Pohon Beri (Bidara), Rambut Dewa Brahma

(Sebelumnya)

9. POHON BERI (BIDARA)

Nama Latin : Zizyphus Jujube

Nama Inggris : Chinese Date, Chinese Fig, Jujube Tree

Nama India :

- Bengali : Kul
- Hindi : Ber
- Marathi : Bor
- Malayalam : Ilantai
- Sanskrit : Badara, Badari
- Telugu : Reegu
- Tamil : Elandai

Rumpun : Ramnaceae

Zizyphus berasal dari bahasa Arab 'Zizouf' yang artinya teratai berbiji. Zyzyphus adalah bahasa Yunani untuk 'Jujube' atau buah plum yang dapat dimakan langsung. Zizyphus adalah bahasa latin yang memiliki arti yang sama.

Sebuah hutan pohon Badari terdapat di kaki Gunung Himalaya dipilin sebagai tempat pertapaan oleh dua orang suci yang agung, Nara dan Narayana, yang terakhir adalah penjelmaan dari Dewa Wisnu. Situsnya yaitu Badrinath, adalah sebuah pusat ziarah yang disucikan oleh umat Hindu.

Pohon Beri adalah sebuah bagian dari ceritera rakyat di India Utara, khu-susunya di daerah Punjabi. Dianggap bahwa tidak baik menanam pohon ini di dalam rumah karena diperkirakan dapat membuat penghuninya berselisih. Suku Dukhban jani atau suku "Kesedihan" memindahkan pohon yang ada pada Kuil Emas di Amritsar yang dipuja
oleh Suku Sikh.

Rupanya penanaman pohon ini secara resmi berawal ketika seorang kontraktor Islam memenangkan Inam atau hadiah kerajaan ketika ia mempersembahkan buah dari sebuah varietas persilangan pohon tersebut kepada Raja Raghoji Bhonsale II di Ahmadnagar.

Mengapa Pohon Beri Tidak Mudah Mati
(Ramayana)

Sita telah hilang dari hutan tersebut. Rama dan Lakshmana cemas mencarinya tetapi mereka tidak tahu arah mana yang harus dipilih. Ketika sedang mencari, mereka mendengar suara pohon Beri kecil yang lemah memanggil mereka.

"Rama, Tuanku, Saya telah melihat Dewi Sita dibawa pergi. Ia melewatiku dan aku menangkap kainnya. Dengan sekuat tenaga aku menghentikannya, namun cabang-cabangku amat lemah. Lihatlah, aku hanya berhasil merobek pakaiannya dan sehelai kain dari bajunya tersangkut pada duri-duriku." Pohon itu terkulai malu.

Namun Sri Rama merasa terhibur dan memberkati pohon itu atas keberaniannya. "Pohon Beri, atas perbuatanmu ini, Engkau akan mencapai keabadian. Meskipun ketika engkau ditebang sampai ke akar oleh manusia, tetapi sebuah akarmu yang masih tersisa di tanah akan menghidupkanmu kembali."

Shabari dan Buah yang Setengah Termakan
Malini adalah putri dari Raja Gandharva Chittravacha. Karena keti-daksetiaannya pada Sang Suami, Vitihotra, ia dikutuk terlahir pada sebuah suku penghuni hutan. Malini menangis tersedu-sedu dan suaminya-pun agak berbelas kasihan. "Dewa Wisnu sebagai Sri Rama, akan melenyapkan kutukanmu" kata Vitihotra. Malini terlahir kembali sebagai Shabari didekat hutan pertapaan Pendeta Matanga. Ia melayani para pemuja Dewa Wisnu dan menghabiskan hari-harinya menunggu kedatangan Sang Rama.

Ketika sedang berburu untuk tua. Rama dan Lakshmana melewati kediaman Shabari yang sederhana itu. Shabari sangat gembira atas kehormatan ini dan bergegas ke dalam pondoknya untuk mencari sesuatu yang dapat dipersembahkan kepada tamu-tamu kerajaan itu. Namun ia tidak memiliki apapun kecuali beberapa buah Beri dari sebuah pohon yang tumbuh di dekat pondoknya.

Shabari ingin memastikan bahwa Sri Rama memakan buah-buah yang rasanya manis. Maka ia menggigit tiap buah, dan bila terasa manis, .ia memberikannya kepada salah seorang dari dua bersaudara itu. Yang terasa asam dibuangnya. Rama memakan tiap buah yang diberikan kepadanya karena ia melihat cinta dan penghormatan yang telah membuat wanita bodoh dan lugu ini mencicipi buah-buah itu. Tetapi Lakshmana yang sangat memilih ini membuang buah-buah yang telah digigit itu. Dikatakan bahwa tanaman pemberi kehidupan, Sanjiwangi, tumbuh dari buah yang ia buang dan dikemudian hari, ketika ia sekarat, tanaman inilah yang menyelamatkan hidupnya.

Selanjutnya setelah Sri Rama memberkati Shabari atas perhatiannya, ia berubah kembali menjadi Malini, seorang Gandharwa wanita. Tiba-tiba, suaminya juga tampak disampingnya. Setelah memberi hormat kepada Sri Rama, Vitihotra membawa istrinya pergi ke Negeri Gandharva di langit.

