Pisang, Rambut Dewa Brahma

(Sebelumnya)

7. Pisang

Nama Latin: Musa paradisiaca, Musa sapientum

Nama Inggris: Banana, Blantin, Apple of Paradise

Nama India :

- Bengali : Kala
- Hindi : Kela, Kadali
- Karnada : Bala
- Malayalam : Vazha
- Sanskrit : Mocha
- Tamil : Vachi
- Telugu : Arati

Nama Musa dinamakan oleh Antonio Musa, tabib Kaisar Oktavianus (63 -14 BC). Paradisiaca berarti 'surga', yang mana diperkirakan menjadi penduduk surga yang pertama. Dikatakan bahwa pohon ini tumbuh subur didalam Taman Nden dan daunnya adalah pakaian yang pertama dari Adam dan Eva. Kata Mocha dalam bahasa Sansekerta berarti mengandung banyak air dan juga berarti pertama atau seseorang yang telah bebas dari nafsu-nafsu duniawi. Sapientum, anehnya, berarti bijaksana atau orang bijak. Kata dalam bahasa Hindi Kela artinya bergetar, gemetar. Nama Kadali artinya bendera atau panji-panji.

Ahli tumbuhan, Rumphuis, menulis bahwa pohon pisang berasal dari India timur, pertama kali tumbuh di tepi sungai Gangga, dan dari sana tumbuh di Persia, Syria, Arab, dan Mesir. Seni patung Buddha menampilkan daun pisang dan sejenis minuman bernama Mochapana disebutkan dalam kitab agama Buddha tentang aturan-aturan biara.

Menurut legenda, pohon pisang membuahi dirinya sendiri tanpa penyerbukan silang. Maka pohon tersebut dianggap sebagai perwujudan Dewi Parwati. Di India Timur, di panggung-panggung pernikahan terdapat batang-batang pohon pisang pada sudut-sudutnya. Di daerah Ghat barat, pohon pisang dipercaya sebagai Nanda Dewi. Perwujudannya diukir pada batang pisang dan pada Bulan Kartika dihanyutkan ke sungai. Dalam Kitab Mahabharata, Kadalivana atau kebun pisang di Sungai Kubera-pushkarni adalah kediaman Dewa Kera Hanuman.

Pohon Pisang dianggap kerama™ bagi sembilan perwujudan dari Dewi Hindu kali. Di daerah Benggala, upacara pernikahan dilaksanakan di bawah pohon pisang dan pemujaannya dilaksanakan pada bulan Srawana (Juli-Agustus). Ucapan dalam bahasa Bengali berbunyi demikian:

Kala lagiye na keto pat
Tatei kapad tatei bhat
(Janganlah merusak daun-daun pada tanaman Pisang, maka engkau akan mendapatkan makanan dan pakaianmu)

Sejak pohon tersebut ditebang setelah buahnya dipanen, hal tersebut menjadi sebuah cerita perumpamaan tentang pria jahat yang dihancurkan oleh buah kejahatannya sendiri.

Mengapa Pohon Pisang Berumur Pendek
(Sebuah legenda dari Suku Gadaba)

Mangga, Asam, Pisang Raja, Ara dan Plum hitam adalah lima penari wanita bersaudara yang memutuskan untuk menikah. Mereka berjalan dari satu desa ke desa lain mencari calon suami, namun tak seorangpun yang mau menikahi mereka. Dewa Ispur Mahaprabhu berpikir, "Jika aku membiarkan kelima saudari itu tidak menikah, itu akan menjadi sebuah dosa."

Maka ia pun bertanya kepada lima bersaudara itu tentang apa yang mereka inginkan. Empat dari mereka menjawab bersamaan. "Kami menginginkan suami, dan banyak anak." Tetapi Si Pisang Raja yang cantik berkata," Aku tidak ingin seorang suami pun. Mengenai anak, aku ingin tidak terlalu banyak, karena nanti aku akan kehilangan kecantikanku dan cepat menjadi tua".

Keempat saudari itu diberikan suami-suami. Pisang Raja hanya diberikan anak-anak. Dalam waktu singkat anak-anak dari keempat saudari itu menjadi sangat banyak, sebanyak rambut mereka. Para suami menjadi ketakutan terhadap keluarga yang jitu besar dan melarikan diri. Para ibu pun mencoba melarikan diri. Tetapi anak-anak menangkap mereka dan tidak membiarkan mereka pergi. Dalam keputusaasaan kelima saudara itu pun berdoa pada Mahaprabhu, "Tolonglah kami atau kami akan dihancurkan oleh anak-anak kami!"

Mahaprabhu mengubah mereka menjadi pohon-pohon. Rambut mereka menjadi ranting-rantingnya dan anak-anak menjadi buahnya. "Apa yang akan kamu lakukan dengan para suami?" tanya Mahaprabhu. "Siapapun yang memanjati dahan-dahan kami akan menjadi suami bagi kami", jawab keempat saudari itu. Maka banyak laki-laki yang menjadi suami bagi pohon-pohon ini. Tetapi Pisang Raja menolak adanya suami dan karena banyak pria yang menjaga pohon itu, ia tetap muda dengan kasih sayang mereka. Pisang Raja hanya memiliki sedikit anak dan menjadi dewasa dalam satu tahun.

Cerita tentang Kadaligarbha
(Kathasaritsagara)

Didekat Kota Ikshumawati terdapat hutan yang sangat luas. Didalamnya hidup seorang pertapa berahama Mankanaka. Ia jatuh cinta kepada seorang bidadari yang bernama Menaka. Paginya terlahir seorang putri yang cantik jelita. Dan karena ia dilahirkan di dalam pohon Pisang Raja, dia dinamai Kadaligarbha, artinya dari rahim sebuah pohon Pisang Raja. Ia hidup bersama orang suci itu di tengah hutan.

