Permata Bagi Pemimpin

Kakawin Ramayana karya sastra tertua, terunggul dan terbesar dam dalam jenisnya, yaitu jenis kekawin, memuat ajaran kepemimpinan yang patut kita dalam dewasa ini. Ajaran itulah yang membedakan kakawin Ramayan dengan karya-karya lain dengan judul Ramayana, termasuk  Ramayana Walmiki, Ramayana Bati yang menjadi sumbernya. Kakawin Ramayana memang telah menjadi karya sastra khas Indonesia, ditulis di Jawa Tengah pada jaman Dyah Balitung, yang menurut tradisi Bali penggubahnya adalah Mpu Yogiswara.

Ramayana memang sebuah karya yang ditulis oleh seorang pujangga masyur, yang diperuntukkan kepada para pemimpin dimasa silam. Kisahnya memang perjalanan seorang raja yang ingin menyelamatkan negeri, yang ingin membahagiakan rakyat seluruh negeri. Seorang raja yang setia pada ajaran yang diyakini, seorang raja yang dinyatakan tempat bersthananya delapan dewa di dalam dirinya. Maka Sri Rama, raja tersebut mengajarkan apa yang kemudian populer dengan sebutan Astha Brata : Ajaran Kepemimpinan yang mengikuti sifat-sifat atau karakter delapan dewa yaitu : Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kwera, Baruna dan Agni.

Indra mencurahkan hujan dan menyuburkan dunia, seperti itulah seorang raja sepatutnya senantiasa memberikan sedekah bagaikan turunnya hujan dari langit. Yama senantiasa menghukum orang yang melakukan kejahatan, maka seorang pemimpin harus menegakkan hukum, meng-hukum orang yang melakukan kejahatan. Surya senantiasa mengisap air dengan tekun, tanp terburu-buru, maka seorang pemimpin janganlah terburu nafsu untuk melaksanakan kehendaknya. Candra atau bulan senantiasa menjadikan manusia bergembira, lembut dan menarik, maka seorang pemimpin harus tampil manis menawan ibarat kehidupan. Bayu adalah Dewa Angin yang tidak tampak namun bergerak cepat, maka seorang pemimpin harus mampu dengan arif mengetahui semua kejadian di masyarakat dengan penuh rah asia. Kwera hadir dengan kewibawaan dengan busana indah yang menawan, maka sang pemimpin harus hadir dengan penuh nuansa kebahagiaan dan penuh kewibawaan. Hyang Agni senantiasa membakar hangus apa yang ingin dilalapnya, maka seorang pemimpin tidak saja harus memiliki semangat yang menyala-nyala, namun dapat juga membakar habis musuh-musuhnya.

Itulah Astha Brata yang menjadi bagian penting ajaran Sri Rama kepada Wibhisana. Ajaran ini begitu popu Namun lanjutan dari ajaran Astha Brata yang begitu penting namun agaknya tidak populer. Yaitu bahwa apa yang disebut hiasan bagi seorang raja yang sesungguhnya. Bahwa seorang raja memang hadir dengan berbagai hiasan emas permata untuk menampakkan diri sebagai seorang pemimpin yang berwibawa, namun seorang pemimpin harus benar-benar memahami apa yang sesungguhnya disebut dengan emas permata itu.

Cincin

Di dalam karya sastra ini dapat kita baca sebagai lanjutan dari ajaran Astha Brata kalimat-kalimat berikut ketetapan hati ibarat anting-anting adinda, kesusilaan adalah anting-anting yang sebelah lagi sehingga tidak timpang, ketulusan hati mengabdi kepada guru merupakan kaitannya, dan keteguhan iman memuja Hyang Siwa bagaikan manik astagina (permata yang dapat memberikan apa yang diharapkan). Kesetiaan bagaikan mutiara yang tak ternilai, gelang adinda ialah sinarnya yang indah, kegembiraan hati yang tidak pernah resah merupakan pengikat kepala, sedangkan mahkota adinda adalah hilangnya pikiran cemar. Melaksanakan samadhi bagaikan memakai  cincin  sebagai  sarana penyucian pikiran, kebijaksanaan ibarat cilak mata dan bedak, sedangkan pikiran yang tenang dan bersih ibarat mutiara putih.

Adapun yang menjadi istana seorang raja tiada lain adalah perilaku sang raja sendiri, sifat tanggap adalah tiangnya yang kukuh, dan kasih sayang bagaikan sendinya. Sopan santun dan rasa iba dan tindakan menyelamatkan jiwa  orang adalah ruangannya, keiklasan adinda mengayomi negara bagaikan permadani. Dan budi luhur adalah pegangan berbentuk naga tempat seorang raja berteduh hati dan seterusnya. Itulah permata yang tidak berat, tidak pula dapat dicuri permata yang kalau dijaga akan tetap menjaga.