Penghilang Kesedihan
(Legenda dari Punjab)

Duli Chand, seorang terkemuka di Kota Path, memiliki empat orang putri yang sudah menikah dan seorang yang belum menikah. Bertahun-tahun ia dan istrinya berdoa memohon seorang anak laki-laki dan telah menjadi sakit hati karena Tuhan tidak memberikan mereka seorang anak laki-laki.

Suatu hari kelima saudari pergi berwisata, dan mereka melihat beberapa Sadhu sedang menyayikan lagu-lagu Puja. Saudari yang bungsu sangat tersentuh sehingga ia melepaskan perhiasannya untuk diberikan kepada para Sadhu tersebut. Sesampainya di rumah, Duli Chand melihat tangan dan leher putri bungsunya tanpa perhiasan dan telah diberitahu bahwa ia telah memberikannya kepada para pelayan Tuhan. Dengan penuh   amarah, Sang Ayah memanggil kelima putrinya dan bertanya, "Siapa yang menyayangi dan melindungi kalian? Siapa yang memberi kalian makanan, pakaian dan perhiasan?" Keempat saudari menjawab dengan cepat, "Engkau," Ayah." Tetapi Si Bungsu menengadah ke langit dan berkata, "Tuhanlah Pelindungku."

Kemarahan Duli Chand semakin menjadi-jadi. Ia menemukan seorang cacat penderita penyakit kusta dan menikahkan anaknya yang bungsu, Bibi Rajani, dengan orang cacat itu. "Aku akan melihat bagaimana Tuhan melindungimu sekarang." katanya dan kemudian mengusir pasangan itu keluar dari rumahnya.

Bibi Rajani berjalan dari satu desa ke desa lain meminta-minta makanan bagi suami dan dirinya sendiri. Ia membawa suaminya ke setiap kuil di pertapaan. Ketika dalam perjalanan, mereka sampai di Amritsar. Bibi Rajani membiarkan suaminya beristirahat di bawah pohon Beri di tepi sebuah mata air dan kemudian pergi meminta-minta untuk makanan hari itu. Penderita kusta itu duduk dibawah pohon dan memandangi kolam mata air itu. Ia melihat keajaiban burung-burung Gagak yang berwarna hitam pekat menyelam kedalam air untuk mendinginkan badan dan setelah keluar warnanya berubah menjadi putih berkilauan. Ia menarik dirinya ke pinggir kolam dan dengan ketakutan mencelupkan tubuhnya. Dengan jari kelingkingnya, ia berpegangan pada cabang pohon Beri itu. Ia sembuh seketika, kemudian keluar dari kolam dengan tubuh yang utuh.

Ketika istrinya kembali, ia tidak mengenali suaminya. Ia menolak untuk mempercayai bahwa orang asing berbadan sehat yang berdiri dihadapannya adalah seorang penderita kusta yang telah disembuhkan oleh air ajaib. Keduanya lalu pergi menemui Guru Ramdass dari Suku Sikh. Guru Ramdass membawa mereka kembali ke kolam. Disana ia menunjukkan kepada Bibi Rajani jari kelingking suaminya ketika sakit lepra yang tertinggal pada cabang pohon Beri. Kemudian ia mencelupkan jari itu ke kolam dan itu juga kembali utuh.

Sebuah tangki telah dibangun di sekitar kolam itu dan sampai sekarang terkenal dengan keajaibannya dalam penyembuhan. Pohon Beri yang terdapat di tepinya disebut Dukhbanjani Beri.

Pohon Beri adalah pohon yang berukuran kecil sampai sedang, yang tetap hijau sepanjang musim dengan cabangj cabang yang tipis seperti tanaman merambat berliku-liku dan tidak rata. Kulit kayunya pecah-pecah, tebal, berwarna abu-abu tua. Cabang-cabangnya menjuntai kebawah dan memiliki duri-duri- tajam yang tumbuh berpasangan pada pangkal tangkai-tangkai daunnya. Daunnya kecil-kecil dan berjauhan satu sama lain. Bentuknya bulat telur berwarna hijau tua pada permukaannya dan pada bagian bawahnya diliputi bulu-bulu putih yang lembut. Bunganya mungil dan berbentuk seperti bintang, terangkai berwarna kuning pucat kehijauan. Buahnya kira-kira berbentuk seperti telur, beraneka dari jenis buah-buah yang kecil berwarna merah sampai yang lebih panjang dan berwarna kuning kehijauan. Kulitnya keras, tipis, dan tiap buah Beri memiliki sebuah biji.

Pohon Beri adalah sebuah pohon yang dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak dan bahan bakar yang sempurna. Dengan kekuatannya ia dapat bertahan kering dan beku, pohon ini sangat cocok untuk daerah-daerah gundul. Buahnya yang kaya akan vitamin dapat dimakan langsung, dimasak ataupun dibuat jamu-jamuan. (Selanjutnya)

Source: Terj. Diani Putri l Warta Hindu Dharma NO. 439 September 2003