Suatu hari Raja dari Kerajaan Madhyadesha, Dhridhavarman, melewati pertapaan itu. Ia melihat Kadaligarbha dan terpesona oleh kecantikannya. Ia membungkuk dihadapan ayah Kadaligarbha dan memohon untuk melamar Sang Putri.

Seluruh bidadari datang bagi pernikahan putri Sang Menaka. Sebelum Kadaligarbha pergi bersama suaminya, bidadari-bidadari itu memberikan beberapa biji apel kepadanya sambil berkata, "Sebarkan ini disepanjang perjalanan menuju kota. Jika suamimu menghinamu, dan kamu ingin kembali, Kamu akan dapat mengenali jalan itu dengan tanda ini. "Kadaligarbha menaburkan biji-biji itu sepanjang perjalanan ke istana barunya.

Dhridhavarman sangat mencintai pengantin barunya dan menghabiskan seluruh waktu bersamanya. Para istri yang lain menjadi cemburu. Sang Permaisuri memerintahkan pelayannya untuk memanggil beberapa wanita yang mengetahui ilmu sihir. "Singkirkan Kadaligarbha", bisiknya, "Dan aku akan membelikanmu upah yang sangat besar." Pertapa wanita itu menjawab dengan tenang, "Tentu saja, Ratu. Ilmuku tidak pernah gagal."

Tetapi ketika pendeta itu kembali ke rumah, ia berpikir tentang janji yang telah ia buat dengan terburu-buru itu. Kebenarannya adalah bahwa ia tidak tahu apapun tentang ilmu sihir. Dengan ketakutan ia pergi menemui temannya Si Tukang Cukur. Si Tukang Cukur yang tua dan licik berpikir bahwa ini akan menjadi cara yang baik baginya untuk menjadi kaya raya seumur hidup. "Tetapi kita tidak harus membunuhnya" Ia berunding dengan Si Dukun. "Ayahnya adalah seorang pendeta dan ia akan segera mengetahuinya. Kita harus menyembunyikan Kadaligarbha. Kemudian kita harus meyakinkan Ratu dan memperoleh kekayaan. Dan pada waktunya, kita dapat mengembalikannya kepada Raja sehingga beliau juga akan berterima kasih dan memberikan kita harta yang lebih banyak lagi."

Si Tukang Cukur menyuruh pertapa itu pergi untuk memberitahu Sang Ratu agar memerintahkan seorang pelayan tua untuk membisiki Sang Raja setiap hari bahwa istrinya Kadaligarbha adalah seorang tukang sihir. Karena merasa ketakutan, suatu malam pelayan itu diperintahkan untuk menempatkan beberapa kaki tangannya di dalam bilik Kadaligarbha. Hal ini telah dilakukan. Raja telah meninggalkan Kadaligarbha dan Sang Putri itu pun meninggalkan istana.

Ia menemukan jalan kembali ke pertapaan ayahnya dengan mengikuti jejak benih-benih Apel yang telah disebarkannya. Mankanaka terkejut melihat putrinya. Dengan tersedu-sedu ia menceriterakan apa yang telah terjadi. Kemudian pendeta itu membawa putrinya kembali ke istana untuk menjelaskan segalanya kepada Raja.

Si Tukang Cukur telah membawa pergi karung-karung emas yang telah dihadiahkan Sang Ratu kepadanya. Kini ia mendengar bahwa Sang Pendeta Mankanaka telah datang ke istana. Dengan secepat kilat ia menghadap Raja. "Hamba datang untuk memberitahu Anda, Tuanku Penghasut itupun mulai membujuk dan menghianati Sang Ratu. Kadaligarbha dijemput kembali, sedang Sang Ratu diasingkan dari istana dan Si Tukang Cukur yang piawai itu diberikan hadiah untuk keduakalinya atas kejujurannya.

Meskipun biasanya disebut sebuah pohon, Pisang adalah benar-benar sebuah tumbuhan yang luar biasa, berdaun lebar, tetap menghijau, dan berumur pendek. Ia tumbuh dengan cepat dan berbuah dalam setahun. Yang disebut batang sebenarnya adalah batang semu sedangkan batang yang asli terdapat di dalam tanah. Daun-daunnya yang berwarna hijau tua sangat besar tetapi sangat lembut sehingga gampang robek oleh angin kencang dan badai. Tiap daun tumbul tergulung dengan rapat mengelilingi tulang daunnya dan kemudian perlahan-lahan membuka. Daun yang muncul kemudian berukuran lebih pendek, yang terakhir menjadi sangat pendek dan menggantung melindungi bunganya.

Buah Pisang, bentuknya seperti jari-jari yang panjang dan gemuk, pada rangkaian-rangkaian yang masing-masing terdiri dari dua puluh buah. Tiap pohon dapat menghasilkan beberapa sisir. Kulit buahnya tebal dan hijau ketika mentah, kemudian berubah menjadi kuning, dan bahkan berwarna merah muda pada beberapa varietas, sama seperti pada saat mentahnya. Buahnya tidak berbiji dan daging buahnya manis.

Buah Pisang mengandung zat besi, mineral, fosfor, dan vitamin. Buah ini adalah makanan yang memberikan energi terpenting dan biasanya merupakan makanan padat pertama yang diberikan kepada bayi karena mudah dicerna. Buah pisang yang belum matang digunakan untuk sayuran. Daunnya dapat dipakai sebagai piring. Tanaman pisang liar digunakan untuk memagari sawah agar menjaganya dari hama. (Selanjutnya)

Sorce: Terj. Diani Putri l Warta Hindu Dharma NO. 437 Juli 2003