Ada yang ditegaskan di dalam naskah sastra ini. Bahwa emas sangat didambakan semua orang, didapat 1 payah, para pedagang berlayar menyeberangi lautan, para buruh dan tani bekerja keras penuh keringat karena sangat mendambakan emas. Namun seorang raja tidak patut terbelenggu oleh emas, karena emas hanya menjadi hiasan dibalai sidang. Namun jika kearifan itu selalu dijadikan kawan maka dia akan menyebabkan wajah ceria dan tidak pernah berpisah kamanapun kita pergi.

Seperti halnya para pujangga lain, Mpu Yogiswara tak lupa mengingatkan para pemimpin, bahwa harta benda itu tidak akan dibawa waktu meninggal dunia. Adanya hanya sebentar semasih pemiliknya hidup, harta benda itu tidak menyertai kepergian akhir kita, namun yang mengantarkan adalah kearifan yang pernah dilakukan di dalam hidup ini. Kearifan akan menjaga dalam perjalanan yang berbahaya, kearifan adalah perahu yang mengantarkan menuju alam sana, kearifan adalah pelita yang selamanya tidak akan mati.

Kegelapan

Di sinilah pujangga besar mi mendapat kesempatan untuk menjelaskan pemahaman seorang pemimpin tentang apa yang disebut sebagai keeelapan pikiran. Tujuh kegelapan yang patut diwaspadai. Kegelapan yang pertama adalah Kemabukan karena senang dipuji sebagai keturunan bangsawan, kedua seorang pemimpin menjadi lancang karena sangat sakti, ketiga mabuk karena mendambakan emas. Keempat ganas karena merasa gagah berani di medan perang, kelima pandai namun hanya untuk menyiksa, keenam dibingungkan oleh usia mula dan ketujuh ketampanan wajah juga penyebab kemabukan. Usahakan dengan sungguh-sungguh untuk menumpas tujuh jenis kegelapan itu. Pancaran Yoga Semadhi merupakan sarana untuk membersihkan. Jika seorang pemimpin telah d Pat menaklukkan musuh di dalam diri, sudah pasti ia akan berhasil menaklukkan musuh di luar dirinya.

Tegaknya Dharma

Setelah menjelaskan hal-hal tersebut di atas sampailah Mpu Yogiswara pada penegasan tentang keharusan bagi setiap pemimpin untuk menegakkan dharma. Sri Rama menyatakan bahwa usahakan betul dharma dijadikan ketahanan negara. Bukan harta, bukan pula kama dan bukan ketenaran yang dipentingkan, karena sesungguhnya pilihan utama bagi seorang pemimpin untuk mengusahakan keselamatan rakyatnya dengan berpegang teguh pada dharma.

Hal lain yang hendaknya terus menerus diusahakan oleh seorang pemimpin adalah tujuan untuk membebaskan rakyat dari segala penderitaannya: Disisi lain seorang pemimpin harus memahami hakikat ajaran sastra karena ia menjadi suluh yang terang benderang. Dan seorang pemimpin harus bergaul dan menuruti tingkah laku orang-orang bijaksana. Orang-orang suci dan bijaksana adalah orang-orang yang mampu membebaskan dirinya dari kecemaran pikiran. Beliau senantiasa mengikuti ajaran agama. Tujuan beliau hanya satu yaitu menciptakan kebahagiaan masyarakat.

Sang Wibhisana

Setelah menjelaskan ajaran kepemimpinan tersebut diatas barulah Sang Wibhisana dinobatkan sebagai raja, menggantikan Sang Rahwana yang wafat. Ada gambaran yang begitu indah yang tengah bersemi dan mekar di Alengka ketika Sang Wibhisana dinoatkan. Percikan air amerta meresap diwilayah kerajaan alengka. Keindahan alam seperti gunung Mahameru kembali sempurna dan mempesona, segala yang telah hancur bagaikan dikasihi kembali oleh Hyang Indra. Bukan hanya desa-desa yang dipugar kembali, prajurit kera yang telah gugur dihidupkan kembali.

Pribadi Sang Wibhisana terus begitu sempurna. Hyang Panca Mahabhuta, Akasa, Bayu, Agni, Apah, Pertiwi dan Panca Kursika turut menyaksikan. Angin dari segala penjuru menghembuskan bau harum. Semua keindahan alam berkembang bagaikan saling memanggil, saling memberi isyarat mengajak rukun kembali. Keindahan istana makin menonjol oleh pohon-pohon bunga ditaman yang berpucuk muda dan berbunga lebat. Pohon-pohon semakin mekar akarnya bercabang,  beranting  bergoyang bagaikan menari ditiup angin. Burung-burung bertengger di daun-daun muda, mereka berayun-ayun.

