jawa juga beragam, ada yang puasa ngebleng alias tidak makan dan tidak minum sama sekali dan terus ada di dalam kamar tidak keluar kamar kecuali ke kamar kecil saja untuk buang air, ada puasa mutih yaitu hanya nasi putih dan air putih saja, ada juga puasa kepelan yaitu puasa makan nasi yang hanya sebesar kepalan (genggaman) tangannya sendiri.

Waktu pelaksanaan upacara pun ada sedikit perbedaan dengan umat Hindu etnis Bali. Misalnya kalau di kalender ada tanda merah maupun hitam (Purnama atauTilem) pada tanggal 15, umat Hindu etnis Jawa selalu menyelenggarakannya pada tanggal 14 malam hari, jadi tidak pada tanggal 15 malam hari. Mengapa? Karena sebagian besar umat Hindu etnis Jawa menerapkan tahun Candra. Kalau umat Hindu etnis Bali mereka menerapkan tahun Surya. Bagi orang Jawa misal tanggal 14 jam 7 sore itu sudah dianggap sebagai tanggal 15.

Di Jawa ada tradisi Kliwonan, yaitu persembahyangan bersama untuk wilayah tertentu dengan mengambil tempat dari rumah ke rumah secara bergiliran. Bisa dilaksanakan setiap Kliwon atau pun hari lainya yang disepakati seperti misalnya setiap malam Minggu. Kegiatan ini sangat strategis untuk mempererat tali persaudaraan sesama umat Hindu, jadi tidak harus menunggu dua minggu sekali saat Purnama dan Tilem untuk saling bertemu.

Juga bermanfaat untuk mengkondisikan atmosfir rumah sehingga menjadi rumah yang nyaman sehingga memberikan kedamaian bagi yang menempatinya. Dan masing-masing merasa punya hutang terhadap satu sama lain, dalam arti jika pada sebuah acara kliwonan di rumah si A, si B datang menghadiri, maka ketika nanti kliwonan yang pada gilirannya di rumah si B maka si A merasa wajib datang karena merasa berhutang.

Dan begitu seterusnya dan itu berlangsung hingga sekarang. Bertepatan dengan acara kliwonan itu juga biasanya diadakan arisan. Bisakah bentuk kegiatan ini diterapkan di kota? Sangat bisa sekali. Dulu penulis tinggal di Bekasi (sekarang di Bogor), penulis mempunyai sebuah kelompok meditasi, dan kami sempat menyelenggarakan meditasi bersama dari rumah-ke-rumah seminggu sekali, semua anggota tampak antusias, merasakan sesuatu yang berbeda daripada itu hanya dilaksanakan di pura. Ada kedamaian, kesejukan di sana yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Dalam upacara ketika bayi masih dalam kandungan seperti telonan, pitonan, hingga bayi lahir dan dewasa hingga men-inggal; selalu ada gendurenan (bancaan) dengan mengundang semua tetangga sekitar (multi agama) dan doa dibacakan secara Hindu oleh pemangku. Dan ketika malam harinya adalah dengan mengun¬dang khusus umat Hindu untuk bersem-bahyang bersama terkait dengan upacara tersebut. Jadi tidak ada upacara dalam praktek keagamaan Hindu etnis Jawa yang sangat eksklusif, dalam arti sangat pribadi hanya melibatkan orang Hindu saja, karena ternyata tetangga sekitar juga dilibatkan meski mereka non Hindu.

Saat ada upacara di Pura penulis pun selalu memakai pakaian khas Jawa, dan justru itu mendapat acungan jempol dari banyak orang, bahwa sebagai orang Hindu etnis Jawa memang hendaknya menampilkan Jawanya. Karena itulah penulis mengajak kepada umat Hindu etnis Jawa di manapun berada, mari kita tampilkan tradisi Jawa kita dalam berbagai praktek keagamaan. Jangan minder, siapa lagi yang akan nguri-nguri (melestarikan) budaya Jawa kalau bukan kita umat Hindu etnis Jawa. Jadilah orang Hindu etnis Jawa yang njawani (mengerti, memahami).

Itulah penerapan Dharma Sidhiyartha (Panca Tarka) oleh umat Hindu etnis Jawa.

Oleh: Agus Widodo, adalah Penyuluh Agama Hindu Kota Bogor
Source: Media Hindu, Edisi 120