Politisi Hendaknya Menguasai Empat Ilmu

Traividyebhyastrayim vidyam
Dandaniti ca sasvatim
Anviksikim ca Atmavidyam
Varttarambhascal oka
(Manawa Dharmasastra VII.43)

Artinya: Dari Tri Veda atau tiga ilmu pengetahuan suci (Rg, Sama, dan Yajurveda) seorang Raja akan memperoleh ilmu politik (Dandaniti), ilmu dialektika (Anviksaki), Ilmu Jiwa (Atma Vidya) dan ilmu ekonomi (Wartta).

Menjadi seorang politisi tidaklah sekedar mengejar jabatan politik dengan berbekal segepok uang, merekayasa jaringan sosial dan punya tim sukses, karena swadharma politisi identik dengan swadharma Ksatriya Varna atau Raaja. Karena raaja tugas utamanya mengupayakan kebahagiaan orang banyak atau publik dengan tulus sesuai dengan swadharma politisi menurut ajaran Weda. Seseorang baru dapat disebut Ksatriya atau Raaja apabila dia sudah punya pengalaman hidup untuk mengupayakan kebahagiaan masyarakat umum atau mengurus kepentingan publik mendapatkan rasa aman damai dan sejahtera atau sudah menjadi Rajintah. Bukan bagaikan raaja yang sehari-harinya mengumbar hawa nafsunya saja.

Bidang politik bukan peluang untuk mengais rejeki untuk memperkaya diri menggunakan jabatan politik. Substansi politik memang hegemoni dan dominasi dalam artian yang positif. Karena hakekat hegemoni dan dominasi adalah untuk mengabdi pada masyarakat luas. Mempengaruhi atau menghegemoni masyarakat untuk diajak bersama-sama meningkatkan kwalitas dan kwantitas hidupnya. Sedangkan mendominasi artinya mendapatkan kedaulatan dan kewenangan untuk mengurus kepentingan masyarakat umum untuk mewujudkan kehidupan yang aman damai (Raksanam) dan sejahtera (Daanaam). Artinya hakekat kekuasaan untuk mengabdi pada yang dikuasai dan yang dipengaruhi. Mempengaruhi masyarakat agar berbhakti pada Tuhan, taat akan ajaran Agama yang dianutnya agar hidup untuk saling tolong menolong, mengembangkan kemitraan sejati berdasarkan kasih sayang, patuh pada hokum yang berlaku, memelihara kelestarian alam.

Itulah sesungguhnya substansi hegemoni politik. Kekuasaan juga sebagai kesempatan untuk mengabdi pada kepentingan publik dalam wujud pelayanan yang adil. Memang faktanya masih banyak politisi yang mengejar jabatan untuk mendapatkan fasilitas hidup mewah dengan menggunakan uang rakyat. Terjun ke dunia plitik praktis hanya mengejar kehormatan dengan fasilitas mewah menggunakan uang publik adalah dosa. Para politisi sejati tidak akan terjebak oleh kenyataan itu. Untuk menjadi politisi sejati menurut Manawa Dharmasastra VII.43 yang dikutip di atas seyogianya menguasai empat jenis ilmu yang disarikan dari kitab suci sabda Tuhan. Tanpa berbekal empat ilmu tersebut seorang politisi akan bergerak hanya berbekal semangat emosi semata. Politisi yang demikianlah akan menjebak negara menjadi kacau balau. Empat ilmu tersebut adalah sbb:

Danda Niti, yaitu Ilmu Politik atau juga Ilmu Pemerintahan. Kata Danda dalam bahasa Sansekerta berarti tongkat dan Niti dalam bahasa Sansekerta berarti kemudi, pimpinan, politik da sosial etik, pertimbangan, dan kebijakan. Dengan demikian Danda Niti adalah ilmu yang menyangkut berbagai aspek dalam kehidupan bersama dalam suatu negara. Dalam Niti Sastra atau ilmu bangun masyarakat sejahtera Danda Niti ini bagian dari Catur Vidya atau empat ilmu bangun masyarakat sejahtera. Danda Niti ini umumnya menyangkut kepemimpinan, hukum dan menagemen sosial. Danda Niti itu menyangkut kemampuan menata kebersamaan yang setara, bersaudara dan merdeka mengembangkan profesi dan fungsi sehingga tercipta kebersamaan yang dinamis produktif, baik menyangkut nilai-nilai material maupun nilai spiritual secara seimbang terpadu dan continue.

Empat Ilmu tersebut adalah: Anviksaki, yaitu Ilmu Dialektika. Kata Anviksaki berasal dari bahasa Sansekerta dari kata Anu dan Iksa. Anu artinya sekitar atau sekeliling dan Iksa artinya melihat atau memandang. Umumnya Anviksaki dipahami sebagai ilmu ideology pembangunan. Artinya menyusun cita-cita, konsep dan program pembangunan harus didahului dengan memandang keberadaan di sekitar. Dari data di sekitar itulah disusun konsep dan program pembangunan tersebut. Dengan demikian program yang disusun menjadi realitis mengatasi berbagai persoalan yang ada. Anviksaki menghindari program yang menghayal yang muluk-muluk, tetapi tidak realistis dapat mengatasi persoalan. Dalam Nitisastra ilmu Anviksaki itu terdiri dari tiga hal yaitu: Samkhya, Yoga, dan Lokayata. Artinya merumuskan cita-cita pembangunan harus melihat dunia ini pada kenyataannya serba dualis. Ada baik buruk, benar salah, suka duka, sukses gagal. Inilah yang disebut Samkhya. Meskipun dunia serba dualis tetapi idealism menusia menuju persatuan yang total atau yoga. Menuju persatuan yang total itu dari dunia atau Lokayata. Itulah tuntunan berpikir dalam menentukan ideology pembangunan.

Atma Widya, yaitu Ilmu Jiwa. Politisi harus paham juga tentang ilmu jiwa minimal ilmu jiwa sosial terutama yang menyangkut tipologi sosial dan tipologi individual. Dengan demikian politisi akan lebih muda berkomunikasi dengan masyarakat luas, tidak kaku atau sebaliknya tidak mudah hanyut dengan emosi social atau orang yang pintar mempermainkan politisi.

Waartta, yaitu ilmu mata pencaharian. Kata Waartta dalam bahasa Sansekerta berarti kesejahteraan, kesehatan, benar, bagus, dan berharga. Dalam Ilmu Nitisastra, Waartta itu salah satu dari Catur Widya yang digolongkan ilmu ekonomi khususnya ilmu untuk mengupayakan lapangan kerja bagi masyarakat.

Menurut Bhagawad Gita XVIII.44 menyatakan Krsi, Goraksya, dan Vanijyam atau pertanian, perternakan dan perdagangan sebagai basis dalam mengembangkan lapangan kerja untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi yang adil. Politisi wajib memahami ilmu ini dalam menetapkan kebijakan publik.

Oleh: I Ketut Wiana
Source: Majalah Hindu Raditya, Edsisi 240, Juli 2017