Karena ketulushatian Sang Wibhisana sebagai raja besar yang gunawan, menyebabkan pohon-pohon segera bebuah lebat dalam waktu singkat tumpah ruah harum dan manis, karena kekuatan tapa beliau yang utama. Baru pertama kali buah durian berbau serentak menyebabkan kera-kera kebingungan melihat buah-buahan yang lebat karena ia kekenyangan.

Ada yang sangat menarik telah terjadi, semua-binatang hidup rukun dan tidak bertengkar lagi. Singa tiba-tiba kasih kepada setiap binatang. Kelompok harimau menyusup menyatu dengan anjing hutan dan tidak lagi memburu kancil yang biasa menjadi mangsanya Kalong burung pinggan dan kekelikkini rukun kembali terhadap laron. Burung pipit menyapa burung kepodang yang mengembara menuntut ilmu pengetahuan. Burung tengkek akrab dengan burung kakaktua yang galaknya tiada bandingannya, semuanya beritikad baik lalu bersidang saling sapa saling hormati dan riang bertukar pikiran.

Masih sangat panjang dan juga sangat indah uraian sang pujangga tentang keindahan Alengka, tetapi juga ketentraman dan kedamaian rakyatnya. Sang pujangga menjadikan binatang yang hidup rukun dan damai sebagai cerminan betapa rakyat di Alengka telah menemui kemakmuran, kesejahteraan dan kedamaian. Dan semua itu terjadi karena kwalitas pikiran Sang Pemimpim.

Itihasa dan Weda

Demikianlah Ramayana menjadi sebuah karya sastra yang patut kita baca berulang-ulang kali. Sejak awal karya sastra ini telah menyiratkan ajaran-ajaran utama sebagai sebuah karya Itihasa yang menjadi tangga untuk memahami kitab suci Weda. Memang Itihasa dan Purana begitu penting, sebelum kita mempelajari kita suci Weda. Hanya dengan mendalami terlebih dahulu Itihasa dan Purana kita akan memiliki landasan kuat dan arah yang jelas ketika kita mendalami kitab suci Weda. Tanpa demikian boleh jadi seorang akan menjadi bingung tanpa arah, tanpa tujuan tetapi juga tanpa posisi, tidak mengetahui atas dan bawah, juga tidak mengetahui tengah. Oleh karena itu orang-orang sua dan pujangga wanti-wanti meminta kita untuk mendalami Itihasa dan Purana terlebih dahulu.

Sudah kita catatkan diatas bahwa Itihasa Ramayana tidak saja memuat nilai-nilai keindahan, tetapi juga memuat ajaran kepemimpinan. Seorang pemimpin memang sangat diharapkan hdak terbelenggu oleh kepalsuan. Seorang pemimpin harus benar-benar mengetahui hakikat kekuasaan atau kekuasaan  yang  sejati.  Seorang pemimpin adalah orang yang telah menguasai egonya, sehingga ia senantiasa menginginkan keparahitan atau kebahagiaan rakyatnya.

Boleh saja seorang pemimpin tinggal di sebuah istana yang indah bertaburkan permata, namun ia benar-benar mengetahui apa yang sesungguhnya sebagai permata itu. Boleh saja seorang pemimpin duduk disinggasana emas, namun ia telah menyadari apa sesungguhnya yang disebut sebagai emas. Boleh saja seorang pemimpin memiliki musuh-musuh yang mengitari negerinya, namun ia menyadari harus mengalahkan musuh-musuh didalam dirinya terlebih dahulu. Karena dengan demikian musuh-musuh diluar dirinya otomatis akan dikalahkannya.

Oleh karena itu dalam sistem pemerintahan dimasa lalu seorang raja senantiasa berdialog dengan para rohaniawan dan intelektual atau orang-orang sadhu itu. Karena apabila terjadi seorang pemimpin memusuhi seorang sadhu maka itu adalah pertanda akan terjadinya kehancuran, atau pertanda terjadinya Kaliyuga. Memang dalam banyak kisah orang-orang sadhu, orang-orang suci sering dipinggirkan, malah diusir oleh para pemimpin yang haus kekuasaan. Pemimpin seperti itu sesungguhnya adalah pemimpin yang dibelenggu oleh ilusi, yang tidak mengetahui hakikat kepemimpinan, kepemimpinan yang sejati. Banyak hal dapat kita pelajan dari karya sastra penuh makna yang telah pernah dijadikan pegangan utama para pemimpin kita dimasa silam.

Source: Ki Dharma Tanaya l Warta Hindu Dharma NO. 469 Pebruari 2006