Pohon Sami, Rambut Dewa Brahman

(Sebelumnya)

4. Pohon Shami

Nama Latin: Prosopis Spicigera

Nama Inggri :-

Nama India :

- Hindi : Shami, Sami, Jand, Khejra
- Kanada : Jambi
- Malayalam : Parampu
- Marathi : Shemri
- Punjabi : Jand
- Sanskrit : Shami
- Tamil : Perumbay
- Telugu : Jammi

Rumpun : Leguminosae

Prosopis dalam bahasa Yunani beram tidak jelas. Spicigera diambil aan nama Adrian Von der Spigel seorang dokter pada abad keenambelas, Bahasa Sansekerta Shami artinya (buah) polong. Weda memberkati pohon Shami dengan sifat yang mengandung api. Sebuah legenda dalam Reg Weda menceriterakan bahwa Pururavas, leluhur raja-raja dari ras Bulan, termasuk Kurawa dan Pandawa, membuat api yang mula-mula dari zaman purba dengan menggosokkan dua buah cabang pohon yaitu Shami dan Ashvatta (Ficus Religiosa) bersama-sama.

Pohon Shami menjadi pilihan dalam cerita ini karena diceritakan bahwa Sang Rama diharuskan memuja pohon ini sebelum ia berangkat bersama tentaranya untuk mencari Dewi Sita. Di daerah Rajputs, pemimpinnya atau Raja membuat upacara untuk memuja pohon ini pada hari kesepuluh upacara Dashehra dan membebaskan seekor Jay, yaitu burung suci kepunyaan Sang Rama. Di Deccan, suku Maratha membidikkan panah-panah ke arah pohon Shami pada hari yang sama dan meletakkan daun-daun yang jatuh pada ikat kepala mereka.

Pohon ini dianggap sebagai salah satu tempat kediaman Dewa Siwa. Salah satu dari nama Dewa Siwa adalah Shamiroha atau Yang menaiki pohon Shami. Suku Bharvads di Gujarat melangsungkan pernikahan mereka dengan mempertunjukkan dahan-dahan yang dimbil dari pohon ini, karena mereka percaya bahwa pohon itu menjadi rumah setan Mamo yang menakutkan atau paman dari pihak ibu. Di Punjabi ketika pengantin pria pergi mejemput pengantin wanitanya, ia memotong sebuah ranting pohon Shami. Maksudnya adalah untuk menakut-nakuti roh-roh jahat yang berada dipohon itu yang disebut orang-orang sebagai pengganggu dalam upacara pernikahan.

Bagaimana Menikah Untuk Keempat Kalinya (Matsya Purana).

Dari Matsya Purana muncul upacara pernikahan dengan pohon Shami. Sang Brahman pada zaman kuno mengijinkan untuk menikah dua kali bila seorang laki-laki tidak memiliki anak laki-laki. Namun dipercaya bahwa pernikahan yang ketiga kalinya akan mengakibatkan laki-laki itu cepat mati. Maka, apabila laki-laki itu tetap tidak memiliki ahli waris, ia dinikahkan dengan pohon Shami. Jalannya upacara adalah demikian: pada hari Sabtu dan Minggu pohon Shami diupacarai sebagai perwujudan Matahari yang bersatu dengan istrinya Chhaya. Gula kasar dan beias yang direbus dipersembahkan kepada pohon itu. Laki-laki itu meletakkan tangannya pada batang pohon dan berkata, "Oh Shami, yng diciptakan oleh Dewa Brahma yang Maha Pelindung, Wahai Sang Dewi yang murah hati, hamba menyerahkan diri kepadamu. Dengan penuh belas kasihan lindungilah aku, sekarang Engkau datang untuk menjadi istri hamba. Engkau diciptakan oleh Dewa Brahma untuk kepentingan seluruh mahluk hidup. Engkau adalah yang pertama kali dilahirkan yang menambah cinta kasih para Dewa kapada kami. Jauhkanlah hamba dari malapetaka pada pernikahan untuk ketigakalinya"

Dan pendeta menjawab, "Aku akan memberikan kepadamu serupa satu suku bangsa, putriku Arkakanya, cucu dari Saila, buyut dari Aditya, dari Suku Kashyapa". Setelah dadih, madu dan manisan disuguhkan. Sebuah tudung pengantin digantungkan pada pengantin pria dan pohon Shami tersebut, pernikahan telah berlangsung. Sang Suami yang baru saja dinikahkan mengalungi pohon itu dengan kalungan bunga dan pendeta memberkati mereka berdua. Sehelai benang dilingkarkan ke sekeliling sepasang pengantin pria dan batang pohon Shami itu. Api suci dinyalakan, Dewa Wisnu dipuja dan kemudian dua ekor sapi dipersembahkan kepada Sang Pendeta. Setelah upacara tersebut, laki-laki itu bebas menikah untuk keempat kalinya!.

Bagaimana Senjata Pandawa Diselamatkan (Mahabharata)

Sang Pandawa telah kehilangan segalanya atas Kurawa dalam sebuah permainan dadu antara Yudistira dengan Duryodana. Perjanjian selanjutnya adalah bahwa Duryodhana akan mengembalikan kerajaan Pandawa jika mereka tinggal di hutan selama duabelas tahun dan dalam penyamaran selama setahun selanjutnya. Jika mereka dapat dikenali dalam tahun terakhir tersebut, mereka harus mengulang pengasingan itu lagi. Setelah dua belas tahun di dalam hutan, kelima Pandawa pergi ke Kerajaan Wirata dan memutuskan untuk menyamar dan hidup dalam istana Raja Wirata. Sebelum mereka menyamar, mereka membawa senjata-senjata yang diberikan oleh para Dewa, dan menggantungkannya pada sebuah pohon Shami. Mereka menemukan sebuah jenasah di dekat pohon itu dan menggantungkan pula pada cabang-cabang pohon itu sambil berkata, "Ini adalah jenazah ibu kami. Ini harus tetap disini selama satu tahun untuk kemudian kami akan menurunkan dan membakarnya". Lalu, tentu saja tak ada seorangpun yang berani menyentuh senjata-senjata itu. Ketika mereka kembali setahun kemudian, masih tidak dapat dikenali, mereka menemukan senjata itu aman pada cabang-cabang pohon Shami. Sebelum menurunkannya, mereka memuja pohon itu untuk berterimakasih karena telah menjaga senjata-senjata mereka. Ketika Sang Pandawa memenangkan perang di Kurukshetra, pemujaan pohon Shami pada perayaan Dashehra menjadi sebuah tradisi yang diikuti sampai hari ini.

Pohon Shami adalah pohon yang berukuran sedang, menghijau sepanjang masa dengan puncak yang jarang. Batangnya jarang mempunyai bagian-bagian yang lurus. Cabang-cabangnya diliputi dengan duri-duri yang berbentuk kerucut. Tiap daun terbagi menjadi daun-daun muda kecil yang berwarna gelap. Bunga-bunganya yang berkelopak lima helai berukuran kecil dan berwarna kuning. Buah polongnya panjang, sedikit, dan mengkerut pada jangka waktu tertentu. Mereka dipenuhi dengan daging buah yang kering dan manis dan biji-biji. Pohon ini sangat berguna untuk dijadikan makanan ternak yang dikeringkan. (Selanjutnya)

 

Source: Tterj. Diani Putri l Warta Hindu Dharma NO. 434 April 2003