Politik Ni Dyah Tantri

Mendengar nama Ni Dyah Tantri, pikiran langsung melayang. Layangan pikiran itu seakan terombang-ambing ke segala arah oleh desiran angin kisahnya yang menembus berbagai belahan bumi dan temporalitas. Sekat-sekat zaman seolah lebur ketika nama Tantri disebut. Kisahnya disadur, digubah atau ditransformasi, dan dijadikan objek kajian teks, bahkan dipuja dalam wujud relief-relief pada candi-candi pemujaan.

Kisah Ni Dyah Tantri, walau mengandung nuansa erotis, namun tidak sevulgar karya-karya Marques de Sade atau cerpen karya Putu Wijaya yang berjudul Zina. Pun tidak sekontroversial “Joged Porno” yang belakangan dijadikan bulan-bulanan oleh para 'polisi' moralitas yang selalu berniat melembagakan tubuh, walau telah sempat menikmatinya tanpa berkedip. Erotisme dalam kisah Tantri dibalut metafora sehingga menjadi estetis. Oleh karena itu, kisahnya multitafsir, membiarkan imajinasi pembaca menjadi liar bagai binatang-binatang yang dipilih sebagai karakter di dalamnya.

Menurut penelusuran Hooykaas (1929), Fang (1993), dan Suarka (2007) kisahnya berasal dari karya Sanskerta yang disebut ‘Pancatantra' yang berarti lima ajaran. Lima ajaran dimaksud adalah Mitrabheda ‘perbedaan teman’, Mitraprapti ‘datangnya teman’, Kakolukiya ‘peperangan dan perdamaian’, Labdhanasa ‘kehilangan keberuntungan’, dan Apariksitakaritwa ‘tindakan tergesa-gesa’. Dengan demikian, secara paleonimi, dapat dikatakan bahwa ‘tantri’ berasal dari kata 'tantra' yang berarti ajaran. ‘Tantra’ secara harfiah berarti perkakas tenun; bagian terpenting, fitur karakteristik, model, tipe, sistem, dan kerangka. Istilah ini juga berarti doktrin, aturan, teori, dan karya ilmiah.

Sayang, teks asli Pancatantra dikatakan hilang. Teks yang terdekat, yang dikatakan berasal dari abad ke-3 Masehi, adalah Tantrakhyayika yang memuat kelima ajaran tadi. Di Arab Tantrakhyayika disebut Kalilah wa Dimnah, di Cina berjudul Tantrai atau Tantai, di Persia menjadi Tuti Nameh. Pancatantra versi Arab kemudian disadur di berbagai negara-negara di Asia dan Eropa. Kemudian, pada abad ke-12-15 di Jawa, Pancatantra disadur menjadi Tantricarita atau lebih dikenal dengan Tantri Kamandaka. Dalam bahasa Melayu, kisah Tantri disadur menjadi Plikayat Kalilah dan Daminah atau Plikayat Seribu Satu Malam, dan Hikayat Pancatandran, di Perancis menjadi Jean de la Fontaine. Belakangan juga diketahui telah disadur oleh banyak Sulinggih di Bali ke berbagai genre sastra tradisional. Tantra dalam balut sastra rupanya sangat diminati banyak kalangan sampai hari ini.

Kisah Tantri ini ternyata disejajarkan dengan Mahabharata dan Ramayana karena nilai moral dan penyebarannya. Namun, berbeda dengan Mahabharata dan Ramayana yang mengisahkan kepahlawanan para pangeran kerajaan, kisah Tantri justru banyak tentang binatang-binatang (Kamandaka) atau lebih dikenal dengan fabel. Alurnya organik-peniadaan satu unsur dapat menimbulkan ketidak utuhan cerita sekaligus longgar atau dapat dipecah-pecah menjadi cerita-cerita terpisah. Ceritanya berlapis-lapis sehingga marnpu menginsepsi kesadaran menuju alam bawah sadar seperti film yang dibintangi Leonardo di Caprio.

