Peteng Pitu

Kakawin Nitisastra mencatat adanya tujuh hal yang menjadi penyebab kemabukan yaitu : Surupa, Dhana, Guna, Kulina, Yowana, Sura dan Kasuran. Ketuju hal tersebut oleh masyarakat disebut sebagai peteng pitu, atau tujuh kegelapan. Dengan indah karya sastra ini menyuratkan : Lwirning mandadi madaning jana surupa dhana guna-kulina yowana/ lawan tang sura len kacuran agawe wereh i manahikang sarat kabeh/ yan wwanten sira sang dhanecwara surupa guna dhana kulina yowana/yan tan mada maharddhikeka pangaranya sira putusi sang pinandita//. Artinya : Hal-hal yang membikin mabuk seseorang ialah kecantikan atau ketampanan, kekayaan, kepandaian, kebangsawanan dan usia muda/ disamping itu juga minuman keras dan keberanian semuanya menyebabkan pikiran mabuk bagi manusia/ namun jika ada orang kaya, tampan atau cantik, pandai, keturunan bangsawan dan berusia muda / kalau tidak mabuk karena semua itu maka ia adalah seorang maharddhika, ia sungguh-sungguh seorang bijaksana tiada bandingannya //.

Jadi kemabukan tidak semata-mata diakibatkan oleh minuman keras. Sesungguhnya kemabukan yang sangat sulit dilawan adalah akibat dari kepandaian, kekayaan juga karena kebangsawanan. Karya sastra ini mengingatkan bila orang tidak mabuk karena semua itu, ialah yang sungguh-sungguh seorang bijaksana.

Peteng pitu juga disebut sebagai sapta timira, dan kemabukan juga disebut sebagai mada (lwir mandadi madaning jana). Mada adalah bagian dari Sad Ripu atau Sadwarga, enam musuh yang ada dalam diri manusia. Berkali-kali dalam karya sastra ditegaskan enam musuh itu benar-benar ada di dalam diri manusia tidak jauh dari badan. Kakawin Kunjarakarna menegaskan sebagai berikut: sang dhiramrih ayuddha ring rana tapabrata makalaga wirasadripu (seorang pahlawan bertempur dimedan perang tapabrata untuk mengalahkan enam musuhnya yang perwira).

Jadi peperangan didalam karya sastra sesungguhnya dimaksudkan adalah peperangan didalam medan tapabrata untuk mengalahkan musuh-musuh yang besar ganas dan berani. Mpu Sedah pun didalam karya sastranya kakawin Bharatayuddha menyatakan : sang suramrih ayajna ring semara mahyun hilanganikang parangmukha (bahwa seorang ksatria ingin berkorban didalam medan pertempuran untuk mengalahkan musuh-musuhnya). Musuh-musuh sang ksatria disini tentu Sadripu tersebut.

Sadripu menjadi ajaran kesusilaan yang sangat penting. Ajaran ini terkait dengan ajaran tapabrata. Oleh karena itu didalam Kakawin Kunjarakarna Mpu Dusun menyatakan: pitung wulan lawas ikang her tang peteng durgama (tujuh bulan lamanya ia tinggal didalam gelap gulita). Ucapan ini terangkai dengan ajaran "Kelepasan". Bahwa untuk mencapai "Kelepasan" orang harus melewati tahapan kegelapan tersebut.

Peteng pitu menjadi bagian dari renungan kita ketika kita merayakan hari suci Siwaratri yang kebetulan jatuh pada Pangelong Ping 14 Kapitu, sehari sebelum Tilem Kapitu. Ternyata Peteng Pitu terkait dengan pelaksanaan tapa brata, seperti halnya perayaan Siwaratri terkait dengan pelaksanaan brata Siwaratri.

Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 492 Desember 2007