Perkenalan atau pendahuluannya berkisah tentang Raja Aeswaryadala yang rakus seksualitas. Kisah awal ini dapat disandingkan dengan kisah-kisah mengenai raja-raja kuno yang beristri banyak salah satu penciri kekuasaan adalah memiliki banyak istri atau selir. Masalah dimulai ketika hanya tersisa satu orang gadis bernama Ni Dyah Tantri, yaitu anak perempuan satu-satunya dari Patih Bandeswara, orang kepercayaan yang ditugaskan untuk selalu menyediakan seorang gadis setiap malam. Bukannya menolak, Tantri justru dengan berani mengajukan dirinya sebagai solusi kegalauan ayahnya. Singkat cerita, Tantri pun berakhir di peraduan Aeswaryadala. Akan tetapi, tidak seperti gadis-gadis sebelumnya yang pasrah dengan tubuhnya, Tantri justru bercerita, mendongeng tentang kehidupan di hutan belantara.

Latar awal istana dalam cerita Ni Dyah Tantri dilebur menjadi hutan belantara; erotisme diruwat menjadi kisah binatang. Bagaimana menghubungkan istana dengan hutan belantara? Bagaimana seorang raja yang absolut disejajarkan dengan binatang? Inilah perpaduan politik (niti) dengan sastra (lihat Suarka, 2007:78), politik sastra. Ni Dyah Tantri telah berhasil mengganti tubuhnya dengan sastra; ia mengganti setiap organ tubuhnya dengan aksara. Kegadisan Tantri menjadi teks, begitu pun nafsu seksual raja dikonversi menjadi emosi imajinatif.

Pada akhirnya, Ni Dyah Tantri meninabobokkan anak kecil bernama hasrat seksual. Tidak menampik, seksualitas adalah hasrat purba manusia setelah insting bertahan hidup. Tak pelak, para leluhur Hindu lebih memilih untuk memuja hasrat itu dalam bentuk Lingga-Yoni dan menyebutnya dengan Purusha-Predana, daripada mengumbarnya sembarangan. Leluhur Bali mentransmutasikannya secara lebih estetis, menjadi patung-patung raksasa atau kera dengan ‘alat kelamin super besar’, menjadi Calonarang. Belakangan bangunan Padmasana dengan Badawangnala di bawahnya juga diduga terinsipirasi dari Lingga-Yoni.

Kesadaran Raja Aeswaryadala dibalik dengan amuter tutur pinahayu. Nafsu sang raja (rajas) dimetaforakan sebagai binatang (satwa). Dengan begitu, terjadi pembandingan dalam pikiran sang raja, sampai akhirnya terjadi penyamaan dan pengkontrasan eksistensial antara dirinya dengan binatang seperti lembu, singa, serigala, kura-kura, burung, kambing, dlsb. dengan strategi metaforik. Analoginya seperti seorang laki-laki ketika dikatai oleh seorang perempuan, “dasar laki-laki!”, atau seorang anak kecil secara terus menerus dikatai atau dibully dengan menyebutnya “anak kecil!” ada perasaan bimbang antara menolak dan menyetujui secara simultan.

Ada kebimbangan eksistensial. Kebenaran absolut sang raja yang dilampiaskan dengan seksualitas perlahan digoyahkan sampai akhirnya menyetujui. Ia mengalami historisitas cerita-cerita yang disuguhkan Tantri. Ni Dyah Tantri telah mengetuk kesadaran Raja Aeswaryadala. Sama halnya dengan ketika Sri Krsna mengajarkan Samkhya kepada Arjuna di medan Kurusetra, seperti Siwa juga mengajarkannya kepada Parwati dalam Siwa Purana. Tantri membangkitkan kecerdasan diskriminatif (wiweka) Aeswaryadala. Sehingga, hasrat seksual bergelora disublimasi menjadi emosi lalu menyembul menjadi cinta kasih.

Di akhir kisah, Tantri disunting menjadi permaisuri Raja Aeswaryadala. Ia telah membongkar aksioma sang raja mengenai perempuan, dari ‘pemuas nafsu’, ‘tak berdaya; lemah’, atau ‘objek seksualitas’ menjadi ‘ratu’, ‘pujaan’, ‘kekasih; sakti 'kekuatan’, ataupun ‘subjek seksualitas’. Ia bahkan meleburkan dikotomi subjek-objek menjadi intersubjektivitas, Ardanareswari. Strategi politik Ni Dyah Tantri adalah prayascita. Inilah politik sastra (teks), politik tantra, politik tubuh, yang sedikit berbeda dengan ‘politik tubuh’ menurut Foucault. Tantri mengubah jiwa totaliter Aeswaryadala menjadi demokrasi. Kekotoran telah disucikan dengan sastra. (Rahayu)

Source: Sindhu Gitananda
Source: Majalah Wartam, Edisi 34, Desember 2017